Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sebuah kecelakaan.


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu.


mereka yang disebut bayi pun tumbuh menjadi usia remaja, Naira yang sudah berumur tersenyum melihat foto yang dipajang, setiap dinding akan di hias dengan foto kedua anaknya. mulai dari bayi hingga mulai besar, sampai keduanya remaja dan dirinya menjadi berumur sama dengan Adrian. Naira mendengar sebuah mobil datang, dengan senyum Naira menoleh dan tentu yang ia pikirkan tepat.


gadis remaja berlari dengan seragam dan tas sekolahnya, ia berlari menghampiri Naira yang tidak lain adalah Nadira. di belakang gadis itu sang saudara kembar Adnan berjalan santai. Naira tersenyum melihat keduanya, mereka berdua langsung mencium pipi Naira secara bersamaan. Nadira menyeret Naira untuk duduk disofa, kemudian memberikan sebuah kertas yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


"ulangan Nana bagus lagi! " ucap Nadira kegirangan, Naira menerima kertas yang sempat Nadira berikan. kemudian Naira menoleh kearah Adnan, dengan diam Adnan menyerahkan kertas miliknya. Naira terkejut melihat kertas itu yang bernilai sempurna, 100 . Adnan hanya menaikkan kedua pundaknnya, Naira tersenyum dan mencium pipi Adnan dengan gemas. "Nanan gak mau ngasih contekan mama, jadinya Nana hanya dapat nilai 98. tapi ranking Nana dibawah Nanan, dia mendapatkan ranking satu! " jelas Nadira, Naira tersenyum melihat perbedaan kedua anaknya. Nadira terkenal gadis cerewet dan juga percaya diri yang melewati batas, mungkin itu mirip dengan ibunya. sedangkan Adnan seorang anak laki laki yang banyak diam, Adnan akan bicara kalau dirinya diperlukan untuk bicara. Adnan hanya menggunakan tindakan tanpa bicara, lebih tepatnya ia persis dengan Adrian yang tidak terlalu banyak bicara.


"menyontek bukan hal yang baik, berapa kali aku harus bilang padamu! " ucap Adnan, Nadira menoleh dan memandang saudaranya itu. memang itu sifat buruk Adnan, bersifat keras meskipun pada adiknya sendiri.


"he Nanan kamu juga tidak ajarin aku pas belajar, kamu biarin aku belajar sendiri meskipun aku tidak paham! " ucap Nadira melipat kedua tangannya, Adnan memasukkan kedua tangannya didalam saku celana. mereka saling melirik dengan kekesalan, Nadira memutar bola matanya yang melihat Adnan.


"aku kakak mu, panggil aku kakak! " ucap Adnan singkat, Nadira menggelengkan kepalanya.


"gak mau, kita kan lahir di tanggal yang sama, hari dan bulan juga sama, bahkan ditahun sama! " ucap Nadiraenjulurkan lidahnya, Adnan sangat kesal dengan itu.


"tetap saja aku adalah kakakmu, karena aku lebih dulu lahir daripada kamu! " saut Adnan tidak mau kalah, Nadira menggelengkan kepalanya.


"tidak, kita seumuran dan hanya berbeda lima menit!" mereka berdua saling pandang, Adnan memang selalu dibuat kesal oleh Nadira. tapi hal biasa menurutnya, karena ia sadar diri kalau adiknya itu gadis yang nakal. kalau tidak bertengkar dengannya, akan bertengkar dengan siapa lagi pikir Adnan.

__ADS_1


"apa yang kalian ributkan, hm? " suara Adrian menggema disana, Nadira tersenyum dan berlari kearah Adrian. tidak lupa ia melompat dan langsung ditangkap oleh Adrian, Nadira sangat suka saat Adrian menggendongnya. Adrian berjalan kemudian mencium kening Naira, dengan jail ia mencium pipi Naira dan alhasil mendapat pukulan kecil dari Naira.


