
Arzan bingung harus kemana lagi, ia khawatir karena tidak mendengar kabar Nadira seharian. bahkan Arzan mencari kerumah dan ke perusahaan Adnan, tapi gadis itu tidak disana. bahkan ponselnya tidak aktif saat dihubungi. Maira Arzan dan juga Davina sengaja tidak menyampaikan hal itu pada Adnan, karena pastinya Adnan akan marah dan membuat pekerjaan pria itu terganggu.
Maira dan Davina menyerah karena tidak tahu kemana mereka harus mencari lagi, Arzan pun tetap menghubungi ponsel Nadira yang masih saja tidak aktif. beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari mereka, seorang pria turun membuka kan pintu mobil yang lain. mereka terkejut melihat Nadira turun dari sana, gadis itu terlihat baik baik saja dengan memakai kaca mata hitam.
"Jo Terima kasih, kamu sudah mengantarku! " ucap Nadira tersenyum dengan memberikan kacamata hitam yang sempat ia pakai, yang membawanya adalah Jonathan. bukan sengaja mereka bersama, Jonathan yang hendak pulang kerumah melihat Nadira yang duduk dipinggir jalan dengan menangis. akhirnya pria itu menawarkan Nadira untuk mengantarnya pulang, dan hal itu disetujui oleh Nadira karena ia pun sudah tidak bisa menghubungi siapapun untuk menjemputnya.
disana Nadira melihat dua temannya, dan juga melihat Arzan yang berada diluar. Nadira berjalan kearah mereka bertiga, dengan senyuman manis tanpa dosanya. Arzan tidak berhenti menatap gadis itu, Nadira bicara dengan Davina dan juga Maira. mereka heboh karena khawatir, dan yang dikhawatirkan terlihat biasa saja tidak ada reaksi apapun.
"ikut aku! " ucap Arzan, pria itu menarik tangan Nadira menuju mobilnya dan pergi dari sana. meninggalkan tiga orang yang ada disana, Davina dan Maira tersenyum menyapa Jonathan yang belum pergi dari sana. diperjalanan Nadira terdiam, ia merasakan Arzan yang marah padanya dengan menyetir mobil tidak karuan. sampai Arzan berhenti disuatu tempat, kemudian menghela nafas karena merasa.
"dari mana, dimana ponselmu! " ucap Arzan, Nadira membuka tasnya dan menunjukkan ponselnya tidak aktif. "apa tidak bisa menelfon dengan telepon umum, kau tahu aku sangat khawatir! " ucap Arzan sedikit meninggi, Nadira kesal mendengar itu dan hanya diam. ia kembali ingat pada perkataan ibu Arzan, hubungan mereka tidak direstui dan akan berakhir sebelum dimulai.
"bagaimana kalau suatu hari nanti aku memutuskan hubungan denganmu, apa kau akan marah padaku? " ucap Nadira, Arzan terkejut dengan itu dan menatap Nadira. "bundamu tidak menyukaiku, aku terus berpikir tentang perkataannya kemarin. dia akan mencarikanmu wanita yang baik, yang berpendidikan, dan terlihat jelas aku sama sekali tidak seperti yang bundamu harapkan!" ucap Nadira lagi, Arzan terdiam dengan itu. ia sudah tahu suatu saat gadis itu akan bicara seperti itu, dan sekaranglah waktu gadis itu menyadarinya.
__ADS_1
"aku tidak peduli restu ibuku, yang aku tahu hanyalah aku mencintaimu! " ucap Arzan, Nadira terdiam dengan itu dan menatap Arzan. "kau menangis, siapa yang kau temui hari ini? " tanya Arzan datar, Nadira langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Arzan tiba tiba menduga, dan ia pun melajukan mobilnya hingga membuat Nadira bingung kemana pria itu akan pergi.
beberapa menit kemudian mobil itu sampai di sebuah hotel, Arzan berjalan menggandeng tangan Nadira hingga masuk kedalam lift yang terbuka. Arzan berhenti ti di sebuah pintu kamar hotet, ia mengetuk pintu dengan sedikit keras. tentu hal membuat Nadira terkejut, karena secara bersamaan pintu terbuka menampilkan Zania. wanita itu tersenyum melihat Arzan, dan hanya senyum tipis melihat Nadira.
