Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Donor darah.


__ADS_3

kecelakaan yang tidak diinginkan semua orang terjadi, terjadi pada Adnan yang sedang merasa terpuruk. tubuh pria itu tertabrak sebuah mini bus hingga terpental dengan kasar, masih sempat tersadar dan tersenyum. penglihatan Adnan meremang, sampai seorang gadis berlari kearahnya. Adnan melihat itu seakan melihat sang adik berlari kearahnya, Adnan tersenyum kemudian menutup matanya karena hilang kesadarannya. Anin yang menyaksikan semuanya terlambat, ia terlambat mencegah hal itu terjadi. Anin menangis sejadi jadinya disana, ia menopang kepala Adnan dengan kakinya. ia terus meronta meminta tolong pada seseorang, salah satu krang berusaha menghubungi ambulan dan berkata ambulan akan datang. secara bersamaan mobil yang ditumpangi Arzan datang, kala itu Arzan sangat terkejut melihat keadaan Adnan. pria itu meruntuki kebodohannya, Arzan membawa Adnan dan juga Anin kedalam mobilnya, segera ia menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


"tuan bangun, kenapa kau melakukan ini... hiks... tuan Arzan ayo cepat, darah tuan Adnan terus keluar... " ucap Anin memgang kepala Adnan yang mengeluarkan darah, Arzan melihat itu menjadi gelisah dan terus melajukan mobilnya. sampai beberapa menit mereka sampai dirumah sakit, Arzan berteriak untuk memanggil dokter maupun perawat. sampai sebuah perawat membawa Adnan menuju ruang penanganan, Anin menangis menatap Adnan yang sudah tidak membuka mata lagi, tangisnya terus terdengar tanpa henti. sampai tubuh Anin ditahan oleh dokter, Adnan dibawa ke ruang operasi untuk ditangani. "tuan... " ucap Anin berada diluar, ia berada didepan pintu kaca disana. entah kenapa Anin merasakan sakit yang kuar biasa, ia merasakan betapa sakitnya Adnan hingga sampai seperti itu. Arzan melihat gadis itu yang berlumuran darah dipakainya, Arzan membawa gadis itu duduk dan mencoba untuk menenangkan gadis itu.


"dia akan baik baik saja, tenanglah! " ucap Arzan mengusap air mata Anin, tapi gadis itu semakin menangis tanpa bisa ditahan. ia tidak tahu kenapa ia menangis, sekarang yang inginkan hanya menangis. sampai Arzan memeluk tubuh gadis itu, ditenangkannya Anin dengan ucapan lembut.


"kenapa... dia ada disana... bagaimana bisa ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya... sedangkan banyak orang yang masih ingin ia hidup, masih banyak orang yang mencintainya... " ucap Anin menangis, ya benar adanya apa yang dikatakan gadis itu. Arzan juga merasa kesal dengan Adnan, pria itu tidak pernah melihat temannya menjadi lemah seperti itu. sampai seorang dokter keluar dari ruangan itu, Anin dan Arzan langsung berdiri dan mengharap dokter itu.


"apa yang terjadi Jo? " ucap Arzan pada dokter, dan kebetulan dokter itu adalah teman dari Arzan dan juga Adnan. dokter bernama asli Jonathan itu menghela nafas berat, terlihat pakaian yang ia kenakan penuh dengan darah.


"ia mengalami pendarahan hebat, tapi aku berhasil membuat pendarahan itu berhenti. Adnan kehilangan banyak darah, dan harus secepatnya diberikan darah untuk menyelamatkan nyawanya! "


"lalu apa lagi, lakukan itu! " ucap Arzan menyela karena sudah tidak sabar. Jonatan menepuk pundak Arzan, ia juga sama khawatirnya pada pria yang terbaring lemah didalam ruangan itu.

__ADS_1


"rumah sakit ini kehabisan darah seperti darah Adnan, karena itu kami masih mencari darah yang sama. dari kalian berdua apa ada yang berdarah AB, Adnan membutuhkannya sekarang! " ucap Jonatan, Arzan menggelengkan kepalanya karena darahnya bukan lah seperti yang dimaksud Jonathan. pria itu menoleh pada Anin, dengan wajah polos Anin menggelengkan kepalanya.


"aku tidak tahu darahku apa, kalau memang darahku sama dengan tuan. aku aka memberikannya sebanyak yang dokter mau, dan tuan Adnan butuhkan! " ucap Anin dengan yakin, Jonatan meminta perawat untuk membawa Anin. gadis itu dibawa untuk melakukan tes darah, kemudian mereka mendapat kabar baik dari darah Anin yang sama dengan Adnan. tidak berpikir lagi Anin siap dengan mendonorkan darahnya, dokter dan perawat pun membawa Anin untuk keruangan operasi ya akan dilakukan nya.


