Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sahabat Nadira.


__ADS_3

Nadira pulang ke rumahnya saat siang hari, tidak ada siapapun dirumah itu. pikirnya semua orang sudah pada pekerjaan nya masing masing, dan hhhanya tersisa sang ibu yang sedang istirahat didalam kamar. Nadira memang tidak pernah keluar dari kamarnya saat siang, ia selalu berdiam diri dikamar menunggu Adrian datang. disaat itulah Nadira bisa keluar dari kamarnya, karena Adrian memapahnya untuk turun kebawah. meskipun kakinya sembuh dan bisa berjalan, tapi Naira tetap tidak bisa berjalan dengan lancar dan harus menggerakkannya dengan perlahan.


Nadira berjalan kearah dapurnya, ia mengambil beberapa buah dan juga jus disana. sampai sudah selesai ia membawa bawaannya itu menuju kamar, tapi niatnya terjeda saat ada seseorang menaabraknya hingga barang yang ia bawa berjatuhan. seorang pelayan menabraknya, Nadira memejamkan mata karena tersiram air jus ditangannya.


"maaf nona, maafkan saya! " ucap pelayan itu, Nadira membuka mata dan melihat pelayan yang menabraknya. "Anin... "


"Maira! " ucap Nadira memanggil si pelayan, ternyata pelayan yang menabraknya adalah Maira sekaligus teman Nadira. Maira membantu Nadira berdiri, ia membersihkan wajah Nadira dengan tisu yang ada diatas meja. "kamu bagaimana bisa ada disini! " ucap Nadira, Maira pun tersenyum dan menunjukkan pakaiannya.


"aku disini bekerja, biasa aku merantau jauh untuk mencari uang! " ucapnya, Nadira memintanya untuk duduk dan mengobrol. Maira adalah sabahat Nadira sejak sekolah dasar, kemana pun merekaa akan pergi berdua. mereka berdua terpisah ketika Nadira dibawa pergi oleh Adnan, sejak saat itu tidak ada kabar lagi tentang Nadira pada Maira begitu pun sebaliknya.


"aku tidak percaya bertemu denganmu disini, kangen sekali! " ucap Nadira memeluk Maira, mereka berdua saling girang dan memeluk tersenyum.


"jadi kamu menikah dengan keluarga ini, wahh kamu majikanku sekarang! " ucap Maira menepuk tangan, Nadira menggelengkan kepalanya yang membuat Maira heran.


"aku belum menikah, dan ini adalah rumah keluargaku. keluarga yang sebenarnya, aku tahu satu tahun yang lalu! " ucap Nadira, Maira yang terkejut hanya terdiam mendengar cerita Nadira. gadis itu mulai menceritakan kisahnya dari awal, Maira yang mendengar itu ikut sedih dan juga merasa senang. karena sahabatnya itu telah menemukan keluarganya, dilain sisi kekasihnya adalah kakak kembar nya.


"yang penting sekarang kamu bertemu keluargamu, dan masalah pasangan nanti pasti dapat yang lebih baik! " ucap Maira tersenyum, Nadira mengangguk dengan itu.


"hm.. namaku Nadira, bukan Anin. disini terbiasa dengan Nadira, jadi mungkin aku akan lupa jika seseorang memanggilku Anin! " ucap Nadira, Maira mengangguk dan menunduk sopan di hadapan Nadira.


"tentu saja nona Nadira, saya akan menyebutkan nama itu! "


"jangan terlalu sopan padaku, bersikap biasa saja seperti dulu! " ucap Nadira, hal itu mendapat anggukan dari Maira. gadis itu membersihkan buah yang berjatuhan, saat Nadira akan membantu Maira menolak dengan keras dan meminta Nadira untuk diam. kini Nadira tidak merasa kesepian jika dirumah, ada Maira yang sebagai pelayan dan juga akan menjadi temannya bicara.

__ADS_1


seharian Nadira malas malasan, ia tidak berniat pergi ke butik atau pun kantor. bahkan biasanya dirinya akan bersemangat pergi ke rumah sakit, menemui sangat kekasih Arzan yang selalu menunggunya pulang. hari ini pun terlihat cuaca sangat buruk, awan mendung gelap dan hujan tidak berhenti. semakin malas Nadira ingin keluar, hawa dingin membuatnya harus bersembunyi didalam selimut. saat bersamaan Maira datang membawa pembersih debu ditangannya, Nadira yang melihat itu menatap Maira.


"oh iya Mai, kamu sudah menikah atau belum? " ucap Nadira yang ingin ia ajak ngobrol, Maira menyalakan alat pembersih itu dan mulai melakukan pekerjaannya.


"aku belum menikah, masih single sejati!" ucap Maira tertawa, Nadira pun ikut tertawa dengan itu.


"harusnya kamu bilang padaku kalau butuh pekerjaan, aku punya toko butik dan kau bisa bekerja disana! " saut Nadira, Maira hanya diam dengan melakukan tugasnya. "tapi tidak masalah, kau ada disini untuk menemaniku! " ucap Nadira lagi, Maira tersenyum dan mengangguk dengan itu. Nadira yang melihat temannya bekerja itu, menarik tangan Maira untuk duduk dikasurnya.


