
Nadira tidur nyenyak dalam pelukan Arzan, pria itu menatap gadis cantik disampingnya. saat mereka berciuman tanpa sadar Arzan membawa Nadira kekamaenya, dan berlanjut hingga keduanya lelah dan ketiduran satu sama lain. Arzan memikirkan bagaimana jika Adnan mengetahui hal itu, melihat adiknya menginap di rumahnya semalam. Adnan hanya berpikir Arzan belum kembali, karena Arzan sendiri tidak memberikan kabar apapun pada Adnan. pria itu berdiri dengan perlahan, niatnya keluar agar tidak membangunkan Nadira yang terlihat pulas tertidur.
Arzan menatap rumahnya yang terlihat rapi, barang ditata di tempatnya dan pasti itu adalah pekerjaan Nadira. sampai pandangannya melihat kearah meja, sebuah lampu kecil yang asing dimatanya. saat akan menghampiri lampu itu, Arzan mendengar suara Nadira yang meringik kesakitan. tanpa bicara lagi Arzan datang kekamarnya, melihat Nadira duduk dengan memegang pipinya.
"apa gigimu sakit lagi? " ucap Arzan, Nadira mengangguk dengan itu.
"kau tahu aku memakai koyo selama dua hari ini, rasanya ingin kucabut semua gigiku! " ucap Nadira, Arzan tersenyum dengan itu.
"baik cabut saja, dokter Arzan akan mencabutnya!" ucap Arzan dengan senyuman, Nadira hampir melupakan itu. orang dihadapannya ini bukan hanya kekasihnya sekarang, melainkan juga seorang dokter spesialis gigi dan juga bedah. Nadira tersenyum dan mengangguk, Arzan pun ikut tersenyum.
"hm.. ada lampu meja baru disana, kamu beli ya? " tanya Arzan, Nadira menggelengkan kepalanya kemudian ingat belum bercerita dengan Arzan.
"jadi waktu kamu pergi, besoknya ada tetangga baru disebelah. ia memberikan hadiah perkenalan, setelah aku buka ternyata lampu kecil itu cantik. kalau malam terlihat cantik, kamu pasti menyukainya! " ucap Nadira, Arzan tersenyum kemudian mencium tangan Nadira.
"aku hanya menyukaimu, dan kamu adalah gadis tercantik yang ada dihatiku! " ucap Arzan, Nadira tersipu kemudian tertawa tapi rasa sakit giginya membuat ia sedih. Arzan tertawa dengan itu, kemudian memeluk Nadira dengan lembut.
...****************...
Adnan mendapat kabar Arzan kembali, ia datang ke apartemen Arzan dengan segera. Arzan mengaku datang pagi hari dan melihat Nadira, mereka berdua tidak berani mengaku jika bermalam bersama. ketiganya kembali kerumah besar Adrian, karena Naira sudah memasak banyak makanan untuk merayakan kelulusan Arzan. mereka berlima duduk di meja makan yang penuh makan, sesekali mereka berbincang bincang dan bercanda satu sama lain.
__ADS_1
Nadira mengambil sebuah ayam goreng dan diletakkan ke piring Arzan, tentu pria itu senang dan tersenyum kearah Nadira. lima detik kemudian Nadira sadar sesuatu, disampingnya itu adalah sebuah singa yang hampir saja ingin menerkam nya. Nadira menoleh kearah Adnan, dan benar saja pria itu melihat dirinya yang memberikan ayam pada Arzan.
"ayo makan, ini ayam untukmu! " ucap Nadira memberikan ayam yang sama, Adnan menyipitkan matanya melihat kedua orang itu terlihat aneh.
"kenapa kau menjadi sangat kalem sekarang, apakah otakmu ketinggalan kemarin? " ucap Adnan, Arzan kesal tidak memperdulikan Adnan yang bicara. Nadira tertawa dengan itu, begitu juga dengan Naira dan juga Adrian. "Nana beresi semua barangmu yang ada disana, gamungkin kalian tinggal berdua disana! " ucap Adnan, Nadira mengangguk melirik Arzan yang tersenyum.
"kenapa harus tinggal di apartemen, rumah ini besar kamu bisa tinggal disini dengan kami! " ucap Naira, Arzan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"tidak tante, Arzan tidak mau merepotkan kalian. lagi pula apartemen itu hadiah dari Adnan dan juga Nadira, tidak mungkin kan jika tidak ditinggali! " ucap Arzan, Naira pun mengangguk dengan hal itu.
"kalau kamu butuh apapun bilang saja, kami selalu ada buat kamu! " ucap Naira, Arzan mengangguk dengan hal itu dan melihat kearah Nadira. gadis itu memberikan jempol untuknya, kemudian tersenyum kearah Adnan yang masih menatapnya tanpa berkedip. jangankan bicara tentang hubungannya dengan Arzan, ditatap tajam oleh Adnan saja nyali Nadira sudah ciut. bibirnya keluh tidak tahu harus bicara apa, suaranya tercekat ditenggorokan.
