
Setelah perbincangan tersebut, Arta dan adik-adiknya pergi menuju Rumah Sakit Annorose, yang jaraknya lumayan jauh dari Distrik tempat mereka tinggal, sepanjang perjalanan Arta tak henti-hentinya bercerita panjang lebar tentang pengeluaran terbaru yang saat ini sedang ramai diperbincangkan.
Sedangkan Aryata hanya tersenyum melihat kedua kakaknya yang tampak sangat ceria hari ini, karena biasanya Arta itu tak cerewet. Mina yang menyadari hal itu menggelengkan kepalanya, ia tersenyum simpul mendengar celotehan Arta dan Arata.
Walaupun umur mereka berusia 5 tahun tetapi Arta, Arata, dan Aryata sangat lancar berbicara, tetapi bahasa indonesia mereka sangat buruk dan juga terlalu kaku. Itu juga karena pengaruh dari Mina dan Arvin yang terbiasa menggunakan bahasa jepang pada mereka sedari kecil. Dan lagi, Mina memang orang jepang, jadi pasti menuun pada anak-anaknya.
"Mami, kami mau makan Tempura, Yakiniku, Sushi, dan Kare, boleh, ya?" ucap Arata memohon pada Mina, membuka percakapan.
"Boleh, tapi jangan lupa minum vitaminnya," sahut Mina yang kini sedang menepuk-nepuk pelan punggung Kai yang sedari tadi menangis kecil, suhu badannya sepertinya bertambah.
"Dan satu lagi, jangan menganggu karyawan-karyawan disana ... Mami gak suka," tambah Mina menatap Arata tajam.
Arata menundukkan kepalanya, bukan karena ia takut akan perkataan maminya barusan, tapi mengingat kejadian tempo hari yang membuatnya tertawa-tebahak-bahak. Arata sangat jahil dengan karyawan yang bekerja di restoran Mina, bahkan jika ia juga tak segan-segan untuk menegur karyawan yang menurutnya kurang baik.
Setiap minggunya ada sekitar 4 karyawan yang keluar dari sana karena tidak betah, dan kebanyakan itu adalah anak-anak baru ... Yah namanya juga bocah, jadi yang senior udah pada paham, lagian kebanyakan traine itu memang kerjanya juga buruk.
Di Rumah Sakit ....
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Mina menggunakan bahasa jepang pnya yang fasih.
"Ini hanya demam biasa, Nona ... Pertumbuhannya sedikit lambat, tapi itu tidak masalah, kok. Biarkan ia beristirahat dan jangan lupa obatnya diminum," sahut Dokter Saichi mengelus pipi Kai."Oh iya, hampir lupa ...Jika Nona ingin terapi langsung saja temui dokter Yuki diruang Sakura 4T, beliau pindah ruangan hari ini," tambah Dokter Saichi.
"Baiklah, terima kasih, Dok," sahut Mina menjabat tangan Dokter itu, dan langsung pergi menuju ruangan tempat Dokter Yuki berada. Tak lupa membawa obat-obatan milik Kai dan kembali menggendong tubuh si mungil itu.
"Ckckck, sungguh wanita yang tangguh, diusianya yang masih sangat muda sudah mengurus 4 anak sekaligus ... Apa dia tak kerepotan, ya?" gumam Dokter Saichi menatap kagum Mina dari belakang.
__ADS_1
....
"Mami! Tolong aku!" seru Aryata.
Mendengar suara itu lantas membuat Mina menghentikan langkahnya, saat melirik kearah sumber suara Mina terkejut, melihat Aryata menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit itu. Mina hanya tersenyum menanggapinya.
Anak-anaknya dimanapun itu selalu menjadi pusat perhatian orang-orang, terutama perempuan. Arta dan Arata berlari kecil menghamiri Aryata, niat hati ingin membantu sang adik keluar dari situasi itu. Namun usaha mereka sia-sia sudah.
"Wah ... Teryata mereka kembar?!"
"Aduh, imut banget sih, kembar 3 pula,"
Yah ... untungnya mereka menjadi daya tarik pada mama muda, jika itu ibu-ibu---mungkin saja mereka sudah lari ketakutan sambil menangis.
