Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Menyukaimu.


__ADS_3

Nadira mengantar Arzan yang akan pergi, karena Adnan yang memiliki urusan penting tidak bisa mengantar temannya itu. Arzan dan Nadira layaknya seorang pasangan, Arzan menggenggam tangan Nadira tanpa berniat melepaskan. menunjukkan kesemua orang bahwa mereka pasangan, Nadira sendiri tidak keberatan memang seperti biasanya ia akan digandeng seperti itu.


Arzan tersenyum melihat Nadira, gadis itu tersenyum melambaikan tangan. Arzan berpamitan saat sudah mengambil tiket pesawat nya, Arzan mencium dahi Nadira sekilas membuat senyum terukir dibibir Nadira. Arzan masuk dan melihat Nadira masih melambaikan tangan, sampai Arzan mengulang dibalik pintu Nadira pun pergi dari sana. bukannya datang bekerja, Nadira pergi kepartemen Arzan yang sudah dijinkan oleh Arzan untuk masuk kapanpun yang ia mau.


"huhu kamu harus cepat datang, padahal baru datang sudah pergi lagi!" ucap Nadira melihat foto Arzan, ia memeluk guling yang ada dikamar Arzan. sampai sebuah belum rumah berbunyi, Nadira berpikir siapa tamu yang datang ke apartemen Arzan. Nadira membuka pintu untuk melihat siapa yang memencet bel, kemudian melihat seorang pria berdiri disana dengan membawa sebuah kotak.


"Hai tetangga apa kabar, aku ingin memberikan sedikit hadiah. kamarku ada di sampingmu, dan ini hadiah perkenalan namaku Tomi! "


"eh tidak perlu repot repot, pemiliknya bukan aku tapi orang lain disini! " ucap Nadira, pria itu tetap menyodorkan kardus kecil itu kearah Nadira.


"hanya sebuah lampu meja, tolong Terima saja ya! " ucap pria itu lagi, Nadira pun mengangguk dengan itu. kemudian menutup pintu setelah orang itu pergi, Nadira membuka kardus kecil itu dan melihat sebuah lampu cantik disana. Nadira pun meletakkan lampu itu disamping TV yang hanya memiliki tempat cukup, Nadira mengelap lampu itu kemudian menyalakan sejenak dan terlihat cantik.


"cantik, kak Arzan pasti suka nanti jika datang! " belum tenang sebentar suara bel berbunyi lagi, Nadira menghela nafas dan membuka pintu dengan kasar. "mau kasih apalagi? "


"apa? " ucap Adnan yang berdiri, Nadira terkejut melihat itu. ia berpikir yang datang tetangga sebelumnya, tapi ternyata sang kakak yang datang. Nadira tersenyum dengan itu, kemudian menutup pintu setelah Adnan masuk.


"tadi ada tetangga baru disamping, memberi hadiah sangat memaksa. aku menerimanya karena memaksa, dan kupikir tadi Nanan adalah dia lagi! " saut Nadira, Adnan mengangguk dan mendudukan dirinya disofa.


"katakan saja jika dia menganggumu, aku akan memberinya peringatan! " ucap Adnan, Nadira menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "apa gigimu masih sakit, coba kulihat kemarilah! " ucap Adnan, Nadira pun menurut dan duduk disamping Adnan.


"sudah tidak sakit, tenang saja! " ucap Nadira, Adnan tersenyum dengan itu. "Nanan... apa kau tidak mau menikah, kau semakin tua! " ucap Nadira tiba tiba, Adnan menjitak kepala Nadira dengan pelan.


"apa tidak ada pembicaraan lain, kau menyebalkan! " ucap Adnan, Nadira kesal ia mengusap kepalanya.

__ADS_1


"aku kan bertanya, jangan memukul kepalaku. akak kubilang kan pada papa, baru tahu rasa! " ucap Nadira, Adnan hanya tersenyum dengan tingkah adiknya itu. "oh ya Nanan boleh tidak aku tinggal di apartemen kak Arzan sementara, menjaga apartemen ini tetap bersih sampai dia kembali! "


"tidak boleh, pulang kerumah saja lebih baik! "


"Nanan... hanya sampai minggu, senin kan kak Arzan sudah kembali! " ucap Nadira lagi, Adnan tetap menggelengkan kepalanya. "hmm.... " Adnan menghela nafas, ia melepas tangan Nadira yang merangkul tangannya.


"aku bilang tidak ya tidak, merayu pun tidak akan bisa! " ucap Adnan, Nadira marah dan berdecak kesal. Adnan yang melihat itu mengusap rambut Nadira, tentu membuat gadis itu semakin kesal. "kenapa hah.. sini sini, aku acak acak rambutmu! " Adnan semakin membuat Nadira kesal, sampai gadis itu siap bertengkar dengan kakaknya.


"Nanan! " teriak Nadira saat Adnan mengacak rambutnya, mereka pun jadi ribu diatas sofa. Nadira memukuli kepala Adnan dengan bantal, bahkan Adnan menggelitiki Nadira tanpa henti yang membuat tawa Nadira terdengar renyah.


