
Adnan tidur disofa, ia bergantian menjaga Davina dengan Dani. Adnan terbangun di malam hari, ia mendapat pesan di ponselnya. tentu saja itu pesan dari Maria, gadis itu bertanya bagaimana kabarnya dan juga kabar Davina. dengan perlahan Adnan membalas pesan itu, tidak disangkanya Maira membalas pesannya yang terkesan sudah larut.
Adnan dikenal sebagai orang yang berhati dingin, sifatnya sangat keras dua kali lipat lebih dari Adrian. orang bisa menyebut sifat Adnan itu seorang introvert, ya tidak peduli dengan siapapun. meskipun begitu hatinya tetap tulus, tetap memiliki hati yang baik seperti ajaran yang diajarkan Naira dan Adrian sejak kecil. ia tidak merespon siapapun yang mencoba mendekatinya, tapi kali ini berbeda. Maira selalu membuatnya ingin tersenyum, bahkan selalu ingin ada saat gadis itu membutuhkan bantuan.
setelah mengatakan selamat malam dan selamat tidur, Adnan memejamkan matanya dengan ponsel yang masih menyala. disana Maira juga sudah tidak membalas, keduanya kembali larut kedalam mimpi masing masing. hari terasa begitu cepat, seperti baru semenit yang lalu Adnan tertidur tapi sudah terbangun lagi. mata Adnan terbuka saat seorang perawat masuk, ia membantu Davina yang sedang duduk menunggu sarapannya tiba. disana Dani yang membantu sang adik, niatnya membiarkan Adnan tertidur semau pria itu.
"kenapa tidak bangunkan aku, bagaimana denganmu masih sakit? " tanya Adnan pada Davina, gadis itu hanya mengangguk pelan karena lehernya masih terdapat alat yang penyangga. Adnan tersenyum kemudian masuk kedalam kamar mandi, Dani yang melihat itu menggelengkan kepalanya.
"kakak... kak Nanan... dia sekarang sering tersenyum, kenapa ya... " ucap Davina pelan, Dani sendiri merasakan hal itu sejak melihat saudaranya itu kemarin. kemudian ia mengingat diri Maira, gadis yang pergi bersamanya dan memiliki adik yang sedang ia rawat.
"mungkin dia memiliki kekasih.. kemarin dia mengantar seorang gadis yang adiknya sakit, kebetulan aku dokternya! "
"oh ya.. siapa itu, apa kakak berkenalan dengannya? " tanya Davina yang sangat penasaran, karena ini pertama kalinya Davina melihat Adnan banyak tersenyum padanya ataupun pada orang lain.
"namanya... Maira kayaknya, aku lupa!" Davina yang mendengar itu menghela nafas, ia ingat Adnan yang mengantar Maira keluar kota untuk menjenguk sang adik.
"kakak... aku mengenal dia, Maira itu teman Nadira dan juga aku... mereka bukan kekasih, hanya teman biasa... " ucap Davina, Dani pun terkekeh kecil kemudian menyiapkan sang adik dengan sarapan.
Adnan ynag sudah menyegarkan diri keluar dari kamar mandi, ia menuju sofa untuk melihat ponselnya. Adnan terkejut dengan mata melotot, layar ponselnya menyala langsung menampilkan room chat dari Maira. bukan itu yang membuatnya terkejut, tapi sebuah emoticon "Love" yang ia kirim semalam. bukan sengaja ia mengirim emoticon tersebut, dan ia juga tidak tahu kapan jempolnya menekan benda itu. Adnan menarik pesan itu, ia tidak tahu Maira sudah melihatnya ataukah belum melihatnya.
"ada apa?" tanya Dani, Adnan menoleh dan menggelengkan kepalanya. pria itu ambruk diatas sofa, dengan memijat kepalanya yang tidak pusing. ia bingung bagaimana akan bertemu Maira, dan ia harus berpura pura hal itu tidak pernah terjadi.
__ADS_1
...****************...
Nadira siap pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Davina, saat ia menuruni anak tangga ia bertemu Adrian yang duduk di kursi roda. dua orang tuanya itu sedang menikmati sarapan pagi, Nadira mencium Adrian dan juga Naira secara bergantian. ia berpamit akan pergi ke rumah Davina, disana Naira menyiapkan beberapa camilan untuk dibawah anaknya.
Nadira masih dalam keadaan kebimbangan nya, ia menampilkan senyum sebaik mungkin agar Adrian atau siapapun bertanya tentang ada apa dengan dirinya. setelah Naira memberikan sebuah kotak makanan, Nadira berdiri berpamit pergi. secara kebetulan seseorang datang dari pintu utama, terlihat disana Johan dan Siska datang dengan senyuman berjalan kearah Adrian. tidak lupa disana ada Jonathan, anak dari dua orang itu.
Naira senang melihat mereka, Siska berlari kecil untuk memeluk Naira yang datang menghampirinya. tidak lupa menyapa Nadira yang masih berdiri disana, Johan menyapa Nadira kemudian berjalan kearah Adrian. Nadira menunduk sopan pada dua orang itu, tidak lupa juga menyapa Jonathan.
"maaf ya baru mengunjungi kalian, biasa Johan sibuk dengan pekerjaannya! " ucap Siska, Naira tersenyum dengan teman yang sudah ia anggap sebagai saudara itu.
"tenang saja, Johan kan juga membantu pekerjaan Adrian. biarkan dia sibuk, jangan menganggunya!" ucap Naira, keduanya tertawa disana. Nadira yang akan pergi pun ikut duduk dengan mereka, ia duduk disamping Jonathan yang sedang mengajaknya bicara.
