
semua orang sedang panik, kabar yang dibawa Adrian adalah masuknya Nadira kerumah sakit. Adnan dan Adrian saling terdiam, mereka menunggu dokter yang sedang merawat Nadira didalam. gadis itu hampir saja tenggelam, membuat kesadarannya hilang dan membuat Adnan dan Adrian khawatir. dokter mengatakan Nadira baik baik saja, hanya butuh istirahat karena sebelumnya ia merasa shock karena jatuh dari ketinggian.
secara bersamaan semua orang datang, mereka langsung melihat Adrian dan juga Adnan yang tidak jauh. Adnan melihat Naira yang menangis, wanita itu mengulurkan tangan dan dipeluk oleh Adnan. mereka heran kenapa kedua manusia itu basah kuyup, Naira mengusap wajah Adnan yang lebam dan juga tubuhnya basah.
"ada apa denganmu, kenapa wajahmu penuh lebam? " tanya Naira mengusap rambut Adnan yang basah, Adnan melirik Adrian yang menatapnya dengan tajam.
"papa memukul ku! " ucap Adnan manja pada Naira, Adrian yang melihat itu langsung menatap tajam Adnan. Naira sendiri langsung menoleh kearah Adrian, dengan tajam menatap suaminya itu.
"aku hanya memberi dia pelajaran, tentu harus memukulnya berulang kali! " ucap Adrian dengan ketus, Adnan memeluk Naira untuk menghilangkan kekesalannya. ia kesal telah membuat Nadira terjatuh, pria itu tidak ingin merasakan kesal karena ucapan Adrian.
"jangan memukul anakku, kamu itu kalau memukul sangat sakit! " ucap Naira mengusap Adnan, dengan manja Adnan mengangguk dan kembali dalam pelukan Naira. Adrian yang melihat itu menghela nafas, sebelumnya ia sangat marah tapi sekarang ia ingin tertawa melihat putranya yang seperti itu. mereka pun masuk kedalam ruangan Nadira, gadis itu tertidur dengan nafas teratur. dokter mengatakan untuk membiarkan Nadira istirahat, mereka pun menurut kemudian melangkah untuk meninggalkan Nadira. tapi sedetik kemudian terdengar suara ringikan dari Nadira, gadis itu menangis setelah membuka mata. Naira yang masih dekat dengannya itu langsung mendekat kearah Nadira, gadis itu menangis kemudian mendudukan dirinya.
"mama... Nana takut, sangat takut mama... " suara Nadira membuat semua mereka terkejut, mana kala gadis itu memanggil namanya sendiri sebagai Nana. nama sebutan dari kecil gadis itu, Naira masih diam dengan menatap gadis itu. "Nana ingat, kalau jatuh waktu itu! " ucap Nadira lagi, hal itu membuat semua orang terkejut. gadis itu menceritakan semua cerita yang terjadi padanya, kuasa Tuhan mengembalikan ingatan Nadira.
__ADS_1
"sayang kamu ingat mama? " Nadira mengangguk kemudian menunjuk Adrian menyebut pria itu papa, bahkn Nadira menunjuk semua orang disana termasuk Adnan. Nadira menangis melihat Adnan, ia ingat saudaranya itu dipukul habis habisan oleh Adrian. "papa memukul Nanan berulang kali! " Adrian yang mendengar itu merasa kikuk, kemudian berjalan kearah Nadira dan menggenggam tangan gadis itu.
"Nadira panggil papa.. " ucap Adrian lirih, ia sangat menunggu dirinya dipanggil papa oleh Nadira. dua belas tahun tidak mendengar suara gadis itu, dan ia ingin mendengar gadis itu memanggilnya.
"papa... Nana sayang papa! " ucap Nadira menangis dan dipeluk oleh Adrian, pria itu sampai harus mengeluarkan air matanya. merasakan dirinya sangat bahagia, putrinya kembali dengan seluruh ingatannya. setelahnya mereka membawa Nadira kembali kerumah, karena menurut Adrian putrinya itu baik baik saja dan hanya perlu dirawat dirumah.
Nadira kembali ke rumah dengan status putri yang hilang, ia sangat senang sudah mengenali orang tuanya dan seluruh keluarganya. tapi perasaannya pada Adnan, masih sama dan akan tetap ada. Adnan tidak enak hati melihat semua itu, setelah dirumah Adnan masuk kedalam kamarnya tanpa bicara apapun. sempat ia berharap gadis itu bukanlah adiknya, tapi melihat ingatan gadis itu kembali membuat Adnan putus asa dan hanya bisa meratapi nya.
