Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Gangguan mentalnya.


__ADS_3

Kejadian setahun yang lalu Arzan yang sedang bekerja ditempat Adnan untuk biaya kuliahnya, harus meninggalkan Adnan demi ibunya yang dikabarkan sakit akibat kecelakaan. Arzan dan ibunya tidak pernah akur semenjak orangtuanya bercerai, ia tidak tahu kabar ayahnya yang pergi tanpa kabar setelah bercerai dengan sang ibu. dari kecil Arzan menjadi sasaran ibunya, karena wajahnya yang mirip dengan sang ayah. Arzan tidak bisa seperti yang lainnya, yang memikirkan bermain ataupun bebas pergi kemanapun.


Arzan merasakan bebas setelah mengenal Adnan, ia baru tahu apa arti dari kebebasan. Adnan membawa Arzan kedalam dunianya ketika diusia dua puluh satu tahun, Arzan dijadikan orang hebat oleh Adnan meskipun pria itu bercita cita menjadi dokter. Arzan yang memiliki kepribadian sedikit nakal, kini menjadi pendiam ketika bertemu sang ibu.


Arzan menunggu sang ibu yang sadar diatas tempat tidur, layaknya putri tidur ibunya tidur dengan nyenyak. meskipun Arzan kesal pada ibunya, tapi ia masih memiliki perasaan sayang pada ibunya itu. Arzan terlihat khawatir, bibirnya terus mengucapkan doa.


lewat dimana hari kekhawatiran itu, Arzan senang ia akan kembali ke kota Adnan dan Nadira berada. kini dua orang itu yang selalu menjadi sahabatnya, yang selalu mendukung dirinya apapun yang terjadi. sayangnya sang ibu berontak, ia menolak keras Arzan pergi darinya dan datang kepada Adnan.


"bunda sudah daftarkan kamu di Universitas kedokteran, ini semua datanya kamu tinggal isi saja! " ucap Zania, Arzan terdiam dan melemparkan semua kertas itu.


"kenapa, kenapa aku tidak bisa bebas seperti yang aku inginkan! " ucap Arzan kesal, sang ibu terlihat marah tapi mengeluarkan air matanya.


"keinginan bunda hanya kamu, hanya kamu tetap disini menemani bunda. apakah permintaan itu terlalu besar, apa permintaan itu berlebihan! " ucap Zania, Arzan yang mendengar itu merasa benar adanya. hal itu tidak besar sama sekali, tetapi ibunya melakukan itu dengan cara memaksakan dirinya yang tidak ingin.


"apa mereka keluargamu, sampai kau hanya mementingkan mereka. bunda yang melahirkanmu, apa tidak ada balasan untuk itu. mereka sudah merebut putraku, bahkan putraku tidak peduli pada bundanya! "


"jangan bawa bawa mereka dalam masalah kita, mereka tidak ada masalah dalam hal ini. seharusnya bunda berterima kasih pada Adnan, dia menyelamatkan Arzan dari keterpurukan dan siksaan Bunda! " jelas Arzan, tentu membuat sang ibu terkejut dan menangis mendengar itu.

__ADS_1


"kakekmu nenekmu pergi, ayahmu juga pergi, keluarga ibu juga pergi, lalu kamu juga pergi, bunda sendirian, bunda hanya ingin bersamamu! " ucap Zania menangis, Arzan pun tidak tega dan memeluk sang ibu. ia merasa teriris hatinya melihat sang ibu menangis tersedu seduh, akhirnya Arzan pun mengalah dan menuruti permintaan sang ibu.


Arzan belajar di Universitas pilihan sang ibu, tujuannya hanya belajar dan menyelesaikan semuanya dengan cepat. ia ingin bertemu dengan Adnan dan terutama Nadira, ia sudah tidak peduli dengan apapun. semakin lama hari berganti, semakin sang ibu terus meminta lebih pada Arzan. mengikat pria itu semakin dalam dirumahnya, semua pergerakan Arzan dibatasi oleh sang ibu. Arzan sedih saat tahu sang ibu telah di diagnosa menderita gangguan mental karena merasa taruma, sang ibu akan berteriak histeris jika malam hari dan Arzan akan memenangkan nya hingga ia tidak tidur semalaman.


kegilaan ibunya yang histeris membuatnya harus menahan luka, pukulan setiap pukulan ditahannya demi sang ibu kembali tenang. Zania membenci wajah Arzan yang mirip dengan mantan suaminya, tapi tidak dengan diri Arzan yang sangat ia sayangi sebagai putra tunggalnya.


