
Adnan yang berniat datang untuk berterima kasih pada Anin, berakhir membantu dua orang dalam kesulitan itu. entah Adnan sangat tidak ingin melihat Anin terluka, ja merasakan kesal ketika seseorang membicarakan hal buruk pada gadis itu. Anin sangat polos seperti seorang bayi yang tidak mengerti apapun, gadis itu hanya bisa menangis untuk menutup masalahnya.
Adnan yang merasa lemas karena pukulan orang sebelumnya, akhirnya jatuh tidak sadarkan diri ketika kepalanya berdenyut tidak karuan. luka sebelumnya baru ia sembuhkan, tapi dipukul lagi oleh orang orang tidak punya perasaan itu. Adnan terbaring di sebuah kamar, ia membuka matanya dan melihat sekelilingnya. kamar itu tidak pernah ia tahu, Adnan memegang kepalanya yang masih berdenyut. luka sebelumnya kembali terbuka, dan kepalanya kembali dibalut oleh perban.
masih tidak tahu kamar siapa yang ia tempati, sampai matanya melihat sebuah figora foto diatas meja. foto itu menampilkan Anin dan sang ibu yang tersenyum bahagia, Adnan melihat senyum Anin yang begitu damai. wajah ceria gadis itu membuat bibirnya tersenyum, Adnan mengusap foto itu dan terus memperhatikan Anin. kemudian ia sadar apa yang ia lakukan, apa yang terjadi padanya. begitu senang melihat gadis itu tersenyum bahagia, tapi begitu kesal melihat gadis itu yang menangis. ia teringat pada ibunya, jika ibunya menangis hatinya mulai melemah dan juga merasa kesal.
"kamu sudah sadar? " ucap seseorang yang membuat Adnan menoleh, terlihat ibu Anin sedang membawa makanan diatas nampan. diletakkan nampan itu diatas meja, kemudian duduk di pinggir kasur dengan tersenyum kepada Adnan. "apa kepalamu masih sakit? " ucap Ibu Anin lagi, Adnan hanya mengangguk kemudian menyandarkan punggungnya. "aku membawa makanan untukmu, setelah makan minum obatnya. apa kau ingin aku menyuapimu, tanganmu pasti masih sakit untuk diangkat! " Adnan melirik makanan itu, dan melihat beberapa obat juga disini.
"Terima kasih! " ucap Adnan dengan lirih, ibu Anin tersenyum dan mulai menyuapi Adnan. tidak ada penolakan, Adnan makan dengan tenang dan terus tersenyum kepada ibu Anin. Adnan merindukan Naira saat melihat ibu Anin seperti itu padanya, hatinya perih merasakan saat mengetahui kondisi Naira yang saat ini belum sembuh. air mata jatuh dari matanya, membuat wanita peruh baya itu terkejut dan meletakkan nampan makanan diatas meja.
"apa yang sakit nak, katakan pada ku! " ucap ibu Anin khawatir, tubuh Adnan gemetar untuk menahan suara tangisnya. ibu Anin memeluk tubuh besar itu, getaran ditubuh Adnan semakin menjadi ia menangis tanpa bersuara. ibu Anin menenangkan pria itu, ia masih tidak mengerti apa yang terjadi pada Adnan sebenarnya. pria itu masih diam tidak mau menjawab pertanyaannya, sampai dirasakan tubuh pria itu tidak gemetar lagi dan mulai tenang dengan sisa isak tangisnya.
__ADS_1
"aku merindukan mama... " Adnan melepas pelukan ibu Ani, senyum terukir oleh wanita paruh baya itu. "jangan bilang pada siapapun kalau aku sedang menangis! " ucap Adnan dengan nada dingin, ibu Anin tersenyum bahkan tertawa kecil mendengarnya. semenit tadi pria itu lemah hingga menangis, tapi semenit kemudian pria itu bersifat angkuh.
"aku akan menjaga rahasia itu, oh ya aku belum mengatakan sesuatu padamu. sebelumnya Terima kasih telah membantuku membayar hutang, aku tidak tahu kapan aku akan membayar hutang itu.. " ucap Ibu Anin menghentikan ucapannya, ia menutup kesedihannya dan menatap kearah lain. "waktu itu Anin mengalami tragedi yang menakutkan, Anin harus menjalani operasi saat dokter mengatakan dalam kepalanya terdapat gumpalan darah yang menghambat otaknya untuk bekerja. aku mencari uang untuk biaya operasi itu, dan jalan satu satu nya adalah berhutang pada pria itu. meskipun Anin dinyatakan sembuh, gadis itu sangat malang... " tidak dilanjutkan lagi, Adnan yang mengerti itu masalah pribadi hanya tersenyum tipis. bicara tentang Anin, pria itu ingat kalau Anin itu tidak sadarkan diri sebelum dirinya tidak sadar.
