
hari berganti begitu cepat, sampai dimana hari ulang tahun Arzan tiba. pria itu mengadakan acara makan malam bersama keluarga Nadira, tidak lupa juga Arzan mengajak ibunya untuk bergabung. disana sudah terjadi kecanggungan antara Nadira dengan Zania, wanita itu tampak tersenyum dan Arzan tahu jelas semua itu hanya pura pura. Naira menggunakan Daniel dan Riana, disana mereka seperti keluarga besar yang sedang berkumpul.
Nadira memandang Arzan yang terlihat tegang, pria itu takut ibunya berulah dan akan berkata tidak menyenangkan hati siapapun. Nadira menggenggam tangan Arzan, ia merasakan tangan itu yang dingin dan berkeringat. Arzan menoleh kearah Nadira, memberikan senyum terbaik pada gadis itu. sampai semuanya sudah datang, Adrian pun turut hadir bersama Naira. mereka mulai makan malam bersama dengan tenang, Nadira juga mengajak Maira untuk duduk merayakan bersama.
"Kak Nanan tidak bisa datang, ia ada rapat penting hari ini. Davina juga ia terlambat pulang, dan meminta untuk tidak hadir saja. untuk kak Dani aku tidak tahu, ponselnya tidak bisa dihubungi.!" ucap Nadira pada semua orang, disana pun mereka mengangguk dan mengiyakan.
"Arzan selamat ulang tahun untukmu, kami membawa hadiah yang mungkin akan bermanfaat untukmu! " ucap Naira dengan lembut, Arzan menerima hadiah itu dan melihat apa yang diberikan oleh Naira padanya.
"ibu Naira apa ini! " ucap Arzan yang masih tidak mengerti, Naira tersenyum dengan Adrian.
"kami bingung harus memberikan apa, jadi aku dan Adrian memilihkan sebuah mobil baru untukmu! " ucap Naira, Nadira tersenyum senang dengan itu.
"asikk mobil baru, untuk Nana mana? " ucap Nadira, Adrian tersenyum dan mengusap rambut anaknya yang menggemaskan itu.
"tunggu hari spesialmu, aku akan memberikannya!" ucap Adrian, Nadira mengangguk senang dengan hal itu. Arzan merasa tidak enak hati, ia menatap Naira dengan wajah sendu nya karena menahan tangis Terima kasih. Naira tersenyum melihat Arzan, kemudian mengangguk untuk mengatakan Arzan harus menerima hadiahnya. tentu hal itu menjadi tatapan tidak senang dari Zania, ia merasa tidak ada yang menganggapnya disana.
"memang ya, putraku sudah menjadi putra orang lain! " ucap Zania menyinggung, Naira pun tersenyum mendengar itu.
"tentu saja, dia sudah seperti putra kami sendiri. kami tidak pernah membedakannya, malah kami sangat berterima kasih padanya karena sudah menjaga Adnan dan juga Nadira tanpa mengeluh dan meminta imbalan! " jelas Naira tersenyum, Zania menatap Naira dengan senyuman yang tidak biasa.
__ADS_1
"biasanya memang seperti itu, orang lain malah seperti keluarga sendiri, keluarga sendiri malah seperti orang lain! " saut Adrian, hal itu mendapat senggolan dari Naira. wanita itu melarang Adrian berkata yang tidak semestinya, mungkin saja yang dikatakan Adrian benar adanya. Zania tersenyum dengan itu, kemudian menatap Nadira yang masih mengunyah makanannya.
"oh ya nyonya Naira, bukankah putrimu Nadira ini adalah salah satu kembarmu yang hilang itu. lalu apa kau sudah memeriksa dia? "
"apa maksudmu memeriksa, bisa jelaskan dengan benar? " ucap Adrian yang tidak mengerti, Naira menghela nafas dan tersenyum pada Adrian dengan anggukan kepala. Naira paham apa yang dimaksud Zania, ia pun mencoba menghentikan pembicaraan itu agar tidak terjadi keributan.
"kenapa membahas itu, ini kan ulang tahun Arzan. banyak orang disini. bahkan saudari dan iparku juga datang, mereka juga bawa hadiah. pasti Arzan ingin tahu apa yang dibawa mereka, Riana coba tunjukkan hadiahmu! " ucap Naira memberikan isyarat, Riana pun mengangguk dan mulai memberikan paperbag pada Arzan. memang keluarga itu selalu bercanda, diusia Arzan yang sudah dewasa mereka memberikan hadiah ulang tahun seperti seorang remaja. Naira menoleh kearah Zania, tersenyum dan sedikit mendekat kearah wanita itu.
