Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Tidak ada harapan.


__ADS_3

dengan duduk di kursi roda , Nadira dibawa masuk kedalam ruangan khusus untuk bertemu Arzan. kejadian Zania yang marah tidak terkontrol membuat Nadira ingin tahu, dan mau tidak mau mereka menceritakan tentang Arzan tanpa menceritakan kisah Jonathan. jantung Nadira berdegup kencang, rasanya darah didalam tubuhnya berhenti mengalir. suara monitor terdengar di telinganya, Nadira masuk saat diantar oleh Adnan. seketika membuatnya berlinang air mata, berlian itu jatuh tanpa diminta dari matanya.


Nadira menatap Arzan yang masih tidur nyenyak, benar kata Zania pria itu seperti mayat hidup yang sedang tertidur. tangis Nadira pecah disana, ia tidak pernah tahu bahwa Arzan sedang sekarat seperti itu. Nadira menyentuh tangan Arzan, terasa dingin pada kulit telapak tangan Nadira.


"kak Arzan... " suara Nadira lemah dan juga gemetar, tangisnya masih tidak ingin berhenti.


"Nana.. tenangkan dirimu! " ucap Adnan, tapi gadis itu masih menangis dengan menatap Arzan.


"bangun kak Arzan, apa kau tidak ingin melihatku!" ucap Nadira lagi, suaranya sudah hampir hilang dengan tangisnya yang tanpa berhenti. "katanya kamu mau nemenin aku kak, tapi kenapa kamu malah tidur disini dan gak bangun...kak... ini gadis bungamu... " ucap Nadira menangis, ia mengingat saat bertemu dengan Arzan untuk pertama kalinya. mengantar bunga dan memberinya sebuah cek, Nadira ingat semua itu sampai dirinya saking mengenal dan akrab.


"aku jahat padamu... tapi aku tetap mencintaimu kak, aku tetap menyayangimu... hiks... Nanan... bangunkan dia... "


Adnan membawa Nadira pergi dari sana, karena tangisnya yang tidak berhenti. diluar ruangan Adnan langsung memeluk Nadira, memberikan sang adik ketenangan. Nadira menangis dalam pelukan Adnan, sampai dirinya merasa pusing dan tidak sadarkan diri. segera Adnan memanggil dokter, dan membawa adiknya itu untuk berbaring.


"jangan ada tekanan, saraf otaknya belum bisa menerima jaringan apapun! " ucap Daniel, semua orang mengiyakan hal itu karena memang tanpa disengaja Nadira tahu tentang keadaan Arzan. mereka tidak bisa berpikir jika Nadira mengetahui keadaan Jonathan, bagaimana gadis itu akan bereaksi.

__ADS_1


berhari hari Nadira selalu mengunjungi Arzan, ia memilih untuk tetap ada dirumah sakit. dirinya masih ingin melihat Arzan, sesekali Nadira akan dibawa Daniel untuk bertemu. tidak pernah lama, hanya beberapa saat kemudian dirinya kembali istirahat. semua terpaksa berbohong pada Nadira, karena gadis itu sempat bertanya bagaimana keadaan Jonathan. tentu mereka mengatakan kebohongan agar tidak membuat gadis itu terkejut, dengan mengatakan Jonathan dibawa keluar negeri untuk perawatan yang serius.


Nadira menemui Arzan sendiri ketika kakinya sudah bisa digerakkan, ia mengusap wajah Arzan dengan lembut. rasa penyesalannya sangat besar, karena menyembunyikan Arzan yang sebagai kekasihnya. Nadira bersumpah pada dirinya sendiri, jika memang Arzan membuka matanya maka saat itu juga Nadira akan mengatakan hanya akan menikah dengan pria itu. beberapa menit telah berlalu, Nadira memberikan kecupan dipipi Arzan sekilas.


"aku akan datang lagi nanti, om dokter hanya memberiku waktu lima belas menit untuk menjengukmu! " ucap Nadira tersenyum, gadis itu membenarkan selimut Arzan dan pergi dari sana.


Nadira berjalan perlahan dengan membawa jarum infus ditangannya, tidak jauh bagi ruangannya menuju ruang Arzan. Nadira melihat keluarganya yang masuk kedalam ruangan Daniel, Nadira perlahan tapi pasti berjalan kearah ruangan Daniel. saat akan ikut masuk, Nadira mendengar suara teriakan Zania yang terdengar dari luar.


"tidak bisa, putraku itu pasti akan bangun. kau sebagai dokter bagaimana, bisa bisa nya kau akan mencabut semua alat itu dan mengatakan tidak ada harapan tanpa dosa! " teriak Zania yang marah, Naira mencoba menenangkan wanita itu yang tersulut.


"tapi kami sangat menyesal mengatakan ini, Arzan mengalami keadaan yang kritis. memang jantungnya berdetak semua panca ideranya bisa dirasakan, tapi kinerja otaknya tidak berfungsi. Arzan mengalami pendarahan yang cukup serius, dalam keadaan seperti ini saja itu sudah menyiksanya! " ucap Daniel menjelaskan, Zania menangis dan memarahi Daniel yang akan bertindak. "tanda tangan ini, maka kami akan melakukan tindakan. " ucap Daniel, Zania merebut itu dan menyobek surat itu hingga hancur. secara bersamaan Adrian menoleh kearah Nadira, ia terkejut melihat gadisnya berdiri diambang pintu dengan berlinang air mata.


"lihatlah lihatlah sekarang, aku akan kehilangan putraku gara gara dirimu. apa kau sudah puas ha? Arzan disana karena menyelamatkanmu, hanya karenamu! " ucap Zania menangis, bahkan wanita itu merosot kebawah karena kakinya yang lemas dengan menangis. Nadira sendiri terkejut, ia tidak bisa berkata apapun hanya air mata yang terus mengalir.


