Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Saling diam.


__ADS_3

keesokan harinya Nadira terlihat kacau, matanya membengkak akibat menangis semalaman. Nadira keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri, ia pergi kedapur untuk mengambil sebuah es batu. ia mengompres matanya yang bengkak, hal itu dilihat oleh Naira yang berjalan perlahan mendekat kearah Nadira.


"ada apa dengan matamu, kenapa bisa sembab seperti ini! " ucap Naira, Nadira tertawa tipis dan menggelengkan kepalanya.


"kemarin sangat lelah, tapi malah melihat drakor ma. terus episodenya sedih banget, jadi ikutan nangis! " ucap Nadira berbohong, Naira menggelengkan kepalanya dan meminta putrinya untuk duduk. secara bersamaan Adnan dan Adrian duduk, mereka mencium Naira secara bergantian kemudian mencium Nadira sebelum duduk di kursi masing masing. pelayan menyiapkan sarapan disana, sampai Naira tersadar akan sesuatu yang belum lengkap.


"apa Arzan belum bangun, apa dia tidak pergi kerumah sakit? " tanya Naira kearah Adnan, pria itu menggelengkan kepalanya dan menyesap teh hangatnya sedikit.


"dia sudah berangkat sangat pagi, mungkin pulang dulu ke apartemen nya! " ucap Adnan, Naira mengangguk dengan itu.


"sudah jangan terlalu dipikirkan matamu ini nanti juga hilang, sekarang makanlah nanti sarapanmu dingin! " Nadira mengangguk dengan itu, ia menatap Naira yang perhatian padanya begitu juga Adrian. bukan hanya dirinya, mereka juga perhatian pada Adnan dan tidak membedakan siapapun.


itulah yang menjadi keraguan Nadira, gadis itu tidak ingin kehilangan semua itu. Nadira baru mendapatkan kasih sayang orang tuanya setelah sekian lama, tidak mungkin semua itu hilang ketika dirinya menikah dan harus pisah dari orang tuanya. Nadira sendiri yang akan bercerita seperti itu, tidak bisa ia katakan pada Arzan sampai membuat pria itu salah paham dan akhirnya bungan mereka berakhir begitu saja.


"Adrian... kalau menurutmu Jonathan itu seperti apa? " ucap Naira, Adrian tersenyum mendengar itu..


"Jonathan itu pria jenius, nilainya tidak pernah turun dimasanya sekolah. kemarin Johan bercerita banyak tentang putranya, seperti nya ia sangat bangga pada putranya! " saut Adrian, Naira tersenyum dengan itu.

__ADS_1


"kemarin Siska juga seperti itu, ia berniat menyatukan Jonathan dan Nadira bersama! " hal itu membuat Adnan dan Nadira tersedak, mereka berdua menatap Naira dan juga Adrian bergantian.


"Nana tidak mau, kenapa harus disatukan! " sewot Nadira, Adnan menyentuh tangan Nadira untuk memberi ketenangan.


"kamu kan sudah dewasa, sudah mau 25th loh! "


"ya kenapa gak Nanan saja dulu, dia kan kakak harus menikah lebih dulu! " Adnan menoleh kearah Nadira, kemudian mereka saling menatap dan Nadira pun kesal. "Nana selesai makan, Terima kasih sarapannya! " ucap Nadira kemudian pergi, Adrian dan Naira tersenyum dengan itu. mereka berdua menatap Adnan yang fokus makan, sedetik kemudian Adnan mendongakkan kepala melihat mereka.


"kenapa menatap Adnan, jawabannya tidak! " ucap Adnan, Adrian tersenyum begitu juga dengan Naira.


"yasudah nanti mama carikan perempuan yang pas buat kamu, biar kamu ga perlu susah mencari! " ucap Naira, Adnan sama kesalnya dengan Nadira ia pun menyudahi sarapannya.


Adnan berjalan dengan kesal, sampai ia menabrak seorang pelayan hingga terjatuh. pelayan itu membawa banyak perabotan dengan tubuh kecil, pelayan itu menunduk meminta pengampunan. sampai kepala pelayan disana datang, memarahi pelayan tersebut karena menabrak Adnan.


