
Nadira mengoleskan salep pada tangan Maira, gadis itu dipukul oleh kepala pelayan karena tugasnya yang tidak selesai. Maira menatap Nadira yang baik kepadanya, ia sangat bersyukur bertemu sabahatnya yang ia rindukan. Maira memeluk Nadira dengan menangis, Nadira yang merasa temannya itu menangis pun membalas pelukannya. kemudian dengan senyuman Nadira menghapus air mata itu, dengan tertawa keduanya mengangguk.
Nadira memberikan pakaian ganti untuk Maira, agar gadis itu membersihkan diri dan tidur satu kamar dengannya. Maira sendiri merasa tidak enak hati, ia selalu sungkan saat bergerak dikamar Nadira. sampai akhirnya keduanya tertidur pulas dikamar, dan berdoa agar hari cepat berganti hingga besok.
keesokan paginya semua orang berada diruang makan, Nadira yang baru saja turun memegang tangan Maira untuk melangkah kearah semua orang. terlihat Adrian dan Naira tampak heran, mereka penasaran siapa gadis yang dibawa putri mereka itu.
"pagi papa, pagi mama... " ucap Nadira tersenyum, ia meminta Maira duduk setelah menyapa. "Nadira ingin bicara pada kalian sebelum sarapan! " ucap Nadira lagi tersenyum, Maira merasa canggung duduk disana.
"apa yang kamu ingin bicarakan, apa tentang pelayan itu? " ucap Adnan, Nadira melempar Adnan dengan sebuah tisu karena tidak Terima sabahatnya dipanggil pelayan.
"papa mama,, dia adalah Maira, sahabat Nana ketika dulu dirumah ibu. kemarin Nana baru tahu kalau Maira bekerja disini menjadi pelayan, dia merantau untuk mencari uang. karena adiknya yang sakit butuh biaya banyak, terus aku lihat kepala pelayan berbuat tidak baik padanya. lihat tangan Maira dipukul sampai memar, tadi malam aku sudah mengoleskan salep agar tidak berbekas! " jelas Nadira, semua orang disana mendengar dirinya bercerita hingga selesai. "jadi aku putuskan Maira akan bekerja dengan ke butik setiap hari, karena tidak ada tempat tinggal ia akan tinggal dirumah ini. apa papa dan mama setuju, kuharap setuju! " ucap Nadira lagi, hal itu membuat Adnan menatapnya tapi tidak dihiraukan oleh Nadira.
"maaf memotong pembicaraan, sebenarnya saya bisa bekerja dengan Nadira tapi tidak tinggal dirumah ini. saya akan cari tempat lain untuk tinggal, saya sudah terlalu banyak merepotkan! " saut Maira gemetar, ia menunduk karena menahan rasa sungkan dan malu.
"kata siapa merepotkan, kami senang putri kami memiliki teman. apalagi teman lamanya, selama ini Nadira hanya berteman dengan kedua kakaknya! " ucap Naira, Nadira pun mengangguk kearah Maira dan gadis itu menggelengkan kepala.
"tidak perlu cari tempat tinggal, ada apartemen Adnan yang kosong didepan apartemen ku. pakai itu saja jika kau tidak mau dirumah ini, Adnan pasti tidak keberatan! " perkataan Arzan membuat Adnan terkejut, pria itu menatap Arzan yang mengangguk untuk mengiyakan. sedetik kemudian Nadira sumringah, ia menganggukkan kepala berulang kali.
"Kak Arzan benar, itu kan juga milik kakak! " saut Nadira, Adnan pun menoleh kearah Nadira bergantian.
__ADS_1
"kapan aku punya apartemen disana, aku hanya beli yang ku berikan pada Arzan!" saut Adnan, Nadira tertawa diikuti Arzan yang tersenyum lebar.
"hari ini kau membelinya untukku, kak Arzan akan bilang ke pemiliknya. setelah itu akan kubiarkan Maira tinggal disana, sesekali aku akan menemaninya tidur jika aku pulang larut! " ucap Nadira senang, hal itu membuat Adnan semakin membalakkan matanya.
"sudah iya kan saja, adikmu itu akan menangis seharian jika tidak kau turuti!" ucap Arzan menepuk pundak Adnan, dengan kesal Adnan menepis tangan Arzan dengan kasar. Adrian dan Nadira yang melihat itu hanya tersenyum, mereka paham akan tingkah Arzan dan Nadira yang sengaja agar Adnan membeli apartemen yang baru.