"enggak... hal itu gak boleh terjadi, kak Arzan sudah janji mau menemaniku... enggak, tidak boleh! " ucap Nadira dengan menangis, ia berusaha berjalan kearah ruangan Arzan kembali. karena susah berjalan, Nadira melepas jarum infusnya dan ia berlari dengan sebisa mungkin. Nadira sampai disamping Arzan, gadis itu langsung duduk di kursi karena kakinya merasa lemas. Nadira menangis dengan menggengam tangan Arzan, ia mencium tangan Arzan dan terus berdoa.

__ADS_1


"kak.. apa kamu membenciku, kenapa kamu tidak mau melihatku kak... hiks.. hiks.. baiklah kamu boleh benci aku, marah boleh silahkan tapi, katakan itu langsung, jangan mendiamkan aku seperti ini... hiks... kamu tahu kan aku selalu menangis jika didiamkan, lalu... lalu kenapa kamu diam terus... kak aku ingin kamu katakan langsung... bangun kak... hiks... " Nadira menangis sampai tidak kuat untuk bicara, Nadira menggenggam tangan Arzan dengan erat iq tidak peduli tangannya mengeluarkan darah akibat bekas jarum infus yang ia lepas.


"mereka mau mencabut semua kabel disini kak, mereka semua bilang kamu gak akan bangun.. buktikan kamu bisa bangun, buktikan kak... " gumam Nadira menangis, ia menahan sesak dalam dadanya akibat menangis. semua orang diam tidak jauh Nadira, mereka juga menangis sampai sesak melihat Nadira yang terus memohon agar Arzan membuka matanya.


"Arzan bangun, bangun aku bilang bangun!! buka matamu sekarang, aku sangat marah padamu! kamu bisa dengar aku kan, jangan berpura pura tidur bangun!!! aku marah pada semua orang, mereka bilang kamu adalah mayat hidup, aku tidak Terima dengan itu!! bangun Arzan aku bilang bangun, tunjukkan pada semuanya kamu bisa sembuh kamu bukan mayat. Arzan aku mencintaimu.. bukan kah itu yang kamu dengar, aku mohon aku mohon bangun! " semua orang terkejut mendengar Nadira berteriak, gadis itu dengan suara lemahnya berteriak tanpa peduli sekitarnya. tubuh Arzan yang seakan mati digoyang beberapa kali oleh Nadira, mencengkram kedua rahang Arzan untuk membangunkan pria itu.


"aku marah... aku sedang marah Arzan. bangun Arzan, aku bilang bangun!!! hiks... hiks... hiks... bangun..." Adrian tidak berdaya melihat putrinya seperti itu, saat akan membawa Nadira gadis itu menepis kasar tangan sang ayah. "jangan sentuh aku... aku sedang marah padamu! " ucap Nadira pada Adrian, terdengar kasar dan juga marah. Nadira memeluk Arzan tanpa enggan melepaskan, ia takut Daniel melepas semua alat bantu pernapasan Arzan. dengan paksa Adrian menarik Nadira, disana juga ada Daniel yang ikut menarik gadis itu.


"lepaskan aku... aku ingin bersama kak Arzan, jangan pisahkan aku! " teriak Nadira, Adrian memeluk anak gadisnya yang meronta. saat itu Nadira takut saat Daniel ada disana, takut Daniel akan melakukan tindakan.


"Nadira tenang! " ucap Adrian, dengan sisa tenaganya Nadira mendorong Adrian jauh darinya. Nadira mengarah kearah Daniel, ia mendorong Daniel hingga menjauh dari Arzan. Nadira memeluk Arzan tanpa peduli apapun, ia mencengkram Arzan dengan tubuh kecilnya.


"tidak... jangan mendekat, kalian tidak boleh melakukan apapun padanya... kalian semua jahat... Kak Arzan bangun, jika kamu pergi ninggalin aku, maka aku akan meninggalkamu lebih dulu... bangun kak, bangun!!!! " teriak Nadira memeluk Arzan, ia tidak peduli tubuhnya disentuh oleh Adrian.


"papa Nana akan pergi jika kak Arzan pergi, Nana akan ikut kak Arzan! " ucap Nadira saat tangannya merasa dipegang oleh Adrian, ia mengancam hal itu agar tidak ada yang mengusiknya. tiba tiba saja Daniel tersenyum, ada perubahan pada monitor Arzan bahkan tubuh pria itu mengalami rangsangan akibat suara Nadira.

__ADS_1


"mau ikut kemana... aku tidak pergi... " ucap seseorang yang berbeda dari suara Adrian, tentu saja itu suara Arzan yang sudah membuka mata. Nadira terkejut dan melepas tubuh Arzan, pria itu dengan mata sayu melihat kearah Nadira. gadis itu tersenyum lega, ia menghapus air matanya dan mengusap pipi Arzan dengan sayang. "dadaku sakit.... jangan memelukku terlalu kuat... " ucap Arzan lemah, Nadira langsung mengangguk dan tersenyum dengan sisa tangisnya. tangan Arzan terulur menghapus air mata Nadira, gadis itu menciun tangan Arzan dengan masih tangis terharu.


"aku membiarkanmu berteriak, karena denganmu bicara seperti itu membuat Arzan bereaksi. saat akan mengecek kondisinya, kau malah sangat emosi tidak karuan! " ucap Daniel, pria itu memeriksa keadaan Arzan. Nadira yang mendengar itu merasa bersalah, ia berdiri didekat Arzan dan tidak mau pergi dari sana. Arzan masih terlihat lemah, pria itu dengan mata sayu menatap Nadira yang juga menatapnya.


__ADS_2