Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Perjodohan.


__ADS_3

setelah beberapa hari, kepulangan Davina membuat beberapa keluarga berkumpul lagi. mereka berada dirumah besar milik Kara, rumah sebelumnya Kara merenovasi rumah itu semakin besar. rumah orang tua Nadira telah dijadikan satu dengan rumah orang tuanya, tentu saja itu sudah mendapat persetuan semua orang. rumah itu menjadi tiga kali lipat lebih besar, tersedia banyak kamar yang sudah dipersiapkan disana. keluarga besar itu berkumpul atas undangan Kara, bahkan tidak lupa Johan dan juga Arzan yang sudah dianggap sebagai keluarga mereka.


mereka merayakan kesembuhan Adrian dan juga Davina yang perlahan sehat kembali, piknik keluarga yang diadakan didalam rumah sendiri. para anak anak generasi muda itu, berkumpul dan bersenandung ceria. para orang tua yang pernah muda itu, juga berkumpul dan saling membicarakan putra dan putri mereka masing masing. Nadira sendiri sudah bisa melupakan masalahnya ia bisa dekat dengan Arzan meskipun tidak seperti sebelumnya, menurut Arzan sendiri kini hubungannya dengan Nadira adalah hubungan tanpa status yang tidak ada ujungnya. sedang asik bernyanyi suara denting gelas terdengar, tidak jauh dari mereka Johan yang membunyikan gelas itu.


"ada yang mau saya bicarakan tentang hal penting, kebetulan semua keluarga sudah berkumpul disini! " para anak anak berjalan lebih dekat, mereka membentuk bundaran di tengah halaman belakang rumah itu.


"apa yang mau dibicarakan Johan, apa penting? " tanya Naira pada Siska, yang ditanya pun menggelengkan kepala yang juga tidak mengerti sama dengan Naira.


"saya orang tua dari Jonathan, ingin melamar salah satu dari putri rumah ini untuk Jonathan. tentunya gadis itu adalah Nadira, putri dari Nadira dan juga Adrian! "


hal yang tidak terduga terucap oleh Johan, membuat semua orang terdiam. dan memang Johan sudah membicarakan hal tersebut dengan Adrian, tanggapan Adrian jika orang tuanya setuju maka dirinya setuju. Kara, Febriyan, dan juga Vano yang hadir disana tertegun, mereka yang tertua pun tidak mengetahui hal tersebut akan terjadi.

__ADS_1


"sebenarnya.. Johan sudah membicarakan hal ini sejak lama, hanya saja aku belum menyampaikan hal ini kepada kalian. karena batas pertemuan kita belum sempurna, tidak bisa dibicarakan hanya melalui seseorang. aku menghargai pendapat kalian, apapun pendapatnya itu! " ucap Adrian membantu Johan bicara, Naira dan Siska saling melihat dalam hati mereka senang jika akan menjadi besan. Naira melihat kearah Kara dan Vano yang diam, dua manusia itu seakan berpikir kemudian menatap Naira yang tersenyum pada Naira.


"kenapa menunggu pendapat kami, kami sudah tua dan kami hanya kakek dari anak anak kalian. yang berhak memutuskan hidup anak kalian, adalah kalian sendiri dan pendapat dari anak kalian! " tentu ucapan Kara itu adalah pertanda persetujuan, pria itu setuju jika Johan dan Adrian menjadi keluarga yang sebenarnya. Naira dan Siska tersenyum, mereka berdua memeluk kegirangan satu sama lain. para orang tua itu sibuk dengan kebahagiaan mereka, sampai melupakan pendapat anak anaknya.


Adnan melihat kearah Nadira, gadis itu tampak terdiam tidak mengatakan apapun. gadis itu meremas kain dress nya dengan erat, dengan cepat Nadira berlari dari sana untuk masuk kedalam. Adnan yang akan mengejar ia urungkan, karena Kara menahan lengan Adnan dan menggelengkan kepalanya.


"Adrian jangan senang dulu, bicarakan hal ini empat mata dengan putrimu. dia tampak kesal, coba susul! " ucap Kara dan Vano mengangguk disamping Kara, Adrian mengangguk dengan hal itu. Adrian merapikan jasnya dan berjalan untuk menyusul sang anak, Nadira sendiri berlari kearah kamarnya.


