Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Kedatangan Arzan.


__ADS_3

dua minggu kemudian Adnan yang sibuk bekerja, dipaksa oleh sang adik untuk pergi ke bandara. karena kedatangan Arzan yang hampir setahun merantau beda negara, Anindhira atau Nadira yang sangat akrab dengan Arzan pun membuat sebuah sambutan. Nadira berdiri dengan membawa papan ucapan selamat datang untuk Arzan, Adnan sendiri malas dan hanya diam menatap pintu keluar seseorang. sampai beberapa menit, manusia yang mereka tunggu pun datang. Arzan yang melihat Nadira melambaikan tangan, langsung berlari tanpa memperdulikan apapun. Nadira berteriak kegirangan, seperti lama tidak bertemu Arzan.


mereka berdua hampir saja berpelukan, jika Adnan tidak menarik tubuh pria itu dengan kasar. Nadira dan Arzan terkejut, karena Arzan ditarik begitu saja layaknya seekor kucing.


"kau baru datang, tapi sudah ingin pergi lagi? " ketus Adnan, Arzan hanya cengengesan begitu juga dengan Nadira.


"Nanan... jangan jahat begitu, kak Arzan kan cuman akan memeluk saja! " saut Nadira tersenyum, Arzan mengangguk kemudian memeluk gadis itu tanpa peduli Adnan.


"hm... gadis bunga aku sangat merindukanmu... bagaimana kabarmu hm... " ucap Arzan, Nadira cekikikan dan mereka pun mengobrol. Adnan pergi dari sana dengan diikuti dua orang itu, mereka sudah mengira Adnan kesal pada keduanya. Nadira tidak berhenti bercerita didalam mobil, ia menceritakan semua kisahnya saat Arzan tidak ada. Adnan sendiri memperhatikan wajah Arzan, pria itu menatap sang adik dengan penuh arti.


"aku lihat kamu ada perubahan? " ucap Adnan tiba tiba, Arzan menoleh kemudian melihat kearah Nadira. hal itu mendapat anggukan dari Nadira, kemudian Arzan menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


"mungkin aku dalam fase kurus, benarkan? " ucap Arzan, Adnan mengangguk dengan Nadira secara bersamaan.


"yasudah kita kerestoran saja, ayo kak kita beli makanan yang bikin kenyang! " ucap Nadira girang, hal itu tentu membuat orang didalam mobil tersenyum. asisten Adnan yang duduk dibagian depan, tersenyum bahagia melihat tiga orang itu saling berbincang dan juga bercanda.


sampai beberapa menit mereka sampai di sebuah restoran, tempatnya bersih dan juga nyaman meskipun terlihat ramai banyak pengunjung. ketiga orang itu menemukan meja, tidak menunggu lama mereka duduk dan memesan sebuah makanan. Nadira menatap Arzan yang diam, bahkan memberikan isyarat pada Adnan agar bertanya ada dengan Arzan yang tiba tiba menjadi diam.


"aku tidak bermaksud mendiamkan kalian, hanya saja otakku ini hampir pecah memikirkan sesuatu! " ucap Arzan tiba tiba, Adnan hanya mengangguk dan Nadira tersenyum melihat Arzan.


"kak Arzan... apa ibumu sudah sembuh, bagaimana dengan kakinya? " ucap Nadira, Arzan menghela nafas dan mengangguk.


"dia sudah bisa berjalan, kamu tenang saja! " ucap Arzan tersenyum, Nadira tersenyum dan juga mengangguk.


"kamu tahu tidak, aku dan Nanan pernah dihukum oleh papa.. kami disuruh membersihkan istana besar itu, dan bukan yang mengerjakan tapi Nanan... " ucap Nadira tertawa kecil, Adnan yang ada disampingnya memberikan pukulan pada kepala Nadira dan membuat dirinya kesakitan.


