Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Menenangkannya.


__ADS_3

Anin masuk kedalam kamarnya, ia membuka jas yang sebelumnya dipakai oleh Adnan. gadis itu tersenyum sendiri, kemudian ia menatap dirinya di hadapan cermin. ia melihat wajahnya sendiri dengan pipi merahnya, Anin mengusap pipinya agar kembali normal. semakin Anin memikirkan Adnan, semakin ia merasa jantungnya terus berdetak. ia melempar dirinya dikasur, menutup wajah itu dengan kasur. ada apa dengannya, kenapa dirinya seperti itu. gadis itu menghela nafas berulang kali, tapi tetap ia semakin merasa degup jantungnya terus berdetak.


"kenapa denganku, aku tidak pernah seperti ini! " ucap Anin dengan menggigit bantalnya, kemudian ia bicara sendiri dan menggelengkan kepalanya. ibu Anin pun melihat putrinya yang seperti itu, ia tahu Anin barusan pulang dengan Adnan. gadis itu melihat sangat ibu masuk, Anin pun tersenyum dan menatap ibunya.


"ada apa denganmu? " tanya sang ibu lembut, ibu Anin merapikan baju Anin dan merapikan kasur yang sedikit berantakan.


"ibu tahu nggak, tante Rima. dia itu tadi nganterin barangnya ibu, terus dia itu lihat tuan Adnan. sambil ngomong, (Anin dia pacar kamu ya, kok ganteng banget). kan Anin malu bu, tuan Adnan cuman senyum senyum aja ke Anin! " jelas Anin panjang lebar, ibu Anin tertawa mendengar itu. Anin menyenderkan kepalanya dipundak sang ibu, dengan lembut ibu Anin mengusap rambut anaknya yang halus. "bu Anin itu ngerasa aneh kalau ketemu tuan Adnan, jantung Anin suka jedug jedug sendiri. kenapa ya bu, apa karena tuan Adnan itu laki laki terus Anin itu perempuan. padahal Anin gak pernah ngerasa kayak gitu, Anin kan juga punya teman laki laki, jadi gak ada hubungannya kan? "


"Anin kamu itu umur berapa sih sayang, kamu itu polos banget jadi orang! " ucap Ibu Anin yang gemas pada putrinya, ia mencubit pipi Anin dengan gemas. Anin yang tidak mengerti hanya mengusap pipinya, sang ibu semakin gemas dengan itu. "nanti kalau tuan Adnan juga ngerasa kayak kamu, nanti kamu pasti tahu kenapa kamu seperti itu! "


"memangnya tuan Adnan bakal ngerasain apa yang Anin rasakan? " tanya Anin dengan polos, ibunya mengangguk dan tersenyum.


"kamu sudah besar, nanti ada saatnya kamu mengerti artinya sayang! " ucap Ibu Anin lembut, gadis itu hanya manggut manggut saja untuk mengiyakan. ibunya pergi dari sana meninggalkan Anin yang disuruh nya mandi, Anin pun berjalan ke kamar mandi dan masih memikirkan perkataan ibunya.


...----------------...


keesokan hari nya Anin bangun kesiangan, dengan acuh ia bangun dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya. ia berjalan kearah dapur dengan cepat mengambil air, dan menikmati air putih dalam gelasnya. Anin terus melamun untuk mengumpulkan niatnya mandi, sampai ia sadar tidak melihat sang ibu disana. Anin celingukan mencari ibunya, tapi tidak melihat wanita yang dicari Anin. Anin pun meneguk airnnya hingga habis, dan meletakkan gelasnya diatas meja. kakinya yang tanpa alas kaki, menginjak sebuah kain lap yang basah. Anin terkejut dan terpeleset disana, tapi tidak terjatuh karena tangan kuat menopang tubuhnya. Anin langsung menoleh kearah pemilik tangan, dan tangan itu milik Adnan.


pria itu menatap Anin yang masih terkejut melihatnya, Anin yang bangun tidur, Anin yang masih bermuka bantal, tapi cantik menurut Adnan. gadis itu menatap Adnan, dan menutup wajahnya karena sadar dirinya belum mandi ataupun mencuci muka. Adnan tersenyum melihat itu dan berniat menggoda gadis itu, tapi sedetik kemudian ibu Anin dan Arzan datang dengan membawa beberapa sayuran ditangannya.


"ada apa ini? " ucap Ibu Anin melihat dua anak itu dengan posisi yang belum berubah, sedikit menahan senyum ibu Anin melihat keduanya. dengan terkejut Anin mendirikan tubuhnya dengan benar, Adnan sendiri berdehem dan melihat kearah lain. "kamu kan ibu suruh mandi, kok belum mandi ? " ucap ibu Anin lagi, hal itu membuat Anin kesal dan merasa malu kepada Adnan yang di sampingnya. Adnan menahan senyumnya disana, ia tahu Anin sedang malu tapi ia sudah melihat wajah bantal Anin yang belum mandi.


