Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Penyakit adiknya.


__ADS_3

Nadira melamun didapur besar rumahnya, ia mengisi air mineral didalam gelas. ia menyiapkan makanan yang akan diantar pada Adrian, pria itu sakit dan hanya Nadira yang bisa naik turun tangga untuk menyiapkan segalanya sendiri. semenjak dirinya mendapat telpon misterius, Nadira menjadi tidak tenang. ia melarang pelayannya melakukan aktivitas yang bersangkutan dengan keluarganya, bahkan menyiapkan makanan pun Nadira hari s melihat nya sendiri dimasak seperti apa.


air yang diisi sudah penuh, tapi Nadira masih saja terus melamun hingga airnya mulai menuju lantai. dirinya dikejutkan oleh suara Adnan, pria itu langsung mematikan air itu dan mengambil gelas yang dipegang Nadira. gadis itu sendiri menarik nafasnya, ia menjadi panik semua lantai basah karena kesalahannya.


"apa yang kau pikirkan? " ucap Adnan kemudian, Nadira menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. Adnan memberikan air dalam gelas yang baru, Nadira membawa makanan yang siap dihidangkan pada Adrian. disana Adnan mengikuti langkah Nadira, mereka berdua berjalan hingga kekamar Adrian yang sedang terbaring disana.


"kenapa perlu repot repot, kan banyak pelayan disini! " ucap Naira mengambil nampan makanan ditangan Nadira, dengan senyuman Nadira duduk di samping Adrian yang tersenyum menatap keduanya.


"masakanku lebih enak dari masakan pelayan, pasti nanti papa minta tambah! " ucapnya senang, Naira dan Adrian tersenyum dengan itu.


"kamu tidak pergi kebutik, ini hampir siang!" ucap Adrian, Nadira menggelengkan kepalanya.


"Nadira mau dirumah saja, malas pergi kemana mana! " saut Nadira, Adrian tahu gadis itu sedang mengkhawatirkan nya. Adnan sendiri tersenyum pada Naira, tidak lupa mencium pipi ibunya sekilas.


"Adnan kekantor dulu ya, Nana jaga papa dan mama ya! " Nadira mengangguk dengan hormat, Adnan tersenyum dengan hal itu.


"kak nanti minta tolong lagi ya, jemput Maira dibutik. dia berangkat naik taksi tadi, dan aku tidak mau dia naik taksi lagi!" ucap Nadira sebelum Adnan pergi, pria itu mendengar tanpa menjawab.


"kenapa kau tidak memberinya kendaraan, kan kasian dia kemana mana pakai taksi! "

__ADS_1


"Maira tidak bisa naik mobil, dia hanya bisa naik motor saja. aku kan tidak punya motor, beli pun masih belum punya waktu!" ucap Nadira, kemudian gadis itu melihat kearah Adnan dengan mengharap Adnan mengatakan setuju. tanpa bicara Adnan mengangguk kemudian pergi, Nadira mencibir saudara kembarnya itu. ia berpikir pria itu pasti dalam mode yang tidak mood, dan entah apa penyebabnya.


Maira sendiri baru saja keluar dari apartemennya, ia bingung antara naik bis atau menghadang taksi. ia berjalan sampai di sebuah halte pemberhentian bis, ia menunggu beberapa menit tapi tidak kunjung datang bis yang biasanya datang. Maira pun memilih untuk menaiki taksi, ia menghadang beberapa taksi yang lewat tapi tidak ada yg ingin berhenti untuknya. sampai dering telpon terdengar dari ponselnya, disana tertulis nama Suster Ani yang berarti pengasuh adiknya dikota lain.


"halo Sus, ada apa? " ucap Maira mengangkat telpon miliknya, ia tidak mendengar suara suster Ani hanya mendengar suara kebisingan beberapa orang disana. "Sus halo, apa uang yang saya transfer kemarin kurang, nanti saya transfer lagi! "


"mbak Mai, ini Mario... dia kumat mbak, tadi kejang kejang sampai semua dokter turun!"


waktu rasanya berhenti bagi Maira, Mario adalah adik semata wayangnya dan keluarga satu satunya yang ia miliki. anak remaja berusia 18 tahun itu, harus mengidap penyakit leukimia yang harus berada dirumah sakit sepanjang waktu. mendengar hal itu Maira meneteskan air mata, ia panik dan berniat untuk pulang menemui sangat adik. Maira berlari kearah gedung apartemennya yang tidak jauh, berlari tanpa melihat jalan sampai hampir mobil menabrak tubuhnya. Maira sedikit berteriak, mobil itu berhenti tepat dihadapan Maira.


siapa duga mobil itu milik Adnan, dari dalam Adnan menghela nafas tidak sampai menabrak orang. pria itu turun, dan menatap gadis yang ada di hadapan mobilnya. ia terkejut melihat gadis itu ternyata Maira, Adnan menatap Maira yang ketakutan dan gemetar terlebih lagi air mata yang berurai.


