Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Tidak ada jawaban.


__ADS_3

Nadira dan Arzan pergi kerumah sakit dengan terburu buru, setelah mendengar Davina mengalami kecelakaan. kejadian hal itu membuat semua orang khawatir, karena Arzan juga mendapat kabar bahwa dirinya dipanggil secara darurat. Davina dibawa kerumah sakit tempat Arzan bekerja, Davina mengalami kecelakaan parah yang membuat kakinya patah. bahkan kepala gadis itu diperban begitu tebal, akibat benturan kepalanya pada setir mobil.


semua orang berkumpul disana, Nadira berlari kearah semua orang untuk menanyakan kabar Davina. Nadira memeluk sang nenek, siapa lagi kalau bukan Nadia. wanita yang sudah beruban itu memeluk cucunya, matanya terlihat air mata yang masih menggenang menahan agar tidak jatuh. ia melihat Davina yang ditangi Arzan, banyak bekas darah dibrankar gadis itu.


"bagaimana ini bisa terjadi? "


"masih tidak tahu apa penyebabnya, kedua kakakmu perjalanan kemari dan mereka akan mengurus langsung TKP! " jawab seorang pria yang juga sudah beruban, tentu saja pria itu adalah Kara yang masih sangat berwibawa dengan jas hitam yang ia pakai. sangat membuat kegaduhan peristiwa itu, semua keluarga sampai hadir karena khawatir. Adnan yang sedang dengan Maira pun, berpamit pergi setelah mendapat telpon dari Naira dan tidak lupa ia mengabari Dani tentang hal itu. suasana sedang runyam, perasaan gelisah dan khawatir menunggu kabar. suara dering telpon membuat Nadira terkejut, ia segera menekan panggilan itu tanpa melihat penelpon.


"halo... " ucap Nadira sedikit menjauh, tidak ada suara hanya ada suara seseorang berdehem.


"apakah saudarimu masih hidup... jika masih hidup orang yang pertama harus disalahkan adalah kamu, kamu penyebab keluargamu mengalami celaka! "


suara yang sama seperti sebelumnya, setelah mengatakan hal itu panggilan itu berakhir. Nadira langsung menangis dan tangannya gemetar melihat ponselnya, ia berdiri dibalik tembok dengan menahan tangisnya. Nadira tidak menyangka sehari saja ia bersama Arzan, hal tidak diinginkan terjadi padanya. tapi kenapa harus pada keluarganya, mereka bahkan tidak tahu dirinya dan Arzan memiliki hubungan.


Nadira pergi dari sana, ia ingin menemui seseorang yang seharusnya ia temui sebelumnya. menghadang taksi tanpa melihat sekitar, meminta sopir taksi melaju cepat agar tujuan nya cepat sampai. taksi itu berhenti di sebuah hotel mewah di kota itu, Nadira berjalan masuk kedalam gedung itu setelah taksi menurunkannya. Nadira menaiki lift hingga berjalan dan berhenti disebuah pintu kamar yang tertutup, Nadira mengetuk pintu dengan menahan kesal. seseorang membuka pintu itu, dan menampilkan seorang wanita paruh baya.


"wah Nadira kamu disini nak, ada urusan apa? " ucapnya lembut, Nadira menggenggam erat tangan nya menahan kesal.


"kenapa anda melakukan ini, kenapa anda melakukan hal ini kepada keluargaku. aku tahu itu ulah anda, apa aku benar ibu Zania! " ucap Nadira kesal, ya benar Zania ibu Arzan yang didatangi Nadira. dengan senyuman Nadira dibawa masuk kedalam, Nadira sudah malas berhadapan dengan wanita penuh kebencian itu.

__ADS_1


"aku tidak melakukan apapun, emangnya apa yang sudah aku lakukan? "


"pertama papaku, sekarang saudariku. lalu siapa lagi yang akan anda sakiti, "


"mungkin kakak kesayanganmu, atau ibumu... "


"ibu Zania! " teriak Nadira, kekesalannya sudah sangat melampaui batas. matanya sudah merah karena menahan tangi, dugaannya benar yang melakukan semua itu adalah ibu Arzan. "aku menyesal telah membelamu, aku mengatakan pada kak Arzan kau adalah wanita yang terbaik dalam hidupnya. tapi jika kak Arzan tahu tentang hal ini, apakah masih pantas disebut wanita terbaik!" kesal Nadira, Zania hanya tersenyum dengan mengangguk pada Nadira.


"iya disaat kau memberitahu Arzan, aku tidak bisa menjamin hal itu tidak akan terjadi!" ucapnya santai, Nadira hanya diam tanpa menjawab. "aku sudah bilang jauhi putraku, apa susahnya pergi dari hidupnya buat dia membenci keluargamu dan juga dirimu! " ucapnya lagi, Nadira terdiam dan menatap Zania.