"papa Nana sama Nanan dapat nilai sempurna, ayo beri kami hadiah! " ucap Nadira dengan girang, Adrian tersenyum kemudian menurunkan putrinya. Adrian membawa kedua anak itu berdiri dihadapannya, Adrian duduk disofa dan tersenyum melihat keduanya.


"Kakak? " ucap Adrian menatap Nadira, dengan tersenyum Nadira menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "janji sama papa, gak boleh nakal. gak boleh ngelawan kakakmu, dan panggil dia kakak mulai sekarang! " ucap Adrian lagi, Nadira mengerucutkan bibirnya dan melihat Adnan yang berdiri di sampingnya.


"tapi Nana suka panggilan Nanan, itu nama panggilan kesayangan! " ucap Nadira manja, wajahnya selalu berhasil membuat keimutan tiara duanya. Adrian tertawa melihat itu, ia mencubit pipi gembul Nadira dengan gemas.


"kalau gak mau manggil kakak yasudah, mending diem gausah ngomong! " ucap Adnan ketus, Adrian yang mendengar itu sedikit terkejut kemudian tersenyum. ia tidak menyangka anak laki lakinya itu lebih ketus dari dirinya, ia takut Adnan akan seperti dirinya yang selalu menyendiri tanpa didekati siapapun.


"papa boleh minta sesuatu pada kalian? " keduanya mengangguk secara bersamaan, kemudian Naira mendekat kearah Adrian dan ikut duduk disana. Naira penasaran apa yang ingin dikatakan Adrian, dengan senyum Adrian memegang tangan Adnan dan juga Nadira bersamaan. "kalian tidak boleh bertengkar, kalian harus akur dan bekerjasama hingga dewasa. kalian sama, tidak ada yang berbeda diantara kalian. Nanan sebagai kakak akan menjadikan Nana sebagai adikmu, kelak kenakalan Nana kau yang harus mengurusnya. jika dia salah tegur dia, beri dia nasihat untuk memperbaikinya begitu pun sebaliknya. oke? " ucap Adrian tersenyum, keduanya mengangguk secara bersamaan.


"Nana juga, aku akan menjaga kakak! " teriak Andira tidak mau kalah, mereka berempat pun tertawa dengan girang. Adrian pun berjanji pada mereka, akan memberikan hadiah atas kerja keras mereka berdua saat melam hari. Nadira semakin bersorak dengan Adnan yang hanya tersenyum, berulang kali Nadira mencium sang ayah.


...****************...


Adrian membawa keluarga kecilnya itu kesebuah taman bermain, kemudian berlanjut di sebuah restauran mewah. makanan Adnan dan juga Nadira terhidangkan disana, mereka menikmati bersama. Nadira yang suka sekali membaca buku, meminta Adrian membelikan banyak buku untuknya. tentu saja Adrian akan menuruti permintaan putrinya itu, bukan Adrian jika tidak mengiyakan. saat akan pergi tiba tiba hujan sangat deras, membuat Nadira merasa sedih karena keinginannya tidak bisa terwujud.


"kita pergi besok saja, sekarang kita pulang saja dulu! " ucap Naira dengan lembut, Nadira pun mengangguk dengan lemah. mereka masuk kedalam mobil secara bergantian, Naira lebih memilih duduk di kursi belakang bersama putrinya. Adrian melajukan mobilnya ketika hujan mulai reda, ia berharap putrinya itu tidak sedih. mereka bertiga menghibur Nadira, segala candaan mereka bicarakan dan sesekali tertawa.

__ADS_1


hujan yang sempat mulai reda itu, kembali mengguyur kota itu dengan begitu derasnya. hujan dengan tidak berperasaan membuat jalanan tidak terlihat, bahkan lampu mobil pun tidak menembus hujan itu. Adrian melajukan mobilnya dengan pelan, mereka menutupi ketakutan masing masing dengan bernyanyi. berbeda dengan Nadira, gadis itu melihat kearah luar mobil dan merasa merindjng melihat jalanan. begitu buram tidak terlihat jelas kendaraan melintas, ia menjadi berkeringat karena ketakutan. tiba tiba mobil Adrian berhenti ketika suara gemuruh langit yang menggelegar, itu adalah hujan badai yang tidak di rencanakan. Adrian berhenti dipinggir jalan, ia akan melewati jembatan besar tapi ia merasa ngeri dengan jembatan yang tampak berkabut karena hujan.