"aku harus pergi, tolong sampaikan pada Nadira. aku akan pulang kerumahku, adikku sedang kumat dia membutuhkan aku!" ucap Maira menangis, berulang kali ia menghapus air matanya. Adnan yang melihat itu iba, ia mengikuti langkah Maira yang memasuki lift.


setelah masuk kedalam kamarnya, Maira memasukkan beberapa baju didalam tas. ia juga mengambil uang yang akan ia bawa, kemudian meletakkan beberapa kunci yang tidak harus ia bawa. disana Adnan mengambil tas yang dibawa Maira, gadis itu hanya diam mengikuti langkah Adnan yang membawa tasnya.


"Terima kasih tuan, aku pamit dulu! " ucap Nadira ingin mengambil kopernya, Adnan memasukkan koper itu kedalam mobilnya.


"masuk mobilku, akan aku antar! " ucap Adnan acuh, Maira berdiri disamping mobil Adnan dengan terheran. "apa kau tuli, tidak mungkin kau akan naik taksi kemudian naik kereta. itu butuh waktu lama, naik mobil aku akan mengantarmu sampai kerumah sakit! " ucap Adnan lagi karena kesal melihat Maira diam, gadis itu berpikir ucapan Adnan benar dan langsung masuk kedalam mobil. Adnan melajukan mobilnya, sesekali ia menatap Maira yang menelpon dengan air mata yang bercucuran.

__ADS_1


...****************...


Maira berlari di gedung rumah sakit, ia mencari keberadaan Suter yang menjaga adiknya. sampai ia melihat suster Ani yang ia cari, suster itu terlihat senang melihat Maira datang meskipun wajah gadis itu sudah penuh dengan air mata. Adnan mengikuti langkah Maira, ia berhenti sedikit jauh dari jarak Maira dan suster Ani.


suster itu menceritakan kejadian bagaimana Mario kejang, sampai dokter hanya melarang nya masuk hingga empat jam lamanya. Maira berdiri di pintu kaca yang menampilkan adiknya, ia menangis melihat Mario yang tertidur dengan banyak kabel di tubuhnya. hatinya sangat sakit melihat itu, tangisnya bahkan tidak dapat berhenti. sampai seorang dokter keluar dari ruangan itu, kemudian menghampiri Maira yang juga menghampirinya.


"dia mengalami panas tinggi hingga menyebabkan kejang, untuk sekarang pasien sudah aman. hanya saja kami tidak tahu sampai kapan adik anda akan bertahan, karena diusianya yang masih kecil itu sangat mengkhawatirkan! " jelas dokter, Maira mengusap air matanya dengan cepat.


"dokter lakukan operasinya, saya akan carikan uang itu secepatnya. tapi bantu adik saya, dia kesayangan saya dokter! " ucap Maira mulai terisak lagi, dokter itu mengangguk dengan menghela nafas.


"saya akan berusaha! " ucap dokter itu, kemudian berjalan meninggalkan Maira disana. sejenak dokter itu melirik Adnan yang berdiri agak jauh, dokter itu sedikit menaikkan alisnya menatap Adnan. dokter itu berjalan kearah Adnan, tentu membuat Adnan bingung dan hanya berdiri sedikit sopan. Adnan menatap dokter yang terus menatapnya, sampai dokter itu membuka masker yang ia pakai. membuat Adnan terkejut, ia terpenganga melihat dokter yang berdiri dihadapannya.


"Dani! " panggil Adnan, dengan senyuman dokter bernama Dani itu tersenyum.


"wah kebetulan sekali kak Adnan, sedang apa kamu disini! " ucap Dani, pria bernama Dani adalah anak dari pasangan Riana dan juga Daniel sekaligus kakak dari Davina uang bekerja sebagai dokter. Dani sama seperti Daniel, menjadi dokter hebat diusianya yang masih terbilang muda.


"kata Davina kau pindah, kenapa masih disini?" ucap Adnan, mereka saling memeluk satu sama lain karena lama tidak bertemu.


"iya, surat tugasnya belum turun. jadi aku masih disini, gak lama lagi kok bakal pindah kesana! " saut Dani, mereka saling bercengkrama mengabaikan Maira yang menangis didalam ruangan sang adik. Adnan kemudian melirik kearah Maira, hal itu membuat Dani tersenyum kemudian membawa Adnan pergi dari sana agar bisa mengobrol lebih lama.

__ADS_1


__ADS_2