Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Keluarga kecil.


__ADS_3

sebuah rumah besar dan juga mewah berada di sebuah kota, rumah itu tampak bersinar dengan beberapa orang disana. bukan seperti rumah, melainkan sebuah istana yang megah. begitu banyak mobil terparkir disebuah garasi, bahkan pekarangan rumah itu banyak dengan bunga yang bermekaran.


sedikit jauh dari rumah itu terdapat sebuah taman, dan keluarga kecil sedang berkumpul disana. seorang gadis perempuan yang sedang berputar putar menaiki sepeda, ia tersenyum bahagia dengan senyuman yang terus terukir. dan tidak jauh terlihat seroang anak laki laki sedang melukis, laki laki itu melukis dua orang yang sedang duduk di kursi dengan senyuman.


"Nanan... ayo lukis aku aku yang naik sepeda! " teriak gadis itu bernama Nadira, dan anak laki laki itu adalah Adnan. dengan malas Adnan menggelengkan kepalanya, Andira menghentikan kakinya yang mengayuh sepeda. ia memarkirkan sepeda itu dan berjalan menghampiri Adnan, kakaknya itu sedang melukis kedua orang tuanya dengan sangat indah. "masa iya hanya lukis papa mama terus, tapi gak lukis Nana... " ucap Nadira dengan manja, Adnan tersenyum dan mencubit pipi adiknya dengan gemas.


"kalau Nana mau dilukis ya harus diam, kalau kamunya gerak terus bagaimana aku bisa melukis dengan baik? " ucap Adnan dengan gemas, Nadira hanya tertawa dan memeluk kakaknya itu. tidak merasa risih dalam diri Adnan, ia hanya tersenyum dan melanjutkan melukis.


"Nanan makin besar makin ganteng, kayak papa! "


"Nana juga makin besar makin cantik, kayak mama!"


mereka berdua saling tertawa, kedua orang tua itu tertawa melihat kedua anaknya. Nadira menggoda Adnan yang sedang melukis, sampai Adnan kesal dan mengejar adiknya untuk membalas. berakhir mereka saling mengejar disana, sesekali tertawa mereka terdengar nyaring. Adnan menggelitiki sangat adik ketika mendapatkan Nadira yang ia kejar, dengan gemas Adnan menggeliti hingga Nadira benar benar meminta ampun.


"cukup sudah, dia akan menangis nanti! " ucap Adrian yang melihat Adnan tanpa henti menggelitiki Nadira, akhirnya Nadira menangis dan berlari kearah Adrian.


"papa perutku sakit, gara gara Nanan... hikss... hiks... " ucap Nadira mengadu, Adrian tertawa dan menggendong putrinya yang menangis menggemaskan itu.


"kau sama seperti mama mu, nakal suka mengganggu! " ucap Adrian, Nadira malah tersenyum dengan menggemaskan.


"dia terus mengganggu ku, tidak dirumah saja tapi disekolah juga! " ucap Adnan duduk disamping Naira, dengan jail Nadira hanya meledek dan menjulurkan lidahnya.


"kalau gak ada Nana, siapa yang mau ganggu Nanan... "

__ADS_1


"emangnya Nana mau kemana bilang kayak gitu? "


"Nana gak boleh kemana mana, kalau mau kemana mana harus bilang ke papa atau mama! " ucap Adnan, Adrian mendekat dengan masih menggendong Nadira. mereka berempat duduk bersama di sebuah kursi, Nadira memeluk Adnan dengan gemas. Adnan mengeluarkan sesuatu dikantungnya, sebuah kalung cantik bertuliskan nama Nadira dan sebuah gelang bertuliskan nama Nana. dengan senang Nadira menerima kalung yang dipasang itu, tidak lupa gelang itu dipasangkan.


"Terima kasih Nanan... Nana suka! " ucap Nadira senang, Adnan tersenyum dan mengelus kepala sangat adik. Adrian dan Naira tersenyum melihat itu, mereka mengelus kedua anaknya yang menggemaskan.


"ingat ya, kalian harus saling menyayangi. jangan pernah bertengkar, harus mengalah jika memang harus mengalah. Nana harus nurut sama Nanan, gak boleh ngelawan perkataan Nanan. Nanan juga kalau tahu salah harus diperbaiki, kalau Nana salah harus diingatkan untuk diperbaiki lagi! " ucap Naira dengan lembut, keduanya mengangguk bersamaan.


