
Adnan menghubungi Nadira tentang kejadian Maira, ia mengatakan akan menemani Maira sampai waktu Maira akan kembali. Adnan sendiri berpikir tidak mungkin meninggalkan gadis malang itu, jika terjadi sesuatu dirinya siap membantu kapanpun yang dibutuhkan. Adnan melihat Maira dari samping pintu, gadis itu menangis dengan menciumi tangan sang adik. memohon dan meminta untuk sang adik agar segera membuka mata, dan diangkat dari penyakit yang menyakiti adiknya itu.
Adnan merasa iba melihat remaja terbaring diatas kasur itu, dengan wajah pucat dirinya tertidur terpasang kabel diseluruh tubuhnya. Maira merasa kehadiran seseorang, ia melihat kearah Adnan yang berdiri kemudian sedikit menghapus air matanya. Maira sendiri bingung harus mengatakan apa, ia sudah merepotkan Adnan yang mengantarnya.
"maafkan aku, aku merepotkanmu tuan! " ucap Maira lirih, Adnan menggelengkan kepalanya.
"tidak merepotkan sama sekali, aku senang bisa membantu seseorang! " ucap Adnan, Maira tersenyum dengan itu. secara bersamaan Dani datang dengan senyuman, Maira dan Adnan menatap pria itu yang tersenyum kearah mereka.
"kalian bisa pulang dulu, besok baru menjenguk pasien lagi!" ucap Dani, Maria menatap adiknya dengan masih perasaan sedih dan khawatir.
"dia akan baik baik saja, percayalah! " ucap Adnan merangkul pundak Maira, gadis itu terkejut dan menoleh kearah Adnan. jarak mereka sangat dekat, sampai keduanya saling menatap kemudian Adnan sadar apa yang ia lakukan. keduanya merasa canggung, Adnan berdehem berulang kali. Dani yang melihat itu sedikit berdehem, kemudian melakukan sebuah bahas isyarat pada Adnan.
"siapa... " ucap Dani tanpa suara, Adnan menggelengkan kepalanya.
"Maira kenalkan dia ini dokter Dani, sekaligus dia adalah saudara sepupuku. dan Dani dia ini Maira, dia sahabat Nadira dan kebetulan aku mengenalnya!" ucap Adnan memperkenalkan keduanya, Maira mengangguk dan tersenyum kearah Dani.
"Dani! "
"Maira! "
"kamu pulang dan istirahatlah, kamu terlihat lelah karena perjalanan jauh. adikmu akan dijaga oleh kami, jika ada keadaan darurat kami pasti akan menghubungi mu! " ucap Dani tersenyum, Maira pun mengangguk dengan itu. dirinya sangat beruntung, pertama bertemu Nadira. sekarang bertemu seorang dokter yang kebrulan adalah saudara Nadira, ia merasa beruntung bertemu satu keluarga yang sangat baik itu.
"aku akan mengantarmu, agar kau cepat sampai tidak menunggu taksi!" ucap Adnan, tanpa bicara lagi Maira mengangguk dan mulai berjalan. Adnan mengikuti langkah Maira dari belakang, sampai menuju mobilnya dan ia melajukan mobilnya pergi dari rumah sakit itu.
__ADS_1
mobil itu sampai di sebuah pemukiman, sedikit jauh dari jalan raya ataupun sebuah kota. Adnan terheran heran, karena tidak pernah Adnan datang ke sebuah kampung permukiman warga. Maira menatap Adnan yang menjalankan mobilnya pelan, ia melihat Adanya sangat hati hati agar mobilnya tidak menyenggol apapun disana. memang daerah rumah Maira adalah sebuah desa kecil yang berada di kota itu, disana pun Maira hanya mengontrak sebuah rumah. Tujuannya pergi ke kota mencari uang, untuk biaya obat sang adik.
"maaf tuan, daerah rumah saya memang seperti ini! " ucap Maira yang tidak enak hati, Adnan menoleh kemudian tersenyum sekilas dan kembali fokus menyetir. sampai pada akhir nya sampai dirumah susun yang lumayan tinggi, Adnan turun dari mobil dan menatap beberapa rumah disana.
"jadi rumah kontrakanmu ada di lantai berapa, aku akan membawakan kopermu! " ucap Adnan membawa koper Maira, dengan menahan malu Maira berjalan lebih dulu dari Adnan. lantai dua cukup lelah bagi Adnan yang membawa koper, pria itu sampai berkeringat dengan jas yang masih lengkap ia pakai.
"tuan Adnan jika kau mau, masuklah akan kubuatkan minuman untukmu! " ucap Maira memberikan tawaran, tentu Adnan setuju untuk itu karena dirinya juga butuh kekamar mandi.
tidak besar dan juga tidak kecil, cukup luas bagi Maira yang hanya tinggal berdua dengan sang adik. semua tersusun rapi dan juga bersih, Adnan langsung mengarah kearah kamar mandi yang sudah ditunjuk oleh Maira. gadis itu membuat teh hangat untuk Adnan dan beberapa camilan yang tersedia, Adnan sendiri keluar setelah urusannya selesai. ia menatap rumah itu kembali, Adnan melihat lihat isi rumah itu. kemudian melihat foto Maira bersama Nadira disebuah meja, foto saat keduanya masih sekolah terlihat lucu dan juga cantik.
