
mobil Arzan membawa Nadira dan juga Maira pulang bersama, tidak lupa Zania yang sangat ingin ikut dengan Arzan. didalam mobil empat orang itu merasa canggung, Nadira sendiri duduk disebelah Arzan yang sedang menyetir. disana Zania bicara dengan Maira, dengan canggung juga Maira menjawab setiap ucapan yang dikatakan Zania. Nadira hanya diam melihat arah luar mobil, bicara pun ia tidak ingin karena menurutnya hanya sia sia saja.
"Maira.. kamu sangat cantik, apa kau sudah memiliki pasangan? " ucap Zania, Maria yang ditanya itu merasa terkejut dan tersenyum.
"tidak, saya disini untuk bekerja bukan mencari pasangan! " ucap Maira, gadis itu memberikan isyarat pada Arzan dari kaca spion mobil.
"apa bunda tidak lelah dari tadi bicara terus, lebih baik istirahatkan mulut bunda dan tunggu hingga kita sampai dirumah! " ucap Arzan dengan kasar, Nadira terkejut mendengar itu dan menoleh kearah Arzan.
"bunda kan hanya bertanya pada Maira, apa salahnya! "
"dan satu lagi, tidak perlu repot repot mencarikan aku pasangan. aku sudah memiliki calonku sendiri, dan hanya dengannya aku menikah! " ucap Arzan lagi, Zania pun terdiam dan menatap keluar jendela mobil. Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen masing masing, Maira menyeret Nadira masuk kedalam tanpa berpamitan pada Arzan. dengan sedih Arzan menatap keduanya, hari ulang tahunnya sangat menyedihkan menurutnya.
...****************...
keesokan harinya Nadira memilih untuk sibuk menggambar sketsa, tapi pikirannya fokus dan mengingat kejadian hari ulang tahun Arzan. sampai tiba tiba Elia datang bersama Maira, mereka semua duduk di hadapan Nadira tanpa bicara apapun.
"ada apa dengan kalian, apa tidak bisa perlahan? " ucap Nadira, gadia itu melanjutkan gambarannya.
__ADS_1
"aku ingin bertanya, apa buku bos yang dipinjam teman itu memang dipinjam atau hilang? " tanya Elia, Nadira terkejut dengan itu. Elia selalu ingat dengan buku favoritnya, bahkan ia melupakan buku itu memang bukunya sudah hilang. Nadira yang ceroboh lupa menaruh bukunya, membuat Nadira harus berbohong buku nya dipinjam teman.
"kenapa bertanya itu, tentu dipinjam teman! " ucap Nadira, Elia memberikan buku katalog sebuah gaun disalah satu toko butik. Nadira yang menerima itu melihat isinya, Nadira terdiam melihat semua itu.
"ada toko butik baru disebelah sana, dan semua gaun yang dijual disana mirip dengan sketsa yang kau buat! "
"terus apa salah, siapa tahu kan hanya kebetulan saja! " ucap Nadira tenang, sebenarnya hati nya tidak tenang. Elia menyeret Nadira hingga didepan jendela besar, terlihat jelas butik baru yang buka dengan ramai pengunjung. butik Nadira selalu ramai selama ini, tapi butik baru itu hampir sama ramainya.
"lihat baru buka sudah banyak pelanggan, boss itu semua desain gaun mu! " ucap Elia, Nadira terdiam dengan membawa katalog gaun ditangannya.
"mereka ramai mungkin ada diskon, sudalha jangan heboh. kalau kalian mau pergi saja kesana untuk melihat, katakan padaku gaun siapa yang terbaik! " ucap Nadira tersenyum, Elia kesal dengan itu dan pergi dari sana. Nadira memang orang yang tidak peduli, ia selalu menyepelkan hal menurut ya tidak penting. tapi kali ini toko baru itu menganggu pikirkan nya, tangannya tidak menggambar sketsa ketika semua jarinya gemetar. tentu saja Nadira takut, meskipun dirinya terlihat baik baik saja tapi tidak ada yang tahu.
Nadira segera pergi dari rumahnya, ia menuju tempat dimana Zania yang mengatakannya. beberapa menit berlalu, Nadira duduk di hadapan Zania yang sudah memesan minuman untuknya dan juga untuk Zania sendiri.