"boss ada kakakmu! " ucap Elia, Nadira tersenyum kemudian menoleh kebelakang. benar saja ia melihat Arzan disamping pintu, Nadira senang dan menghampiri pria pujaan hatinya.
"aku membawakannu makan siang, karena setelah ini aku tidak akan ada waktu luang saat dirumah sakit! " ucap Arzan, Nadira mengangguk dengan senyuman.
"kalau kamu tidak disini, maka aku yang akan kesana untuk menjemputmu! " ucap Nadira, Arzan tersenyum dan mengusap rambut gadis itu. tentu hal itu membuat Nadira kesal, ia mengerucutkan bibirnya yang membuat Arzan bingung.
"rambutku jadi sarang burung, jangan di acak2! " ucap nya, Arzan tertawa dengan itu dan semakin menggoda Nadira.
__ADS_1
"gigimu bagaimana, masih nyeri tidak? " Nadira menggelengkan kepalanya sembari menyuapkan makanan dimulut nya, Arzan mengangguk kemudian ikut makan bersama Nadira. "hm... Adnan belum tahu ya tentang kita, kapan kamu niat bicara padanya? " Nadira tersedak ketika mendengar itu, ia tersenyum kaku kemudian meletakkan sendoknya.
"aku masih tidak berani, kau tau sendiri bagaimana sifat Nanan... " ucap Nadira, Arzan yang mengerti pun hanya mengangguk dan memberikan senyuman. mereka makan tanpa mengobrol lagi, sesekali keduanya saling menyuapi terlihat romantis.
...****************...
Arzan mengajak Nadira berkeliling, mereka bingung harus kemana. pada akhirnya memilih kesebuah supermarket dan membeli banyak makanan, begitu juga kebutuhan kulkas Arzan. Nadira memutuskan untuk membuat kue sendiri, itu sangat menyenangkan baginya bisa memasak dengan Arzan. sesekali pria itu menjaili Nadira, dengan berlasan itu Arzan dapat memeluk dan juga mencuri ciuman dari Nadira.
"kalau tidak ditambah ini, kuenya akan lengket! " ucap Nadira menuang sebuah minyak, Arzan tersenyum melihat itu. "aku ingin memasak kue dengan tenang, jika kamu terus begini bagaimana bisa aku tenang! " ucap Nadira dengan kesal, ia merasa kesal saat Arzan terus memeluknya dari belakang tanpa melepas pelukan itu. banyak gerak pun, Arzan tidak peduli masih tetap memeluknya.
"aku suka memelukmu, kamu wangi pakai sabun apa? " tanya Arzan, Nadira tersenyum kemudian melepaskan pelukan Arzan.
"kamu mau tahu saja atau mau tahu banget! " ucap Nadira, Arzan menyipitkaan matanya kemudian mencoba berjalan saat Nadira terus mundur.
"aku mau itu saja, tidak mau tahu! " ucap Arzan menunjuk bibir Nadira, dengan tertawa Nadira mengoleskan tepung pada wajah Arzan kemudian berlari. "hei... kau! " ucap Arzan, mereka saling mengejar satu sama lain. Nadira tertawa puas saat lega menjaili Arzan, begitu juga dengan Arzan yang menjaili Nadira. sampai Arzan pun menangkap Nadira yang keduanya sudah penuh tepung, Arzan tertawa mengusap wajah Nadira yang putih.
"mau cium, umm! " ucap Nadira memajukan bibirnya, Arzan tertawa dengan itu. tanpa menolak Arzan pun mendaratkan bibirnya, ia mencium Nadira sesuai keinginan gadis itu. tiba tiba tangan Arzan menyenggol sebuah lampu meja yang sebelumnya, membuat lampu itu terjatuh dan pecah seketika. Nadira tertawa disana, begitu juga dengan Arzan yang merasa konyol.
"minggir dulu, akan kuambil kan sapu untuk membersihkannya! " ucap Arzan, Nadira mengangguk dengan itu. Nadira merasa ada yang aneh pada serpihan lampu itu, kemudian ia mengambil sebuah benda kecil yang dirinya tidak tahu apa itu.
__ADS_1
"apa ini, sepertinya kamera... " Nadira terdiam dengan itu, lampu yang diberikan tetangga Arzan terdapat sebuah kamera disana. Nadira mengingat cerita Elia, dan itu terjadi pada dirinya. Nadira mengingat apa yang ia lakukan dirumah itu selama dua hari, Nadira berteriak dan melempar benda itu. Arzan yang mendengar teriakan langsung berlari, ia mendapati Nadira yang menangis tanpa mengatakan apapun.