"panggil aku kakak! "

__ADS_1


"aduh... jangan pukul kepalaku, akhir akhir ini kau selalu memukul kepalaku. siapa yang akan menikah denganku nanti, ingat adikmu ini masih lajang sampai sekarang! " ucap Nadira, Adnan tertawa dan semakin menggoda Nadira dengan mengacak rambut gadis itu.


"aku yang akan menikahimu, meskipun kamu bodoh tidak masalah! " ,celetuk Arzan, hal itu membuat Adnan dan Nadira terkejut. ketiganya saling memandang kemudian merasa canggung, dan kecanggungan itu buyar setelah pesanan mereka datang dan mulai dihidangkan.


semenjak Nadira dinyatakan sebagai putri Adrian dan Nadira yang hilang, mereka bertiga selalu pergi bersama. makan pun akan pergi bersama, atau tidak pergi jika salah satu tidak bisa datang. saling mencicip makanan menjadi kebiasaan mereka, jika tidak cocok Nadira selalu menukar makanannya dengan dua kakak yang menjaganya.


"heh Arzan... bagaimana apa kau sudah dapat surat tugasmu, jika kau gagal kau akan jadi asisten ku untuk selamanya! " ucap Adnan diselanya makan, Arzan mengangguk dengan mengacungkan jempol.


"belum keluar, tenang saja aku pasti akan menjadi dokter gigi terkenal! " ucap Arzan girang, Adnan menggelengkan kepalanya dan Nadira tertawa kecil. Arzan sudah berteman dengan Adnan begitu lama, tapi Arzan hanya bekerja untuk membantu Adnan mencari adiknya. setelah Nadira ditemukan Arzan memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya itu, ia ingin kembali pada profesi yang seharusnya ia miliki yaitu sebagai dokter ahli bedah dan juga dokter spesialis gigi.


"kau semakin tua jika terus mengerjakan tugas, mana sempat cari istri! "


"jangan meledek, kau sendiri belum dapat istri. seorang ceo jutek, keras kepala, dan juga sombong! "


"eits... kenapa kalian ribut, kedua kakakku sangat baik. jadi jangan bertengkar, makan kemudian kita pulang! " ucap Nadira tersenyum, Adnan dan Arzan saling menghela nafas dan melanjutkan makan mereka. "jangan suka marah, nanti kalian cepat tua.. haha... aduhh aduhh! " Adnan dan Arzan terkejut mendengar rengekan Nadira, gadis itu memegang pipinya karena merasa giginya ngilu.


"apa gigimu sakit lagi, coba aku lihat! " terlalu keras Adnan memegang, Nadira sedikit kesal dan memeukul tangan Adnan. tapi pria itu kembali memegang pipi Nadira, kembali menekan dengan lebih keras pada pipi gadis itu.


"sejak kapan kau memiliki gigi berlubang, aku pernah bilang jangan makan yang manis manis! " ucap Arzan, Nadira hanya terdiam meringis dengan memakan makanannya lagi perlahan.


"hei siapa kau melarang adikku, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan! " ucap Adnan meninggi, Arzan menoleh dan akan membuka mulutnya untuk melawan Adnan. tapi hanya terdiam ketika Nadira menendang kakinya, Arzan menoleh dan melihat Nadira menggelengkan kepalanya.


"tunggu sampai aku menjadi dokter gigi, aku akan menghabisi gigimu itu! " ucap Arzan, ia kesal kemudian melipat kedua tangannya dan terdiam.


setelah pertengkaran itu, Arzan dan Adnan saling diam disamping Nadira. gadis itu bingung harus bagaimana ia bicara, ia hanya melihat kanan dan kirinya dengan perasaan tidak karuan. mobil mereka menuju sebuah apartemen besar, bertujuan untuk apartemen tempat tinggal Arzan sementara. saat Arzan turun Adnan pun enggan turun, akhirnya Nadira memilih untuk turun sendirian mengantarkan Arzan.


