
Adnan resmi tinggal dirumah Anin, ia dirawat dengan baik dirumah itu. perasaan hangat rumah itu membuat Adnan nyaman, meskipun tidak sebesar rumahnya, tapi rasanya seperti rumahnya sebelum mereka kehilangan Nadira. Adnan yang murung terus diam tanpa mau bicara, setiap hari Adnan memandangi foto Nadira amyang tersimpan didompet nya. Anin berulang kali menghibur Adnan, tapi pria itu hanya tersenyum dan berkata ekspresi biasa. Anin merasa sedih melihat itu, tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apapun selain diam.
Anin membawa makanan untuk Adnan, dengan senyuman ia menatap pria itu. Adnan duduk di kursi rodanya, dengan jendela kamar terbuka membuat cahaya bulan yang terang. Adnan menatap bulan itu tanpa berkedip, pikiran pria itu entah kemana. Anin mendekat dan meletakkan makanan itu, kemudian berdiri dibelakang Adnan. kehadiran Anin membuat Adnan tersadar, pria itu menoleh dan melihat Anin yang sudah dibelakangnya.
"apa sudah menghubungi orang tuamu? " ucap Anin tersenyum, Adnan mengangguk tanpa menjawab. pria itu berusaha menggerakkan tangannya, meskipun sudah bisa bergerak tapi masih sakit yang ia rasakan. "tidak perlu dipaksa, masih ada aku disini! " ucap Anin kemudian membawa makanan itu dipangku nya, Anin siap menyuapkan makanan itu pada Adnan seperti biasanya.
"papa ku meminta ku untuk kembali, tapi keadaan ku masih seperti ini! " ucap Adnan disela makannya, Anin hanya mengangguk saja dan menyuapkan makanan lagi. Adnan tidak pernah menolak itu, ia selalu merasa senang dengan Anin yang perhatian padanya. "Anin pernah gak kamu mikir sesuatu tentang aku? " tanya Adnan, entah gadis itu polos atau tidak mengerti, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"emangnya mau mikir apa tentang tuan? "
"Anin... sudah pernah kukatakan, jangan panggil aku tuan. panggil namaku, sekarang kamu bukan pegawai ku! " ucap Adnan menekan, Anin yang mendengar itu hanya mengangguk pelan. "coba ulangi perkataan mu tadi, tanpa tuan! "
"mmm... emangnya mau mikir apa tentang... kamu? " ucap Anin perlahan dan lirih, Adnan tersenyum dan memegang tangan Anin. dengan terkejut Anin menatap Adnan, kenapa pria itu tiba tiba memegang tangannya.
"masih gak mikir apa apa? " ucap Adnan, Anin menggelengkan kepalanya dengan cepat. terlihat pipi Anin merah karena merasa malu, Adnan tertawa dengan itu. "aku menyukai... " suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh, dengan ceria Arzan masuk mengganggu dua orang yang sedang bicara itu. Adnan berdecak kesal, Arzan dengan ceria duduk disamping Anin dengan membawa bunga.
"aku membawa buah untukmu, apa sudah bisa jalan? " ucap Arzan, Adnan menggelengkan kepala karena kakinya masih saja sakit untuk bergerak.
"aku sudah membantunya berjalan, tenang saja dia akan sembuh! " ucap Anin dengan tersenyum, Adnan sendiri tersenyum melihat Anin. Arzan yang melihat keduanya merasa curiga, secara bergantian ia memperhatikan keduanya. hal itu diketahui oleh Adnan, dengan tajam Adnan menoleh dan menatap Arzan.
"apa kau lihat lihat! " ucap Adnan ketus, Arzan dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"aku pikir kalian sedang ada apa apa! " Anin dan Adnan terkejut disana, mereka berdua menatap Arzan bicara yang tidak mereka mengerti. Arzan tertawa melihat itu, kemudian menunduk kearah Adnan. "kalau kamu gak gerak cepat, aku yang bakal gerak cepat! " ucap Arzan tepat ditelinga Adnan, tentu pria itu terkejut dan langsung menatap Arzan. Adnan mengerti apa yang dimaksud Arzan, tapi tidak disangkanya pria itu juga menginginkan Anin si gadis bunga. Arzan terkekeh kecil melihat ekspresi Adnan, ucapan itu berhasil membuat Adnan merasa terancam miliknya diambil. Anin hanya melihat mereka dengan diam, ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
ketiganya keluar dari kamar, mereka berniat mencari udara segar untuk bertemu ibu Anin. Anin melihat ibunya yang baru saja masuk kedalam rumah, ibu Anin terlihat pucat seperti terjadi sesuatu padanya. Anin melangkah menghampiri sang ibu, dengan terkejut ibu Anin menatap putrinya.
