
sudah beberapa tempat mereka berdua kunjungi, hasilnya nihil tidak menemukan yang mereka cari. Adnan sempat merasa kecewa, tapi gadis cantik itu selalau mengajaknya bicara agar tidak merasa kecewa. Anin yang dikenal sebagai pendiam, ia bicara banyak saat bersama Adnan. begitu pun sebaliknya, Adnan selalu memilih untuk diam jika bersama perempuan. bukan hanya diam, ia bahkan tidak mau didekati perempuan mana pun. canda tawa Anin menjadi hal baru untuk Adnan sendiri, meskipun pria itu diam dengan Anin yang banyak bicara. Adnan menyimak semua yang dikatakan Anin, sesekali ia akan tersenyum jika Anin mengatakan hal lucu dengan sengaja maupun tidak sengaja.
setelah seharian mereka keliling, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan dilanjutkan besok hari. mereka duduk di sebuah restoran dikota tersebut, karena hari sudah malam dan mereka merasakan perutnya telah lapar. Anin memilih makanan yang menurutnya kesukaannya, dengan senyuman merekah Anin terlihat senang memilih makanan. sampai giliran Adnan yang memesan, dan Anin langsung menatap terkejut. pasalnya pria itu baru saja sembuh dari penyakitnya dua hari yang lalu, tapi sekarang malah memilih makanan yang menurut Anin tidak sehat.
"tunggu sebentar, kenapa anda memilih makanan yang akan menganggu pencernaan? " ucap Anin, Adnan hanya diam tanpa bersuara pada gadis itu. "nasi goreng, dengan teh hangat... "
"aku tidak suka nasi goreng, dan aku juga tidak suka teh! " ucap Adnan dengan ketus, karena yang disebutkan Anin adalah makanan yang tidak ia sukai. mereka saling menatap, kemudian Anin melihat daftar menunya lagi tanpa memperdulikan tatapan Adnan padanya sekarang. karena ini juga untuk kebaikan Adnan, dan Anin sangat berani mekakukan hal itu.
"nasi goreng tanpa sayur, kemudian berikan air putih saja. selesai! " ucap Anin memberikan keputusan final, Adnan mendelik dan tidak sempat memanggil pelayan itu karena sudah pergi menjauh. Anin tersenyum manis pada Adnan, dan pria itu akhirnya memilih tidak berdebat dan menghela nafas kasar. "apa anda membawa obat nya? " ucap Anin lagi, pria itu menggelengkan kepala tanpa menjawab. sudah diduga pria itu tidak akan membawa obatnya, meskipun sebelumnya Anin berpesan untuk membawa obat itu. Adnan sendiri tidak suka dengan obat obatan, ia akan meminum obat jika tubuhnya benar benar sakit dengan rasa yang tidak kuat. sampai seorang wanita datang pada mereka, Adnan dan juga Anin menoleh secara bersamaan pada wanita itu.
"permisi apakah kalian sudah memesan makanan? " ucap wanita itu, keduanya mengangguk secara bersamaan. "jadj begini tadi aku sempat pesan makanan, karena ada hal yang mendadak aku harus pergi. tapi makanannya sangat disayangkan, jika kalian belum pesan aku ingin memberikannya pada kalian! " wanita itu meletakkan dua piring disana, Anin dan Adnan melihat makanan yang wanita itu maksudkan. keduanya mengerutkan dahinya, dan bersamaan menggelengkan kepalanya tanpa sadar.
"aku tidak suka jamur dan wortel! " ucap keduanya bersamaan, dan keduanya saling menoleh menatap masing masing. mereka hanyut dalam pikiran mereka, bahkan wanita itu tidak diperdulikan lagi.
"sayang sekali kalian tidak suka, baiklah akan aku berikan pada yang lain saja! " ucap wanita itu kemudian membawa makanannya pergi, Anin dan Adnan akhirnya membuang tatapan mereka ke arah lain.
__ADS_1
"kenapa kau tidak suka jamur dan wortel? " tanya Adnan yang memulai pembicaraan, Anin menoleh dan tampak berpikir dengan itu.
"karena aku alergi semua itu, kalau anda sendiri kenapa tidak suka? " tanya Anin balik, Adnan menggelengkan kepala dan menegakkan tubuhnya.
"aku juga alergi! " saut Adnan, Anin tersenyum disana karena memiliki kesamaan dengan Adnan. senyum Anin menular membuat pria itu tersenyum juga, mereka akhirnya saling melempar senyum dan juga tertawa. untuk menghilangkan kecanggungan pada keduanya, Anin mengeluarkan daftar tempat yang akan mereka kunjungi besok. Adnan hanya diam memperhatikan Anin yang terus menjelaskan, gadis itu sangat ulet menjelaskan setiap rinci. sampai makanan mereka datang, dan mulai memakan makanan yang sudah mereka pesan. Anin senang memakan makanan kesukaannya, Adnan yang melihat itu tertawa kecil. kelucuan Anin makan membuatnya menyukai hal itu, ia menyembunyikan tawa itu pada Anin yang sedang asik makan seperti anak kecil.
setelah dari restoran Adnan membawa Anin menuju ke rumahnya, tapi sayangnya ban mobil Adnan tiba tiba bocor. mereka berhenti di pinggir jalan, padahal rumah Anin hampir sampai tapi mobil itu malah bermasalah. Anin tertawa melihat Adnan kesal, berulang kali ia menghubungi Arzan tapi tidak dijawab pria itu dan berulang kali juga menendang ban mobil yang kempes.
