
sebuah ruang yang terang membuat penglihatan Nadira terganggu, cahaya putih menyilaukan Nadira sampai gadis itu tidak bisa melihat sekelilingnya. sampai ia melihat seseorang yang dikenalnya, Nadira melihat Jonathan yang berjalan kearah pintu dengan cahaya begitu terang. Nadira berlari kearah Jonathan, tidak lupa gadis itu berteriak memanggil Jonathan.
Nadira berhenti tepat dihadapan Jonathan, pria itu memasang senyum mereka pada Nadira.
"Jo mau kemana, pintu itu aneh! " ucap Nadira dengan lemah, Jonathan tersenyum melihat Nadira.
"kamu gak boleh ikutin aku, dengar ya banyak orang baik yang menunggumu! " ucap Jonathan, secara bersamaan pria itu menoleh kearah Arzan. Nadira menoleh dan menatap Arzan, pria itu melemah dan tersenyum.
"kalian berdua akan pergi, begitu? " ucap Nadira, Arzan tersenyum kearah Nadira. gadis itu menatap Arzan yang hanya tersenyum, Nadira mengulurkan tangan kearah keduanya.
"pergilah bersamanya, jangan bersamaku! " ucap Jonathan, Nadira digenggam erat oleh Arzan. Nadira msih tidak mengerti apa yang terjadi, bahkan diri ya tidak tahu sedang dimana. Nadira terus memanggil nama Jonathan, tapi pria itu tidak menanggapi sama sekali dan hanya berjalan lurus kearah pintu cahaya tanpa menoleh kebelakang.
....
secara bersamaan mata Nadira terbuka, gadis itu terbangun dari komanya setelah beberapa waktu. Nadira melihat sekelilingnya, ia berpikir hanya bermimpi saat Jonathan pergi tidak mengatakan apapun. Nadira sadar dirinya ada ditempat yang berbeda, cahaya lampu membuat penglihatannya buram dan ia mencoba untuk menjelaskan penglihatannya.
potongan potongan kejadian kecelakaan terukir diingatan Nadira, gadis itu ingat kecelakaan yang terjadi padanya dan juga Arzan sekaligus Jonathan. setelah dirinya terpental, ia sudah tidak ingat kejadian itu hingga dirinya terbangun. Nadira melihat Adnan yang tertidur diatas sofa, kakak kembarnya itu selalu setia menemani nya.
"Nanan.... " panggil Nadira dengan lemah, karena mulutnya tertutup selang oksigen untuk pernapasan nya. meskipun suaranya hampir ditelan sunyi, Adnan terkesiap mendengar suara
__ADS_1
Nadira. pria itu langsung berdiri dengan sempoyongan berjalan kearah Nadira, ia tidak peduli dengan nyawanya yang belum lengkap dan masih setengah sadar.
"Nana.. kamu bangun.. katakan apa yang kau butuhkan? " ucap Adnan lembut, Nadira menganggukan kepalanya dan melihat kearah air yang diatas meja. Adnan tahu tanpa Nadira bicara lagi, ia segera menuang air dalam gelas dan diberikan kepada Nadira secara perlahan. secara bersamaan Daniel datang bersama David, mereka berdua tersenyum melihat Nadira yang sudah membuka mata setelah sekian lama.
"kamu pasti haus ya, aku akan melepas selang oksigen ini! " ucap Daniel, ia melepas semua yang harus dilepaskan. sampai tertinggal hanya penyangga leher Nadira, leher gadis itu dalam masa pemilihan karena terkilir.
"dia sudah baik baik saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi! " suara serak David bicara, Adnan tersenyum dengan itu dan mengusap tangan Nadira.
"Terima kasih kakek dokter, Terima kasih om dokter! " ucap Adnan, kedua dokter itu mengangguk dengan senyuman. Nadira memiliki satu pertanyaan, ia penasaran dengan keadaan Arzan dan juga Jonathan. Nadira menatap Adnan dengan seribu pertanyaan, tentu saja kembarannya itu tahu isi hati adiknya sekarang ini. "Arzan ada diruang lain, dia masih dalam perawatan medis yang serius! " ucap Adnan, Nadira hanya mengangguk dengan itu.
entah apa yang akan terjadi pada gadis itu, jika tahu hal yang akan menyedihkan buatnya. Daniel meminta Adnan keluar dari sana, mereka keluar secara bersamaan membiarkan Nadira istirahat sebelum memulai sarapannya. Daniel membawa Adnan keruangannya, karena ia ingin menjelaskan tentang kesehatan Nadira.
"Nadira belum tahu tentang Arzan apalagi tentang Jonathan, tolong jangan katakan apapun padanya tentang Arzan maupun Jonathan. pendarahan di otaknya mengganggu pikirannya, kami takut jika dia tahu dia akan berpikir terlalu dalam. dan itu bisa merusak jaringan sarafnya, kami juga belum memastikan sampai kapan Arzan akan mengalami koma! " ucap Daniel yang menjelaskan, Adnan yang mengerti pun menganggukkan kepala untuk mengiyakan.