"apa yang kau katakan pada Nadira! " tanya Arzan datarr, Nadira terkejut dengan itu dan berusaha menghentikan setiap pertanyaan yang akan keluar. Zania terdiam menatap Nadira, gadis itu menggelengkan kepalanya kearah Arzan.
"kak Arzan apa yang kamu lakukan, ibu Zania tidak mengatakan apapun! "
"memang kau akan menikahinya! " teriak sangat ibu, Arzan mengangguk dengan menggenggam erat tangan Nadira.
"tentu, aku akan menikahinya dengan cara apapun. jika pun aku tidak menikahinya, aku tidak akan menikah dengan siapapun bahkan dengan pilihanmu! " teriak Arzan, Nadira semakin takut mendengar itu. "keluarganya sangat baik, Adnan juga baik kepadaku. dia memberikan begitu banyak sesuatu, yang mungkin aku tidak akan bisa membalasnya. anakmu bisa seperti sekarang ini, adalah dari Adnan dan keluarga itu. dan aku merasa bunda itu sangat aneh, membenci orang yang seharusnya tidak dibenci! "
"ya aku benci pada mereka, kau tahu aku benci pada mereka semua. gara gara keluarga itu aku kehilangan putraku, kau menjadi sangat tidak menganggap diriku. dan gadis itu, gadis yang tidak jelas identitasnya siapa. berani sekali dia mendekati anakku, dia sangat tidak pantas untukmu!"
__ADS_1
"Bunda!!! " teriak Arzan membuat keheningan, Nadira sendiri terdiam mendengar teriakan Arzan karena itu untuk pertama kalinya Arzan berteriak apalagi dihadapannya. "jangan coba coba menghina keluarganya, terutama gadis yang kau maksudkan. keluarga itu yang memberi putramu ini kehidupan yang layak, bahkan keluarga ku sendiri tidak akan seperti keluarga mereka. demi mereka aku bisa melawan siapapun! " ucap Arzan dengan ketus, Nadira memegang lengan Arzan untuk menghentikan pria itu berdebat dengan ibunya.
"kak Arzan sudah, dia ibumu! " ucap Nadira, tapi tidak dihiraukan oleh Arzan.
"identitasnya sangat jelas, dia adalah putri dari Adrian Pratama dan juga Naira Putri. mungkin bunda tidak mengenal mereka, cari saja dimanapun nama itu maka Bunda akan tahu siapa mereka berdua! " ucap Arzan lagi, kemudian pergi dari sana. ia tidak lupa menggenggam tangan Nadira, membawa gadis itu dengan cepat memasuki mobilnya. didalam mobil Arzan menyetir dengan kecepatan sedang, Nadira menatap Arzan yang sedang menatap jalanan. tanpa berkedip. Nadira bertanya tanya apakah pria itu baik baik saja, atau terjadi sesuatu pada pikirannya.
"hm... aku ingin es krim, sepertinya enak... " ucap Nadira, tidak ada tanggapan dari Arzan dan hanya diam tanpa. melihat kearah Nadira. gadis itu pun mendadak lesuh, kemudian menyenderkan kepalanya kearah jendela mobil. tiba tiba saja mobil Arzan berhenti dipinggir jalan, Nadira menoleh dan langsung dipeluk oleh Arzan yang sudah membuka sabuk pengamannya. Nadira yang melihat itu membalas pelukan Arzan, laki laki itu gemetar dalam pelukan Nadira.
"aku... aku berteriak padanya, dan.... ini pertama kalinya! " ucap Arzan dengan gemetar, Nadira mengusap punggung Arzan dengan lembut.
"tenanglah, kamu tidak sengaja! " saut Nadira, mereka saling membalas pelukan. Nadira sendiri yang sedih menjadi sedikit menghilangkan rasa sedih itu, ia memeluk Arzan dengan senyaman mungkin. sampai Arzan tersenyum dibalik rambut Nadira, ia menyukai harum wangi rambut lembut itu.
"aku ingin es krim, apa kau mau es krim? " tanya Arzan, Nadira melepas pelukannya kemudian tersenyum dan mengangguk senang. Arzan pun melajukan mobilnya, karena malam sudah semakin larut Nadira pun tertidur. niat mereka yang akan membeli es krim pun diurungkan, Arzan memilih membawa Nadira pulang untuk keduanya mulai istirahat.
__ADS_1