"maaf rumahku sempit, ini adalah satu satunya tempat tinggal ku! " ucap Maira menyodorkan secangkir teh, Adnan menganggukkan kepalanya. ini pertama kalinya bagi Maira, seorang pria bertamu dirumah kecilnya. apalagi Adnan adalah majikannya dulu, bukan hanya dulu Maira masih menganggap itu sampai sekarang. Adnan sendiri menikmati teh itu dengan elegan, ia meminum teh buatan Maira yang cocok dilidahnya. hening membentang diantara keduanya, bingung harus memulai obrolan darimana. sampai beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu, Maira bergegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
terlihat seorang wanita tua memakai kacamata, Maira tersenyum melihat wanita itu. mempersilahkan masuk dengan sopan, wanita itu masuk dan langsung melihat kearah Adnan. pria itu berdiri dari duduknya dan sedikit menyapa sopan, Adnan kemudian kembali duduk setelah menyapa.
"hanya seorang teman bu, dan mampir untuk istirahat sebentar! " ucap Adnan sopan, wanita itu tersenyum kemudian mengangguk.
"aku sudah menduga, Maira itu orang yang tidak pernah mau punya pasangan. ada saja alasannya, yang begitu lah yang begini lah! " ceritanya panjang lebar, Adnan tersenyum mendengar cerita itu. secara bersamaan Maira berjalan dari arah kamarnya, ia heran melihat Adnan yang tersenyum lebar.
"bibi ini uang sewa kotrakannya, maaf ya kalau telat bayarnya! " ucap Maira tersenyum, wanita itu mengangguk dan menerima uang dari Maira.
"tidak masalah, oh iya bagaimana keadaan adikmu. apa dia sudah sehat, katanya pagi tadi masuk rumah sakit? " Maira mengangguk dengan hal itu, mereka mengobrol hingga ibu kontrakan itu pamit dan tersenyum pada Adnan.
"apa yang kalian bicarakan, tuan sampai tersenyum begitu lebar! " ucap Maira yang penasaran, Adnan yang mendengar itu langsung berdehem dan menghilangkan senyum dibibirnya. Maira tertawa kecil dengan itu, Adnan menggelengkan kepalanya melihat Maira tertawa menutup wajahnya.
__ADS_1
...****************...
tiga hari pun tidak terasa ditempat berbeda Nadira duduk di kursi kerjanya, ia menggeletakkan semua pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan. ia menatap foto dirinya dan Adnan, begitupun ada Arzan disana. ia mengingat pertama kali bertemu Arzan, pria konyol yang suka menggodanya. lambat laun sifat itu hilang, Arzan menjadi pendiam dan diam diam ia menyukai dirinya. Nadira masih berpikir siapa yang menelponnya, apakah itu dari ibu Zania atau suruhan orang itu. tapi Nadira tidak mau berburuk sangka, ia tidak mau menuduh tanpa bukti.
sudah berhari hari dirinya tidak bertemu Arzan, rindu pasti ada dalam hati Nadira. panggilan dan pesan Arzan tidak pernah dibalas, entah seperti apa perasaan pria itu. Nadira memilih untuk pulang ke rumahnya, ia semakin malas akan bekerja setiap harinya. saat berjalan meninggalkan gedung perusahaannya, tiba tiba ia terkejut melihat Arzan yang berjalan kearahnya. Nadira terdiam melihat itu, sampai Arzan berada dihadapannya.
"dimana ponselmu! " ucap Arzan pertama kali, Nadira terdiam tapi memberikan ponsel yang ada ditasnya. Arzan melihat ponsel itu dengan baterai yang penuh, beberapa panggilan dari nya tidak terjawab dan pesan yang tak terbalas. "kau lupa cara mengangkat telpon dan juga membalas pesan, apa perlu ku ajari? " tanya Arzan lagi, Nadira masih terdiam tanpa niat menjawab. Arzan yang sudah kelewat kesal membawa Nadira pergi dari sana. tidak peduli pandangan seseorang, Arzan menggengam tangan Nadira hingga kearah mobilnya.
"aku mau pulang papaku sedang sakit! " ucap Nadira melepas tangan Arzan, dengan cepat Arzan menarik tangan Nadira dan membuat gadis itu menghadapnya tanpa bisa bergerak.
"kemana selama tiga hari ini, apa kau tidak bisa menjawab pesan dan panggilanku? "
"aku sibuk! " singkat Nadira, Arzan gemas dengan itu sampai menghela nafas berat. Arzan memeluk Nadira untuk menahan kesal, Nadira sendiri tidak membalas pelukan itu hanya terdiam.
"aku merindukanmu Nadira... aku hampir gila tidak mendengar suaramu, juga tidak melihat wajahmu... apa aku memiliki kesalahan, katakan agar aku bisa minta maaf padamu... kumohon jangan diam padaku, katakan padaku! " ucap Arzan yang membuat hati Nadira tersentuh, ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya. rasa takutnya tidak beralasan, ia juga tidak mengerti. tiba tiba saja air mata keluar dari matanya, ia memeluk Arzan dengan air mata mulai bercucuran.
"aku memang sibuk... maaf... hiks... hiks... " ucap Nadira, Arzan melepas pelukan itu dan menghapus air mata gadis yang dicintainya itu.
"jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis! " ucap Arzan lembut, Nadira malah menangis lebih keras dalam pelukan Arzan. pria itu tidak tahu apa yang terjadi pada Nadira, gadis itu tidak mengatakan apapun selain menangis dan mengatakan maaf. Arzan pun membawa Nadira masuk kedalam mobilnya, ia membawa Nadira ke apartemen nya agar lebih nyaman untuk bicara. disana Nadira tidak mengatakan apapun, ia hanya mendengar Arzan yang bercerita padanya. Arzan sendiri tidak mengatakan apapun, ia hanya memeluk Nadira dari belakang dengan pikiran ap yang terjadi pada gadis itu.
...****************...
__ADS_1