Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Nanan.


__ADS_3

dirumah besar itu sudah ribut di pagi hari, hilangnya dua manusia membuat ketegangan rumah itu lagi. apalagi Adnan yang membawa Nadira pergi tanpa pamit, gadis itu sangat polos menurut mereka. berulang kali menghubungi ponsel Adnan, tapi pria itu mengabaikan telpon dari mereka semua. Adrian menceritakan malam ia melihat Adnan membawa Nadira pergi, mereka khawatir pada keduanya. Kara meminta orangnya untuk mencari keberadaan mereka berdua, kemarahan Adnan pada mereka membuat semuanya khawatir.


"Adnan hanya membawa Nadira pergi, mereka pasti akan kembali! " ucap Nadia, Adrian menggelengkan kepalanya.


"jika ingin membawa gadis itu pergi, setidaknya tunggu besok pagi dan ijin pada kita. anak itu telah membawa Nadira kabur dari rumah, karena Adnan masih tidak menerima kenyataan kalau mereka satu darah! " jelas Adrian, semua orang membenarkan perkataan itu. mereka takut kalau Adnan berbuat nekat, bagaimana jika Adnan nekat menikahi Nadira sebagai Anin yang dicintainya. "lihat saja jika aku menemukan anak itu, aku akan memberi dia pelajaran! " ucap Adrian kesal, Naira mencoba menenangkan suaminya yang sedang marah itu. Naira sendiri yakin Adnan tidak akan melakukan hal itu, mungkin mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama. sampai malam hari pun tidak mendengar kabar keduanya, hal itu membuat semua orang semakin khawatir.


ditempat Nadira dan Adnan sedang beristirahat, setelah selesai memasak mereka pun makan malam bersama. setelah nya mereka duduk bersama dengan kegiatan mereka, Adnan memperhatikan Nadira yang membaca buku dengan asik. sesekali gadis itu tertawa dengan membaca buku, Adnan jadi ikut tersenyum melihatnya.


"kenapa kau asik sendiri begitu, hm? " ucap Adnan duduk mendekat kearah Nadira, gadis itu tersenyum dan mendekat kearah Adnan.


"aku menemukan buku lucu, jadi aku tertarik membacanya! " ucap Nadira senyum, Adnan pun mengusap rambut Nadira dengan lembut.


"aku punya yang lebih menarik, kemarilah! " Adnan menarik Nadira hingga duduk dengannya, posisi mereka Adnan memeluk Nadira dari belakang. pria itu meletakkan buku yang dibawa Nadira, dan mengganti buku itu dengan sebuah ponsel milik Adnan. pria itu menyalakan film disana, dan Nadira tersenyum melihat film yang diputar oleh Adnan.


"wajahnya sepertimu! " ucap Nadira tertawa, Adnan hanya bermain rambut Nadira yang lembut itu. Adnan sangat mencintai gadis itu, tapi kenapa gadi itu adalah adiknya. kenapa saat ia tahu, ketika sudah mencintai gadis itu. Nadira berhenti tertawa ketika merasa Adnan diam, ia mendonggakan kepalanya untuk menatap Adnan. pria itu langsung mengusap matanya dan tersenyum, Nadira langsung menatap wajah Adnan, pria itu menangis lagi. "kamu kenapa, menangis lagi? " ucap Nadira, Adnan menggelengkan kepalanya.


"apa kakimu masih sakit, hm? " ucap Adnan mengalihkan pembicaraan, Nadira menggelengkan kepalanya dan memeluk Adnan. perasaan mereka sama, kesedihan masih terlukis dihati keduanya. "kenapa aku masih sedih, aku masih tidak terima... "


"aku juga tidak terima, aku... " ucap Nadira terhenti oleh tangisnya, ia menggigit bibirnya ketika menahan tangis. Adnan mencium gadis itu tanpa ijin, hal itu membuat Nadira terkejut. gadis itu memejamkan matanya ketika merasakan bibir Adnan, perlahan ia mengalungkan tangannya pada leher Adnan. sungguh keduanya lupa, kalau mereka adalah saudara dan hal itu tidak seharusnya terjadi. Nadira melepas ******* Adnan yang semakin dalam, gadis itu menggelengkan kepala berulang kali dan menatap Adnan.

__ADS_1


"aku... aku adikmu... kita... " ucap Nadira lirih dengan mengigit bibirnya, Adnan langsung tersadar dan melepas tengkuk Nadira yang ia pegang. Adnan mengusap wajahnya kasar, bagaimana dirinya melakukan hal itu pada Nadira. kini gadis itu terdiam dengan mengusap air matanya, Adnan membawa Nadira dalam pelukannya dan meminta maaf berulang kali.


