Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Semua karenamu


__ADS_3

Nadira berdiri didalam toko butiknya, ia menatap toko butik seberang yang sedang ramai. hatinya sedih karena toko nya tidak lagi sangat ramai, biasanya toko butik itu akan sibuk kesana kemari mendatangi pelanggan. Maira yang melihat itu merangkul tubuh Nadira, mereka saling melempar senyum. bukannya hanya mereka yang tersenyum, semua staf Nadira memberikan semangat dan juga dukungan pada Nadira.


saat akan kembali kekantor Adnan, Nadira bertemu seorang wanita cantik yang menghampiri nya. Nadira sendiri memberikan senyuman terbaiknya, ia urungkan saat ingin menaiki mobilnya.


"Haii aku Flower, kamu bisa memanggilku Flo. aku adalah pemilik butik Flower, salam kenal! " ucapnya ramah, Nadira menerima uluran tangan gadis bernama Flo.


"Hai Flo, namaku Nadira. kamu bisa memanggil apa saja, dan ini toko ku! " ucapnya, mereka saling melempar senyum satu sama lain.


"lain kali jika aku ada waktu, pasti aku akan datang ke butikmu. dan ya mampirlah ke tokoku, lihat saja juga tidak masalah! " ucap gadis itu dengan lembut, Nadira pun tersenyum dan mengangguk.


"baiklah, aku pasti akan mampir! " ucap Nadira dengan lembut, gadis itu mengangguk dan Nadira pun pergi dari sana setelah berpamitan.


Nadira menghela nafasnya, ia berpikir pemilik toko itu bahkan sangat baik lalu apa yang dikhawatirkan nya. mungkin saja jika semua gaun disana sama dengan sketsa nya, atau mungkin kebetulan sangat mirip. sedang fokus menyetir tiba tiba ponselnya berdering, nomor tidak dikenal sedang menelfon dirinya. tanpa berpikir Nadira mengangkat panggilan itu, dan sedikit menepi untuk menyetir.


"halo, dengan siapa ini? " ucap Nadira, sang penelpon masih belum mengeluarkan suara tapi Nadira masih tetap memanggil.


"karenamu maka akan terjadi sesuatu dengan keluargamu! "


setelah mendengar suara itu, Nadira terkejut dan menghentikan mobilnya. belum Nadira menjawab panggilan itu sudah berakhir, Nadira mencoba mencari nomor yang tertera tapi nihil karena nomor itu tidak dikenal. Nadira tampak berpikir, tangannya tiba tiba saja bergetar dan merasa khawatir. beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering, tanpa melihat ia langsung menjawab panggilan itu dengan emosinya.

__ADS_1


"siapa kau, apa yang kau katakan hah! " teriak Nadira, kemudian ia terkejut saat mendengar suara yang ia kenali. Nadira melihat nama yang tertera, ternyata temannya Maira yang menelpon.


"maafkan aku Mai, tadi aku hanya emosi! " ucap Nadira menghela nafas, ia menyesal berteriak tanpa melihat dulu.


"aku menelpon karena ada keadaan darurat, tuan Adrian masuk rumah sakit. aku dapat kabar dari tuan Arzan yang tidak bisa menghubungimu, aku sudah menghubungi tuan Adnan juga."


Nadira terkejut dengan hal itu, setelah Maira mengatakan alamat yang harus dituju Nadira memutar balikkan mobilnya. ia menuju rumah sakit yang dikatakan oleh Maira, ia berpikir pasti ada hubungannya dengan orang yang menelfonnya beberapa menit yang lalu.


Nadira berlari setelah memarkirkan mobilnya, ia tidak perduli pada orang yang menatapnya. sampai ia melihat Maira yang berdiri, banyak orang berdiri disana dan pasti sedang menunggu ayahnya. Maira melihat kedatangan Nadira, gadis itu menarik tangan Nadira yang terlihat lemas.


"papa dimana, siapa yang menabraknya! " ucap Nadira dengan suara gemetar, sampai air mata pun menetes dipipinya. Nadira menangis disana, Adnan yang melihat itu menggelengkan kepala dan memeluk adiknya.


"papa... dimana dia, aku ingin bertemu papa... " ucap Nadira, tiba tiba saja Arzan keluar danenatap Nadira yang menangis.