"papa Nana takut, hujannya menakutkan! " ucap Nadira dipeluk oleh Naira, keempat orang itu merasa apa yang dirasakan Nadira.


"kita tidak bisa sampai rumah kalau hujan badai seperti ini, jalanan sangat rawan berbahaya. kita hanya bisa menunggu hingga hujan reda, untuk keselamatan kita sendiri! " ucap Adrian tegas, Naira mengangguk mendengar itu. dipeluknya Nadira yang masih ketakutan, Adnan melihat sang adik ketakutan pun memgang tangan adiknya dengan tersenyum.


"harusnya tadi gak usah pergi, kita dirumah saja! " ucap Nadira meringik akan menangis karena merasa bersalah, Nadira menenangkan putrinya karena hujan badai yang mendadak itu bukanlah salah Nadira.


"tidak sayang, jangan salahkan dirimu oke? kita tidak tahu kapan hujan akan turun, dan kapan hujan tidak turun! " ucap Adrian tersenyum, mereka saling melempar senyum sampai sebuah cahaya menerangi mobil mereka yang awalnya gelap. Adrian menyipitkan mata dengan lampu dibelakang mobilnya, itu mobil orang lain. belum sempat Adrian bicara, tepat saat itu juga sebuah mobil menabrak mobilnya yang sedang berhenti di pinggir jalan.


mobil Adrian terseret maju hingga jauh, sampai terdorong hingga pembatas jembatan jalan itu. tubuh Adrian yang memeluk Adnan terlempar keluar untuk menyelamatkan diri, tapi tetap saja aspal tidak bersahabat dengan dua manusia itu. keduanya tidak sadarkan diri di tengah jalan, Naira yang memeluk putrinya harus merasakan sakit pada kakinya yang terhimpit mobil. dirinya tidak bisa bergerak karena tabrakan itu sunguh begitu cepat, sampai tubuh Nadira yang dipeluknya harus terjun dari jembatan kebawah sungai. Naira mendelik melihat itu, tangannya gagal menggapai tangan Nadira. sampai Nadira tidak terlihat oleh matanya, Naira menangis dan berteriak nama Nadira.


suara benturan itu terdengar cukup keras, bahkan beberapa orang mulai berdatangan. mereka membantu Naira yang tidak bisa bergerak, beberapa orang menarik kuat mobil itu agar Naira bisa dikeluarkan. dengan tetesan air hujan yang masih deras, Adrian membuka matanya. ia tersadar putranya tidak sadarkan diri didalam dekapannya, Adrian membangunkan Adnan yang tidak ada respon. seseorang membantu Adrian yang meminta tolong, mereka membawa Adnan menepi dan membiarkan Adrian berjalan dengan luka ditubunya. pria itu tidak peduli luka ditubuhnya, yang ia pikirkan saat ini adalah istri dan juga anaknya yang masih di mobil itu.


Adrian memeluk tubuh Naira yang terkulai digendong beberapa orang, Adrian melihat banyak darah ditubuh Naira terutama bagian kaki. Naira merintih kesakitan, beberapa orang menlefon ambulan untuk keselamatan mereka.


"Nanaa... " ucap Naira lirih membuat Adrian tersadar, ia melupakan putri kecilnya yang berada dengan Naira. Adrian mencoba mencari putrinya itu, tapi tidak menemukan Naira dimanapun. ia bertanya pada beberapa orang disana, tapi tidak ada yang melihat siapapun kecuali Naira yang merintih meminta tolong dan kesakitan. tangis Adrian pecah, kemudian ia tidak kuat menahan tubuhnya dan ambruk tidak sadarkan diri. secara kebetulan sebuah ambulan datang, mereka bertiga langsung diantar kerumah sakit terdekat. Naira masih merintih dengan menutup mata, ia terus menyebutkan nama sangat buah hati, Nana.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2