"ibu kenapa, ibu dari mana? " ucap Anin khawatir, ibunya menggelengkan kepala dan tersenyum.
__ADS_1
"ibu tadi habis dari toko, hanya merasa tidak enak badan jadi ibu langsung pulang mau istirahat! " jawabnya, Anin pun membawa ibunya untuk kekamar. diberikan obat dan meminta ibunya untuk istirahat, ibu Anin tiba tiba menangis dan memeluk ibunya itu. "Anin jangan tinggalin ibu ya, nanti ibu sendirian... " Anin mengelus punggung ibunya, ia penasaran kenapa ibunya itu berkata seperti itu.
"Anin gak akan ninggalin ibu sendirian, sekarang ibu istirahat ya! " ucap Anin membawa ibu berbaring, diselimuti ibunya hingga separuh tubuhnya. badan ibunya sedikit panas, apa yang terjadi pada ibunya itu. kemudian Anin meninggalkan ibunya yang sudah tertidur, pikirannya berkelana dan masih berpikir ada apa dengan ibunya.
"ada apa dengan ibu? " ucap Adnan, Anin menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"aku tidak tahu, badan ibu panas sepertinya dia demam! " ucap Anin khawatir, Adnan dan Arzan hanya mengangguk dan kembali bicara dengan masalah mereka. Anin masih memikirkan ibunya, pertama memikirkan Adnan yang sakit dan sekarang ibunya sakit.
...****************...
benar saja sangat ibu sakit demam di pagi hari, Anin harus merawat ibunya itu. Adnan memanggil Jonatan untuk melihat keadaan ibu Anin, Jonatan mengatakan ibunya itu sedang kelelahan dan harus istirahat cukup. Jonatan memberi resep obat, yang langsung di beli oleh Arzan secepat kilat.
"emangnya ibu kemana kemarin, kok sampai sakit? " tanya Arzan, Anin menggelengkan kepalanya karena memang dirinya tidak tahu.
"ibu sudah tua, penyakit pasti akan selalu datang! " ucap Jonatan berjalan kearah mereka, Anin hanya mengangguk dengan lemah. gadis itu berjalan kearah ibu, keduanya saling mengobrol disana. Jonatan, Adnan dan juga Arzan memperhatikan mereka berdua dan meninggalkan mereka berdua sendirian.
"gak tahu tuh, tanya saja pada temanmu itu. kurang gercep! " ucap Arzan pada Jonatan, Adnan menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Jonatan sendiri tidak percaya, pria yang tidaak bisa dekat dengan perempuan, kali ini bisa tertarik pada seorang perempuan.
"kapan kaki ku ini sembuh, papa memintaku untuk pulang. lepas benda menyebalkan ini dari kaki ku, aku ingin jalan normal tanpa kursi laknat ini!" ucap Adnan kesal, dengan pelan Jonatan menendang kaki Adnan dan pria itu langsung mengadu sakit.
"hehe, disenggol saja masih sakit, gimana mau berjalan! " ucap Jonatan, Adnan mengumpat kesal dan mengepalkan tangan. Jonatan meledek temannya itu, karena Adnan tidak mungkin membalasnya karena keadaannya yang seperti itu.
Anin duduk dkamarnya sendirian, ia memikirkan kesehatan ibunya yang tiba tiba sakit. dokter mengatakan penyakit ibunya, hanya penyakit biasa yang dialami oleh orang tua. Adnan masuk kedalam kamar Anin dengan perlahan, pria itu berjalan menggunakan tongkat tidak dengan kursi rodanya lagi. Anin mengusap air matanya saat sadar Adnan masuk kedalam kamarnya, dengan senyuman Adnan menyapa dan juga Anin menyapa.