"maaf, maafkan aku! " ucap Adnan menyesal, Nadira menangis dengan membalas pelukan Adnan. itu ciuman pertama bagi Nadira, dan Adnan sebagai kakaknya yang mengambil ciuman itu. Adnan mengusap air mata Nadira, kemudian mencium tangan Nadira untuk meminta maaf. Nadira tidak marah, tapi ia malu melihat Adnan. karena melakukan hal itu tanpa ijinnya, gadis itu menjadi terkejut dan tidak bisa mengatakan apapun.


mereka berdua tertidur ditempat yang sama, karena memang hanya tersedia kasur lipat satu dan harus berbagi. Nadira membelakangi Adnan untuk tidur, pria itu sendiri menatap punggung Nadira yang membelakanginya. ia ingat setiap bertemu gadis itu dirinya merasa tenang, setiap pelukannya terasa nyaman. Adnan tidak pernah merasakan itu dengan siapapun, karena memang mereka memiliki darah yang sama. bahkan darah Nadira sama dengan dirinya, itu sudah cukup membuktikan kalau Nadira adalah adiknya. bahkan Nadira memiliki kalung yang pernah ia berikan, meskipun kalung itu sudah tidak secantik dulu. Adnan mendekat ketubuh Nadira, dipeluk nya tubuh gadis itu dari belakang. tentu saja membuat Nadira terkejut, bahkan gadis itu belum sepenuhnya tidur.


"Nana... maaf... Nana jangan marah... " ucap Adnan lirih, hal itu membuat Nadira meneteskan air matanya. ia senang Adnan memanggil namanya, pria itu menerimanya sebagai adiknya. entah itu rasa senang atau rasa sedih, sulit untuk Nadira artikan.


...****************...


pagi harinya Adnan membawa Nadira kesebuah pulau kecil, pulai itu ditengah laut luas yang mereka datangi. Nadira tersenyum melihat pulau penuh bunga itu, pohon menyejukkan dihati. Adnan kembali mengambil gambar wajah Nadira yang tersenyum, seperti nya Nadira melupakan apa yang ia lakukan semalam. Adnan masih merasa bersalah, tapi Nadira sendiri merasa tidak pernah terjadi apapun.


"tidak ada yang mencari, kamu kan pergi denganku. bukan diculik seorang penjahat! " ucap Adnan tersenyum, Nadira memukul lengan Adnan yang terus bercanda dengannya. Nadira memikirkan semua orang dirumah, karena keduanya tidak berpamitan jika akan pergi. "selamat ulang tahun! " ucap Adnan memberikan bunga pada Nadira, dengan diam gadis itu menatap Adnan heran. selamat ulang tahun, apakah tanggal ini adalah tanggal kelahirannya, itu artinya juga tanggal kelahiran Adnan juga.


"kenapa kamu tidak bilang, hari ini adalah hari kelahiran kita! " ucap Nadira cepat, Adnan tersenyum mendengarnya. Nadira benar benar menganggapnya sebagai saudara, menyebutkan tanggal kelahiran kita tanpa beban. Nadira tersenyum menerima bunga itu, ia juga memberikan bunga untuk Adnan dan tersenyum. "selamat ulang tahun juga untukmu! " ucap Nadira kemudian, Adnan tersenyum dan mengambil bunga itu. Adnan memperhatikan wajah Nadira yang tersenyum melihat bunga itu, Nadira menciumi harum bunga yang ia pegang.


"saat kecil kamu suka dengan bunga itu, makanya saat melihat bunga itu aku langsung memetiknya untukmu! " ucap Adnan, Nadira tersenyum dengan itu. Nadira melihat cincin yang masih berada di jari manisnya, ia mengingat lamaran Adnan sebelum ia tahu kalau mereka bersaudara. Nadira melepaskan cincin itu dari jarinya, kemudian dengan tersenyum memberikannya pada Adnan.


"simpan cincin ini, berikan pada gadis yang kau cintai kelak! " ucap Nadira tersenyum, tentu hal itu membuat Adnan marah. pria itu memasangkan cincin itu lagi ditangan Nadira, kemudian menggenggam tangan itu.

__ADS_1


"kau tidak bisa melepas cincin itu, cincin ini hanya untukmu seorang. aku tidak berniat mencintai siapapun, karena aku hanya mencintai dirimu yang sekalipun adalah adik kembarku! " ucap Adnan dengan kesal, suara meninggi karena kekesalan yang ia rasakan. belum Nadira menjawab suara tepon Adnan berdering, mereka melihat siapa yang menelpon itu dan ternyata nama Papa Calling. Nadira meminta Adnan menjawab itu, sebenarnya pria itu sangat malas tapi akhirnya menjawab panggilan itu.


