Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sebuah Kecelakaan 2.


__ADS_3

tubuh Nadira terpental jauh ketika sebuah mobil menabrak tubuhnya, bukan hanya Nadira yang mengalami kecelakaan itu. tubuhnya dipeluk erat oleh Jonathan dan juga Arzan secara bersamaan, Arzan berlari kearah Nadira sekuat tenaga sampai melihat Jonathan memeluk gadis itu dan pria itu juga mengambil alih memeluk keduanya. Adnan yang melihat ketiganya terkejut setengah mati, menyaksikan tiga orang yang secara bersamaan ditabrak mobil.


tubuh Arzan terlepas saat memeluk dua orang itu, pria itu berguling jauh dari jarak mobil yang menabraknya. begitu juga Nadira yang tergeletak tidak jauh dari Jonathan, karena sebelumnya Jonathan begitu erat memeluk Nadira. darah mulai terlihat membasahi aspal disana, secara bersamaan hujan deras datang dan membuat darah yang mengental itu mengalir dengan sendirinya.


Adnan berlari kearah Nadira, pria itu menyelamatkan sang adik yang tergeletak sudah tidak sadarkan diri. Jonathan masih setengah sadar, pria itu merangkak kearah Arzan yang tidak sadarkan diri dengan banyak luka. tubuh Arzan tengkurap ditengah jalan, seseorang membantu Arzan untuk bangkit tapi sungguh diluar dugaan sebuah batu besar dibalik dada Arzan. jatuhnya Arzan menghantam sebuah batu, membuat pria itu jatuh diatas batu.


setelah beberapa menit sebuah rombongan ambulan datang, mereka dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Adnan menemani Nadira yang tidak sadarkan diri, matanya merah menahan tangis melihat kepala adiknya berlumuran darah.


"Nana.. kamu harus baik baik saja.. "


Adnan tidak berhenti menyebut nama gadis itu, ia berdoa untuk keselamatan Nadira dan juga dua orang yang berbeda mobil ambulan dengannya. setelah sampai dirumah sakit, Adnan mengabari keluarganya tentang kecelakaan itu. tentu membuat kepanikan yang tidak biasa, karena tiga orang sekaligus hampir tidak bisa dipercaya.


ruang operasi darurat membuat Adnan cemas, bajunya yang bersih tidak lagi bersih karena noda darah saat memeluk Nadira. Adnan menangis saat duduk, ia mengusap wajahnya dengan kasar. menyaksikan sendiri adiknya ditabrak sebuah mobil, dan dirinya hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. hampir satu jam lamanya Adnan menunggu, sampai terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat.


"Adnan!" panggil seseorang dengan suara berat, suara khawatir dan juga suara gemetar. Adrian berjalan cepat kearah Adnan saat melihat anaknya itu duduk dengan lemas, Naira terkejut melihat begitu banyak noda darah di pakaian Adnan.


"Adnan apa ini, dimana adikmu... " ucap Naira yang mulai meneteskan air mata, Adnan yang diam tiba tiba meneteskan air mata melihat ibunya.


"Nana... dia didalam... aku.. tidak bisa menjaganya... darahnya begitu banyak... maafkan aku.. " ucap Adnan yang akhirnya menangis, Naira yang mendengar itu langsung menangis tubuhnya lemas saat Adnan memeluk sang ibu. Naira menangis dalam pelukan Adnan, Adrian yang melihat itu memeluk istrinya dan juga putranya yang masih menangis.

__ADS_1


beberapa jam sudah berlalu, setiap orang datang kesana karena mendengar kabar kecelakaan itu. tentu membuat ketegangan keluarga itu, Johan dan Siska yang datang terlihat begitu panik dan Siska juga menangis dengan merangkul Naira. beberapa saat kemudian seorang dokter yang kebetulan adalah David, menghampiri keluarga itu dengan pakaian dan tangan penuh noda darah.


"akibat benturan sebuah batu membuat Nadira mengalami pendarahan bagian otaknya, dan dua orang laki laki itu salah satunya mengalami pendarahan pada jantungnya! " ucap David, seketika semuanya terkejut mendengar ungkapan David yang terakhir.


"Arzan mengalami pendarahan dalam bagian jantungnya karena dari keterangan Adnan pria itu jatuh tengkurap menghantam sebuah batu. sedangkan Jonathan ia patah tulang leher lalu wajahnya terluka cukup parah dan dalam akibat aspal jalan! " ucap Daniel menambahi, dua dokter anak dan ayah itu juga terkejut dengan peristiwa itu. para orang tua sudah lemas mendengar penjelasan dua dokter itu, David menatap Nadira dan Kara kemudian menggelengkan kepalanya.


"terus bagaimana om Daniel, apakah adikku baik baik saja? "


"dia lewat dari masa kritis nya, tapi Nadira masih dalam keadaan koma dan kami tidak tahu pastinya ia bangun! " semua terdiam dengan itu, begitu juga dengan Adnan yang duduk dengan lemas. "ada satu yang membuat kami khawatir, Arzan membutuhkan donor jantung secepatnya. tapi sangat jarang mendapatkan jantung seseorang, bahkan tidak bisa mengambil jantung seseorang tanpa ijin! " ucap Daniel lagi, mereka semua menatap Arzan yang sudah seperti seorang mayat dengan wajah pucat pasih.