"oh ya bagaimana dengan Davina, aku dengar dia kecelakaan? "
"begini saja bagaimana kalau kita mengunjungi Davina bersama, aku akan membantumu naik ke mobil. untuk Nadira ia bersama Jonathan, putraku membawa mobil sendiri tadinya! " semua orang setuju dengan pendapat Johan, Nadira pun tidak bisa menolak dan hanya mengangguk untuk mengiyakan. Nadira masuk mobil setelah Jonathan mempersilahkannya masuk, dua mobil itu meninggalkan rumah besar Adrian.
beberapa menit kemudian mobil itu sampai ditempat yang dituju, Nadira turun dari mobil dan mengucapkan Terima kasih. enam orang itu berjalan beriringan, Nadira berjalan disamping Jonathan yang membawa sebuket keranjang buah untuk Davina. Nadira tidak tahu hal itu disaksikan oleh Arzan secara langsung, pria itu menatap enam orang itu dari jarak jauh. ia juga memperhatikan Nadira yang tampak asik bicara dengan Jonathan, sesekali mereka saling menahan malu saat bicara. Arzan kesal melihat itu, beberapa hari Nadira mendiamkan nya dan sekarang melihat gadis itu sangat antusias bicara dengan Jonathan bahkan bersenda gurau.
mereka pun berkumpul diruangan Davina, Nadira yang melihat Adnan pun mendekat. mereka saling berbisik agar tidak terdengar siapapun, Adrian tersenyum dan bertanya tentang kesehatan Davina. gadis itu sangat senang banyak keluarganya yang berkunjung, meskipun terasa sakit ia masih bisa tersenyum melihat banyak orang menjenguknya.
"kok bisa kalian berdua mengalami hal yang sama, apalagi jaraknya waktu yang tidak lama! " ucap Nadia yang berdumel disebelah Naira, semua orang juga berpikir hal itu secara kebetulan. tidak seperti Nadira, karena ia tahu hal itu sangat tidak kebetulan atau disengaja.
__ADS_1
"iya ma untung saja Adrian tidak sampai parah, Davina juga untung cuman patah tulang saja!" ucap lembut Naira mengusap rambut Davina, itu sudah menjadi kebiasaan Naira yang menyangi semua orang.
"oma pertama jangan ngomel terus, Davina sedang sakit butuh disayang! " ucap Davina merengek manja, hal itu membuat semua orang tertawa dan juga Nadia yang langsung mengusap rambut Davina.
"oh Davina perkenalkan ini teman om, ini om Johan dan itu tante Siska, yang disampingnya adalah Jonathan putra mereka seumuran dengan kalian! " ucap Kara memperkenalkan keluarga kecil Johan, Jonathan memberikan salam dan menyerahkan keranjang buah yang diterima oleh Nadia.
"kalau lagi kumpul begini ingat jaman dulu ya, sebelum ada mereka semua! " ucap Riana disana, semua orang mengangguk disana.
"sekarang kita semua sudah tua, mereka sudah setinggi kita bahkan lebih tinggi! "
"kurang satu yang belum kelihatan, keluarga Bagas yang super sibuk! " ucap Risa memberikan buah pada semua orang, entah itu rumah sakit atau sedang rekreasi antara keluarga besar. senda gurau terjadi disana, melupakan mereka sedang berkunjung dirumah sakit.
"kalau dirumah sakit lain, keluarga ini pasti sudah ditendang oleh satpam. untung saja aku mengenal pemegang sahamnya, jika tidak behh.... " ucap Dani berbisik pada Nadira dan juga Adnan, Nadira menanggapi hal itu dengan tertawa. sampai secara bersamaan Arzan datang, pria itu tersenyum melihat semua orang yang ada disana. Arzan mulai memeriksa keadaan Davina, ia tersenyum karena Davina cukup baik dengan keadaan yang sekarang.
"kak Arzan biarkan aku pulang ya, aku sangat tidak suka dirumah sakit! " ucap Davina manja, Arzan tersenyum dengan itu.
"kau akan pulang dalam dua hari, makan dan istirahat yang cukup ya! " ucap Arzan lembut, semua orang disana tersenyum dan berterima kasih.
Arzan yang memiliki waktu luang, mengarah kearah Dani dan menyapa pria itu. Nadira menghindari Arzan berjalan kearah Adrian, disana Nadira memegang pundak Adrian untuk mengalihkan perhatiannya pada Arzan. tentu hal itu dirasakan Arzan, gadisnya sedang menghindari dirinya.
"Jonathan akan bingung memilih dua gadis disini, Jo kamu pilih yang mana. yang sedang sakit itu, atau yang sedang dekat dengan papanya! " ucap Siska bercanda dengan putranya, tentu membuat Jonathan malu dan berdehem pada sang ibu. semuanya tertawa dengan itu, karena berhasil menggoda Jonathan pria yang cukup pendiam bagi semua orang.
__ADS_1
"eitts... jangan salah, masih ada satu lagi. sibule cantik, dia masih diluar negara menyelesaikan kuliahnya! " ucap Nadia lagi, wanita cantik itu membahas cucu bungsunya. cucu dari putarra kesayangan mereka, yaitu anak dari Bagas dan juga Sonia yang sedang mengejar study di London. Nadira sekilas melirik Arzan, ia sadar Arzan sedang menatapnya akhirnya ia alihkan bicara dengan Adrian dan bersenda gurau.