"ibu!, iya Anin akan mandi! " ucap Anin berlari meninggalkan mereka bertiga, dan mereka pun tertawa kecil melihat Anin yang malu. Adnan mengambil sayuran yang ada ditangan Ibu Anin, dan mengarah kedapur untuk memulai memasak untuk sarapan.


Adnan sengaja berangkat pagi kerumah Anin, ia bahkan kurang tidur karena tidak sabar untuk kerumah itu. bahkan ia memakasa Arzan untuk bangun di pagi hari dan ikut bersamanya, Arzan yang terpaksa pun hanya merasa kesal dengan mengikuti Adnan. pria itu tidak tahu kenapa melakukan hal itu, hatinya merasa tenang ketika berada di rumah sederhana itu. rasanya ia sedang berada di rumahnya, bersama keluarganya sendiri. Adnan tersenyum dengan membantu wanita paruh baya itu, Adnan diberikan tugas untuk memotong sayuran yang akan menjadi menu masakan. Adnan yang tidak suka sayur, menatap malas semua sayuran disana.

__ADS_1


"ibu dengar kamu habis sakit ya, masalah pencernaan? " ucap ibu Anin lembut, Adnan menoleh dan mengangguk. "hari ini aku akan memasakkan makanan yang akan kamu sukai, agar pencernaan mu lancar dan lambungnu sehat! "


"tapi aku tidak suka sayur, aku hanya membantumu memasak tapi tidak akan makan! "


"seperti hanya kau yang tidak suka sayur, aku sangat suka bu! " ucap Arzan tanpa melihat tatapan kesal Adnan, ibu Anin tersenyum dengan itu.


"kamu tidak boleh menolak, ketika kamu masuk kerumah ini aku adalah tuan rumah nya. kamu harus nurut sama ibu, gak boleh nolak! " ucap ibu Anin tanpa penolakan, bahkan saat Adnan akan bicara mulutnya disumpal oleh buah apel oleh ibu Anin. Adnan terkejut dengan itu, dan hanya dibalas senyuman oleh ibu Anin.


Anin yang keluar dari kamar mandi, segera bergerak cepat untuk merias dirinya. ia tidak menyangka Adnan datang lebih awal dari perkiraannya, dengan pakaian sedaadanya dan celana jeans, tidak lupa sentuhan terkahir parfum wangi miliknya. Anin keluar dari kamarnya dengan tas kecil nya, ia melihat Adnan yang asik mengobrol dengan ibunya. pria itu sesekali tertawa karena digoda sang ibu, Anin tersenyum melihat keduanya. ia melamun menatap Adnan, tanpa sadar ia berjalan semakin mendekat kearah dua orang yang sedang berkutik didapur.


"Anin lapar? " ucap ibu Anin ketika melihat putrinya, gadis itu tersadar dari lamunannya dan melihat kearah ibunya. dengan tersenyum Anin mengangguk, kemudian duduk di kursi samping Adnan duduk. dua pria itu sedang mengupas bawang merah disana, Adnan tidak kuat dengan bau bawang merah dan akhirnya meletakkan pisaunya dan mencuci tangannya. Anin tertawa dengan itu, ia mengambil pisaunnya dan menggantikan Adnan mengiris bawang merah itu. Adnan mendudukan dirinya lagi, tapi duduk di samping Anin yang tidak dekat dengan bawang merah yang bau itu menurutnya.


"kenapa kalian tidak merasakan bau pada bawang merah, aku saja baru memegangnya sudah tidak kuat dengan bau itu! " ucap Adnan dengan ketus, Anin dan ibunya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. setelah beberapa menit masakan itu pun siap, Anin membantu ibunya untuk menyiapkan sarapan diatas meja. tidak lupa Adnan menyusun piring untuk mereka, persis seperti sebuah keluarga kecil disana. mereka pun memulai sarapan bersama, sesekali Anin dan ibunya bercanda hingga tertawa. Adnan yang melihat itu hanya tersenyum, ia menatap gadis itu tidak berkedip. Arzan yang melihat itu menatap Adnan, jarang sekali pria itu tertarik pada seorang gadis.


...----------------...


sampainya dipanti asuhan Anin begitu senangg, ia turun dari mobil dan langsung menyapa semua anak disana. beberapa anak yang mengenal Anin langsung menyambut Anin, banyak anak kecil yang snang dan memeluk gadis itu. mereka seakan sedang melepas rindu, bahkan banyak anak yang meminta gendong pada Anin. dengan tawa dan senyuman Anin bicara pada mereka, ia seakan melupakan dua pria yang ikut bersama nya.


"apa kabar bunda, maaf Anin kesini sendirian tanpa ibu. dan ya ini teman Anin, ini tuan Arzan dan ini tuan Adnan! " ucap Anin pada ibu panti itu, dengan sopan dan tersenyum dua pria itu menyapa. ibu panti tersenyum dan mengusap wajah Anin yang cantik, rasanya kecantikan gadis itu tidak pernah berubah dan tetap sama.


"kak Anin tidak pelnah kesini! " ucap seorang gadis kecil, dengan tersenyum Anin mencubit pipi gadis kecil itu.