"eeughh... " suara seseorang, bagian ujung terdapat Jonathan disana. pria itu begitu sekarat dengan wajah yang diperban begitu tebal, ia mengalami luka pada wajah yang sangat serius. Daniel langsung memeriksa nadi Jonathan, nadi pria itu sangat lemah karena memang kondisinya susah untuk bernafas.


"sakit... badanku sakit semuanya... " ucap Jonathan lemah, semakin membuat Siska menangis dan juga beberapa orang disana.


karena ruang yang terbatas, Daniel meminta semuanya untuk keluar dan menunggu diluar. dokter dan perawat berkutik merawat tiga pasien itu, yang masih membuat mereka khawatir adalah keadaan Arzan. bahkan sang ibunda belum mendapat kabar tentang putranya, entah bagaimana reaksi sang ibu jika melihat Arzan terbaring tidak berdaya.


...****************...


keesokan harinya keadaan ketiganya masih sama, Arzan masih tenang dengan nafas teratur nya. Nadira juga terbaring dengan perban di kepalanya, Jonathan sendiri membuka matanya dengan perlahan. ia nerasa tidak kuat dengan keadaannya sekarang, bahkan ia sudah tahu wajahnya itu akan membekas untuk waktu yang lama. Jonathan menoleh kearah Arzan yang ada di sampingnya, kemudian tersenyum melihat pria itu.

__ADS_1


"kau bodoh, kenapa masih saja tidur... " ucap Jonathan pelan, pria itu menatap pintu yang terbuka. menampilkan dokter Daniel yang tersenyum padanya, Daniel memeriksa keadaan ketiganya sampai ditempat Jonathan.


"bagaimana perasaanmu, jangan sedih mereka akan segera pulih! " Daniel tersenyum, Jonathan tersenyum lemah dengan itu.


"apa... apa sudah menemukan jantung untuknya! " ucap Jonathan lemah, Daniel menggelengkan kepalanya. belum Daniel menjawab tiba tiba alat monitor Arzan berbunyi, pria itu seperti mengalami sesak nafas secara tiba tiba. Daniel memberi aba aba tentang keadaan darurat, tidak butuh waktu lama para dokter dan beberapa perawat datang. perawat dengan sigap membuat posisi Nadira sedikit menjauh, agar tidak terganggu dengan kegiatan dokter yang akan merawat Arzan.


"jantung mendadak berdetak lemah, nadinya tidak normal dokter! " ucap seorang perawat, Daniel mengecek hal itu dan membenarkannya.


"jika terus seperti ini, pasien akan meninggal. jantung seperti tidak berfungsi, luka itu benar benar sangat dalam! " ucap David, Daniel yang mendengar itu sedikit gusar. tiba tiba ia merasa seseorang mengulurkan tangannya, tentu tangan itu milik Jonathan.


"sembuhkan dia apapun caranya, jangan membuatnya terluka sedikit pun! " ucap Jonathan lemah, pria itu tersenyum kearah Daniel. "ambil saja jantungku dokter, aku siap memberikan jantungku padanya! " hal itu membuat seluruh dokter terkejut, mereka tidak pernah berpikir hal itu akan terjadi. keputusan Jonathan sudah bulat, ia sudah lemah dengan kehabisan darah. sebelum jantungnya itu tidak baik, ia harus segera memberikannyua pada Arzan.


Jonathan sangat mencintai Nadira secara diam diam, ia ingin melihat Nadira bahagia dan kebahagiaan itu hanya pada Arzan. jika Arzan tiada hidup Nadira akan sangat hancur, dan ia tidak ingin melihat gadis itu mengalami kehancuran itu. Daniel semakin panik ketika melihat Arzan yang terus bereaksi tidak karuan, Daniel juga menatap Jonathan yang tersenyum dan mengangguk padanya.


Daniel menceritakan hal itu pada semua orang yang hadir, Daniel juga mengatakan kesehatan Jonathan yang semakin memburuk akibat kehabisan darah. sungguh terpukul bagi hati orang tua, mereka akan kehilangan putra kesayangan untuk selamanya. Siska menemui putranya yang terbaring, benar benar tidak ada harapan untuk pria itu hidup dengan keadaan tubuh yang hampir tidak sempurna.


"mama sayang sama kamu Jo... hiks... " ucap Siska menangis, ia berlinang air mata memeluk putranya. Jonathan hanya bisa tersenyum, kini tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan bahkan senyum pun ia butuh usaha.


"biarkan... jantungku hidup pada nya ... mama... Jojo sangat sayang... pada mama.. oh iya nanti... kalau Nadira bangun katakan padanya... kalau aku sangat menyukainya..." Siska menangis mendengar hal itu, ia sangat tidak rela jika putranya itu akan pergi untuk selamanya. meskipun begitu ia tidak boleh egois, putranya itu sudah seperti mayat hidup yang menunggu ajalnya tiba. Johan dan Siska sudah ikhlas dengan keputusan putranya, dari pada anak mereka menderita dan bmtetao berakhir yang sama. Siska menangis dalam pelukan Johan, melihat putranya memasuki ruang operasi bersamaan dengan Arzan.

__ADS_1


__ADS_2