"apa yang anda lakukan, saya harus membersihkan kamar ini! " ucap Maira dengan sopan, Nadira tidak suka mendengar itu karena merasa Maira adalah temannya bukan pelayannya.


"aku tidak suka kau bicara seperti itu, kau ini temanku bukan pelayan ku! " ucap Nadira, Maira menghela nafas kemudian duduk disamping Nadira tanpa sungkan lagi.


"memangnya kamu mau apa, kenapa menggangguku bekerja! " ucap Maira pelan, Nadira tersenyum disana. sampai mereka pun asik mengobrol dan lupa waktu, Maira bahkan melupakan tugasnya sebagai pelayan dirumah itu dan memilih untuk menemani Nadira bicara.


malam harinya Nadira berdiri didepan pintu utama rumahnya, ia melambaikan tangan pada mobil yang baru saja datang. mobil itu milik Adnan, sang kakak datang bersama Arzan didalam mobilnya. Nadira senang berlari kearah mereka, kemudian seperti biasa dua pria itu akan memberikan senyuman terbaik untuk Nadira. mereka bertiga berjalan bersamaan, mulai memasuki rumah besar itu.


"kemana kau seharian? " tanya Adnan, Nadira tersenyum dan menatap sang kakak.


"aku tidur seharian, hari ini malas kemana pun karena hujan! " saut Nadira, Adnan tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar itu.


"dia bahkan tidak menjemputku! " saut Arzan, Adnan menyikut perut Arzan dengan pelan karena kesal.


"kenapa kau meminta adikku jadi supir, bukankah kau punya mobil sendiri untuk pulang pergi! " saut Adnan kesal, Arzan dan Nadira tertawa dengan itu. Nadira menghentikan kemurkaan Adnan sebelum terlambat, dan Adnan pun hanya diam dan berpikir ia tidak marah dengan apapun.

__ADS_1


baru saja mereka sampai didapur, ketiganya mendengar suara bising dari arah belakang. tepatnya arah berlawanan dari mereka, Nadira seperti mengenal suara itu. dengan perlahan ketiganya melihat apa yang terjadi, sampai terlihat seorang kepala pelayan yang memarahi pelayannya. Nadira terkejut disana, karena yang berada diposisi itu adalah sahabatnya.


"pekerjaan tidak selesai semua, kamu sehari bekerja apa. apa kau tidur, apa kau sudah tidak butuh uang lagi! " teriak kepala pelayan dengan suara lirih, Maria menunduk mengucapkan maaf. karena jika ia mengaku seharian bersama Nadira, kepala pelayannya mungkin tidak akan percaya.


"dia bersamaku, apakah tidak boleh? " ucap Nadira yang kesal, Maira menoleh dan menggelengkan kepalanya. Adnan dan Arzan pun terkejut melihat Nadira seperti itu, tiba tiba membela seorang pelayan. kepala pelayan disana terkejut melihat tiga orang itu, pandangannya langsung menunduk sopan.


"maaf nona Nadira, saya tidak mengerti maksud anda! " ucap kepala pelayan itu, Nadira melewati wanita itu dan mengaarah kearah Maira yang menatapnya sambil menahan tangis.


"dia memukulmu ya, pasti sakit! " Maira menggelengkan kepalanya, ia menghapus air matanya yang menetes. "maksudku adalah, dia tidak akan bekerja lagi sebagai pelayan. dan kamu tidak berhak memarahinya apalagi sampai memukul, bagaimana bisa kamu memukul seseorang! " ucap Nadira kesal, ia menarik tangan Maira untuk mendekat kearah Adnan. "kak Nanan dia ini adalah sahabat Nadira dulu, dia disini merantau untuk mencari uang. sekarang dia tidak akan menjadi pelayan lagi, dia akan bekerja dibutikku dan dia akan menemaniku setiap hari! " tegas Nadira, Adnan yang mendengar itu menggelengkan kepala membuat Nadira kecewa dan bertanya tanya.


"sebelum itu, suruh kepala pelayan memecat temanmu ini. agar dia bisa bekerja denganmu! " ucap Adnan tersenyum, Nadira senang dengan itu dan tersenyum kearah Maira. dengan cepat Nadira melepas celemek yang dipakai Maira, dan memberikannya pada kepala pelayan itu.


"selamat dia dipecat, kamu cari penggantinya ya kakak! " ucap Nadira tersenyum, gadis itu membawa Maira pergi dari sana. Maira yang masih diam memberi sapaan pada Arzan dan juga Adnan, sebelum Nadira menariknya hingga masuk kedalam kamar. Adnan dan Arzan melihat itu menggelengkan kepalanya, Arzan tersenyum sendiri dan duduk untuk meminum air.


"dia benar benar adikku, dan kapan dia akan dewasa! " ucap Adnan, Arzan tertawa dengan itu.


"usianya saja yang tua, tubuhnya masih remaja! " ucap Arzan, keduanya saling tertawa satu sama lain.


...************...


Maira


__ADS_1


__ADS_2