"bagaimana keadaannya, aku ingat dia tidak sadar! " tanya Adnan, ibu Anin tersenyum dan mengelus kepala Adnan dengan lembut.
"gadis itu sedang tidur, itu sudah biasa baginya jika batinnya terlalu tertekan! " Adnan pun mengangguk dengan mengiyakan, tidak ingin berlanjut bicara Adnan hanya ingin tidur. pria itu dibantu ibu Aninl
...****************...
Anin meminum obat yang diberikan ibunya, sisa air matanya masih ada disana. matanya yang sembab membuatnya tidak bisa membuka mata dengan normal, matanya terlihat sipit hampir seperti menutup mata. Arzan yang masih disana tertawa melihat gadis itu, meledek dan menjailinya seakan sudah terbiasa untuk Arzan. jika gadis itu kesal padanya, Arzan sangat suka dan semakin menggoda Anin dengan segala cara. Anin memukul Arzan dengan bantal sofa berulang kali, ia kesal mendengar Arzan yang terus tertawa dengan mengejeknya. tapi Anin tidak marah, ia bahkan ikut tertawa saat Arzan berhasil menggodanya dengan candaan jail.
__ADS_1
Adnan memperhatikan dua orang yang sedang asik bicara itu, Adnan melihat diri Anin dari jauh. benar adanya, hatinya tentram jika melihat senyum Anin yang lebar. pria itu tersenyum melihat Anin, kemudian senyum itu menghilang dan dirinya sadar tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Adnan berjalan menuju tempat Arzan dan juga Anin, dua manusia itu langsung menoleh kearah Adnan. mereka bertiga saling melempar senyum, Anin menatap Adnan dan memastikan pria itu tidak merasa kesakitan lagi seperti sebelumnya.
"kau sehat? " tanya Adnan untuk berbasa basi pada Anin, dengan senyuman gadis itu mengangguk tanpa menjawab. Adnan sendiri mengangguk, kemudian ia menoleh kearah Arzan dan menatap pria itu dengan malas.
"kau ini jarang sekali bicara dengan perempuan, sekalinya bicara begitu lembut! " celetuk Arzan tersenyum meledek, Adnan mengangkat kedua bahunya dengan malas. pria itu telah sembuh gerutu Arzan, karena sifat menyebalkan dari Adnan muncul kembali. "Adnan, gadis bunga ini butuh pekerjaan untuk membayar hutangnya padamu. bagaimana kalau kita rekrut dia menjadi karyawan kita, bukankah bagian kebersihan membutuhkan seseorang untuk bagian lantai ruangan kita. " ucap Arzan pada Adnan sekaligus bosnya itu, dengan wajah berbinar Anin mengharap dapat bekerja disana. karena tidak mungkin ia diam saja, cepat atau lambat ia harus mencari pekerjaan untuk membayar hutangnya pada Adnan. berbeda dengan Adnan yang merasa khawatir, tidak tahu kenapa Adnan khawatir jika Anin harus bekerja dibagian cleaning servis.
"apa aku bisa bekerja disana, aku bisa membersihkan apapun dengan bersih! " ucap Anin berbinar, Arzan yang melihat itu menagguk tapi ia tetap melihat Adnan untuk persetujuannya. Adnan menghela nafasnya, kemudian mengangguk dengan lirih dan melihat kearah Arzan.
"aku tidak memaksamu untuk mengembalikan uang itu, karena aku sangat berniat membantumu dan juga ibumu. aku tidak tega melihat kalian yang seperti itu, apalagi aku tidak pernah menghituang uang itu sebagai hutang. aku mempunyai seorang ibu, dan juga seorang... " Adnan menghentikan ucapannya, ia sadar telah banyak bicara pada Anin tanpa berniat untuk berhenti. Adnan menghela nafasnya dengan kasar, Anin yang sedari tadi mendengar hanya memperhatikan pria itu dengn seksama. Arzan sadar bahawa temannya itu tidak seperti biasany, Adnan yang hanya bicara irit, sekarang bicara panjang kali lebar di hadapan Anin.
"oke gadis bunga, besok datang saja ke kantor kami ya! " ucap Arzan untuk menghilangkan kecanggungan itu, Anin kemudian tersenyum dan mengangguk dengan bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih, sekali lagi Terima kasih ku ucapkan! " ucap Anin dengan bahagia, dua pria itu mengangguk dan tersenyum melihat senyuman Anin. perasaan hangat dirasakan Adnan, begitu pun dengan Anin merasa hangat melihat Adnan yang juga melihatnya. mereka berdua saling melempar senyum, hal itu dilihat oleh Arzan dan ia kembali dibuat bingung tanpa mengerti apapun. sampai detik kemudian ibu Anin membawa minuman dan beberapa cemilan, mereka berempat duduk dan asik mengobrol dengan beberapa pembicaraan mereka.