"dia masih kesal? " ucap Arzan berjalan masuk diikuti Nadira, gadis itu menjawab dengan anggukan kepala. "hm... biarkan saja! " ucap Arzan lagi, Nadira menghentikan langkahnya dan menghela nafas.

__ADS_1


"aku akan bicara dengannya nanti, besok harus sudah berbaikan! " ucap Nadira tersenyum, Arzan mengangguk kemudian mengacak rambut Nadira.


Arzan meminta Nadira menunggu dengan koper miliknya, ia kearah resepsionis untuk mengambil sebuah kunci apartemennya. Arzan tersenyum melihat Nadira, gadis itu membalas senyuman Arzan dengan lembut.


"kamu akan mengantarku sampai depan kamar? " ucap Arzan, Nadira tersenyum dan mengangguk.


"iya, akan kuantar sampai depan kamar. aku sudah menghubungi kakak, dia bilang tidak masalah. lagi pula kakak ada diparkiran, dia bersedia menunggu disana! " ucap Nadira, Arzan tersenyum dengan mengambil koper miliknya.


"akan kupastikan dia lama menunggu disana! " saut Arzan tertawa pelan, Nadira tertawa dengan memukul lengan Arzan. lift pun mengantar mereka sampai dilantai kamar Arzan, dengan canggung Arzan mempersilahkan Nadira untuk masuk sebentar.


"wah kak Arzan ini sangat besar, ada dua kamar didalamnya! " ucap Nadira, Arzan juga tidak menyangka apartemennya akan cukup besar untuknya.


"mau bagaimana lagi, ini hadiah dari kakakmu! " ucap Arzan, Nadira pun teringat sang kakak menunggu dirinya di gedung parkiran.


"oh ya kak Arzan aku balik ya kasian Nanan menunggu, besok aku akan kesini lagi dengan membawakan makanan untukmu. oke! " ucap Nadira, Arzan mengiyakan hal itu.


"baiklah, pikirkan aku saat kau pulang kerumah agar kau tidak lupa untuk kesini besok! " saut Arzan, Nadira tertawa lagi dengan hal itu.


"tenanglah aku pasti kesini, lagi pula bagaimana bisa aku terus memikirkanmu! " ucap Nadira tertawa kecil, gadis itu melangkah menuju pintu tapi tangannya ditahan oleh Arzan. tubuh pria itu tiba tiba sedikit membungkuk, agar jarah tingginya sama dengan Nadira.


"tentu saja bisa! " ucap Arzan, tanpa bicara lagi Arzan tiba tiba mencium bibir Nadira hingga membuat gadis itu terkejut. Nadira membalakkan matanya saat Arzan menciumnya, bahkan menekan kepalanya agar ia tidak bisa mundur untuk melepaskan hal itu. Nadira terdiam kaku, sampai Arzan melepaskan ciuman itu dan tersenyum kearah Nadira yang menutup mata. "kau akan memikirkan aku semalaman, kuyakin itu!" ucap Arzan tersenyum, Nadira menutup mulutnya dan menyipitkan matanya.


"dasar mesum, mesum mesum! " ucap Nadira memukul dada Arzan, pria itu hanya tertawa saat dipukuli oleh Nadira.


Arzan menyimpan perasaan pada Nadira sejak lama, semenjak ia tahu Nadira adik kandung Arzan ia semakin menyukai gadis itu. hanya saja tidak pernah ia katakan, karena ia masih memiliki rasa takut dengan Adnan yang sangat menjaga sang adik. Nadira sendiri pun memiliki perasaan ketika Arzan terus menemaninya beberapa bulan sebelumnya, dan perasaannya yang mencintai sang kakak benar telah sirna hanya ada kasih sayang seorang adik dengan kakaknya. ketika Arzan memberikan perlakuan seperti itu, bukannya marah Nadira merasa senang. karena orang yang ia sukai melakukan hal itu padanya, Nadira tersenyum sendiri ketika menuju Adrian yang sudah menunggunya.


...****************...

__ADS_1


Arzan



__ADS_2