
Adrian yang masih terjaga mendengar suara langkah kaki ditelinga nya, Adrian keluar dari kamarnya untuk melihat. ia melihat Adnan yang menyeret seseorang dibelakangnya, dan sudah melihat Nadira yang dibelakang Adnan. Nadira berjalan dengan luka dikakinya, kemudian Adnan menggendong Nadira tanpa bicara keluar. Adrian berjalan cepat menyusul keduanya, panggilan Adrian tidak dihiraukan oleh Adnan. masuk kedalam mobil dengan cepat, dan menjalankan mobil tanpa melihat sekitarnya. Nadira melihat Adrian yang berlari dari dalam rumah, begitu pun dengan Adnan yang merasa tidak peduli.
"Adnan berhenti, mau kemana kalian! " teriak Adrian yang melihat mobil Adnan menjauh, Adrian menghubungi satpam yang sedang berjaga. "jangan biarkan mobil Adnan keluar dari rumah ini!" Adnan menjalankan mobilnya, ia berhenti ketika gerbang tidak terbuka. biasanya gerbang itu akan terbuka jika ada mobil yang lewat, tapi kali ini gerbang itu tidak terbuka dan makin terkunci. sampai satpam mendatanginya, mengatakan perintah dari Adrian. sudah diduga oleh Adnan, satpam meminta maaf karena tidak bisa membuka gerbang itu. Nadira yang melihat itu merasa bingung, ia mencoba bicara dengan Adnan tapi pria itu sekarang sedang kesal.
"buka gerbangnya, atau aku hancurkan gerbang itu! " ucap Adnan dingin, tentu saja membuat satpam terkejut. Adnan sudah siap menjalankan mobilnya dengan cepat, ia terus menaikkan gas untuk siap menabrak gerbang itu. Nadira terkejut mendengar itu, ia percaya Adnan akan melakukan itu jika pria itu sudah berucap.
"apa yang kamu lakukan, kita bilang saja pada papa untuk pergi! " ucap Nadira memegang lengan Adnan, pria itu hanya diam dengan mata lurus kearah pagar yang siap ia tabrak. "pak kumohon buka gerbang itu, jangan pikirkan perintah papa! " ucap Nadira memohon, satpam pun akhirnya menyerah dan membuka gerbang dengan cepat. Adnan langsung menjalankan mobilnya keluar dari rumah besar itu, satpam menghubungi Adrian dan meminta maaf. tentu saja Adrian marah besar, ia langsung menutup telpon itu tanpa bicara apapun lagi.
Adnan sengaja melakukan itu, ia ingin membawa Nadira pergi dari rumah. ia masih tidak ingin bertemu keluarganya, ia hanya ingin berdua dengan Nadira. ia ingin mencoba memantabkan hatinya, menerima keadaan Nadira sebagai adiknya. mobil itu semakin jauh dari daerah rumah itu, kemudian berhenti dipinggir jalan yang sepi. Nadira menoleh kearah Adnan, pria itu menoleh dan tersenyum.
"ini masih larut malam, bisakah aku tidur dipundakmu dulu! " ucap Adnan lirih, Nadira mengangguk dengan itu. Adnan kemudian menggandeng lengan Nadira, ia menyenderkan kepalanya dan mulai memjamkan matanya.
"kenapa kita harus pergi malam malam begini, kau pasti mengantuk! " ucap Nadira mengusap tangan Adnan, pria itu membuka matanya tanpa bicara. "tadi aku melihat papa, dia tahu kita pergi! "
"aku tidak ingin melihat siapapun, aku hanya ingin melihat kamu. makanya aku mengajakmu malam ini, apa kau tidak suka?"
"bukan begitu, aku suka kau mengajakku pergi jalan jalan. tapi setidaknya pergi besok pagi, biarkan aku ganti baju dulu. lihatlah aku sedang memakai baju tidur, sangat dingin! " ucap Nadira kesal, Adnan tertawa pelan dengan itu. "apa papa akan marah dengan kita?" ucap Nadira lagi, Adnan tidak menjawab dan menutup matanya. dikira Nadira pria itu telah tidur, gadis itu pun menghela nafas dan menyenderkan kepalanya dikepala Adnan. "aku juga membenci kenyataan ini! " lirih Nadira kemudian menutup matanya, hal itu didengar oleh Adnan yang masih belum tidur sepenuhnya.
__ADS_1
...****************...
pagi harinya Adnan membuka matanya, ia rasakan matahari menyinari tubuhnya. Nadira masih tertidur pulas, ia menggeliat ketika Adnan mengusap wajah gadis itu. Nadira membuka matanya dan melihat Adnan tersenyum padanya, Nadira tersenyum melihat Adnan. mereka berdua saling merenggangkan ototnya di pagi hari, kemudian saling tersenyum keduanya.
"siap pergi jalan jalan? " ucap Adnan, Nadira menatap tubuhnya yang memakai baju tidur. Adnan tertawa dengan itu, dan mulaienjalankan mobilnya. "kita akan pergi ke pasar dulu, mari ganti pakaian kita dulu! " ucap Adnan kemudian pergi dengan cepat, Nadira tersenyum dan mengangguk.
mereka sampai di sebuah pasar besar, keduanya turun secara bersamaan. Adnan mengulurkan tangannya, ia menggandeng tangan Nadira yang berjalan dengan luka dikakinya. Nadira tersenyum melihat pasar yang cukup ramai itu, kemudian ia berhenti di sebuah toko pakaian besar. mereka mulai memilih pakaian yang cocok, Adnan malah menemukan pakaian yang cocok untuk Nadira. begitu pun sebaliknya, Nadira menemukan pakaian yang cocok untuk Adnan.
