
Adnan termenung dimakam yang terbilang adalah makan adiknya, ia masih tidak percaya dengan menatap batu nisan itu tanpa berkedip. air matanya masih menetes tanpa berhenti, Anin dan Arzan melihat itu sedikit jauh dari Adnan. gadis itu menangis meliha Adnan yang seperti itu, tidak disangka mereka berdua yang ditemukan Adnan adalah makan sang adik. Adnan menangis dengan memeluk batu nisan itu, tangisnya kembali pilu didengar telinga.
"Nana... kenapa kamu ninggalin Nanan... bilang ini bohong, ini tidak sungguhan..." ucap Adnan yang menangis, pria itu sudah tidak bisa berkata apapun yang ia bisa hanya menangis. Anin tidak kuat melihat itu, ia mendekat kearah Adnan. tubuh pria itu masih bergetar karena menangis, Anin menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"tuan ini hampir malam, ayo kita pergi! " ucap Anin lirih, Adnan tidak memperdulikan itu. ia masih memeluk batu nisan bertuliskan nama Nana , nama sang adik yang selama ini menjadi julukan untuknya. Anin mengusap punggung Adnan, seperti seorang ibu menenangkan anaknya. "Nana mu akan sedih jika kau seperti ini, ia sudah senang melihat kau disini menemukannya! " ucap Anin lagi, Adnan langsung menoleh kerah Anin. dengan senyuman Anin mengangguk, ia menghapus air mata pria itu. "jangan menangis, Nana mu juga tidak bisa melihat kamu seperti ini. aku yakin dia sudah bahagia, dia senang kamu menemukannya meskipun dia tidak bisa bicara denganmu! " ucap Anin terdengar pilu, Adnan langsung menangis lagi dan dipeluk oleh Anin. tidak bisa diragukan lagi, Adnan benar benar lemah. ia seperti berada di titik terendah, semua usahanya selama empat tahun telah sia sia.
"ayo kita kembali, kita juga harus membawa nenek panti kembali! " ucap Arzan pada mereka berdua, Anin mengangguk dan melepas pelukan Adnan yang masih sesenggukan. gadis itu mengusap air mata Adnan, dan membantu Adnan untuk berdiri karena tubuh Adnan yang terasa lemah. Adnan dituntun Anin untuk berjalan pergi dari sana, Adnan terus menatap makam itu tanpa melihat jalan yang ia tapak.
Adnan masuk kedalam mobil diikuti Anin dan Arzan serta nenek yang ikut bersama mereka, Arzan mengemudikan mobilnya untuk menuju panti mengembalikan sang nenek panti. Adnan diam tanpa bersuara, ia menahan kepalanya yanga menunduk dengan tangan. ia berusaha menangis tanpa suara, bayangan bayangan sang adik bermunculan di matanya. ia telah gagal, ia berjanji pada ibunya akan membawa sang adik padanya. tapi tidak disangka nya bukan adiknya yang ia temukan, melainkan kabar kematian sang adik. mobil itu berhenti sampai di panti asuhan, Arzan membantu nenek itu turun dari mobil. Anin masih memperhatikan Adnan yang hanya menunduk, Anin mengelus punggung Adnan dengan halus.
"aku gagal Anin, apa yang harus kukatakan pada orang tuaku? " ucap Adnan lirih, Anin tersenyum pilu disana. ia membawa kepala Adnan untuk tegak, Adnan melihat luruh kearah Anin yang ada didepannya.
"kamu tidak gagal tuan, kamu menemukan adikmu. katakan perlahan pada orang tua mu, meskipun mereka akan sedih tapi mereka wajib tahu tuan! "
__ADS_1
"tidak, ibuku bisa meninggalkan aku dan ayahku Anin. ibuku bahkan hampir gila kehilangan anaknya, jika ia tahu anaknya sekarang berada di surga, ibuku akan... dia akan menyusul.. aku tidak bisa mengatakannya, aku tidak bisa ... " ucap Adnan yang membayangkan betapa pedihnya hati sang ibu, Anin menggelengkan kepalanya dan membawa kepala itu ke pundaknya. Anin menenangkan Adnan yang masih lemah itu, tanpa ia sadari sudah berapa kali pria itu dipeluk olehnya. Arzan masuk kedalam kursinya, ia siap untuk mengantar Anin pulang. ia membiarkan dua manusia dibelakangnya itu saling menenangkan, ia senang Adnan bisa tenang dengan pelukan seorang gadis. jika ia kenal Adnan sebelum mengenal Anin, Adnan hanya akan mau didekatnya bahkan ia tidak akan mau dirinya dipeluk oleh gadis sembarangan. tapi menurutnya Anin bukan gadis sembarangan, gadis itu ada sebuah berlian dan hanya gadis itu yang bisa membuat perubahan Adnan.
