
setelah mendengar kabar dari Arzan, Adnan segera menyusul keduanya di sebuah kantor polisi. bukan hanya Adnan, bahkan Adrian ikut serta untuk menemui putrinya. kedua pria itu berjalan dengan gagah memasuki kantor polisi, disana mereka melihat Nadira dan juga Arzan yang duduk setelah membuat laporan. Nadira melihat Adrian dan Adnan datang, gadis itu berlari kearah Adnan dan memeluk kakak nya itu sembari menangis. kemudian beralih kearah Adrian, Nadira menangis dalam pelukan sang ayah.
"bagaimana, apa sudah ditangkap?" tanya Adnan, Arzan menggelengkan kepalanya.
"mungkin pelakunya sudah tahu kalau dirinya ketahuan, rumahnya sudah kosong tidak apapun! " saut Arzan, Adnan berdecak kesal kemudian melihat kearah adiknya.
"Nana gak tahu papa, takut.... " ucap Nadira gemetar, Adrian mencoba memenangkan gadis itu.
"papa akan menemukannya, kamu tenang saja! "
mereka bertiga bicara dengan seorang polisi, mereka meminta polisi untuk mencari pelaku itu dan menangkapnya. tentu polisi menyanggupi itu, karena mereka mencari orang itu yang mungkin saja menjadi buronan. mereka keluar dari sana setelah selesai, Arzan menawarkan diri untuk mengantar Nadira pulang yang disetujui Adrian maupun Adnan.
Nadira terdiam didalam mobil, ia terus memainkan jarinya karena masih memikirkan hal itu. ia takut akan ada video yang tidak seharusnya, video yang buruk untuknya. gadis itu sangking gugupnya menggigit kuku jarinya, sampai Arzan menarik tangan itu dan digenggam nya.
"tenang, semuanya akan baik baik saja! " ucap Arzan, Nadira menggelengkan kepala dengan wajah khawatir.
"aku tidak tahu kak Arzan, apa yang kulakukan diruang tamu selama dua hari. aku ingat hanya pernah keluar dari kamar mandi menggunakan piyama mandi, tanpa... " Arzan mengecup bibir Nadira untuk membuat gadis itu terdiam, Nadira terdiam menatap Arzan.
"sudah, jangan dipikirkan oke? " ucap Arzan tersenyum, Nadira pun mengangguk kemudian berada dalam pelukan Arzan. setelah beberapa menit mereka sampai dirumah besar Adrian, Nadira diantar masuk hingga kekamarnya untuk istirahat. Nadira enggan ditinggal sendirian, ia memeluk Arzan dengan erat.
"bisakah kau menginap kak! " ucap Nadira, Arzan memijat kepalanya karena merasa konyol pada Nadira.
__ADS_1
"ini rumahmu, tidak mungkin aku tidur di kamarmu. kau tahu besok aku tidak akan jadi manusia, malah aku yang masuk penjara oleh kakakmu! " ucap Arzan, Nadira menggelengkan kepalanya dan tetap memeluk tubuh Arzan. "oke sekrang berbaringlah untuk tidur, aku akan duduk disini menemanimu hingga esok hari. bagaimana, kau senang? " ucap Arzan menyerah, Nadira mengangguk pelan. setelah Nadira tidur pulas, Arzan baru meninggalkan kamar itu dengan perlahan. membiarkan Nadira istirahat dengan tenang, karena ia tahu gadis itu sedang gelisah tidak menentu.
...****************...
beberapa hari berlalu Nadira sudah kembali normal, ia beraktivitas seperti biasanya. Adrian mengadakan sebuah pesta di rumahnya, banyak kerabat dan juga teman yang akan datang. sebelum itu Nadira memilih gaun yang cantik untuk dirinya dan juga untuk Naira, tidak lupa satu keluarga itu akan memakai pakaian yang serasi termasuk Arzan. belum waktu tiba Arzan masih berada dirumah sakit, dirinya sedang menangani pasien yang memiliki masalah gigi. banyak anak kecil yang suka dengan Arzan, karena sangat baik saat akan mengobati gigi seorang anak kecil.
"dokter Arzan, baru beberapa hari ada disini sudah banyak yang menyukaimu! " ucap seorang dokter wanita, gadis itu bernama Maria yang juga sebagai dokter gigi.
"biasa saja dokter, semuanya juga disukai! " ucap Arzan, ia bersiap untuk pulang karena jam kerjanya sudah habis dan waktunya untuk ia berhenti.
"aku dengar kau tidak bawa mobil, bagaimana kalau aku tumpangi! " ucap Maria lagi, Arzan tersenyum dan mengucapkan Terima kasih dengan lembut.