"ada apa, kenapa dia menangis? " tanya Arzan saat melihat Nadira menangis, Adnan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Nadira tidak bicara apapun, ia berjalan masuk untuk melihat sang ayah. terlihat Adrian terbaring dibankar rumah sakit, kakinya terluka dan terlihat tidak parah seperti yang dipikirkan Nadira.


"papa... " panggil Nadira, gadis itu berjalan dan memeluk sangat ayah karena khawatir.


"hei kamu kenapa menangis, papa hanya terserempet tidak parah kok! " ucap Adrian, pria yang sudah berumur itu mengusap air mata Nadira yang terus menetes.

__ADS_1


"Nadira kaget saat Maira telpon, Nadira takut! " ucapnya lagi, Nadira pun memeluk Adrian dengan erat. dengan senang hati, Adrian membalas pelukan itu dan memeberi senyuman. menurutnya hal itu benar benar mirip dengan Naira, gadis manja dan juga cengeng. Nadira sendiri merasa khawatir, ia mendapat telpon dari orang misterius lalu terjadi hal yang tidak diinginkan pada ayahnya.


...****************...


Maira diberikan tanggung jawab oleh Nadira, gadis itu yang akan menutup ataupun membukakan toko setiap harinya. jika malam hari pun, Maira harus mengunci semua pintu dan jendela yang ada disana. Maira sangat senang dengan hal itu, mendapat kepercayaan besar dari Nadira dan juga keluarga temannya itu. Maira yang sedang menutup jendela dikejutkan oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Adnan yang tiba tiba muncul tanpa membuat suara. Maira yang akan menurunkan gorden jendela pun oleng, dan akhirnya menarik gorden itu hingga ganggang kain itu pun patah. melihat hal itu Adnan terkejut, pria itu berlari masuk kedalam toko untuk melihat Maira.


Maira meringis kesakitan karena terjatuh dilantai, bahkan tubuhnya yang kecil itu diselimuti gorden yang cukup besar dan lebar. Adnan yang melihat itu membantu Maira, mendudukan gadis itu di sebuah sofa. Maira masih meringis kesakitan, ia melihat Adnan yang mencari saklar lampu agar menyala.


"kenapa tuan Adnan tiba tiba muncul, membuatku kaget!" ucap Maira memegang sikunya, terlihat memar merah disana.


"tadi aku menerima telpon, dan siapa tahu kau ada disana! " saut Adnan acuh, pria itu menatap Maira yang memegangi sikunya. "Nadira memintaku untuk menjemputmu, karena dia bilang tidak ada kendaraan! "


"harusnya tidak perlu tuan, saya bisa naik taksi saja! " saut Maira berdiri, meskipun jalannya tertatih ia masih mampu berjalan. Adnan memaksa Maira untuk naik ke mobilnya, setelah ia membantu menutup toko itu dan menjalankan mobilnya pergi dari sana.


Maira merasa canggung saat didalam mobil, ia meremas pakaiannya sendiri karena pertama kalinya dekat dengan Adnan. sesekali Maira mencuri pandangan kearah Adnan, pria itu fokus menyetir dengan pakaian yang lengkap rapi. pria tampan itu sangat dingin dari tampangnya, barang mewah melekat ditubuh sempurnanya. Adnan memang orang yang bisa dibilang kaya, meskipun tanpa harta orang tuanya yang terbilang tidak akan pernah habis sampai kapanpun. Maira mendadak terkejut saat Adnan menoleh, pria itu menatap Maira yang langsung membuang pandangan kedepan mobil.


beberapa menit kemudian sampai di apartemen Maira, disana Maira keluar dari mobil dan mengatakan jika tidak perlu diantar oleh Adnan. Maira melambaikan tangan dari jauh, Adnan pun mengangguk dari dalam mobil. ia melihat Maira hingga menghilang dibalik tembok, Adnan pergi dari sana melajukan mobilnya dengan perlahan hingga menuju rumahnya.


tidak pernah memperhatikannya, tidak pernah melihatnya bahkan bicara dengannya pun tidak pernah, hanya sekedar tahu dia adalah teman dari orang yang kukenal. tapi hari ini melihatnya, melihat kegiatan yang ia lakukan membuatku tertarik dan penasaran ingin bicara dengannya. untuk pertama kalinya aku memperhatikan seorang wanita, sebelumnya hati ku hanya ingin memperhatikan orang kucintai yang kenyataannya seorang adik bagiku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2