"iya kan tempatnya jauh, jadi nunggu ibu tidak sibuk sayang! " ucap Anin, gadis itu tersenyum kemudian menatap Adnan dan juga Arzan disana. Arzan tersenyum dan berjongkok untuk menghadap mereka, ia mengeluarkan sebuah kantung kresek yang berisikan permen.


"siapa yang mau permen? "

__ADS_1


semuanya mengatakan aku pada Arzan, dengan senang Arzan membagi rata permen itu. ia menggiring anak anak itu menjauh dari Adnan, agar pria itu lebih tenang bicara soal masalahnya. ibu panti membawa Anin dan Adnan untuk masuk, disuguhkan sebuah teh hangat dan beberapa makanan ringan. Adnan melihat beberapa foto anak kecil disana, ia berusaha mencari foto yang ia cari selama ini. tapi tidak ada yang ia kenali, semua tampak berbeda.


"semua foto itu adalah anak anak yang tinggal disini, ada yang sudah besar dan ada yang sudah diadopsi juga! " ucap ibu panti, Adnan menoleh dan tersenyum tanpa berkata apapun. Anin yang melihat itu tersenyum, kemudian ia melihat kearah ibu panti. Anin mulai menjelaskan tujuannya datang hari ini, gadis itu juga menceritakan masalah yang Adnan hadapi. ibu panti terkejut dan merasa kasian pada Adnan, ia masih mendengarkan apa yang Anin ceritakan. "berapa usia adikmu saat itu? "


"usianya dua belas tahun, jika dia sudah besar sekarang berusia 24 tahun! " ucap Adnan dengan lirih, ibu panti itu menganggukkan kepalanya.


"tidak ada yang berusia 24 disini, rata rata semuanya adalah anak anak dan remaja! " saut ibu panti, dan itu sudah pasti jawaban yang akan Adnan dengar. pria itu merasa lemas, ia menoleh kearah Anin yang tersenyum padanya.


"aku tahu dimana seseorang yang kamu cari! " ucapan seseorang membuat mereka menoleh, terlihat seorang nenek berdiri didepan pintu. Anin tersenyum melihat itu, dengan cepat Anin memeluk nenek yang ia kenal.


"apa kau tahu, dimana dia, dia adalah adikku! " ucap Adnan dengan terus bertanya, ia sudah tidak sabar karena akhirnya ia menemukan sang adik. nenek tua itu mengelus wajah Anin yang ada disebelahnya, kemudian menatap Adnan dengan wajah sendu.


"aku menemukan gadis malang itu dipinggir sungai, ketika aku membawanya kerumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong! " ucap nenek itu dengan sendu, bagaikan petir dan badai disiang hari. membuat hati Adnan hancur seketika, pria itu oleng dan Anin memegang tubuh itu dan mendudukan pria itu di sofa empuk. Adnan tidak percaya pada ucapan nenek itu, tidak mungkin adiknya meninggal, tidak mungkin.


"aku ingin melihat kuburannya, kumohon antar aku menemui kuburannya! " ucap Adnan lagi, pria itu sudah tidak tahan karena sangat tidak percaya adiknya sudah tidak ada. nenek itu mengangguk dan mereka pergi dengan mobil, beberapa menit mereka sampai di sebuah pemakaman. jantung Adnan berdegup dengan cepat, ia tidak sanggup jika benar melihat makam sang adik.


sampai di sebuah gundukan makam berukuran kecil, Adnan mengusap batu nisan yang tertutup rumput maupun tanah. terkejut bukan main yang Adnan rasakan, tertulis jelas nama Nana disana. nama yang biasa ia juluki pada gadis kecilnya itu, tapi banyak nama Nana yang ia yakini bukan hanya adiknya. sampai nenek sebelumnya mengatakan ia menamai Nana, karena melihat gelang yang dipakai gadis itu, bertuliskan nama Nana jadi nenek itu yakin gadis itu bernama Adnan.


tidak bisa menahan tangisnya lagi, Adnan menangis dengan menggenggam erat tanah itu. tangisan Adnan sangat pilu, ia memukul batu nisan itu dengan tangannya berulang kali. Anin yang melihat itu ikut menangis, gadis itu memeluk tubuh Adnan dengan isak tangis itu menguatkan diri Adnan.


"bagaimana aku mengatakan pada mama dan papa Nana, aku sudah berjanji pada mereka... untuk menemukan mu Nana... bagaimana aku akan menjelaskan semuanya... aku pikir kamu sedang menungguku datang... kenapa kamu meninggalkan Nanan pergi,..kenapa Nana ninggalin Nanan.... kenapa Nana..." suara Adnan terus merancau disana, ia sangat terpukul dan bingung apa yang akan ia katakan pada Adrian. bahkan habis sudah harapannya untuk Naira sembuh, karena ia tidak akan bisa membawa adiknya pada ibunya sampai kapanpun. Anin memeluk erat tubuh Adnan, bahkan pria itu membalas pelukan Anin yang menenangkannya berulang kali.


"Nana... "


...****************...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN UNTUK MEMBERIKAN AUTHOR SEMANGAT <3


__ADS_2