"jangan membuat keributan nonya Zania, jika itu terjadi putramu akan semakin membencimu! " bisik Naira kemudian tersenyum, Zania menahan kesalnya dan melihat satu persatu orang disana.
"oh ya Nadira, kapan kau akan menikah. bukankah usiamu sudah waktunya menikah, kau masih bermain main seperti remaja!" ucap Zania lagi, Nadira tersenyum gugup dengan itu.
"iya Arzan juga semakin dewasa, bahkan usianya dua tahun lebih muda dari kalian semua. aku berniat akan menikahkannya, tapi aku masih belum menemukan gadis yang tepat untuknya! " ucap Zania, hal itu membuat Nadira terdiam dan juga Arzan yang hanya menatap ibunya.
"disini ada tiga orang gadis, Nadira Davina dan disana itu teman Nadira! " ucap Daniel, semua orang menjadi tertawa karena merasa itu sebuah candaan.
"benar disini semua cantik, aku berdoa mendapatkan seseorang yang baik seperti sifat mereka! " ucap Zania dengan senyuman, dari situ Naira dan Riana mengerti apa yang dikatakan wanita itu. sejak awal wanita itu tidak suka disana, dan sebuah senyuman hanyalah sebuah kepalsuan.
Nadira tampak diam, ia tahu dengan maksud beberapa orang disana. entah kenapa membuat Nadira tidak enak hati, ia memilih untuk pergi dari sana berpamit untuk ke toilet. Arzan memberikan isyarat pada Maira, dan gadis itu pun mengangguk dan langsung membuntuti Nadira dari belakang. Nadira melesat dengan cepat, ia mengunci pintu toilet dan duduk diatas wc.
__ADS_1
"Nadira... kamu baik baik saja? " ucap Maira, Nadira terkejut mendegar itu karena tidak tahu jika Maira mengikutinya. Maira terus memanggil sampai Nadira keluar dari sana, terlihat Nadira menaikkan satu alisnya.
"ada apa kau berteriak, aku sedang buang air kecil!" ucap Nadira kemudian berjalan melewati Maira, gadis itu terus menatap wajah Nadira yang mencuci tangan diwastafel.
"mungkin aku terlalu khawatir, kenapa ibunya tuan Arzan itu seperti orang jahat! " ucap Maira, Nadira tersenyum dan menyipratkan air kearah Maira.
"jangan bicara sembarangan, dia lebih tua dari kita! " ucapnya, Maira tersenyum dan menutup mulutnya.
"tapi kenapa dimeja makan itu terasa seperti canggung sekali, tidak seperti saat kita makan dirumah besarmu! " ucap Maira lagi, Nadira terdiam dengan itu dan menghela nafas.
"karena kau merasa sungkan, jika kau merasa happy kau tidak akan merasa canggung! " ucap Nadira menarik rambut Maira pelan, dan mereka berdua pun keluar dari sana berjalan kearah tempat duduknya semula. Zania tersenyum melihat Nadira datang, kemudian memberikan jus jeruk pada Nadira dan diterima dengan sopan.
"Terima kasih! " ucap Nadira, Zania mengangguk.
"jika melihatmu dan nyonya Naira sangat mirip, itu berarti kau benar benar anak mereka ya. aku sempat tidak percaya, setelah begitu lama tiba tiba dapat kabar anaknya ketemu! " suaranya terhenti ketika Adrian berdiri dan membanting sendok dengan keras, semua orang menatap kearah Adrian yang terlihat menggenggam tangan. Nadira menyentuh tangan sang ayah, kemudian menggelengkan kepala.
"kenapa melihatku semua, aku ingin pergi ke toilet!" ucap Adrian kemudian pergi, Nadira dan Naira menghela nafas disana. Daniel yang melihat itu menggelengkan kepala, menurutnya sifat Adrian masih sama seperti dulu. julukannya orang tidak jelas, dan orang posesif.
"mungkin jika dia memang bukan anakku, aku akan menyayanginya seperti aku sayang pada Arzan. dia bukan anakku, tapi aku sangat sayang pada Arzan. apalagi dia menganggapku sebagai ibunya sendiri, kepentingan ku selalu ia utamakan! " ucap Naira tersenyum pada Arzan, pria itu tersenyum dan mengangguk. mereka semua berbincang dan juga bercanda, tentu sudah menghilangkan rasa kecanggungan. tapi tidak dengan Zania, wanita itu hanya diam dan menatap mereka semua yang ada disini.
__ADS_1
...****************...