"bagaimana bisa seperti itu om Dokter, tidak mungkin kalian menghentikan perawatannya dia sedang sekarat seperti itu! " jelas Adnan kesal, Daniel berusaha menenangkan pria itu.
"aku tahu, banyak berdoa untuk membuatnya sadar secepatnya!"
dirinya senang sang adik telah membuka mata, tapi disisi lain ia merasa sedih dengan Arzan apalagi dengan kehilangan Jonathan. dirinya tidak begitu kenal pada Jonathan, tapi bagi Adnan pria itu sangat baik karena sudah baik pada semua orang termasuk pada Nadira. bahkan hari ini adalah ketiga harinya kematian Jonathan, jasa pria itu sangat besar karena mendonorkan jantung untuk Arzan.
__ADS_1
Adnan berjalan kearah ruangan Arzan, disana ia melihat temannya yang sudah seperti saudara terbaring layaknya seorang pangeran tidur. banyak selang yang melekat pada tubuh pria itu, alat monitor terus menunjukkan kelemahan Arzan yang sedang bertahan antara hidup dan mati.
"Nadira sudah sadar... apa kau tidak ingin sadar juga, bagaimana aku menjelaskan tentangmu padanya. apalagi tentang Jonathan, bagaimana aku menjelaskannya? " ucap Adnan lemah, lagi lagi pria itu merasa lemah pada seseorang. "kenapa tidak katakan sebelumnya, kalau kau mencintai Nadira. seberapa takut kau padaku hah? bagaimana kau bisa berpikir aku akan menolak hubungan kalian, aku tidak sejahat itu Arzan, tidak! " ucap Adnan kesal, ia sudah tahu semuanya tentang adik dan temannya itu. Adnan hanya bicara sendiri, karena Arzan tidak bergeming sama sekali.
...****************...
kabar Nadira yang sadar membuat keluarga senang, mereka datang menjenguk putri mereka. Nadira yang lemah kini mulai pulih, dirinya sudah bisa melihat dengan jelas meskipun kepalanya terasa sakit. bahkan penyangga leher gadis itu sudah dilepas, ia sudah bebas menoleh ke kanan dan kirinya. Naira senang melihat putrinya membuka mata, ia menyuapi Nadira dengan makan siang ala rumah sakit.
disana bukan hanya Naira, Adrian berada disana dengan Adnan yang duduk disofa. tidak banyak yang hadir, karena mereka mendampingi rumah duka Siska dan juga Johan sebagai rasa Terima kasih yang besar. Adrian duduk terdiam, pikirannya berkecamuk menatap putrinya. entah apa yang dipikirkan, mungkin pikirannya sama dengan Adnan yang ada di sampingnya.
"ma.. kemana semuanya, mereka tidak ingin melihatku? " tanya Nadira tiba tiba, Naira tersenyum dengan itu dan memberikan air minum kepadanya.
"semuanya masih sibuk sayang, mungkin besok mereka akan datang. sekarang cukup mama dan papamu ya, kami akan menemanimu sampai sore nanti! " ucap Naira lembut, Nadira mengangguk menanggapi itu. ia menatap Adnan dan juga Adrian yang duduk disofa, senyum keduanya langsung berkembang seakan menutupi kesedihan mereka.
"Nana bosan disini, sudah hampir seminggu tidur disini terus! " saut Nadira lagi, Naira tersenyum dan mengusap kepala anak gadisnya itu. ketenangan itu tidak berlangsung lama, pintu ruangan itu dibuka dengan kasar oleh seseorang.
"Nadira! " teriaknya, suara itu adalah milik Zania. wanita itu berteriak yang membuat Nadira dan isi ruangan itu terkejut, Adrian dengan cepat berjalan untuk menghadang wanita itu yang berjalan kearah putrinya. "kau apakan putraku Nadira, kau disini sedang duduk tenang sedangkan putraku terbaring dengan lemah disana. putraku seperti mayat hidup yang sedang tidur, tapi kau disini sedang duduk makan! " teriaknya lagi, Adrian sedikit mendorong wanita itu yang terus maju.
"tenangkan dirimu, ini rumah sakit. Nadira masih dalam pemilihan, dia butuh istirahat! " teriak Adrian, wanita itu menepis tubuh Adrian kesamping.
__ADS_1
"lalu bagaimana dengan Arzan, siapa yang akan menolongnya! " ucap Zania berlinang air mata, Naira mengerti kesedihan wanita itu. sambil terisak Naira memeluk Zania, tanpa ada perlawanan lagi tapi Zania menatap kebencian pada Nadira yang menatapnya bingung.
"dimana kak Arzan, apa yang terjadi padanya... "