"akhirnya kamu menjawab telponku!" suara Adrian terdengar berat, Adnan hanya diam tanpa menjawab. "jika kau ingin pergi, kau tidak perlu membawa adikmu! " suara itu kembali terdengar, Adnan menghela nafas dan mendirikan tubuhnya. Adnan terkejut melihat lawan bicaranya sedang berdiri sedikit jauh dari mereka, Adrian berdiri dengan memegang telpon ditangannya. Adnan menarik tangan Nadira, ia masih tidak ingin pulang apalagi bertemu dengan pria yang disebutnya papa itu.


Adnan menarik tangan Nadira untuk berjalan cepat dari sana, Nadira yang ditarik hanya diam dan mengikuti langkah Adnan. Adrian tidak bodoh, diarah yang berlawanan seseorang telah berjaga disana. Adrian sudah mengira itu akan terjadi, Adnan akan lari ketika bertemu dengan dirinya.


"kau ingin pergi kan, pergilah tapi tidak dengan Nadira! " ucap Adrian dengan tegas, Adnan menggenggam tangan Nadira dengan erat.


"tidak, jika aku pergi dia juga pergi! " ucap Adnan membawa Nadira dibelakangnya, Adrian semakin marah dengan itu. sialnya sudah tidak ada jalan disana, dibawah hanya laut yang luas terpampang.


"Adnan jangan bodoh, dia adalah adikmu. kau membawanya lari dari rumah tanpa ijin, dan jangan berpikir untuk menikahinya! " Nadira yang mendengar itu terkejut, gadis itu menatap Adnan yang masih menatap Adrian dengan tajam. Adrian menarik Adnan dengan paksa, tamparan melayang dipipi Adnan oleh Adrian. hal itu membuat Nadira terkejut, dua kalinya ia melihat Adrian memukul Adnan. Adrian menampar anaknya berulang kali, tujuannya agar Adnan sadar apa yang ia lakukan adalah salah. "masih belum sadar, masih kurang pukulan yang kuberi? " ucap Adrian menarik baju Adnan, tidak cukup kuat Adnan melawan Adrian yang lebih kuat darinya.


"papa sudah cukup, jangan pukuli Adnan lagi! " ucap Nadira menagis, Adrian masih memberikan tamparan pada Adnan. karena Adnan masih menantangnya, bukannya menyerah untuk menghentikan Adrian. Nadira menarik lengan Adrian yang tidak berhenti menarik Adnan, tapi Adrian sudah membuta tidak memperdulikan rengekan Nadira. Adrian sudah menahan kemarahannya dua hari, ia bersumpah jika bertemu putranya itu akan memberikan pelajaran.


"papa pikir Adnan tidak bisa melawan, hanya karena kamu papaku! " ucap Adnan terlepas dari tangan Adrian, pria itu mengusap wajahnya yang cukup sakit akibat tamparan Adrian.


"benarkah, kalau begitu ayo lawan papa. bukankah Adnan anak yang pemberani, ayo lawan papa jika kamu hebat! " ucap Adrian menantang, Nadira memeluk Adnan untuk menghentikan pertengkaran itu. ditantang seperti itu membuat Adnan semakin kesal, ia melepas pelukan Nadira dan menyingkirkan gadis itu dari hadapannya. tubuh Nadira oleng karena kakinya yang masih sakit, gadis itu tidak bisa menahan tubuhnya sendiri. alhasil tubuh Nadira terjatuh dari atas pulau itu, Adrian dan Adnan terkejut dengan itu. mereka ikut terjun menyusul gadis mereka berdua yang terjatuh, suara teriakan Nadira menggema sebelum dirinya tercebur laut biru.


bayangan Nadira jatuh kedalam air terjadi sangat jelas dipikiran Nadira, ia berteriak memanggil Naira sebagai sebutan mama. dirinya meronta didalam laut yang menyeretnya cukup deras, sampai ia harus bertahan diatas potongan kayu. Nadira merasakan tangannya ditarik oleh dua orang, bayangan masa kecilnya terlihat jelas. terlihat wajah Naira, wajah Adrian, wajah Adnan, wajah semua orang bahkan wajahnya sendiri terlihat jelas. sampai Nadira tidak bisa lagi bernafas di air, dirinya tidak sadarkan diri dalam dekapan Adrian yang sudah membawanya ketepian.

__ADS_1


" mama... papa... Nana... "


__ADS_2