"ibu Zania kenapa memintaku kemari, apakah ada sesuatu yang penting? " tanya Nadira dengan sopan, tentu Zania tersenyum dan menggeser teh yang ada ditengah untuk Nadira minum.
"jangan buru buru, minumlah tehnya dulu nanti akan dingin jadi tidak enak!" ucap Zania, Nadira pun mengangguk dengan hal itu. mereka kemudian hanya saling menatap, Nadira menghabiskan setengah teh didalam cangkringan tersebut. "apa kau dan Arzan bersama? " ucap Zania, Nadira terkejut dengan itu dan meletakkan cangkir dengan berhati hati.
__ADS_1
"bagaimana ibu Zania tahu, apa Kak Arzan bilang padamu? " tanya Nadira, Zania menggelengkan kepalanya.
"aku bisa lihat dari mata kalian, tanpa diberitahu pun aku sudah tahu!! " ucap nya dengan sedikit sinis, Nadira pun mengangguk dengan perlahan.
"kami bersama sejak tiga bulan yang lalu, hanya saja tidak ada yang tahu! " saut Nadira, gadis itu meminum tehnya lagi di atas cangkir.
"sebenarnya aku memiliki pasangan yang cocok untuk Arzan, dia berpendidikan dan juga sangat cantik menawan. ya aku tidak menyangka saja dia bisa bersamamu, dan yang pasti tipe wanita yang aku inginkan untuk putraku adalah seperti gadis yang akan kukenal kan pada putraku! " ucap Zania, Nadira terdiam dengan itu dan mendengar setiap yang diucapkan Zania. disana Zania terus bercerita tentang gadis yang pas untuk Arzan, tidak sekalipun wanita itu menghargai Nadira sebagai kekasih anaknya.
"apa anda ingin aku meninggalkan kak Arzan, putus dengannya! "
"oh bukan itu, aku hanya bercerita saja. jika kau tersinggung maafkan aku, aku mungkin sangat cepat karena tidak sabar bertemu gadis itu! " ucap Zania, Nadira menghela nafasnya kemudian tersenyum kearah Zania.
"aku akan katakan ini sekali, dan yang pasti anda tidak akan mendengarnya lagi. aku akan putus dengan Arzan, jika Arzan juga ingin putus denganku! " saut Nadira dengan tegas, tanpa bicara lagi ia pergi dari sana karena sudah merasa tidak kuat. Zania tersenyum melihat kepergian Nadira, gadis itu pergi menaiki taksi hingga tidak terlihat oleh Zania.
"akan aku pastikan Arzan putus denganmu, karena aku tidak suka denganmu ataupun kalian semua! " ucap Zania, ia tersenyum menikmati teh yang masih tersisa dicangkirnya.
Nadira sendiri terdiam didalam taksi, ia mengusap pipinya yang merasa air matanya terus menetes. suara Zania terngiang ngiang di telinganya, bahkan diotaknya masih berpikir tentang toko butik yang baru saja buka itu. Nadira bingung harus apa, ia sebenarnya sudah tahu kalau Zania tidak menyukainya ataupun keluarganya. tapi ia juga tidak ingin menyerah, ia tidak ingin meninggalkan Arzan karena mereka berdua sudah berjanji untuk saling mencintai. Nadira menangis di dalam taksi, air matanya sudah tidak bisa ia tahan. sopir taksi hanya menatap Nadira yng menangis, tidak berani bicara untuk bertanya kemaana tujuan Nadira akan pergi.
__ADS_1
Nadira memilih untuk berhenti ditengah jalan, ia memilih untuk berjalan dipinggir jalan yang lumayan sepi. matanya sudah merah dan bengkak, jika ia meneruskan tangisannya wajahnya bisa berubah bentuk. Nadira bingung harus kemana, ia tidak ingin pulang kemana pun dan hanya duduk dipinggir jalan menatap mobil yang lewat. tiba tiba wajah Arzan muncul bersamaan dengan hayalan suara Zania yang menyuruhnya menjauh dari Arzan, Nadira kembali menangis lagi dan tidak peduli dengan tatapan semua orang.
...****************...