Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Davina.


__ADS_3

Anin menemani Adnan yang kembali sibuk dengan pekerjaannya, ia berpikir kenapa Adnan selalu saja sibuk tidak dirumahnya saja, tapi dirumah kakeknya pun juga bekerja. Adnan sendiri membawa pekerjaan itu, ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya hanya karena berada dirumah sang kakek. Adnan memutuskan bekerja dirumah untuk selalu melihat Anin, karena gadis itu tidak bisa ditinggal untuk lingkungan baru yang ia tinggali. Adnan melihat Anin yang berkutik dengan ponselnya, ia tersenyum melihat Anin yang berpose karena sedang menyalakan kamera.


sampai gadis itu melirik Adnan, ia malu ketika diperhatikan oleh Adnan. Anin pun menyembunyikan wajahnya dan meletakkan ponsel Adnan, pria itu memberikan isyarat pada Anin untuk mendekat kearahnya. tanpa bertanya Anin pun berjalan mendekati Adnan, gadis itu bersiap duduk disamping Adnan yang sudah tersedia kursi. tapi bukan Adnan jika tidak jail, Adnan menarik tubuh Anin hingga duduk dipangkuannya. tentu saja hal itu membuat wajah Anin merah karena malu juga terkejut, Adnan dengan acuh melanjutkan kepakerjaannya.


"apa yang kau lakukan, aku bisa duduk disana! " ucap Anin lirih, ia merasa tidak enak ketika berada dipangkuan Adnan. bukannya menjawab pria itu fokus mengerjakan pekerjaannya, Anin menatap wajah serius Adnan dan tidak berniat untuk bergerak ataupun bicara lagi. lama kelamaan Anin menjadi nyaman diatas pangkuan itu, ia tersenyum malu saat dagu Adnan menempel pada pundaknya.


"apa kau baru saja mandi? " ucap Adnan ketika mencium aroma wangi pada tubuh Anin, gadis itu menggelengkan kepala dan memiringkan kepalanya karena merasa geligeli karena Adnan bermain rambutnya.


"tidak, aku mandi hanya pagi saja. dan Adnan apa yang kau lakukan, itu membuatku merinding! " ucap Anin memegang kepala Adnan dan mendorong kepala itu, Adnan pun hanya tertawa dan mencubit hidung Anin. "Adnan turunkan aku, tidak enak jika ada yang melihat nantinya! " ucap Anin memohon, Adnan menggelengkan kepala dan memeluk gadis itu dengan erat.


"aku tidak merasa terganggu, jika begini aku bisa melihatmu dan juga fokus pada pekerjaanku. lagi pula siapa yang berani masuk ruangan Adnan, tidak ada yang berani dengan kemarahan Adnan! " belum berhenti bicara kesombongan nya, tiba tiba pintu terbuka membuat keduanya terkejut. Anin langsung melompat dari pangkuan Adnan, dan pria itu masih dengan keterkejutannya.


Kara masuk tanpa mengetuk pintu, ia tahu bahwa mereka berdua ada didalam dan pasti sedang bermesraan. Kara menahan senyumannya, ia menatap Anin yang berwajah merah karena menahan malu. Kara menyadarkan Adnan dari lamunannya, kemudian Adnan tersenyum pada sang kakek.


"ada apa kakek? " tanya Adnan, Kara memberikan sebuah map yang memang dibutuhkan oleh Adnan. pria itu sengaja mengantarnya sendirii, karena memang ingin menggoda cucunya.


"itu ada yang mengantar, kakek hanya mengantar itu! " ucap Kara, pria itu kemudian berjalan menuju pintu tapi berhenti kemudian menoleh kearah Adnan. "ingat harus ada kepastian besok tentang kalian, kalau tidak ada kalian tidak boleh satu ruangan! " ucap Kara tegas, Adnan yang mendengar itu hanya menggaruk kepalanya. Kara keluar setelah melihat Adnan mengangguk, Anin yang sudah merasa lega mendekat kearah Adnan. seketika tawa gadis itu terdengar di telinga Adnan, dengan cepat pria itu menoleh kearah Anin yang tertawa.


"kamu kenapa ketawa? " tanya Adnan menyipitkan matanya, Anin masih tidak berhenti tertawa kemudian ia berdehem pelan.

__ADS_1


"katanya tidak ada yang berani masuk, terus tadi itu apa? " ucap Anin menahan tawanya, Adnan yang mendengar itu tersenyum kikuk. memang kalau kakeknya adalah pengecualian, Adnan bahkan tidak punya cara untuk mencegah pria satu itu untuk tidak masuk. Adnan pun tertawa karena Anin yang tertawa lagi, keduanya saling tertawa didalam ruangan itu. Adnan membawa Anin dalam pangkuannya lagi, kali ini Anin tidak menolak dengan kelakuan Adnan. gadis itu duduk dengan tenang, dan mengalungkan kedua tangannya dileher Adnan.


