Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Mulai awal yang baru.


__ADS_3

beberapa bulan pun berlalu, Nadira dan Adnan banyak berubah. Nadira diajari dalam hal apapun dirumah itu, bahkan Adrian memberikan mobil untuk dipakai gadis itu. Adnan bekerja dengan Nadira dikantor, adiknya menjadi tangan kanan Adnan karena ingin mengajari gadis itu agar pintar.


hari ini Nadira menyetir mobil dengan tergesa-gesa, bagaimana tidak disampingnya terdapat satu manusia yang setengah sadar. manusia itu adalah kakaknya, yaitu Adnan yang sedang mabuk berat. Adnan terus mengigau hal yang konyol, tertawa sendiri didalam mobil. sampai dihalaman rumah nya, Nadira menghentikan mobilnya tepat didepan pintu besar itu.


"kok berhenti, ah... kamu tersesat ya... " ucap Adnan ngelantur, Nadira tidak peduli dan turun dari mobilnya. ia sebenarnya kesal, mendapat telpon dari Arzan kakaknya itu sedang mabuk berat.


Nadira membawa tubuh Adnan yang berat, langkahnya benar benar berat saat Adnan tidak mau berjalan. sungguh menguji kesabaran Nadira, ia menghela nafas berulang kali. pria itu diseret oleh Nadira, kemudian Adnan berjalan dengan sendirinya. meskipun berjalan lurus tapi masih sempoyongan, Nadira sendiri tidak tahu kenapa Adnan minum dengan banyak. padahal ayahnya melarang keras dirinya untuk minum, apalagi minuman sejenis itu.


Nadira terkejut melihat bayangan seseorang dari atas tangga, Nadira menyeret Adnan untuk bersembunyi dibalik sofa. karena Adnan yang terus mengoceh, Nadira membengkap mulut itu.


"Nanan jangan berisik, ada yang datang! " bisik Nadira, Adnan memegang mulutnya untuk mengisayratkan diam. benar dugaan bayangan yang dilihat Nadira adalah Adrian, sang ayah berjalan kearah dapur dengan membawa sebuah gelas ditangannya. "haduh bagaimana aku membawa nya, papa akan marah jika melihat kita! " gumam Nadira, Adnan masih setengah sadar memainkan rambutnya. jika melihat Adnan seperti itu, bukan hanya Adnan yang akan kena marah tapi juga dirinya yang berusaha membantu.


setelah Adrian masuk kedalam dapur, Nadira membawa Adnan tanpa membuat suara. entah Adnan mengerti atau tidak, pria itu terdiam tidak merancau lagi. berhasil dibawa kedepan kamar Adnan, tapi pintunya terkunci. Nadira sangat kesal, ia merogoh setiap kantung ditubuh Adnan.


"jatuh... barangku terjatuh... hmm... " ucap Adnan menunjukk, benar itu sebuah kunci Adnan menjatuhkannya. Nadira dengan pelan ia berjalan berjinjit, sampai mengambil kunci itu dan melihat Adrian yang sudah selesai dengan urusannya. Nadira berlari membuka pintu dengan cepat, dan menyeret Adnan untuk masuk kedalam kamar. tubuh Adnan terbanting dikasur, tapi pria itu masih bicara tidak jelas. Nadira menghela nafas dibalik pintu, sungguh usianya serasa sudah lebih tua dari sebelumnya. "aku tidak bisa melupakanmu... hm... aku ingin bangun dari mimpi ini... " rancau Adnan, Nadira menghela nafas dengan itu. ia tahu kenapa Adnan seperti itu, sepertinya pria itu masih memikirkan nya dan belum bisa menerima nya.


"kau sangat galak sekarang, aku tidak menyukainya! " ucap Nadira memukul dahi Adnan dengan pelan, pria itu malah tertawa dengan wajah tampannya yang merah itu. Adnan menarik Nadira dalam pelukannya, pria itu dengan cepat mencium pipi Nadira tanpa ijin. tentu membuat Nadira terkejut, ia melihat senyum Adnan yang manis tanpa dosa.

__ADS_1


"aku suka dengan pipimu, hehe... " ucap Adnan lagi, itu jujur adanya karena Adnan menyukai pipi gembul Nadira. dengan jahat Nadira memukul dada Adnan, pria itu tertawa renyah membuat suara yang keras.


"Nanan jangan berisik, ada papa! " ucap Nadira membekap mulut Adnan, kemudian Nadira berdiri dan menyelimuti Adnan yang mulai tenang. "akhirnya... " ucap Nadira, ia tersenyum dan berniat keluar dari kamar itu. dirinya dikejutkan Adrian yang berdiri didepan pintu, Nadira terkesiap dan menjatuhkan ponsel yang ia bawa.


"kalian baru pulang? " tanya Adrian datar, karena sebelumnya mereka pergi bersama untuk jalan jalan. Adrian melihat jam besar di dinding rumah itu, waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


"iya pa, tadi ban mobil Nadira bocor jadi ditembel dulu! " ucap Nadira tersenyum, Adrian tersenyum dan mengusap rambut Nadira dengan lembut.