"tapi kalau Nana jailin Nanan, gak masalah kan? " perkataan Nadira membuat Adnan menoleh, kemudian tangannya mencubit pipi Nadira yang menggemaskan.


"boleh, asalkan kamu mau digelitiki! " mereka berempat tertawa bersama, saling mengejar itu hobi mereka.


...****************...


Adnan menatap lurus kearah atap, ia mengingat saat dulu bersama Nadira. ia masih tidak percaya, adiknya itu telah tiada. ia terus berucap maaf dibibirnya, ia bingung harus mengatakan apa pada Naira dan juga Adnan. orang tuanya pasti mengharap Adnan menemukan Nadira, dan harapan itu terkabul tapi pasti berbeda dari perkiraan mereka. Anin masuk kedalam ruangan Adnan, dilihatnya Adnan sedang melamun tanpa ekspresi. Anin menghampiri pria itu, dengan senyuman Anin membawa makanan untuk Adnan. kehadiran itu disadari oleh Adnan, dengan perlahan Adnan menoleh dan senyum terukir disana.


"apa yang kau pikirkan? " ucap Anin dengan senyuman, Adnan menggelengkan kepalanya.


"tidak ada, hanya kangen dengan adikku! " ucap Adnan lirih, Anin merasakan kesedihan Adnan. pria itu masih belum menerima kenyataan, tapi beruntung bagi Anin karena pria itu tidak berpikir hal bodoh lagi seperti kemarin. "aku ingin ke makamnya lagi, apa kau mau menemaniku? " Anin tersenyum dan mengangguk dengan itu.


"tentu saja, kita akan bawakan bunga yang disukai adikmu dari toko ibu. sekarang kau harus sembuh dulu, ayo kubantu duduk dan makan sarapanmu! " ucap Anin tersenyum, ia membantu Adnan untuk duduk. Adnan selalu mengumpat kesal pada kakinya yang patah, apalagi lengannya yang belum juga bisa digerakkan. gadis itu selalu membantu Adnan, dan mungkin Anin selalu senang jika membantu.


"Anin siapa nama aslimu? " ucap Adnan disela makannya, Anin yang asik meniup makanan pun menoleh dan tersenyum lagi.

__ADS_1


"Anindhira Marsha, umur 24 tahun ini! "


"hm... sama denganku berarti, usiaku juga 24 tahun ini! " saut Adnan, Anin mengangguk kemudian memberi suapan berikutnya pada Adnan. sampai suapan berikutnya, makanan Adnan pun habis. Anin setia merawat pria itu, Adnan berterima kasih dan merasa tidak enak hati. Anin yang hendak berdiri merasa kakinya kram, pada akhirnya ia terjatuh ditempat Adnan yang sekarang terbaring. tubuhnya berada diatas Adnan, pria itu terkejut dan menopang tubuh Anin. mereka berdua saling menatap satu sama lain, jantung mereka berdetak dengan cepat. perasaan aneh itu muncul lagi, keduanya merasakan aneh dalam diri mereka.


"maafkan aku, kaki ku kram! " ucap Anin lirih, gadis itu tidak bisa bergerak dan hanya berdiam diatas Adnan. seketika Adnan tertawa dengan itu, menurutnya sangat lucu jika Anin seperti itu. gadis itu seperti ingin menangis, karena merasakan sakitnya kram pada kaki. "jangan tertawa! " ucap Anin terdengar lirih, Adnan sendiri merasa gemas dengan itu dan membiarkan Anin berada diatasnya.


"terus mau sampe kapan begini, hm? " ucap Adnan tersenyum, dengan sekuat tenaga Anin berdiri menegakkan tubuhnya. ia memegang kakinya berulang kali, kakinya terasa mati rasa. Anin memegang dadanya sendiri, jantung itu masih berdetak tidak karuan. "apa kau pernah jatuh cinta? " ucap Adnan menatap Anin, tentu saja hal itu membuat Anin menoleh dan menatap Adnan. ia tidak pernah merasakan itu, bahkan ia tidak pernah tahu apa arti jatuh cinta. Anin menggelengkan kepalanya, Adnan malah tersenyum dan tertawa kecil. "aku terkejut, diusiamu yang sudah 24 kau tidak pernah jatuh cinta! "


"aku memang tidak pernah tahu apa itu jatuh cinta, emangnya kamu tahu apa itu jatuh cinta? " Adnan menggelengngkan kepalanya, Anin hanya berdecak kesal dan membuang muka pada Adnan.