"kenapa kau memarahinya, lagi pula ini bukan salahnya tapi salahku! " ucap Adnan, kepala pelayan menunduk meminta maaf. "aku juga heran, apa kau tidak bisa lihat tubuh gadis ini sangat kecil tapi kau memintanya untuk membawa barang sebanyak itu. apa tidak ada pelayan lain, jika tidak ada kau kan bisa membawanya! "


"iya tuan muda, saya akan meminta yang lain untuk membawanya! " ucap kepala pelayan itu, Adnan menatap pelayan yang ia tabrak terus menunduk.

__ADS_1


"maafkan saya tuan! " ucap pelayan itu, Adnan mengangguk kemudian pergi dari sana. pelayan itu melihat kepergian Adnan, merasa lega kemudian meminta maaf pada kepala pelayan yang dimarahi oleh Adnan.


...****************...


Nadira melamun dengan kesedihannya, ia tidak fokus menggambar sketsa nya. suara Arzan terngiang ngiang di telinganya, tuduhan yang Arzan katakan tidak benar. Nadira mengacak rambutnya dengan kesal, apalagi mengingat perkataan Naira yang akan menyatukannya dengan Jonathan.


"boss sepertinya kamu tidak sehat? " ucap Elia, Nadira menganggukan kepalanya.


"aku stres... huaa.. hiks... aku benar benar bingung, sangat kesal! " teriak Nadira, Elia terkejut dengan itu dan memberikan kacang yang ia makan. Nadira melihat itu merebut kacang itu, Nadira memasukkan kacang tanpa melihat berapa biji. sampai tiba tiba giginya ngilu hingga kepalanya pusing, Nadira semakin berteriak. "ahh gigiku retak... kenapa kamu beri aku kacang... " teriak Nadira, Elia bingung hanya menggaruk kepalanya.


"bos harus kedokter, bagaimana kalau saya antar! " ucap Elia, Nadira menggelengkan kepala dengan mengambil tasnya.


"tidak perlu jaga butiknya, aku akan pergi sendiri! " ucap Nadira kemudian pergi dari sana, Nadira menangis didalam mobil. ia merasakan sakit giginya, dan juga merasakan sakit hatinya yang bercampur jadi satu. ia menangis terseduh sedih didalam mobil, bahkan dadanya rasanya sesak memikirkan semua masalahnya.


sampai beberapa menit Nadira sampai dirumah sakit, ia menunggu namanya di panggil. ia mencoba menenangkan hatinya, ia sangat takut kedokter gigi kecuali Arzan yang menjadi dokternya. terutulis di nomornya, dokter yang akan mengobatinya bukan Arzan melaikan dokter lain bernama Maria. ia penasaran dengan Arzan yang tidak terlihat, ia melihat ke ruang praktek Arzan. terlihat pria itu sedang menangani seorang anak kecil, sangat fokus dan Nadira ingat perkataan pria itu yang membuatnya kesal.


"maafkan dia, jangan seperti itu! " ucap seorang ibu ketika anaknya memukul Nadira, suara bising itu membuat Arzan menoleh dan melihat Nadira yang berdiri di pintu. Nadira menoleh, dan mereka saling melihat satu sama lain. Arzan menyipitkan matanya ketika melihat Nadira, ia fokus pada pipi Nadira yang terlihat membesar. Nadira sendiri menutup pipinya, secara bersamaan namanya di panggil.

__ADS_1


setelah beberapa menit Nadira selesai dengan giginya, dokter Maria mencabut gigi Nadira yang terus meradang. hal itu membuat Nadira lega, meskipun sakit tapi itu akan hilang dengan cepat. Nadira melewati ruangan Arzan, tapi pria itu tidak ada Nadira memilih untuk pergi dan tidak peduli dengan siapapun. secara bersamaan ponselnya berdering, Nadira menjawab panggilan itu.


"halo? ada apa? hm... boleh, dimana aku akan datang! oke aku akan datang setelah dari butik, yasudah!" Nadira menutup panggilan itu, kemudian pergi dari sana tanpa berpikir apapun lagi. ia tidak tahu kalau Arzan berada disampingnya, pria itu mendengar Nadira yang berbicara diponsel. pikirannya akan kemana gadis itu pergi, Arzan menjadi sedikit khawatir dan akan berniat mengikuti gadis itu.


__ADS_2