Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
BAB 3


__ADS_3

Jangan lupa kliks LIKE, COMMENT, SHARE(BAGIKAN SEBANYAK-BANYAKNYA), DAN PALING TERPENTING, KLIKS FAVORIT agar tak ketinggalan moment seru saudara kembar ini...


...............


Happy reading


"Aryata! Tidak!" teriak Arta dengan sangat lantang, suaranya terdengar begitu jelas.


"Kak Arta! Ada apa?" tanya Arata menepuk-nepuk pipi Arta.


Arta lantas terbangun. Mimpi buruk? Pertanyaan yang tepat, itu adalah mimpi buruk. Arta tak mempedulikan pertanyaan Arata, matanya fokus sedang mencari sesuatu, dengan wajah terlihat pucat bercucuran keringat dingin."Dimana, Aryata!?" tanya Arta dengan suara panik.


"Kak, aku disini," sahut Aryata yang berada di sampingnya sedari tadi, melihat sang kembaran baik-baik saja membuat Arta sangat lega, ia dengan sigap memeluk tubuh Aryata"Kakak mimpi buruk, ya?" tanya Aryata.


Arta mengangguk, untungnya itu hanya mimpi."Jangan tinggalkan kakak, Aryata. Jangan pernah tinggalkan kami," ucapnya lirih menangis pelan. Aryata tersenyum"Iya kak, aku gak bakalan ninggalin kakak," sahut Aryata.


"Janji?"


Aryata mengangguk."Janji," jawabnya singkat, sedangkan Arata hanya diam saja, ia tak mengerti, bingung adalah kata-kata yang tepat untuknya saat ini.


Tak lama setelah itu mami dan papinya masuk kedalam kamar mereka dengan wajah yang tampak sedikit khawatir. Melihat kedatangan Mina, Arta lantas berlari memeluk Mina dan menangis sejadi-jadinya, bahkan deru nafasnya saja tak beraturan.


"Arta, kenapa nangis, sayang?" tanya Mina menghapus cairan bening yang keluar dari mata putranya.


"Mami ... Ta-tadi ... A-aku ...."


"Minum dulu airnya, setelah itu tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan-lahan," titah Arvin memberikan arahan pada Arta, karena dia sangat terganggu dengan putranya yang berbicara terbata-bata. Setelah mengikuti arahan yang diberikan papinya, kini Arta lebih tenang, lantas Arvin langsung menggendong putranya itu.


"Jagoan kecil papi mimpi apa? Hmm, coba ceritakan," pinta Arvin sambil mengelus kepala belakang Arta.


Arta lantas menceritakan kejadian buruk yang terjadi dalam mimpinya tersebut pada Arvin, dan dirinya kembali menangis akibat ketakutan,rasanya mimpi buruk itu benar-baner nyata.


Arvin berusaha menenangkan Arta yang kini menangis di gendongannya.


"Kak Arta gak boleh cengeng ... Nanti kalau Eiji, Ken, sama Kai bangun gimana? Adik Kai lagi demam lho, sayang. Itu cuma mimpi kok, nggak usah khawatir,"


Arta mengangguk."Tapi kalau beneran terjadi gimana, Pi?"

__ADS_1


Arvin mendongkkan kepalanya ke langit-langit kamar Arta, ia sedang memikirkan jawaban yang pas."Kita doakan saja supaya tidak terjadi apa-apa dengan keluarga kita ... Ya sudah, Kakak Arta tidur lagi, ya? Malam masih panjang,"


Arta mengangguk dan turun dari gendongan sang papi, lalu pergi menuju kasurnya. Dilihatnya kedua saurada kembarnya telah kembali tertidur, lantas ia ikut kembali dalam tidurnya, tak lupa memeluk bantal guling kasayangannya, yaitu Aryata.


Di pagi harinya....


"Bu, apakah Arta, Arata, dan Aryata sudah bangun?" tanya Mina pada ART pengurus ketiga anak kembarnya itu.