"sebelumnya aku tidak pernah jatuh cinta, tapi aku bertemu seorang gadis yang membuatku jatuh cinta. gadis itu seperti penyihir, dia menyihir hatiku untuk jatuh cinta padanya! " ucap Adnan tersenyum, Anin yang mendengar itu merasa penasaran. siapa yang dimaksud Adnan, Anin menatap Adnan yang tersenyum kearahnya.


"beruntung sekali gadis itu, kau sampai jatuh cinta padanya! " ucap Anin tersenyum, Adnan yang mendengar itu menghela nafas. Anin sangat polos tidak tahu apa maksud Adnan, saat ingin bicara seorang dokter datang dengan Arzan secara bersamaan. dokter melakukan pemeriksaan pada Adnan, kemudian tersenyum kearah mereka yang menunggu dokter bicara.


"kau sudah baik baik saja, hanya butuh waktu untuk penyembuhan tulangnya. besok kau juga boleh pulang, dan kau juga boleh pulang! " ucap Jonatan pada Anin juga, mereka bertiga tersenyum mendengar itu. "kau itu memang bodoh, bagaimana kalau gadis ini gak ada. kamu bisa mati konyol dirumah sakit, gak habis pikir aku denganmu! " ucap Jonatan yang kesal pada temannya, Adnan hanya menggelengkan kepalanya dengan tidak menjawab perkataan Jonatan.


keesokan hari nya tepat kepulangan Adnan, Anin membatu disana ia mendorong kursi roda Adnan. mereka persis seperti pasangan, sampai beberapa mata tertuju memperhatikan mereka berdua. Anin sendiri merasa tidak enak hati dengan penglihatan mereka, ibu Anin yang ada disana pun tersenyum kemudian berjalan disamping putrinya.


"bisakah aku ke makam sekarang? " ucap Adnan menoleh kearah Anin, dengan senyuman Anin mengangguk dan juga ibu Anin mengatakan ia sudah membawa bunga untuk mengunjungi makam tersebut. Adnan dibantu Arzan untuk naik ke mobil, setelahnya mereka masuk secara bersama dan mobil pergi dari rumah sakit itu.


setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai dimakam Nadira. Adnan tersenyum melihat makan sangat adik, ibu Anin membersihkan makam itu dan memberikan bunga yang cantik untuk makam tersebut. mereka berempat berdoa bersama, setelah selesai Adnan mengusap makam yang sudah cantik itu.


"Nanan selalu menyayangimu, tunggu sebenar ya Nana... setelah ini Nanan pasti bawa papa sama mama kesini, Nanan belum siap untuk bicara pada mereka... " ucap Adnan, ibu Anin mengusap punggung Adnan dengan lembut.

__ADS_1


"adikmu pasti bangga punya kakak kembar seperti kamu, jangan sedih lagi ya! " ucap Ibu Anin, Adnan pun mengangguk dan tersenyum. "bagaimana kalau Adnan tinggal dirumah ibu untuk sementara, sampai kaki tangannya sembuh. kalau dirumah kamu nanti sendirian, gak ada yang ngurusin! " ucap Ibu Anin dengan tulus, Adnan tampak berpikir kemudian melihat wajah Anin yang bersinar. gadis itu berharap Adnan mau menerima tawaran itu, belum Adnan bicara Arzan mendahuluinya bicara.


"ide bagus itu ibu, nanti Arzan main kerumah ibu setiap hari. jadi bisa lihat gadis bunga setiap hari, yoi gak bos! " ucap Arzan menyenggol tangan Adnan, pria itu meringis sakit saat Arzan tanpa sengaja menyenggol tangan yang terluka. Arzan yang meminta maaf dan panik, hal itu membuat Anin dan ibunya tertawa bersama.


__ADS_2