"jadi mau menikah denganku?" ucap Adnan tiba tiba, Anin menaikkan satu alisnya. pria itu melamarnya lagi, tapi tidak ada kesan romantis menurutnya. Anin menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Adnan heran dan mengeryitkan dahinya.


"aku melihat di film, saat seorang pria melamar kekasihnya itu akan membawa bunga dan juga cincin. tapi kamu tidak? "


"aku memang tidak membawa itu, aku hanya membawamu dalam pangkuanku! "


"Adnan! " teriak Anin memukul pundak pria itu, Adnan tertawa dengan ekpresi Anin yang kesal. Anin turun dari pangkuan itu dan berpamitan untuk pergi keluar, ia tidak ingin melihat Adnan yang terus menggoda nya. Anin mengomel pada dirinya sendiri, ia menuruni anak tangga untuk menuju dapur ia sangat haus.


saat didapur ia melihat seorang wanita berdiri membelakanginya, sampai wanita cantik itu menoleh melihat Anin. mereka berdua saling memandang, kemudian gadis itu mendekat kearah Anin dengan masih menatap Anin. bisa dibilang seumuran dengan Anin, dan sangat


"kamu siapa, pelayan baru?" ucap gadis itu, Anin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "lalu siapa, apa kau anaknya pelayan! "


"enak saja! " ucap Nadia yang tiba tiba muncul, gadis itu berlari kearah Nadia dan memeluk Nadia.


"dia siapa nenek, kenapa di rumah kita! " ucap wanita itu yang tidak lain adalah cucu Nadia, cucu perempuan kedua yang ada dikeluarga mereka setelah Nadira.


namanya Davina Sandra sekaligus putri dari Riana dan Daniel, usianya lebih muda dari keempat kakaknya. usianya menginjak 22 tahun, gadis cantik dengan kulit putih bersih, wajahnya sangat mirip dengan Riana. Davina masih bergelayut di lengan Nadia, sampai wanita itu memukul pelan tangan Davina karena mengira Anin adalah seorang pelayan.

__ADS_1


"dia adalah pacar kakakmu! " ucap Nadia, Davina terkejut kemudian menoleh kearah neneknya.


"ya ampun kak Dani ganti pacar lagi, astaga dia yang keberapa ya! " ucap gadis itu menghitung jarinya, Nadia yang gemas mencubit pipi cucunya itu. Davina mengadu sakit dan langsung dilepaskan oleh Nadia, diusapnya dengan lembut pipi gembul itu.


"bukan kak Dani mu, tapi kakak Nananmu! " ucap Nadia kemudian, Davina kembali dikejutkan dengan itu. ia melihat Anin dari bawah hingga atas, kemudian ia memegang tangan Anin dengan heran.


"kamu gak diancam kakak Nanan kan, misalnya berpura pura jadi pacarmu? "


"anak ini sungguh nakal, apa kau mengira aku ini seperti itu! " ucap Adnan yang keluar dari ruangannya, Davina yang mendengar itu berlari kearah Adnan dan memeluk pria itu. Adnan dengan gemas mencubitii pipi Davina, sampai membuat gadis itu geli dan juga kesakitan. "kapan kau datang hah? "


"aku tidak ada kelas jadi pulang saja, oh iya apa benar dia pacarmu? " ucap Davina menaik turunkan alisnya, Adnan menggelengkan kepalanya dan berbisik ditelinga Davina.


"dia menolak ku! " Davina langsung tertawa mendengar itu, kemudian ia berjalan kearah Anin yang dari tadi hanya diam dan tersenyum. Davina memegang tangan Anin dengan lembut, Anin pun membalas dengan senyuman terbaiknya.


"kakakku sangat baik, tadi aku sempat tidak percaya kalau kau adalah pacar kakak Nanan. karena dia bukan seperti manusia, dia itu seperti patung yang tidak bisa didekati gadis manapun. melihat senyum kak Nanan, dia seperti nya tulus padamu! " ucap Davina tersenyum, Anin hanya mengangguk dan mengiyakan hal itu. "namaku Davina, senang bisa bertemu denganmu! "


"namaku Anin, senang juga bisa bertemu denganmu! " gadis itu membawa Anin pergi dari sana, ia tidak pernah memiliki tan seumurannya disana. meskipun Anin lebih tua, Davina masih sopan pada Anin meskipun ia terlihat nakal saat bersama Anin. Nadia melihat keduanya dengan tersenyum, tidak heran jika Davina seperti itu karena ia mudah akrab dengan orang. Nadia jadi teringat jadi cucu perempuan nya yang lain, jika mungkin masih ada sampai sekarang kedua cucunya itu akan tumbuh bersama. tidak terasa Nadia meneteskan air mata, Adnan merangkul tubuh neneknya itu dengan sayang.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2