"kamu kesal?" tanya Adrian, Nadira tidak bicara hanya menganggukkan kepalanya tipis. Adrian menarik Nadira hingga terduduk, pria itu mengusap lembut anak rambut yang menutupi wajah Nadira. "kenapa kesal, kan itu hanya keputusan kami. selebihnya kamu bisa memutuskan, jika kamu setuju atau tidak kami masih menghargainya! " ucap Adrian, Nadira masih meneteskan air matanya.


"Nana... tidak ingin menikah dengan cepat, Nana masih ingin bersama papa! " ucap Nadira menangis, Adrian tersenyum dengan itu. ia memaklumi sifat putrinya itu, karena memang ia haus akan kasih sayang darinya dan juga Naira. sebenarnya Adrian juga tidak rela putrinya itu menikah, tapi mau bagaimana lagi usia Nadira sudah semakin dewasa dan siap untuk menikah.

__ADS_1


"papa tidak memaksamu, cuman papa ingin bilang. usiamu sudah semakin dewasa, harus ada yang menjagamu lebih dari seperti kakakmu. memang sekarang banyak yang menjagamu, ada Kak Nananmu.. kak Arzanmu... kak Dani, dan semuanya, tapi kami semua tidak bisa menemanimu sampai tua kan! " ucap Adrian lembut, Nadira terdiam dengan hal itu. tentu hal itu tidak bisa terjadi, tapi dirinya juga tidak bisa mengatakan kalau dirinya sangat mencintai kak Arzan nya. "sekarang jangan menangis lagi, cuci muka dan kembali kebawah. kamu tidak mau kan kalau mama Nai mu khawatir, hmm? " ucap Adrian lagi, Nadira mengangguk dengan hal itu. Adrian tersenyum meninggalkan kamar Nadira, gadis itu menutup dirinya dengan selimut dan suara ketukan pintu terdengar membuatnya mengintip dibalik selimut. "ayah tunggu lima menit!" ucap Adrian yang mengeruk pintu, Nadira mengangguk tanpa menjawab.


ketukan pintu terdengar lagi, Nadira membuka sedikit selimutnya dan melihat sang ayah berdiri disamping pintu. "lima menit Nana... "


"iya papa... Nana akan turun, papa kesana saja dulu! " ucap Nadira kesal, Adrian tertawa kemudian pergi. tapi semenit kemudian terdengar lagi suara ketukan pintu, Nadira yang masih didalam selimut kesal dengan itu. "iya papa... " sentak Nadira yang kesal, tapi ia terdiam ketika yang mengetik pintu bukanlah Adrian melainkan Arzan. pria itu tersenyum, masuk kedalam kamar Nadira dengan santai.


"aku bertemu papamu barusan, dia terlihat senang. pasti kau setuju dengan perjodohan ini, hmm sekarang sudah jelas ya kan.. " Arzan menghentikan ucapannya, ia melihat sebuah kalung dimeja. kalung itu adalah milik Nadira, kalung pemberiannya dan Nadira memiliki janji tidak akan melepas kalung itu sampai kapanpun. "aku tidak mengerti ada apa denganmu, jika kau sudah menyukaimu katakan saja jangan menggantungku seperti ini! " ucap Arzan kesal, Nadira melupakan kesedihannya dan tersenyum.


"kau benar dulu, kau adalah kakak kedua bagiku. kakak yang terbaik bagiku, dan kau tidak bisa menjadi kekasihku ataupun suamiku! " ucap Nadira, Arzan terdiam dengan itu. "orang tua ku sudah memilihkan seseorang untukku, dan semoga ibu Zania mencarikan gadis yang pas untukmu! " Nadira memeluk Arzan dengan menahan tangis, tepat ditelinga Arzan Nadira mengucapkan kata maaf dengan gemetar. setelah itu Nadira meninggalkan Arzan, Nadira menahan tangisnya dan berlari menjauh. ia tidak ingin mengambil resiko lagi, dengan menerima perjodohan itu keluarganya akan jauh dari bahaya. memang akan menyakiti perasaan Arzan karena itu juga menyakiti perasaannya, tapi keluarganya lebih penting dan utama bagi dirinya. ia bisa mengorbankan seluruh kebahagiaannya, demi keluarganya selamat dan bahagia.


Arzan terduduk lemas dikasur besar itu, ia kesal dengan melempar kalung yang ia genggam. Arzan mengusap wajahnya, matanya merah menahan tangis yang ingin ia keluarkan. menggenggam erat tangannya, sampai otot tangannya keluar dengan sendirinya. ia tidak rela Nadira mengatakan hal itu, karena Nadira hanya miliknya dan tidak bisa dimiliki orang lain menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2