Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Meminta maafmu.


__ADS_3

setelah hari itu Nadira dirawat lagi oleh seorang perawat, dirinya terpaksa diinfus lebih lanjut karena tenaganya habis. pemeriksaan Nadira mengatakan gadis itu kehabisan cairan, bagaimana tidak seharian menangis dan berteriak kearah Arzan. dua hari setelah kejadian keadaan Arzan semakin membaik, pria itu bisa membuka matanya dengan sempurna. menatap gadis yang ia cintai selalu datang setiap jam dikamarnya, ia selalu tersenyum melihat Nadira yang duduk di sampingnya. kadang Nadira juga membawa makanannya keruangan Arzan, mereka akan makan bersama dengan Nadira membantu Arzan.


Daniel memutuskan untuk membuat kamar mereka menjadi satu, Nadira yang keras kepala selalu pergi kekamar Arzan tanpa peduli kondisinya. seperti sekarang Nadira sangat senang, bisa melihat Arzan yang berada satu ruangan dengannya. Nadira menatap Arzan yang tertidur, tubuh pria itu sudah tidak ada lagi alat bantu pernapasan. mungkin hanya beberapa perban yang masih ditubuhnya, sampai Arzan membuka mata dan menoleh kearah Nadira.


"Terima kasih... " ucap Nadira lirih, Arzan tersenyum dengan heran. "Terima kasih sudah membuka mata, aku sangat senang! "


"kamu yang membuatku membuka mata, aku mendengar suaramu yang keras dan menangis! " saut Arzan, Nadira tertawa kecil mendengar itu. rasanya kesedihan didalam dirinya sudah hilang, ia merasa lega ketika melihat Arzan tersenyum padanya. "oh ya... dimana Jonathan, apa dia baik baik saja? " Nadira menggelengkan kepalanya sebelum manjawaab, Arzan tampak bingung dengan itu.


"dia dibawah oleh ayahnya ke luar negeri, karena keadaannya serius dan butuh pengobatan! " jawab Nadira, Arzan yang mendengar itu merasa khawatir tapi juga merasa lega karena mendengar tidak seberapa serius.


"jantungku terus berdegup kencang, apa ini karena melihatmu ya? " ucap Arzan, tentu hal itu membuat Nadira tertawa kecil.


"sepertinya kamu jatuh cinta lagi padaku, karena itu jantungmu berdegup begitu kencang! " ucap Nadira asal bicara, tentu hal itu membuat Arzan tertawa kecil dan ia menahan tawa itu saat dadanya terasa sakit. Nadira yang melihat Arzan mengeryit sakit, langsung memencet tombol yang tersedia. beberapa menit kemudian Daniel datang keruangan itu, bersamaan dengan seorang perawat. Nadira memeperhatikan Daniel yang memeriksa Arzan, dirinya dibantu meminum obat dan juga vitamin oleh seorang perawat.


"apa terasa sakit? " tanya Daniel, dengan pelan Arzan mengangguk sebagai tanda iya. Daniel memeriksa hal itu, kemudian tersenyum saat melihat Nadira.


"om dokter apa dia baik baik saja? " tanya Nadira khawatir, Daniel kearah Nadira dan menyentuh nadi gadis itu dengan senyuman.

__ADS_1


"jangan khawatir, dia akan pulih secepatnya! "


"tapi kak Arzan bilang, jantungnya terus berdetak kencang. kenapa? " tanya Nadira lagi, Daniel melihat Arzan kemudian melihat kearah Nadira.


"mungkin itu efek dari jantung Arzan yang mengalami masa pemulihan, kalian tenang saja ya nanti jantungnya akan terbiasa dengan tubuh Arzan! " jelas Daniel, Nadira seakan puas dengan jawaban Daniel ia tersenyum.


"sungguh orang yang mulia, mendonorkan jantungnya tanpa peduli akan dirinya sendiri! " saut Nadira, disana terlukis wajah sedih dari Daniel. pasalnya tidak ada siapapun yang bercerita tentang keadaan Jonathan, dan sebenarnya Jonathan lah yang mendonorkan jantungnya pada Arzan.


malam pun berganti menjadi pagi hari, Nadira membantu Arzan untuk sarapan paginya. sesekali mereka mengobrol kecil, bersenda gurau meskipun tidak terlalu serius. Arzan tersenyum melihat Nadira, ia mencium tangan Nadira dengan penuh cinta. Nadira tersenyum dengan itu, kini semua orang sudah tahu tentang hubungannya dengan Arzan dan tidak perlu disembunyikan.


secara bersamaan seseorang membuka pintu, terlihat Zania datang dengan Nadira di belakang wanita itu. Arzan yang melihat itu langsung membuang pandangannya, membaringkan tubuhnya yang dibantu oleh Nadira. Zania terkejut melihat respon anaknya, tapi ia tetap tersenyum kearah Arzan dan meletakkan buah disana.