Anin memakasi pakaian khusus, ia dibaringkan disebelah Adnan. Dokter dan perawat pun memasang alat untuk penyaluran darah Anin ketubuh Adnan, dengan tersenyum Anin menatap wajah Adnan yang tidak sadarkan diri. ia berharap darahnya ini cukup untuk diambil, ia ingin Adnan sembuh dan tidak terbaring seperti sekarang. perlahan mata Anin merasa mengantuk, ia telah diberi infus agar beristirahat lebih banyak ketika penyaluran itu dimulai.


sampai darah yang dibutuhkan telah cukup, dokter menghentikan penyaluran tersebut. dua orang tidur dengan tidak kesadaran mereka masing masing. Anin sendiri merasa lemas, darahnya lumayan terkuras banyak. perawat membawakan tempat yang ditiduri oleh Anin, Arzan melihat perawat membawa Anin keluar dari ruangan yang sama dengan Adnan. dilihatnya gadis itu sangat pucat tidak seperti sebelumnya, bagaikan putri tidur yang Arzan lihat saat melihat Anin.


"dia akan bangun sebentar lagi, dia seorang malaikat!" ucap Jonatan tiba tiba, Arzan pun menoleh dan mengangguk mengiyakan. "masa krutus Adnan telah berakhir, aku masih tidak tahu kapan ia akan sadar kita tunggu dan berdoa saja! " ucap Jonatan lagi yang memberikan kabar tentang Adnan, Arzan hanya mengangguk dengan lemah. ia benar benar merasa sedih dengan Adnan, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk temannya itu.


...****************...


Anin terbangun dari tidurnya, ia merasa tenggorokannya sangat kering kering. ia menoleh kearah sampingnya, segelas air disana dan Anin menginginakan itu. tapi tangannya tidak sampai saat menggapai gelas itu, Anin bernafas pasrah dan memegang tangannya yang sakit akibat jarum menusuk disana. tenggorokannya benar benar kering, kemudian ia sadar Adnan yang belum ia ketahui bagaimana kabar pria itu. Anin mendudukan dirinya, ia menyingkirkan selimut dari tubuhnya. saat ingin pergi dari sana, tubuh Anin oleng dan hampir terjatuh jika sebuah tangan tidak menahannya. tangan itu adalah tangan Arzan, pria itu membawa Anin duduk dengan tenang dan memberikan gadis itu air.

__ADS_1


"apa kau ingin sakit, dokter bilang kamu harus beristirahat tidak boleh kemana pun! " ucap Arzan kemudian mengambil gelas yang sudah kosong, Anin menetralkan suaranya sebelum bicara.


"bagaimana keadaan tuan Adnan, aku ingin melihatnya.?. " ucap Anin serak, Arzan tersenyum kemudian mengusap pipi gadis itu.


"dia baik baik saja, sekarang dia hanya belum bangun! "


"izin kan aku untuk melihatnya, kumohon! " ucap Anin memohon seperti anak kecil, hal itu membuatmu Arzan tidak kuasa dan pada akhirnya menyerah. pria itu membawa Anin kedalam ruangan Adnan, mereka berhenti di depan pintu saja karena dokter melarang siapapun untuk masuk. Anin melihat Adnan dari pintu yang terdapat pantulan dari dalam, Adnan tidur dengan nafas normal masa pemulihan. Anin menangis melihat itu, ia mengusap air matanya berulang kali. meskipun bukan siapa siapa, Anin merasa sedih melihat pria itu tidak berdaya. Arzan kemudian membawa Anin pergi dari sana, gadis itu kembali kekamarnya untuk pemulihan tubuhnya.


seorang perawat datang membawa makanan dan juga minuman, Anin menatap makanan itu. Arzan meminta Anin untuk segera memakannnya, kemudian Arzan berpamitan untuk keluar karena mendapat telpon yang menurutnya penting. Anin bersumpah pada dirinya sendiri, jika Adnan tidak bangun maka dirinya tidak akan makan ataupun minum. ia berdoa agar Adnan segera bangun, agar melihat pria itu tersenyum lagi padanya seperti sebelumnya.


...****************...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN BERI DUKUNGAN SEMANGAT BUAT AUTHOR <3

__ADS_1


__ADS_2