...****************...
"untuk apa kamu kesini? " ucap Adnan ketika gadis itu tidak mengatakan apapun, Nadira terkesiap kemudian tersenyum.
"mama meminta kamu turun, dia khawatir padamu! " ucap Nadira ragu, Adnan hanya mengangguk dengan pelan. Nadira merasa Adnan sangat dingin padanya, sikap manis dan hangat Adnan padanya telah hilang. apa pria itu tidak menerima dirinya sebagai saudarinya, apakah pria itu membencinya sebagai Nadira. seakan tahu apa yang dipikirkan Nadira, Adnan berdiri di hadapan Nadira dan memegang kedua pundak gadis itu.
__ADS_1
"aku sangat merindukanmu Nana, Terima kasih sudah selamat dari kecelakaan waktu itu! " ucap Adnan tersenyum, Nadira yang sempat berpikir aneh aneh langsung meneteskan air mata. Adnan menghapus air mata itu, kemudian memeluk Nadira dengan hangat. "aku tidak marah kamu jadi adikku, hanya saja aku sedang kesal pada diriku sendiri. aku tidak bisa berhenti mencintaimu, meskipun aku tahu kamu adalah Nadira! " ucap Adnan gemetar memeluk Nadira, mereka berdua saling merasakan kesedihan yang paling dalam. bukan hanya Adnan yang merasakan perasaan itu, perasaan yang sama juga dialami oleh Nadira sendiri.
"Nanan... maafkan aku, Terima kasih sudah mencariku bertahun tahun! " ucap Nadira dalam tangisnya, Adnan tersenyum meskipun tipis dengan anggukan. Adnan membawa wajah Nadira untuk menatapnya, dihapusnya air mata Nadira dengan lembut.
"selama ada aku disini, jangan pernah mengeluarkan air mata ini. karena aku akan melindungimu, sebagai seorang kakak aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis! " jelas Adnan, entah sebutan Kakak membuat keduanya merasa sakit hati. tentu saja masih menyakitkan bagi keduanya, disaat mereka mulai jatuh cinta harus kandas dengan sebuah ikatan darah yang mengalir di tubuh mereka.
"kamu turunlah, mama terus khawatir padamu! " bukannya menjawab Adnan malah mencubit pipi Nadira dengan gemas, hal itu membuat Nadira terkejut dan memukul tangan Adnan. "Nanan! "
"aku kakakmu, panggil aku kakak! " ketus Adnan, Nadira menjulurkan lidahnya.
"tidak mau, kau adalah Nanan. lagi pula kita sama, lahirnya bareng! " ucap Nadira mengejek, Adnan ingat kalau gadis itu pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Nadira berlari saat Adnan mulai mengejarnya, suara teriakan Nadira membuat semua orang menoleh. mereka terkejut melihat kedua orang itu bercanda, berlari disepanjang tangga rumah itu. Nadira berlari dengan mengusap sisa air matanya, ia mengarah kearah Adrian yang berdiri saat mendengar suara teriakan Nadira. "papa dia ingin menggelitiki Nana, bawa dia pergi! " ucap Nadira berada di belakang Adrian, Adnan sendiri berjalan dengan mengatur nafasnya yang tersenggal.
"dia tidak memanggilku kakak, itu membuatku marah! " ucap Adnan menghela nafas, Nadira masih mengejek dan tersenyum pada Adrian. semua orang tersenyum melihat itu, mereka merasa lega saat Adnan dapat menerima Nadira sebagai adiknya. Adrian tersenyum dan membuka tangannya dihadapan Adnan, tentu saja pria itu tahu apa yang dilakukan ayahnya. Adnan langsung memeluk Adrian dengan erat, Nadira yang melihat itu juga memeluk Adrian bersamaan dengan Adnan.
__ADS_1
"semoga kalian berdua bahagia, papa sangat sayang dengan kalian! " ucap Adrian tersenyum, Nadira dan Adnan saling mengangguk dan tersenyum. Adrian berulang kali meminta maaf pada Adnan dan juga Nadira, mereka hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. tidak lupa dengan Naira, mereka bertiga memeluk Naira secara bersamaan. bahagianya dua keluarga yang sudah lama berpisah, kini kembali dipertemukan dan akan menjalani kehidupan bahagia.