"aku harus istirahat kepalaku pusing, Terima kasih sudah datang! " ucap Arzan, Zania sudah tahu hal itu akan terjadi padanya. Zania menoleh kearah Nadira, tanpa diduga gadis itu Zania tersenyum tulus padanya.


"bagaimana kabar mu, apa kau sudah sehat? " tanya Zania memegang tangan Nadira, dengan tersenyum Nadira mengangguk.


"sudah lebih baik ibu Zania, jangan khawatir! " ucap Nadira lembut, Zania tersenyum dan mengusap pucuk rambut Nadira.

__ADS_1


"aku datang kemari karena sekalian menjengukmu, dan juga ingin berpamitan pada kalian!. Arzan bunda akan kembali kerumah, disana bunda sudah ada pekerjaan yang harus diselesaikan. entah kenapa bunda berpikir semalaman, keluarga ini sangat menyayangimu seakan aku percaya jika keluarga ini dapat menjagamu termasuk Nadira! " Zania menyentuh tangan Nadira, ia mengusapnya dengan lembut. "maafkan aku jika pernah berbuat salah pada gadis sebaik dirimu, aku janji tidak akan menganggu kalian lagi! " ucap Zania menangis, Nadira menggelengkan kepalanya kemudian memeluk Zania.


"tidak perlu meminta maaf ibu Zania, aku sudah baik baik saja! " ucap Nadira tersenyum, keduanya saling tersenyum dan menoleh kearah Naira yang ada disana.


"dia sangat mirip denganmu, memiliki hati yang luas! " ucap Zania tersenyum, Naira sendiri bangga dengan kebaikan hati Nadira. Zania menoleh kearah Arzan yang menutup mata, sebenarnya laki-laki itu mendengar semua percakapan disana tapi memilih untuk tetap diam dan berpura pura tidur. Sampai Zania dan Naira keluar, Arzan membuka mata dan melihat Nadira sudah terbaring tidur di tempatnya. air mata jatuh dipipi Arzan, ia sebenarnya sangat sayang tapi juga marah pada sang ibunda.


...****************...


Arzan bertambah baik semakin hari, ia bahkan sudah dilatih berjalan oleh Adnan. kakinya yang patah lambat laun sudah sembuh, Nadira juga sudah sangat sehat hanya tinggal pemulihan tulangnya yang masih bergeser akibat patah. Arzan duduk di sebuah kursi roda, ia menggunakan kursi roda untuk berkeliling rumah sakit. ia sangat bosan saat berada didalam kamarnya, dan memilih untuk berkeliling rumah sakit.


"aku dengar pernah ada kehebohan dirumah sakit ini, keluarga pemilik rumah sakit mengalami kecelakaan! " ucap seseorang didengar Arzan, pria itu akan pergi tapi tetap memilih untuk diam karena menunggu sang kekasih datang.


"iya kecelakaan langsung tiga orang, kasihan banget deh liatnya. aku merinding lihat darah mereka dimana mana, apalagi ada yang sampai mukanya itu banyak darah kayaknya hancur deh! "


"hancur gimana sih maksudmu? " Arzan terus mendengar semua itu, ia bertanya tanya siapa yang dimaksud dua gadis itu.


"aku dengar wajahnya hancur akibat aspal, ya kamu tahulah ditabrak mobil dan berguling dijalan raya. pasti wajahnya rusak, aku lihat sendiri darahnya sampai parah! " bukan hanya wanita yang lain terkejut, Arzan terkejut dalam diam nya. ia meraba wajahnya sendiri tapi tidak ada luka sama sekali, bahkan ia tidak ingat bagaimana dirinya terluka dan akhirnya jatuh koma.

__ADS_1


kedua wanita itu pergi dari sana, secara bersamaan Arzan melihat Nadira yang berjalan dengan memegang infus. Arzan melambaikan tangan saat Nadira melambai, Nadira berjalan kearah Arzan yang sedang menunggunya beberapa menit yang lalu.


"sudah puas berkeliling? " tanya Nadira dengan senyuman, Arzan mengangguk dengan itu. lagi lagi jantungnya berdetak tidak jelas, dan itu terjadi setiap kali ia melihat Nadira tersenyum. Nadira mendoring kursi Arzan, dengan perhatian Arzan menggantung cairan infus milik Nadira dekat cairan infus miliknya. mereka berjalan menuju lift rumah sakit, karena keduanya akan kembali kekamar untuk beristirahat. Arzan masih kepikiran dengan ucapan para wanita sebelumnya, ia juga tidak mendapat kabar Jonathan setelah sadar dari masa kritisnya.


__ADS_2