"aku tidak bisa percaya padamu! " ucap Nadira kemudian pergi dari sana dengan membanting pintu, ia berjalan dengan kesal dan air mata mengalir dari matanya. ia akan naik lift tapi diurungkan, ia memilih untuk turun tangga. ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan turun tangga, tiba tiba ia merasa pegal pada kakinya dan memilih untuk duduk. disaat itu Nadira menangis sejadi jadinya, bayangan keluarga dan Arzan muncul di kepalanya. "aku mencintai mereka semua, kenapa harus memilih jika bisa mencintai keduanya... " tangis Nadira pecah disana, tidak banyak orang lewat tangga ia pun tidak peduli orang memperhatikannya.


keadaan Davina membaik setelah menjalani operasi, dirinya mulai sadar setelah mendapat perawatan dua belas jam. semua orang terlihat lega, disana juga terdapat Adnan dan Dani gang sudah datang, mereka sudah mengurus masalah kecelakaan Davina. mobil gadis itu mengalami rem blong, yang mengharuskan dirinya tidak berhenti saat lampu merah tiba. Davina memilih menabrakkan dirinya di tiang listrik, dari pada harus menabrak orang lain yang akan menyebabkan kerugian. memang sekarang dirinya rugi, tapi tidak rugi pada orang lain yang mungkin akan menjadi korbannya.


Nadira berdiri diluar pintu, ia ingin masuk tapi mengurungkan niatnya ketika melihat Arzan. pria itu berjalan dengan pakaian sebelumnya, senyuman tulus terukir di wajah Arzan. sampai mereka berdiri berhadapan, Nadira menatap Arzan tanpa senyuman. ia mengingat pertemuannya dengan Zania, bagaimana bisa Arzan yang sebaik itu memiliki ibu yang sangat buruk dan juga berhati tidak baik.


"dia baik baik saja, jangan khawatir lagi oke! " ucap Arzan tersenyum, Nadira mengangguk sekilas. suaranya tercekat di tenggorokan, tidak bisa ia keluarkan untuk mengatakan hal yang seharusnya ia katakan. "ada apa Nadira, apa yang kau pikirkan? "


"tidak ada, aku baik baik saja! " ucap Nadira, gadis itu berjalan masuk kedalam ruangan Davina. disana Nadira langsung kearah sang nenek, ia ingin berada diantara orang orang itu untuk menghindar dari Arzan. pria itu sendiri mendekat kearah Adnan dan juga Dani, mereka saling menyapa satu sama lain.

__ADS_1


"kau membuat kami semua sangat khawatir! " ucap Riana yang ada disana, Davina tersenyum dengan perban di kepala dan juga lehernya.


"aku tidak tahu kalau remnya blong, yasudah! " ucap Davina lirih, disana Dani sedang melitoti sang adik.


"sudah aku bilang kan, kalau menyetir mobil itu pelan pelan. jangan asal nyetir dengan mengebut, kamu pikir jalan itu punya kakekmu! " ucap Dani kesal, semua orang langsung menatap Dani termasuk Kara yang ada disana.


"ide bagus, kakek akan membuat jalan khusus untuk Davina dan kalian jika perlu! " ucapan Kara membuat mereka semua tertawa, termasuk Davina yang sampai menahan tawanya karena sakit pada lehernya. semua orang tertawa kecuali Nadira, ia hanya terdiam dan hanya dengan senyuman sekilas.


beberapa menit kemudian mereka diminta pulang oleh Kara, Dani dan Adnan memilih untuk menjaga sang adik disana. Arzan menawarkan pada Nadira untuk mengantar gadis itu pulang, awalnya menolak tapi Nadira harus kalah saat Arzan terus memohon padanya. Arzan terdiam ketika melihat Nadira diam, gadis itu tidak bicara sejak berada dimobil itu.


"kak Arzan... "


"katakan apa kau ingin sesuatu?" ucap Arzan dengan cepat, Nadira menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"tidak aku hanya memanggil saja, cepat antar aku pulang. aku sangat lelah, ingin tidur dan istirahat! " ucap Nadira lirih, Arzan pun mengangguk tanpa menjawabnya. "kak bagaimana kalau kita tidak bersama lagi, apa yang akan kau lakukan? " secara mendadak Arzan menghentikan mobilnya, jalanan sepi tidak ada yang lewat dijalan itu kecuali mobil yang ditumpangi mereka berdua.


"apa yang kau bicarakan, itu sudah kita bahas beberapa jam yang lalu!" ucap Arzan, Nadira menatap Arzan yang menatapnya dengan tajam. "aku tidak akan melepaskanmu, kita akan selalu bersama sampai kapanpun dan apapun yang terjadi. sekalipun Adnan dan orang tuamu tidak merestui, aku akan tetap berusaha meminta restu pada mereka! "


"bagaimana dengan bundamu, bagaimana kalau dia yang tidak merestui kita? " tanya Nadira, Arzan langsung terdiam dengan hal itu. memang itulah faktanya, bukan kalau tapi memang sudah tidak merestui nya dengan Nadira. "kau tidak ada solusi, tidak ada jawaban! " ucap Nadira membelakangi Arzan, Nadira meneteskan air mata dengan menatap luar jendela.

__ADS_1


__ADS_2