"sepertinya ini cocok untukku! " ucap Nadira membawa pakaian pria ditubuhnya, Adnan tertawa dengan itu kemudian mengambil satu set pakaian wanita.
"sepertinya ini juga cocok untukku! " ucap Adnan meniru gaya Nadira, mereka berdua tertawa dan kemudian membawa pakaian itu untuk dibayar. setelahnya mereka langsung mengganti pakaian di toilet umum, mereka sudah rapi dengan masing masing pakaian yang digunakan. Adnan membawa mobil itu pergi jauh dari kota itu, ia benar benar ingin menyendiri bersama Nadira. ia mengatakan pada Nadira untuk dibawa pergi jalan jalan, dan pantai adalah kesukaan Nadira sejak kecil dan Adnan tahu itu.
"bagaimana kamu tahu, kalau aku suka dengan hawa pantai? " ucap Nadira, Adnan hanya tersenyum kemudian menggenggam tangan Nadira. ia berniat membawa gadis itu mendekat kearah air, tapi Nadira menolak dan berhenti ditempat. "aku takut dengan air laut, jangan bawa aku dekat dengan air! " ucap Nadira, Adnan yang mendengar itu langsung tersenyum kemudian mengusap rambut Nadira. tentu saja hal itu tidak disukai gadis itu, ia memakai topi bundar yang sebelumnya ia beli. topi itu malah terbang ditiup angin, membuat Adnan dan Nadira tertawa bersama. mereka mengejar topi itu dengan sesekali bercanda, Adnan mendapatkan topi itu dan langsung mengangkat Nadira yang berlari pelan. Adnan membawa Nadira berputar dalam gendongannya, Nadira tertawa dan memakai topinya yang sudah ia pegang. mereka bermain pasir, dan membuat rumah pasir dengan besar.
"kau lelah? " ucap Adnan duduk disamping Nadira, dengan tersenyum Nadira mengangguk. mereka berdua duduk diatas pasir empuk, mereka melihat matahari yang akan tenggelam. langit sore berwarna oren sangat cantik, Adnan mengambil gambar Nadira dari samping. entah sudah berapa banyak foto yang ia ambil, ia sangat menyukai wajah Nadira yang cantik dan juga manis.
"aku senang hari ini, juga sangat lelah! " ucap Nadira tersenyum, Adnan sendiri menganggukkan kepalanya. Nadira menyenderkan kepalanya dipundak Adnan, pria itu merangkul tubuh Nadira dengan sayang.
__ADS_1
"aku sudah memesan tempat untuk kita menginap, setelah matahari terbenam mari kita pergi untuk istirahat! " ucap Adnan, Nadira mendonggakan kepala dan duduk dengan tegak.
"kita harus kembali, orang dirumah akan mencari kita! "
"aku tidak peduli, aku masih tidak ingin bertemu dengan mereka. apa kau tidak mau bersamaku?" ucap Adnan, Nadira kesal dengan itu.
"jika aku tidak mau, aku tidak akan disini! " ucap Nadira membuang muka, Adnan tersenyum dan mencubit pipi Nadira dengan gemas. gadis itu mengerucutkan bibirnya karena marah, hal itu membuat Adnan tertawa.
"sudah ayo kita harus pergi, udaranya semakin dingin! " ucap Adnan berdiri, Nadira mengangguk dan mendirikan tubuhnya. tiba tiba lukanya terasa nyeri, Adnan menopang tubuh Nadira yang akan jatuh. tubuh mereka sangat dekat, bahkan Nadira bisa merasakan detak jantung Adnan. pria itu menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Nadira, dengan lembut Nadira tersenyum. wajah mereka sangat dekat, Adnan menempelkan dahi dan hidung mereka dengan sangat dekat. jantung keduanya berdetak tidak normal, Nadira memegang tangan Adnan yang hangat memegang pipinya.
"aku akan menggendongmu di punggungku! " ucap Adnan kemudian berjongkok siap menggendong Nadira, dengan diam Nadira pun naik kepunggung Adnan untuk digendong pria itu. Adnan tersenyum dan membawa Nadira ke penginapan mereka, Nadira sendiri senang digendong Adnan dipunggung.
"aku lapar, aku ingin kamu memasak untukku nanti! " ucap Nadira tersenyum, Adnan pun tertawa dan mengiyakan permintaan adiknya itu. setelah itu Nadira dan Adnan banyak cerita menuju tempat mereka, meskipun penginapan itu kecil tapi didalamnya cukup nyaman. Adnan tidak bisa membawa gadis itu kemanapun sekarang, karena semua kartu yang ia miliki sudah diblokir oleh Adrian. hanya uang dalam dompetnya dan didalam mobilnya yang tersisa, untung saja dompet itu tidak pernah kosong. Adnan sengaja menyimpan uang didalam mobilnya, uang tunai dalam dompetnya lumayan banyak untuk ia habiskan berdua dengan Nadira.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...