...****************...


bukan Nadira jika tidak menang, pada akhirnya Adnan menyerah dan setuju Nadira tinggal di apartemen Arzan. pikirnya sangat menyenangkan berada dirumah Arzan, ia bisa mengobati rasa rindu pada Arzan. sebelum bekerja seperti biasa Nadira mandi dengan segar, ia merasa senang menggunakan handuk yang dipakai Arzan sebelumnya meskipun menurutnya itu tidak harus terjadi.


setelah berganti pakaian Nadira siap berangkat bekerja, ia membersihkan lantai sebelum mengunci pintu. Nadira terkejut ketika seseorang tiba tiba muncul, tetangga Arzan bernama Tomi tersenyum padanya untuk menyapa. kebetulan sekali menurut Nadira, bisa papasan dengan pria itu. Nadira membalas senyum itu kemudian pergi dari sana, ia sedikit takut dengan seseorang yang tidak ia kenal itu.


setelah beberapa menit perjalanan, Nadira sampai dibutik miliknya. ia menyapa semua orang, kemudian pergi keruangan yang biasa ia tempati. belum masuk kedalam ruangannya, banyak yang membicarakan suatu hal membuat Nadira penasaran. Nadira menghampiri Elia, dan beberapa staf lain juga meminta Nadira bergabung.


"masih pagi, ada gosip apa kalian! " ucap Nadira, ia duduk disamping Elia dan disuguhkan teh hangat oleh yang lain.


"ini loh bos ada kejahatan yang lagi viral, sampai banyak yang berkomentar gak ada akhlak mereka melakukan kejahatan itu! " ucap Elia, Nadira yang masih tidak mengerti menggelengkan kepalanya.


"gini jadi sekarang itu banyak banget kejahatan yang terjadi, ada orang yang jadi korbannya. katanya ada orang aneh ngasih sebuah boneka, lah ternyata mata boneka itu ada sebuah kamera. jadi kayak jadi ngawasin, kan kita gak pernah tahu lagi ngapain dirumah! " jelas staf yang lain, Nadira pun mengerti dengan itu.

__ADS_1


"sudah kan, sekarang kalau kalian sudah selesai cepat lanjutkan pekerjaan kalinya. kain tidak akan terbentuk kalau kalian tidak menjahit! " semua orang tertawa disana, dan langsung pergi atas perintah Nadira.


"bos bukumu sudah kembali? " ucap Elia, Nadira menggelengkan kepala. buku sketsa gambar Nadira dipinjam oleh teman bisnisnya, tapi anehnya buku itu belum juga kembali padanya. tidak diambil pusing oleh Nadira, ia ingat bagaimana isi buku itu dan tinggal menggambar lagi saja menurutnya.


menyibukkan diri seharian tidak membuat Nadira lupa dengan Arzan, ia semakin ingin bertemu Arzan dan berdoa agar hari cepat berganti untuk manusia itu kembali. Nadira jadi malas kemana pun ia pergi, ia hanya ingin pulang ke apartemen Arzan untuk melepas rindunya pada orang yang mungkin akan jadi kekasihnya.


"kapan hari senin, pertama kalinya aku mengharapkan hari senin! " ucap Nadira menghela nafas disofa empuk, ia menatap rumah Arzan yang sepi gelondangan.


"untuk apa menunggu hari senin, hari ini saja enak! " ucap seseorang membuat Nadira terkejut, Nadira mencari asal suara dan menemukan Arzan berdiri menyandar dipintu kamarnya. tentu membuat Nadira senang, dengan kecepatan penuh Nadira berlari memeluk Arzan.


"kak Arzan! " panggil Nadira, Arzan tersenyum memeluk Nadira dengan erat. "kenapa tidak bilang, aku bisa jemput! "


"bukan kejutan kalau bilang, kalau begini kan kamu terkejut! " saut Arzan, Nadira tersenyum dan mengangguk dengan itu.


"katanya pulang senin, kok sudah pulang sekarang! " tanya Nadira, Arzan mengusap rambut Nadira dengan lembut.


"aku sangat merindukanmu jadi ingin cepat pulang! " Nadira tersipu malu dengan itu, kemudian Arzan duduk di kursi dapur miliknya. Arzan menarik Nadira mendekat, Nadira dibuat duduk dipangkuan Arzan. "aku terkejut ada sampo, sabun, sikat gigi wanita disini, apa kamu tinggal disini saat tidak ada aku? " Nadira malu kemudian mengangguk, Arzan tersenyum dengan itu. "Terima kasih, rumahku jadi bersih! "


"aku menyukaimu! " ucap Nadira, Arzan terdiam mendengar itu. ia merasa seperti tidak percaya, Nadira semakin didekatkan pada dirinya.


"apa yang kamu katakan, aku tidak dengar! " ucap Arzan lembut, Nadira merasa malu dengan itu. ia membelakangi Arzan, dan tentu saja pria itu membuat Nadira menghadapnya lagi.


"aku tinggal disini aku merasa rindu padamu, setiap kali sendiri aku memikirkanmu. karena... karena aku... " Nadira menatap Arzan, pria itu masih dengan senyuman menunggunya berucap. "karena aku menyukaimu, dan aku takut untuk mengatakannya! " lirik Nadira, tentu membuat hati Arzan senang. pria itu memeluk Nadira dengan erat, bahkan mencium pipi gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


"ini yang kumau, aku menunggu ini sejak dulu. tidak sia sia aku pulang hari, aku bisa mendengarmu mengatakan hal itu." ucap Arzan, Nadira merasa senang ketika Arzan senang. Nadira melepas kacamata Arzan, kemudian dengan berani mengecup bibir tipis Arzan. tentu saja tidak di lepas oleh Arzan, pria itu memegang tengkuk Nadira dan mencium Nadira dengan lembut. keduanya saling tersenyum saat bersamaan, entah tidak peduli sudah berapa kali mereka berciuman tanpa sepengetahuan Adnan.


__ADS_2