Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Menyatakan perasaan.


__ADS_3

Keinginan Nadira adalah menjadi seorang desainer terkenal, ia sangat suka menggambar dan juga membuat kain menjadi sebuah pakaian atau gaun cantik. tidak ada yang melarangnya, orang tua dan juga kakaknya sangat mendukung keinginannya itu. Nadira tidak bisa bekerja seperti Adnan, yang harus melakukan sebuah bisnis besar kayaknya seorang ceo. bahkan Adnan membuatkan khusus di perusahaan nya, sebuah bidang desainer agar Nadira dapat mengurusnya.


hari ini Nadira masih memikirkan Arzan, gadis itu menggambar tapi pikirannya terbayang Arzan yang tiba tiba menciumnya. pikirannya buyar, iq mengusap wajahnya sendiri dan menggigit jarinya. benar kata Arzan, ia akan memikirkan Arzan. bukan hanya semalaman, tapi berlanjut sampai esok hari.


"ada apa denganmu nona? " tanya rekan Nadira, bebrapa rekan kerjanya itu heran melihat Nadira diam. bahkan melihat Nadira menjatuhkan kepalanya diatas meja, gadis itu menggelengkan kepalanya.


"aku sedang tidak ingin bekerja, otakku ini rasanya sangat tumpul! " ucap Nadira, rekan kerjanya itu tertawa melihat bos mereka yang lucu.


"Nona, apa buku yang dipinjam temanmu itu belum dikembalikan? " tanya rekan kerjanya, Nadira menegakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya.


"oh iya belum, aku akan menghubunginya nanti. dan ya aku akan pergi keruangan kakakku, kalian lanjutkan saja aku akan lanjutkan nanti! " ucap Nadira, gadis itu pergi dengan cepat menuju ruangan tempat Adnan berada.


secara tidak sengaja Nadira sang ayah yang berada di ruangan Adnan, Nadira dengan senang menyapa dan memeluk Adrian yang mernetangkan kedua tangan. siapa sangka disana juga ada Arzan, pria itu tersenyum kearah Nadira yang baru datang.


"ada apa kau kemari, apa ada masalah? " ucap Adnan, Nadira menggelengkan kepalanya.


"kalian sudah baikan?" tanya Nadira, Arzan dan Adnan saling melihat kemudian menatap Nadira secara bersamaan.


"kapan kami betengkar, ha ya perasaanmu saja! " saut Arzan, Nadira mencibir mereka kemudian membuang mukanya menghadap Adrian.

__ADS_1


"mereka selalu menggodaku papa, aku sangat tidak suka! " rengek Nadira, Adrian tersenyum dan memeluk gadis cantiknya itu.


"laporkan mereka pada mama, biar mamamu yang menghabisi mereka! " Nadira tertawa dengan itu, membuat semua orang yang ada disana ikut tertawa. Nadira melihat kearah Arzan, mereka saling melempar pandangan kemudian tersenyum satu sama lain.


...****************...


entah bagaimana terjadi, Nadira berakhir duduk berdua dengan Arzan. Nadira meminta diajak ke sebuah butik, malah Arzan yang harus mengantarnya. Adnan dan Adrian memiliki urusan yang begitu mendesak, pada akhirnya Arzan menawarkan diri untuk mengantar kemana pun gadis itu pergi. tentu saja terjadi sebuah kecanggungan, didalam mobil mereka saling diam dan hanya melirik sekilas. Nadira sendiri memilih untuk menggambar, ia ingin menghilangkan pikiran tentang Arzan di otaknya.


"jadi kamu memikirkan aku? " tanya Arzan yang tidak tahu malu pikir Nadira, dengan kuat gadis itu menggelengkan kepalanya. "jadi hari ini mau kemana? "


"aku tidak tahu, bingung! " saut Nadira, Arzan menghentikan mobilnya dan melihat kearah Nadira.


beberapa menit mereka sampai di sebuah supermarket, didalamnya lengkap dengan semua yang dibutuhkan. mulai dari sayur, buah, makanan ringan, minuman ringan dan masih banyak lagi kebutuhan yang dijual. Nadira mengambil apa yang harusnya dibutuhkan, beda dengan Arzan yang mengambil apa yang disukai oleh Nadira. merasa mereka sudah membeli banyak, Arzan segera pulang ke apartemen nya untuk istirahat sejenak dan menata semua apa yang ia beli.


"aku akan memasukkannya kedalam kulkas! " ucap Nadira saat sampai di apartemen Arzan, pria itu mengangguk dan meletakkan beberapa kanting kresek diatas meja makan.


"iya, aku ingin memperbaiki pintu dulu! " saut Arzan, Nadira hanya mengangguk sekilas kemudian mereka mengerjakan sesuai keinginan mereka. Nadira selesai menata sayur, buah dan beberapa makanan kedalam kulkas Arzan. kemudian ia melihat makanan kesukaannya, ia tersenyum karena pasti Arzan membelikannya untuk dirinya. Nadira berjalan kearah Arzan yang berkutik dengan pintu, Nadira mendekat dan kebetulan Arzan membutuhkannya.