...****************...
Anin masuk kedalam rumahnya, ia melamun memikirkan Adnan dengan tidak tenang. hatinya terus berdoa agar pria itu baik baik saja, ia membayangkan Adnan melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri. gadis itu tidak tahu kalau sang ibu mendekatinya, Ibu Anin melihat putrinya itu dengan heran. bagaimana tidak, gadis itu bicara sendiri dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Anin pun sadar kehadiran ibunya, dengan cepat gadis itu berlari dan memeluk sang ibu.
"ada apa sayang?" tanya sang ibu, Anin memeluk ibunya dengan erat.
"dia akan baik baik saja, kamu sekarang tenang ya. ganti bajumu dan turun setelahnya, ibu akan memasak buat kamu! " ucap ibunya, Anin pun mengangguk lemah. Anin pergi kekamarnya untuk membersihkan diri, kemudian ia turun lagi dan duduk di kursi dekat meja makan. ibunya memberikan Anin makan malamnya, tapi Anin hanya mengaduk makanan itu tanpa berniat memakannya.
"Anin ku sayang!!! " suara itu menggema dirumah Anin yang sepi, bahkan mengejutkan Anin yang sedang melamun. temannya yang bernama Zahira itu berlari kearah Anin, dengan tertawa Zahira memeluk Anin yang sedang kesal karena terkejut.
"kamu ini gak bisa ya kalau ngomong itu pelan! " ucap Anin kesal, Zahira hanya terkekeh kecil kemudian mengambil kerupuk yang ada dipiring Anin.
__ADS_1
"jajan yuk, ada pasar malam di kota! " ucap Zahira, Anin yang malas hanya menggelengkan kepala. kepalanya sangat sakit memikirkan Anin, ditambah lagi pergi ke pasar malam. itu bukan hal yang benar, lebih baik dirinya tidur saja. Zahira memaksa temannya itu, gadis itu menggoyang goyang tubuh Anin dengan keras. "ayo Anin, aku mau pergi sama siapa kalau bukan sama kamu! " ucap Zahira memelas, Anin yang melihat itu malas dan menghela nafasnya.
"jangan pulang malam malam, setelah jajan ayo kita pulang! "
"oke, deal! "
dengan senang Zahira dan Anin berpamitan pada ibunya, Zahira menggandeng tangan Anin keluar dari rumah itu. keduanya menaiki satu sepeda milik Zahira, Anin yang dibonceng hanya diam tidak menanggapi Zahira yang terus mengoceh. sudah biasa bagi Anin mendengar celoteh sahabatnya itu, Anin menatap lurus kearah jalan raya dan melamun. kemudian matanya melihat seseorang yang ia kenal, Anin mendelik ketika melihat Adnan yang sedikit jauh dari sana. Anin langsung meminta Zahira berhenti, gadis itu pun berhenti ketika dikejutkan oleh Anin. bagaimana Anin tidak terkejut melihat Adnan disana, pria itu berdiri ditengah jalan dengan melamun. itulah yang ditakutkan Anin, pria itu menjadi nekat dan akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri.
"tuan Adnan! " teriak Anin, gadis itu berlari tanpa melihat kendaraan yang melaju. bunyi klaskdon terus terdengar untuk Anin yang tidak memperdulikan kendaraan lewat, tujuannya hanya mencapai Adnan dan membawa pria itu ketepi jalan. begitu banyak kendaraan yang lewat ditempat Adnan, klakson juga terus berbunyi untuk menyadarkan Adnan.
Adnan yang sebelumnya berada dimobil, keluar dari mobil tanpa disadari Arzan. Adnan tidak ingin bersama siapapun, ia ingin sendiri dan memilih untuk berjalan kaki dijalan raya. bayangan sangat adik terus terlihat dimatanya, ia tidak bisa hidup tanpa kembarannya itu. Nadira adalah gadis yang menjadi cinta pertama Adnan setelah ibunya, pertama ia kehilangan gadis itu dan kedua kehilangan ibunya yang hampir gila. ia selalu mengatakan kalau ia akan membawa Nadira kembali, tapi setelah ia melihat kenyataan sang adik telah tiada, ia tidak bisa lagi hidup dengan kesedihan yang terus bertambah. Adnan tidak sadar berjalan ke tengah jalan, sampai sebuah cahaya lampu dari sebuah kendaraan mengganggu penglihatannya. mini bus yang menekan klakson semakin dekat kearahnya, Adnan tersenyum karena ia pasrah dengan hidupnya. untuk apa ia hidup jika orang yang ia sayangi menderita, Adnan memejamkan matanya dan tersenyum.
"Nana kakak ingin ketemu kamu, kalau bisa kakak akan menemani kamu dimana pun... "
__ADS_1