setelah setahun ibunya dinyatakan normal karena hampir melupakan sang mantan suami, ia bahagia ketika Arzan menemani nya selama setahun. Arzan yang hanya melanjutkan belajarnya satu tahun itu, lulus dengan nilai sempurna dan dinyatakan sebagai dokter. ditambah ia senang Nadira memiliki perasaan yang sama, semakin Arzan tidak ingin kembali ke kotanya dan menetap di kota Nadira berada. sampai Arzan terpaksa kembali ke rumahnya untuk menerima ijazahnya, tapi lagi lagi sang ibu menggila dan melarangnya pergi. pada akhirnya Arzan tetap pergi meskipun harus kabur dari rumah, tujuannya bertemu Nadira yang menjadi gadis yang ia cintai.


setelah sekian lamanya ia hanya menerima telfon dan SMS dari ibunya, ia terkejut melihat sang ibu berada didepan pintu apartemennya. terlihat ibunya baik baik saja dan sehat, tapi yang sebenarnya Zania memiliki gangguan mental yang bisa ia sembunyikan kapanpun yang dia inginkan. hanya satu yang Arzan khawatirkan, Nadira dan Adnan yang dibenci oleh sang ibu. Arzan bisa tahu dari ibunya bicara, ia membenci dua orang itu yang menurutnya membawa pergi Arzan dari dirinya.


Arzan terdiam setelah bertemu ibunya, ia menyiapkan minuman dan makanan ringan didapur nya. tentu disuguhkan pada ibunya, setelahnya Arzan pergi kedalam kamarnya untuk mengambil handuk. ia masuk kedalam kamar mandi tanpa melihat sang ibu, ibunya menatap rumah Arzan yang terlihat nyaman kemudian melihat foto tiga orang diatas meja. foto itu adalah Adnan, Nadira dan juga Arzan sendiri, terlihat bahagia kayaknya saudara, entah kenapa senyum hilang diwajah ibunya itu.


Nadira datang tanpa mengatakan apapun, ia membawa teh hangat untuk di suguhkan ibu Arzan. karena untuk pertama kalinya ia bertemu secara langsung, sebelumnya mereka hanya pernah tahu dan tidak pernah bertatap muka sama sekali.


"aku membawakanmu teh hangat ibu Zania, aku ingat teh dirumah kak Arzan habis jadi aku buatkan! " ucap Nadira lembut, Zania pun tersenyum dan meminta gadis itu meletakkannya diatas meja. saat Zania akan duduk, lengannya menyenggol foto kecil itu diatas meja hingga terjatuh. Nadira terkejut dengan itu, ia langsung memungut pecahan itu dan melihat fotonya yang sedikit lecet akibat pecahan kaca.


"maaf ibu tidak sengaja! " ucap Zania, Nadira pun tersenyum dan memungut semua itu. secara bersamaan Arzan keluar dari kamar mandi, ia melihat Nadira dan pecahan kaca disana. Arzan langsung berjalan cepat kearah Nadira, dan menarik gadis itu hingga berdiri.

__ADS_1


"apa yang kau lakukan, tanganmu akan terluka! " ucap Arzan, pria itu mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca itu sendiri. Nadira yang diam hanya melihat Arzan dan ibunya bergantian, kemudian Arzan mengecek tubuh Nadira karena khawatir.


"aku baik baik saja, tidak ada yang lecet. aku mengantar teh hangat untuk ibu Zania, tapi foto ini tersenggol kemudian jatuh. jadi aku ingin membersihkannya, eh tiba tiba kamu datang! " jelas Nadira, Arzan pun menghela nafas dan melihat ibunya. disana Zania duduk manis dan tersenyum, Nadira membalas senyuman itu.


"kita akan bicara besok, sekarang istirahatlah! " ucap Arzan, Nadira pun mengangguk kemudian pergi dari sana. Arzan menutup pintu setelah melihat Nadira masuk, ia berjalan kearah ibu dan menatap ibunya yang meminum teh hangat buatan Nadira.


"kamu tidak senang melihat Bunda? " tanya Zania, Arzan menahan kesal sampai gemetar..


"apa bunda sengaja menjatuhkannya, agar foto itu rusak? "


"kenapa aku harus membuat masalah kecil seperti itu, aku senang melihat putraku disini. jadi aku akan tinggal disini untuk beberapa hari, sampai hari ulang tahunmu tiba! " ucap Zania tersenyum, Arzan melihat koper disamping pintu dan itu milik ibunya. Arzan berkutik dengan ponselnya, menghubungi seseorang yang ia kenal.


"aku butuh sebuah hotel, bisa kah malam ini kamar VVIP untuk ibuku! " ucap Arzan ditelfon kemudian mematikan ponselnya, sang ibu terlihat marah dan berdiri dari duduknya.


"kenapa kamu memesan hotel, bunda senang ada disini terlihat nyaman. tidakkah bisa bunda tinggal disini, sampai hari ulang tahunmu selesai! " saut Zania, Arzan merapikan pakaiannya dan siap untuk pergi.


"ayo Arzan antar ke hotel, bunda harus istirahat! " ucap Arzan membawa koper besar ibunya, dengan kesal Zania berjalan mendahului Arzan tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2