"Maira aku akan membantumu kesana nanti, tenang saja kamu tidak sendiri. disana ada rumah Kak Arzan, nanti kalau butuh apapun tinggal pergi kerumahnya!" ucap Nadira, Maira mengangguk dengan menahan malu.
"Terima kasih! " ucapnya tersenyum, ia benar benar bersyukur telah bertemu Nadira yang baik padanya. tidak akan ada orang baik seperti keluarga itu, bahkan dirinya yang tidak punya keluar sangat ingin menjadi Nadira yang memiliki keluarga lengkap.
Arzan sendiri bukan tanpa sebab mengatakan hal itu secara tiba tiba, mengatakan hal itu ia mempunyai keuntungan sendiri. jika Maira tinggal dekat dengannya, ia akan bisa punya alasan untuk bertemu Nadira setiap hari jika gadis itu bersama Maira. Nadira sendiri berpikir demikian, ia memiliki keuntungan untuk bisa bertemu dengan Arzan jika berkunjung menemui Maira.
Maira mulai bekerja di butik Nadira, semua orang mengajarinya cara menjadi kasir disana. Nadira sangat senang semua pegawainya baik kepada Maira, bahkan membuat temannya itu tidak merasa sungkan ataupun canggung lagi. Nadira menempatkan Maira pada posisi kasir, karena memang kasir sebelumnya adalah Elia dan kini Elia itu menjadi wakilnya untuk menjaga butik. sedang asik mengobrol tiba tiba saja seseorang datang karena bel pintu masuk berbunyi, Nadira dibuat melongo karena melihat siapa yang datang.
"Nadira!!!! " panggil seorang wanita berkacamata hitam, Nadira langsung mendelik dan berlari kearah wanita itu.
"Davina!!! " teriak Nadira juga, mereka berdua heboh dan saling memeluk satu sama lain. mereka tidak sadar karena menjadi pusat perhatian, sampai mereka masuk kedalam ruangan kasir yang tidak jauh dari pintu masuk.
"kangen sekali sama kamu, dapet salam dari kakek dan nenek! " ucap Davina, Nadira tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"aku juga kangen mereka, kangen sama kamu juga. kapan baliknya, kok gak ngabarin! " saut Nadira, Davina tertawa riang dengan itu.
"kalau bilang ya tidak kejutan dong, haha... " tawa Davina, Nadira pun ikut tertawa dengan itu.
"papa dan mama pasti seneng lihat kamu, nanti kerumah ya! " ucap Nadira, keduanya saling mengobrol tanpa henti. melepaskan rindu antara saudara, Maira yang berdiri disana pun tersenyum melihat Nadira yang sangat aktif menurutnya.
sore harinya Nadira membawa Maira dan Davina sekaligus kerumahnya, disana Maira dan Davina dikenalkan dan mudah sekali akrab bagi Davina. mereka bertemu Adrian dan Maira yang sedang dirumah, begitu senang sambutan kepada Davina. setelah itu Nadira dan Davina membantu Maira untuk pindah kepartemen yang dibicarakan pagi hari, Adnan resmi membelinya karena permintaan sangat adik tersayangnya.
"wah kak Nanan langsung membelinya dengan sekali Ucapmu! " ucap Davina yang berada disana, Nadira mengangguk dengan membantu Maira mengeluarkan pakaian dari dalam kopernya.
"aku sudah bilang padanya, itu sangat merepotkan sekali! " ucap Maira, Davina tertawa dan duduk disamping Maira.
"tidak merepotkan bagi Nadira, dia itu memang sangat baik hati dan suka menolong. kamu beruntung punya sahabat seperti Nadira, dia hampir saja menjadi kakak iparku! " ucap Davina tertawa, Nadira yang mengingat itu ikut tertawa.
"Oh ya Anin... eh maksudku Nadira, apa kakakmu yang satunya tinggal didepan itu! " ucap Maira, Nadira mengangguk untuk mengiyakan hal itu.
"siapa, kak Nanan maksudmu! "
"bukan, kak Arzan yang tinggal disana. kamu kalau butuh apapun gedor saja pintunya, minta padanya. jika menghiraukan mu telfon aku saja, aku yang akan memberinya pelajaran! " ucap Nadira, Maira tertawa disana. sedang Davina tampak senang, ia tersenyum ketika Nadira mengatakan Arzan tinggal didepan rumah Maira.
__ADS_1
"kalau kalian mau tinggal disini tidak masalah, aku senang jadi tidak sendirian! " ucap Maira tersenyum, Nadira dan Davina mengangguk dengan itu. mereka berdua memiliki keuntungan masing masing, secara bersamaan keuntungan mereka adalah bertemu Arzan.