"tuan lebih baik jalan saja, rumahku hampir sampai! " ucap Anin dengan tersenyum, Adnan menoleh dan melihat jalan yang memang rumah Anin hampir sampai. kemudian ia melihat kearah Anin, dengan senyum Anin mengangguk untuk meyakinkan Adnan. akhirnya mereka pun memutuskan, dan mulai berjalan dijalan yang bisa terbilang sepi dengan beberapa orang saja disana. Adnan aslinya malas untuk berjalan, tapi pria itu tidak bisa membiarkan Anin berjalan sendirian dimalam hari.
"maaf ya, aku jadi membuatmu berjalan kaki! " ucap Adnan yang merasa bersalah, karena ia merasa gadis itu telah ia bawa mengelilingi kota dan sekarang gadis itu berjalan. Adnan menghentikan langkahnya, gadis itu melihat Adnan berhenti dan menoleh dengan cepat. Adnan menatap Anin dan melihat kebingungan gadis itu, Adnan tersenyum tanpa mengatakan apapun. "besok aku akan menjemputmu seperti tadi, kau harus bersiap! "
"kau pergi dengan bosmu, lalu apa yang kau takutkan? " ucap Adnan, Anin pun langsung tersadar dan menatap Adnan. benar juga menurutnya, ia kan tidak datang karena bosnya yang menyuruhnya. sedetik kemudian Anin tertawa dengan menutup mata, hal itu membuat Adnan menggelengkan kepala dan tersenyum. mereka kembali berjalan beriringan, tanpa sengaja tangan mereka tersentuh dan membuat mereka gugup. Anin mengangkat tangannya untuk memeluk dirinya, ia berpura pura kedinginan untuk menutup rasa canggungnya. Adnan hanya berdehem dan memasukkan tangannya kedalam kantung celananya, kemudian ia melirik Anin yang ada disampingnya. pria itu melihat Anin yang memeluk tubuhnya, ia pikir gadis itu sedang kedinginan. dengan cepat Adnan melepas jas yang ia gunakan, memberikan jas itu untuk dipakai oleh Anin. "pakai ini agar tidak dingin!" ucap Adnan, Anin terkejut dan menoleh kearah Adnan. gadis itu tersenyum, sedikit dingin dan juga sedikit gerah setelah memakai jas itu.
tidak terasa mereka sampai dirumah Anin, dengan senyum Anin menoleh ke arah Adnan. entah apa yang harus mereka bicarakan, hanya bisa senyuman yang mereka pancarkan. sampai seseorang datang menghampiri mereka, yang diyakini Anin adalah tetangga ibunya.
__ADS_1
"Anin ini pesanan ibumu, uangnya sudah! "
"oh Terima kasih tante, nanti Anin kasih ke ibu! " saut Anin tersenyum, wanita itu mengangguk kemudian menoleh kearah Adnan. ia menatap Anin dan juga Adnan secara bergantian, kemudian tersenyum melihat Anin.
"ih dia pacarmu ya, ganteng banget Anin! " ucap wanita itu, Anin dan Adnan terkejut dengan itu. Anin menggelengkan kepalanya dan tersenyum kikuk, Adnan hanya menahan senyumnya tanpa menjawab apapun. "kenalin dong ke tante, tante baru tahu loh kamu punya pacar! "
"tante... ini bukan pacar Anin, ini atasan Anin! " ucap Anin tersenyum, Adnan menyalami tangan wanita itu masih terkagum melihatnya. Adnan tidak kuasa menahan senyumnya, ia terus tersenyum pada wanita itu.
"aduh makin manis kalau senyum, sayang banget bukan pacar. padahal kalian mirip loh, semoga kalian berjodoh deh, Amin! " celetuk wanita itu kemudian pergi dari sana, Anin yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dan merasa tidak enak pada Adnan. tapi ia terkejut ketika melihat pria itu tersenyum, Anin akhirnya tersenyum kemudian mereka tertawa kecil disana. beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti didepan mereka, dan kemudian turun seorang pria tampan. siapa lagi kalau bukan Arzan, dengan pakaian formal Arzan berjalan mendekati Adnan dan juga Anin.
"aku mencari kalian tadi, ternyata sudah sampai rumah ya! " ucap Arzan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, Adnan menatap wajah itu malas dan memutar bola matanya. Arzan hanya terkekeh pelan, kemudian ia melihat kearah Anin. "Hai gadis bunga, kamu sangat cantik. kalian pergi tidak mengajakku, apa kalian takut aku menganggu kencan kalian? " belum sempat tertawa Adanya memukul perut Arzan dengan pelan, tapi Arzan merasakan sakit disana. hal itu membuat Anin tertawa, setelah berpamitan Adnan menarik Arzan untuk pergi dari sana. mereka masuk kedalam mobil dan mulai pergi dari sana secepatnya.
"besok aku pinjam mobilmu, bawa mobilku untuk diperbaiki! " ucap Adnan tanpa ekspresi, Arzan yang mendengar itu menoleh dan menyipitkan matanya.
"mau kemana kamu? "
__ADS_1
"mau bertemu gadis bunga! " saut Adnan dengan lirih, Arzan langsung tertawa keras mendengar itu. Adnan menoleh dan tersenyum tipis, semakin terkejut melihat pria itu tersenyum.
"heyoo tuan Adnan yang paling galau, dimana kau menemukan senyum mu itu. padahal aku sudah mencari senyum itu selama bertahun tahun, tapi baru kelihatan setelah lama!" ucap Arzan tersenyum, Adnan menghilangkan senyum itu dan menoleh kearah luar mobil. ia juga tidak tahu dan lebih sadar kalau ia selalu tersenyum jika bersama Anin, dan hanya ada senyum Anin dimatanya.