"ibu sudah tidur? " ucap Adnan duduk disamping Anin, dengan pelan Anin mengangguk dan tersenyum. "kamu kenapa menangis, ibu kan hanya demam! "
"sudah dua hari ibu demam, kenapa demamnya gak kunjung hilang. semakin hari demamnya semakin naik! " ucap Anin sedih, Adnan membawa Anin kedalam pelukannya. terasa nyaman yang mereka rasakan, Anin dan juga Adnan tersenyum.
__ADS_1
"tenang, kamu kan sudah mengobatinya. ibu pasti sembuh, lihat aku saja sudah sembuh besok mau balik kerja! " ucap Adnan, Anin langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Adnan.
"kamu sudah boleh kerja? " ucap Anin yang diangguki Adnan, sebenarnya siapa yang tidak memperbolehkan pria itu tidak bekerja. Adnan bosnya, masalah bekerja atau tidak itu terserah dirinya. Anin sangat polos menurutnya, karena itu Adnan sangat menyukai Anin. ada hal yang berbeda ketika bersama Anin, dan ia yakini pria itu telah jatuh cinta pada Anin sejak awal. "kenapa Adnan ngelihatin aku kayak gitu, ada yang salah ya sama aku? " ucap Anin lagi, ia merasa risih karena Adnan menatapnya.
"Anin.. lebih suka yang mana, Adnan atau Arzan? " ucap Adnan yang merasa konyol setelahnya, gadis itu tampak diam dan kemudian melihat Adnan dengan tersenyum.
"tentu saja suka dengan Adnan, tuan Arzan itu selalu menggangguku aku tidak suka! "
"terus kalau Adnan ganggu kamu, apa kamu gak suka juga? "
"enggak gitu! " ucap Anin mendirikan tubuhnya, ia terus meremas bajunya dan dimainkan disana. Anin bingung harus menjawab Adnan seperti apa, karena ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakan perasaannya. tidak mungkin ia mengatakan tentang perasaannya pada Adnan, Anin berdiri didekat jendela dan merasakan angin dingin malam itu.
"aku cuman merasa, lebih menyukai Adnan dari pada Arzan. begitu! " ucap Anin, Adnan pun tersenyum dengan itu. Adnan berpamitan untuk keluar dan istirahat, ia meminta gadis itu untuk segera tidur untuk istirahat. kepergian Adnan membuat Anin memegang dadanya sendiri, ia tahu sekarang kenapa dirinya selalu seperti itu jika dengan Adnan. ia telah jatuh cinta, dirinya jatuh cinta.
Adnan pergi ke kantornya setelah hampir berminggu minggu, ia sangat kesusahan jika harus menggunakan tongkat. ia berakhir duduk di kursi roda, dengan setia Arzan mendorong kursi roda itu. dengan tersenyum Arzan menyapa beberapa karyawan disana, seperti biasa Adnan masih dengan sifat diamnya.
"bagaimana sudah bilang pada gadis bunga? " ucap Arzan disela mereka menuju lift, Adnan menggelengkan kepalanya. "kenapa kau lamban sekali, jelas sekali gadis itu juga menyukaimu! "
"Adnan tidak berpengalaman dengan hal itu, jika aku jadi dia aku akan membawa Anin dalam pelukanku. aku akan nyatakan perasaanku, kemudian menciumnya dengan lembut dan sepenuh hati! " ucap Jonatan di samping mereka berdua, dengan tajam Adnan menatap Jonatan.
"kenapa pria ini ada disini, apa kau tidak ada kerjaan? " ucap Adnan kesal, Jonatan tertawa dengan itu.
"aku sedang cuti, kau tahu kan kita jarang sekali bertemu jadi sekarang aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian! " ucap Jonatan, Adnan hanya berdecak kesal dan tidak peduli dengan ucapan pria itu. Adnan jadi memikirkan Anin yang sedang dirumah sendirian, gadis itu sedang merawat ibunya yang sakit. sampai tiba tiba ponselnya berdering, terlihat nama Anin disana. segera Adnan mengangkat panggilan itu, dan terkejut mendengar suara Anin yang menangis.
"Adnan... ibu jatuh dari kamar mandi, Adnan aku bingung tolong ibu... "
...****************...
__ADS_1
Jangan bosen ya, beri like dan juga komen kritikan/saran kalian <3