"sudah ada yang menjemputku, dia sudah menunggu! " ucap Arzan, langkahnya berjalan cepat menunggu lobi rumah sakit. tentu saja gadis yang ia cintai sedang melambaikan tangan, Arzan tersenyum dan berjalan cepat kearah Nadira.
"hariku sangat baik, ayo kita pulang! " ucap Arzan, Nadira mengangguk dan mereka berjalan dengan bergandengan. secara bersamaan dokter Maria tersenyum melihat mereka, Arzan pun menyapa Maria sekilas yang diikuti Nadira.
"siapa itu?" tanya Nadira, Arzan tersenyum mendengar itu.
"Maria, dia dokter gigi juga sama denganku!" jawab Arzan, Nadira mengangguk mengerti. mereka keluar secara bersamaan dari rumah sakit. Seperti biasa mereka jalan jalan sebelum akhirnya pulang apartemen, Nadira sudah tidak memikirkan penjahat yang memasang kamera tempo hari. ia melupakan kejadian itu, dan selalu berharap agar melupakan semua kejadian itu.
Nadira menunggu Arzan yang sedang mandi, ia memotong buah semangka menjadi dua bagian. ia meletakkan semangka itu kedalam kulkas, kemudian membawa sebagiannya untuk ia nikmati. siapa sangka Arzan tiba tiba berdiri di belakangnya, dan membuat Nadira harus duduk diatas meja karena ulah Arzan.
__ADS_1
"sudah tahu giginya sering meradang, masih saja memakan buah semangka! " ucap Arzan menyendok semangka itu dan memakannya, Nadira tersenyum dan juga menyendokkan ke mulutnya.
"kamu membelinya untukku, jadi sayang jika tidak dimakan! " ucap Nadira tersenyum, ia menikmati semangka dan sesekali menyuapi Arzan dengan senyuman. "manis tidak, kamu pintar memilih kak!" ucap Nadira tersenyum, Arzan mengangguk kemudian mengecup bibir Nadira sekilas. membuat Nadira membalakkan mata, bahkan Arzan mengangguk dengan mengunyah semangka.
"benar sangat manis, aku pintar memilih! " ucap Arzan, Nadira mencibir dengan kembali memakan semangka nya. "Nadira aku mencintaimu! " ucap Arzan, Nadira terdiam kemudian tersenyum.
"aku juga mencintaimu! " saut Nadira, Arzan mencium tangan Nadira dengan lembut.
"mari kita bicarakan hal ini dengan orang tuamu, sekalian bicara dengan Adnan! " seketika Nadira tersedak semangka, ia terbatuk begitu keras membuat Arzan terkejut dan langsung memberikan air dalam gelas.
"apa yang kau katakan, jangan dulu aku masih takut! " saut Nadira, gadis itu turun dari meja dan berjalan kearah sofa. Arzan mengikuti langkah Nadira, mereka berdua duduk diatas sofa diruangan itu.
"takut, sampai kapan kamu takut. kita berdua sudah dewasa, khususnya diriku yang lebih gua darimu. aku akan katakan pada om dan tante te, bahwa aku akan menikahimu! " ucap Arzan, Nadira semakin membalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
"jangan dulu kumohon, belum saatnya kak Arzan. tidak sekarang,... "
"kapan? " tanya Arzan, pria itu merasa Nadira mencoba mengulur waktu pengakuan hubungan mereka. Nadira sendiri bingung, ia tidak bisa menjelaskan bagaimana yang seharusnya.
"aku janji akan ada waktunya nanti, kita akan jelaskan bersama sama! " ucap Nadira, Arzan pun menyerah dan menghela nafasnya. "kita harus pergi sekarang, pesta dirumah akan dimulai! " ucap Nadira mengalihkan pembicaraan, Arzan membiarkan Nadira pergi dari hadapannya dan merasa kesal entah apa kekesalannya.
mereka berdua pun sampai dirumah besar Adrian beberapa menit yang lalu, benar saja rumah megah itu sudah sangat cantik dengan banyak lampu yang bercahaya. Nadira memakai gaun yang serasi dengan Adnan dan juga Arzan, tidak lupa mereka juga sama dengan pakaian yang digunakan Adrian dan Naira. pesta ulang tahun pernikahan mereka diadakan sedikit meriah setelah sekian lama, banyak teman lama dan kerabat jauh yang datang.
__ADS_1
Adrian memperkenalkan Nadira pada setiap temannya yang datang, hampir semuanya mengucapkan kecantikan Nadira yang tiada tanding. sama seperti jaman dimana Naira muda, akan banyak orang yang mengakui kecantikannya. pandangan Arzan juga terus kearah sang kekasih, yang terlihat cantik dan juga anggun dimatanya. Arzan masih memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Nadira, sempat ia berpikir Nadira tidak memikirkan hal yang selama ini ia pikirkan.