"apa pintunya rusak, dan kenapa? " tanya Nadira, Arzan tersenyum dan menarik tangan Nadira.

__ADS_1


"kemarilah, aku ingin pintu ini juga memiliki sidik jarimu! " ucap Arzan, Nadira terkejut dengan itu dan Arzan menggunakan jempolnya untuk membuat sidik jarinya bisa terdeteksi. "selesai, jadi kalau kamu ingin kemari tinggal masuk saja tidak perlu sungkan! " ucap Arzan tersenyum, Nadira mengangguk pelan dengan menggigit jempol tangannya.


"aku tidak akan kemari jika kau tidak mengajak, jadi untuk apa pakai jempolku! " gumam Nadira, Arzan tersenyum dan membawa Nadira masuk lagi kedalam. Nadira pun mengambil semangka yang terbelah dua, ia mengambil separuhnya dan memakannya untuk menghilangkan kecanggungan. Nadira duduk diruang tamu dengan menonton TV, Arzan sendiri mengambil camilan kemudian ikut duduk disamping Nadira.


"aku sudah bilang Adnan kau disini, dia bilang akan menjemputmu nanti malam. karena ia masih ada urusan sampai sore, jadi memintaku untuk menemanimu! " ucap Arzan, Nadira mengangguk dengan masih fokus melihat acara TV. Arzan menoleh dan menatap Nadira, kemudian Nadira menoleh perlahan dan tersenyum.


"iya aku dengar, lihatlah kesana acara TV sangat bagus! " ucap Nadira, Arzan mengangguk dan tersenyum. keduanya sedang fokus menonton tiba tiba saja gigi Nadira terasa ngilu, ia meletakkan semangka yang ia pegang keatas meja. hal itu membuat Arzan langsung menoleh, melihat Nadira yang memegang pipinya yang kemungkinan merasakan gigi sakit.


"apa merasa nyeri lagi, coba kulihat! " ucap Arzan, Nadira meringis sakit karena giginya berdenyut nyeri. Arzan melihat gusi gigi Nadira terlihat merah dan bengkak, hal itu lah yang membuat gadis itu merasa nyeri pada giginya. "apa semakin sakit? " tanya Arzan, Nadira menganggukan kepalanya dan matanya hampir saja akan menangis.


"aku tidak bisa makan beberapa hari terakhir, sangat menyebalkan! " ucap Nadira sedih, Arzan pun menarik gadis itu kedalam pelukannya dan mengelus punggung gadis itu. tentu membuat Nadira terkejut, Nadira tidak membalas pelukan Arzan.


"aku ingin bertanya hal lain padamu, apakah boleh? " tanya Arzan melepas pelukannya, Nadira mengangguk pelan. "apa jika aku memintamu untuk bersama denganku, apa kau bersedia? " tanya Arzan tiba tiba terus terang, Nadira membalakkan matanya mendegar itu. gadis itu mendirikan tubuhnya, kemudian berdiri membelakangi Arzan.


"ke... kenapa kau bertanya itu kak, kita kan sudah... sudah bersama biasanya! " ucap Nadira terbatas, Arzan menarikam Nadira agar menghadapnya.


"beda Nadira, aku ingin kita bersama bukan sebagai adik dan kakak. cukup kau dan Adnan saja yang menjadi adik kakak, tapi tidak dengan kita! " jelas Arzan, Nadira terdiam dengan itu dan menatap Arzan. "aku menyukaimu, sejak lama aku menyukaimu! " pernyataan Arzan membuat Nadira terkejut, itulah yang ia takutkan ada seseorang yang menyatakan perasaan padanya.


"aku... aku... harus pergi. ya aku harus pergi, aku lupa harus pergi ke butik! " ucap Nadira terbatas, ia mengambil tasnya dan memasukkan semua barangnya kesana. Arzan mencoba menahan Nadira, tapi gadis itu sudah terlalu gugup sampai tidak tahan. Arzan mengambil kunci mobilnya, ia tidak bisa membiarkan Nadira pergi sendiri karena Adnan dann Adrian menitipkan gadis itu padanya.

__ADS_1


"akan kuantar! " ucap Arzan ketika berjalan mendekat kearah Nadira, pria itu menarik tangan Nadira yang sempat akan menolak. Nadira merasa kesal karena tidak bisa melawan, ia pun berakhir didalam mobil Arzan duduk dengan manis. Suara Arzan yang menyatakan perasaan, terngiang ngiang ditelinga nya. terus terdengar, dicampur kejadian sebelumnya yang belum ia lupakan. Nadira merasakan dilema, jantungnya terus berdetak tidak normal.


__ADS_2