"Nama kalian siapa, imut?" tanya seorang wanita berumur kira-kira 35 tahun itu, wajahnya tampak sangat indah, disebelahnya ada seorang anak perempuan berumur 7 tahun, berkulit putih bermata sedikit sipit.
Mina berharap ia bisa mendapatkan anak perempuan, tapi dia tak beruntung. Bersyukur dia memiliki anak laki-laki yang kelak bisa membelanya dan melindunginya di masa depan nanti.
Setidaknya itu jauh lebih cukup dari pada tidak sama sekali.
"Namanya Syahra, Syahra Cerelia," sahut wanita itu.
'Wah ... Cantiknya,' gumam Arta kini terkesima melihat kharisma yang dipancarkan oleh gadis kecil bernama Syahra itu.
"Kak Arta ... Kak Arta!?" seru Arata dan Aryata bersamaan.
__ADS_1
Aryata tersentak kaget, dan bertanya."Ada apa?" Arta kembali merubah raut wajahnya.
"Kakak melamun, kenapa?" tanya Arata menatap Arta dengan tatapan aneh.
Arta menggelengkan kepalanya, lantas ia berjalan menjauhi adik-adiknya dan meninggalkan maminya disana. Mina dan ibu dari Syahra terkekeh melihat ekspresi anak itu, dan kembali melanjutkan pembicaraan mereka.
Setelah perbincangan itu, akhirnya Mina berpamitan dengan wanita berumur 35 tahun di depannya itu. Karena Aryata harus segera malakukan terapinya, setibanya mereka di ruangan praktek Dokter Yuki, Arta tampak tengah berbincang dengan dokter itu, raut wajahnya tampak kecewa.
"Kak, kenapa ninggalin kami? Kalau kakak kenapa-napa gimana?" Aryata bertanya, menatap khawatir Arta.
Arta berdiri dari tempat duduknya, menghampiri dan langsung memeluk tubuh Aryata, tiba-tiba air matanya turun, seiring dengan suara tangisan kecil. Arta sangat jarang menangis, terlebih Arata, dia hyper aktif sekali, walau terjatuh sekalipun. Berbeda dengan Aryata.
"Maafin kakak, ya. Kakak lupa ... Oh iya, kamu harus semangat supaya cepat sembuh, oke?" Arta berusaha menghapus air matanya.
Aryata hanya menagngguk, ia sedikit bingung melihat kakaknya yang tiba-tiba saja menangis, padahal tidak ada mendung, tak ada hujan."Arta, kenapa kamu nangis, sayang?" Mina bertanya, menghampiri Arta, menenangkan anak itu.
Arta menggeleng, dan berkata."Nggak kok, Mi ... Aku mau ke toilet sebentar, ya ... Arata, ikut aku!" sahut Arta mengalihkan pembicaraan, dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Di ikuti oleh Arata dengan berlari, karena ia tertinggal jauh di belakang Arta.
Mina dan Aryata saling melemparkan tatapan penuh tanya pada Dokter Yuki, mereka penasaran--apa yang sebenarnya yang mereka bicarakan barusan, hingga Arta menjadi cengeng.
Dokter Yuki mengedikan bahunya acuh, ia tak berniat memberitahukannya sekarang, tapi nanti ... saat semuannya sudah pas." ... Aryata, ayo kita mulai terapinya," ajak Dokter Yuki, senyumannya selalu membuat Aryata bersemangat.
....
"Kak! Kakak!" seru Arata yang masih berlari mengejar Arta, ia memasukkan lengannya kedalam saku, cuaca di luar sangat dingin karena hujan, sebentar lagi mereka akan kedatangan musim salju, perubahan cuaca di Jepang beberapa puluh tahun terakhir begitu drastis.
__ADS_1
Arta menghentikan langkahnya, ia tiba-tiba berteriak dengan lancang, dan menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua beban dihatinya. Beberapa orang yang melintas memperhatikan Arta. Bagaimana bisa seorang anak yang sebentar lagi akan menginjak umur 6 tahun memiliki emosi seperti orang dewasa? Itulah pertanyaan yang muncul di kepala mereka.
Bersambung....