"Sudah, Nona. Tuan muda kecil Arta, Arata dan Aryata saat ini sedang mandi," sahut ART tersebut, sambil menyiapkan hidangan sarapan pagi keluarga ini.


Mina mengangguk, lalu pergi kembali ke kamarnya untuk membangunkan Arvin dan 3 jagoan mungilnya. Sedangakan di dalam kamar Arta ....


Arta dan kedua saudara kembarnya kini sedang berendam di bak mandi, sambil memaikan mainan air kesukaan mereka, tampak Arta sedang termenung, memikirkan mimpi buruknya tadi malam. Jika memang benar mimpi itu sebagai pertanda, apa yang harus ia lakukan? Apa ia bisa melindungi adiknya dengan dirinya yang masih selemah ini? Itulah pertanyaan yang hinggap dikepalanya saat ini.


Walaupun di kata masih bocah berumur 5 tahun, tetapi pemikirannya sudah seperti remaja berumur 14 tahun, anak yang cukup matang di usianya. Aryata dan Arata saling bertatapan, meleparkan pertanyaan dari tatapan itu, mereka ingin bertanya tapi niat itu mereka berdua urungkan.


"Kak Arta, Aryata, hari ini kita ikut papi, yuk?" ajak Arata yang kini telah usai dari berendamnya. Arta mengangguk setuju."Boleh," jawabnya tampak sangat antusias.


Namun tidak untuk Aryata, anak itu menggelengkan kepalanya dengan wajah tampak sedikit sedih."Maaf, Kak. Aku gak bisa, hari ini aku harus pergi terapi bareng mami," jelasnya.


Arta tersenyum."Ya sudah, gimana kalau kita berdua ikut? Kamu mau, kan, Arata?" tanya Arta memberikan kode pada Arata.


"Mau, setelah itu kita makan cake di toko mami, gimana?"


"Setuju!" seru Arta dan Aryata serempak, lalu segera taurun ke bawah untuk sarapan pagi keluarga.


"Haahh ...." Arata menghela nafas panjang, sebenarnya ia tak mau ikut ke rumah sakit, karena jika ia pergi ke tempat itu dirinya harus berhadapan langsung dengan seorang dokter spesialis kesehatan yang selalu gemas padanya.


Bahkan saking gemasnya, dokter itu sampai menciuminya berkali-kali. Tetapi itu hanya bagian kecilnya saja,  yang paling ia takutkan adalah berurusan dengan suntikan rutinnya, Arata bisa tidak tidur satu hari satu malam jika ia disuntik, entah apa yang ia takutkan dengan benda itu.


Semua orang pasti tau.


Saat ini suasana hati Arta juga sedang tidak bagus, akibat mendapatkan mimpi buruk yang sangat mengerikan itu. Saat ini ia tak ingin jauh-jauh dari kedua saudara kembarnya, dia akan tetap berada di dekat mereka apapun yang terjadi. Apapun itu.


Arta, Arata, dan Aryata turun dari lantai atas sambil menenteng pakaian kotor mereka, keriganya kini terlihat sangat wangi dan gagah dan bahkan memancarkan pesona yang sangat indah, terutama Arta dan Aryata.


"Selamat pagi anak-anak mami yang tampan dan cantik," sapa Mina mengelus kepala tiga jagoannya. Setiap paginya Mina sering menggoda Aryata, karena kharisma anak itu lebih dalam dibandingkan kedua kakak kembarnya, terlebih lagi ia memang sangat mirip dengan anak perempuan. Karena itulah ia sering dipanggil cantik.

__ADS_1


"Pagi, Mami," sahut Arta dan Arata dengan semangat, tap tidak dengan Aryata yang diam sambil memajukan bibirnya kesal. Ketiganya tertawa saat melihat ekspresi Aryata, anak itu tambah imut jika ia sedang kesal, karena itu Mina sering sering menggoda si Aryata. Beruntung anak itu tak menangis.


 


"Papi dan adik-adik mana, Mi?" Belum bangun?"  tanya Arta melirik kekanan dan kiri.