"kamu pasti lelah, wajahmu kelihatan pucat. pergi istirahat sekarang, besok bangun pagi untuk ikut kakakmu bekerja! " saut Adrian, Nadira mengangguk. ia merangkul Adrian untuk pergi dari sana, ia berniat membawa Adrian untuk tidak dekat dekat kamar Adnan.


"cium... aku ingin cium pipi mu Nana.. haha... " suara itu terdengar sampai diluar kamar Adnan, bagaimana tidak suara Adnan sangat keras. Adrian menghentikan langkahnya kemudian menatap Nadira, dengan tersenyum Nadira menatap sang ayah.


"Nana... buka pintunya, aku ingin memegang pipimu! " rengek Adnan mengetuk pintu, tiba tiba ia melihat Nadira berdiri didepan pintu. gadis itu sudah sangat panik, berkeringat dingin tangannya dicengkram Adrian. tapi manusia didepannya itu seperti orang idiot, sungguh kebodohan yang menguji kesabaran. "Nana sini... cium lagi! " ucap Adnan menarik Nadira, tapi tangannya masih digenggam oleh Adrian.


"Nanan... " ucap Nadira menoleh kearah Adrian, pria itu sudah gelap mata dan siap meledakkan kemarahannya.


"hei kau siapa, lepaskan tangan adikku! " ucap Adnan memukul tangan Adrian, dan ditariknya Nadira kedalam pelukannya. "Nana.. kamu baik baik saja, utututu pasti sakit... " Nadira sungguh ingin berteriak dan menangis, pria itu tidak melihat didepannya itu seperti singa yang menahan marah. tiba tiba Adnan mencium pipi Nadira dengan gemas, hal itu membuat Nadira mendelik dan mendorong tubuh Adnan hingga jatuh ke kasur.

__ADS_1


" ADNAN!!!! "


teriakan itu menggema di telinga, Nadira menutup telinganya dengan gemetar. Adrian membawa Adnan kedalam kamar mandi, ditidurkan pria itu di bathtup. Adrian sangat kesal kemudian mengguyur tubuh Adnan dengan air dingin, pria itu terkejut dan meronta karena air dingin ditubuhnya.


"aduh hujan... dingin sekali... " ucap Adnan berdiri, meskipun masih ada efek minuman dirinya sudah sadar. mendelik ketika melihat Adrian, dan juga melihat Nadira yang bersembunyi dibelakang Adrian.


"kalian berdua turun, papa tunggu dibawah! " ucap Adrian kemudian pergi, Nadira merasa tubuhnya lemas tidak bertenaga. sudah siap mendapat hukuman, ia menatap Adnan dengan kesal.


"gara gara kamu teriak teriak mulu! " ucap Nadira menghentakkan kakinya, Adnan memijat kepalanya karena merasakan pusing. ia juga tidak ingat apa yang terjadi, ya ia tahu dirinya ketahuan mabuk didepan Adrian.


...****************...


Adnan dan Nadira mendapat hukuman dari Adrian, membersihkan seluruh rumah besar itu sebelum pagi menjelang. sungguh hukuman yang kejam bagi Nadira, gadis itu sudah lelah dengan Adnan yang mengujinya. sekarang ia mendapatkan hukuman, akibat ulah Adnan. Adrian merusak semua tataan rapi di dalam rumah itu, untuk memberikan hukuman pada kedua anaknya.


"huhu kenapa rumah papa sangat besar... " rengek Nadira, Adnan yang mendengar itu tersenyum dan melanjutkan kegiatan nya. ia sangat mengantuk sekarang, tapi harus mengelap semua jendela dan juga figora yang tertempel didinding. Nadira sendiri mengepel, dan juga menata sofa dan meja agar rapi. meskipun sudah rapi, tapi dihancurkan kerapian itu oleh Adrian.


"aku sudah bilang, jangan main ketempat itu ih. kenapa Nanan gak dengerin aku! " ucap Nadira yang masih kesal, Adnan tersenyum manis untuk menenangkan Nadira.

__ADS_1


"mana aku tahu, aku pikir cuman minum aja gak sampai banyak! " ucap Adnan tenang, Nadira ingat yang memaksa Adnan adalah Arzan.


"uhh lihat saja, ini karena tuan Arzan yang memaksamu! " ucap Nadira kesal, Adnan kembali tertawa karena wajah gadis itu sangat lucu saat marah. "Nanan... aku mengantuk, capekk huaaa" ucap Nadira dengan manja, Adnan sudah berpikir gadis itu benar benar adiknya. kemanjaan Nadira padanya, tidak membuatnya kesal sama sekali. ia masih belajar memulai awal baru, melupakan semua kejadian yang terjadi pada dirinya sebelumnya. tapi dirinya masih dibuat bingung, ia mencintai Nadira sebagai adiknya atau sebagai kekasihnya.


__ADS_2