"Papi dan adik-adik kalian sudah bangun ... hanya saja Kai masih tidur, dia demam. Karena itu nanti mami akan membawanya sekaligus dengan Aryata," sahut Mina meletakkan susu plus roti isi daging diatas meja.


Arta mengangguk, mengambil dua roti isi dan segelas susu tersebut, lalu dengan cepat mengahabisi segelas susu tersebut hanya dalam tiga tegukan. Arata dan Aryata melongo melihat sikap Arta, tetapi mereka memutuskan untuk tak bertanya.


"Pagi, pangeran-pangeran kecilnya papi," sapa Arvin yang kini tengah menggendong tubuh mungil Eiji dan Kenzo, tampak kedua bocah itu baru bangun tidur, terllihat jelas dari tampang mereka.


"Pagi, Papi!" sahut ketiganya berseru riang, ketiganya memberikan senyuman terbaik mereka, dan itu membuat Arvin luluh. Yah ... si kembar Arta memang sangat manja sekali pada papinya, Arvin. Terlebih Aryata dan Arata, mereka sangat-sangat manja, tetapi itu tak membuat Arta iri sama sekali.


Arta lebih dekat pada maminya ketimbang sang papi, karena Mina lebih mengerti dirinya, dan begitu sangat perhatian padanya. Walaupun ia harus berbagi kasih sayang itu pada Aryata, tapi ia sudah sangat bersyukur. Karena orang tuanya tak pilih kasih.


Arvin tersenyum"Jadi mau kemana kita hari ini?" tanya Arvin sambil menurunkan Eiji dan Ken di kursi mereka.


"Hari ini kami mau ikut Aryata ke rumah sakit, boleh, ya, Papi?" pinta Arta sambil memohon pada Arvin bak pangeran sedang berlutut pada sang raja.


Arvin dan Mina saling bertatapan, melemparkan senyuman dan tertawa. Sejak kapan Arta menonton film animasi berbau kerajaan, itulah yang ada dipikiran mereka. Arvin masih diam tak berkata apa-apa, matanya masih fokus menatap Arta.


"Ya sudah, kalian harus menjaga Aryata baik-baik, ya ... Oh iya, Mi. Papi berangkat sekarang ya, ada yang mau diurus soalnya,"


Mina mengangguk dan berkata."Ya, Papi  ... tapi awas ya macam-macam, siap-siap aja," ancam Mina menatap Arvin sinis, sedangakn Arvin hanya bergidik ngeri tatkala mendapatkan ancaman itu dan mengangguk. Dan langsung mencium pipi Mina, tak lupa 5 jagoannya tersayang.


"Bye, nanti Papi pulang lebih cepat, ya," Arvin melambaikan tangannya dan dibalas oleh anak-anak itu.


Keluarga Arta adalah keluarga yang bisa terbilang sangat romantis dan harmonis, walaupun disibukkan dengan pekerjaan tapi orang tua mereka selalu meluangkan waktu lebih pada mereka, terlebih Arvin.


Setelah sarapan pagi mereka tenggelam pada kesibukan masing-masing, Mina kembali ke kamar untuk mandi, sedangkan Arta dan kedua kembarannya bermain di taman bersama Bu Mayang dan Reina, ART atau lebih tepatnya baby sister yang mengurus mereka bertiga.


"Bu, apa Aryata bisa disembuhkan?" tanya Arta yang fokus menatap Arata dan Aryata yang tengah bermain pedang-pedangan dengan Reina, tampak keduanya sangat bahagia, terlihat jelas dari raut wajah mereka.


"Dengan terapi rutin yang diberikan kemungkinan besar bisa, Tuan muda kecil. Tapi jika tuhan berkehendak lain maka hasilnya akan berbeda, karena itu kita harusberdoa untuk yang terbaik demi kesembuhan Tuan Aryata," jelas Bu Mayang.


Arta tampak sedih mendengarnya, namun yang dikatakan Bu Mayang ada benarnya, Ia harus berdoa untuk yang terbaik agar kembarannya itu bisa pulih dan kembali normal seperti dirinya dan Arata.

__ADS_1


__ADS_2