
kejadian kemarin telah dilupakan Anin setelah dirinya tidur dengan nyaman dikamar yang disiapkan untuknya, Anin sangat takut dirumah besar itu tapi hatinya juga merasakan kenyamanan disana. biasanya jika Anin bangun pagi, ia akan pergi kedapur untuk memasak sarapan pagi. tapi kali ini ia harus berkeliling rumah besar itu, ia tidak tahu dimana letak dapur tersebut. sampai langkah Anin terhenti, ia melihat dua orang tua Adnan yang sedang berada di meja makan. terlihat Adrian yang memaksa Naira makan, tapi Naira hanya diam tidak berniat untuk memakan sarapannya.
Anin melangkah untuk mendekati mereka, Adrian menoleh saat merasakan kedatangan Anin. dengan diam Adrian dan Anin saling melihat satu sama lain, sampai Naira menoleh kearah Anin dengan diamnya. tentu hal itu membuat Anin terkejut, pasalnya wanita yang duduk di kursi roda itu menatapnya tanpa ekspresi. tangan Naira tiba tiba terulur untuk memanggil Anin, hal itu membuat Adrian terkejut dengan Naira yang sedikit berubah. Anin perlahan mendekatkan dirinya disana, menerima uluran tangan Naira dengan lembut.
"aku akan membantu nya makan! " ucap Anin pada Adrian, pria itu mengangguk dan memberikan mangkuk yang ia pegang. Anin menerima itu dan mendekat kearah Naira, dengan senyuman terbaik Anin tersenyum melihat Naira. "nyonya ayo makan sarapanmu, tua sudah membuat ini dengan segenap hati! " ucap Anin, Naira kemudian terdiam saat mendengar Anin menyebutnya sebagai Nyonya. benar perkataan Adrian sebelumnya, Anin bukanlah putrinya. jika memang iya putrinya, gadis itu pasti akan memanggilnya sebagai sebutan mama. Anin menunggu persetujuan Naira, ia menyodorkan sendok dengan terisi bubur untuk Naira. ajaibnya Naira mau membuka mulutnya, dan mulai memakan bubur suapan Anin.
Anin tersenyum melihat kearah Adrian, pria itu juga tersenyum tidak menyangka gadis itu berhasil membujuk istrinya. Anin memberikan beberapa suapan berulang kali, sampai bubur itu hampir habis dan benar benar habis dilahap oleh Naira. hal itu disaksikan oleh Adrian dan juga Adnan yang berdiri di samping ayahnya, Adnan tersenyum melihat Naira dekat dengan gadis itu.
"jadi kau ingin menikahinya? " ucap Adrian, dengan yakin Adnan mengangguk. "kau sudah tahu keluarganya? " tanya Adrian lagi, Adnan kembali mengangguk dengan itu. "kapan kau akan menikahinya? " ucap Adrian lagi, kali ini Adnan menoleh untuk melihat ayahnya.
"aku belum melamarnya, biarkan dia beradaptasi dulu di sini! " saut Adnan, Adrian pun mengangguk dengan jawaban putranya. sebenarnya ia penasaran pada seorang Anin, begitu mudah dekat dengan putranya yang terbilang tidak pernah mendekati seorang perempuan mana pun. gadis itu malah membuat putranya jatuh cinta, dan lagi gadis itu membuat Naira dekat dengannya.
"papa akan melakukan perjalanan penting, selalu papa tunda saat melihat mama mu seperti itu. sekarang sepertinya papa akan pergi, entah papa merasa tenang dengan kehadiran kalian disini! " Adnan mengangguk dan menyetujui ucapan ayahnya, yang Adnan tahu pekerjaan Adrian selalu ia kerjakan meskipun itu harus keluar negeri. tapi kali ini ia biarkan sang ayah pergi, karena dirinya yakin dengan keberadaannya dan juga Anin, ibunya akan baik baik saja. Adnan sendiri berbohong pada Adnan, pria itu ingin mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu. tubuh nya mengatakan Anin adalah gadis biasa yang dibawa Adnan, tapi hatinya mengatakan Anin adalah putrinya.
...****************...
Anin memberikan obat pada Naira, kemudian ia tersenyum melihat Naira. Anin menyisir rambut Naira dengan lembut, ia merasa kasihan pada Naira yang seperti itu. wanita itu menjadi seperti itu saat kehilangan putrinya, pasti sangat berat dan juga tidak dapat menerima semua itu. ia tidak bisa membayangkan, betapa sayangnya wanita itu pada putrinya. Naira terus menatap Anin tanpa berkedip, ia masih merasa Anin adalah putrinya yang hilang.
__ADS_1
"nyonya aku tahu kisahmu dari Adnan, jika anda mau, anda bisa menganggap ku sebagai putrimu. dulu aku juga punya seorang ibu, tapi setelahnya ibu pergi meninggalkan aku sendiri. jika aku harus punya ibu seperti nyonya, aku pasti akan senang! " ucap Anin lembut, gadis itu memegang tangan Naira dan mencium tangan itu.
"jika seperti itu... kenapa memanggilku sebagai nyonya, kenapa tidak memanggilku sebagai mama... " ucap Naira lirih dan masih terdengar oleh Anin, dengan tersenyum Anin mengangguk. Adnan dan Adrian yang melihat itu terkejut, bertahun tahun tidak mendengar Naira bicara. kali ini wanita itu bicara banyak kata, bukan hanya Nana yang ia sebutkan berulang kali. Adnan berlari kearah Naira, dipeluknya sang ibu dengan air mata jatuh di pipinya.
"mama... Nanan kangen suara mama... " ucap Adnan memeluk ibunya, Naira yang mendengar itu menangis dan membalas pelukan putranya. Adnan semakin bahagia dengan pelukan itu, ia merindukan ibunya yang memeluk dirinya dengan sayang. Anin melihat itu menangis kemudian menghapus air matanya, ia tersenyum dengan memegang tangan Adnan dan juga tangan Naira secara bersamaan. mereka bertiga berpelukan tanpa Anin, merasakan kerinduan yang begitu lama tidak seperti itu. Naira melihat kearah Anin yang berdiri sedikit jauh, Naira mengulurkan tangannya meminta Anin untuk mendekat. Anin melihat kearah Adnan, pria itu tersenyum dan mengangguk untuk memberi isyarat pada Anin. dengan senyuman Anin berlutut dihadapan Naira, dan memeluk tubuh kecil Naira dengan hangat. Anin menyukai pelukan itu, pelukan yang tidak pernah ia rasakan saat bersama sang ibu dulu. Adnan tersenyum melihat Anin dan Naira, ia terus berterima kasih pada Anin berulang kali dalam hatinya.
...****************...
Anin duduk di sebuah taman rumah Adnan, ia merasakan angin sepoi sepoi disana. akhir akhir ini merasa sedih dan juga senang secara bersamaan, tidak lupa kebingungan juga terselip dalam dirinya. ketika ia memikirkan nasibnya ia sangat sedih, tapi ketika melihat keluarga itu Anin merasa bahagia yang tidak bisa diartikan. ia merasa bahagia berkumpul dengan keluarga itu, tidak pernah Anin merasakan hangatnya keluarga seperti itu.
"Terima kasih, Terima kasih, Terima kasih! " ucap Adnan dengan terus berucap seperti itu, Anin yang bingung hanya diam sampai Adnan berjalan di hadapannya. pria itu berlutut dihadapan Anin yang sedang duduk di ayunan, Anin tersenyum dan mengusap air mata Adnan yang menetes di pipinya.
"kenapa masih menangis, mama mu sudah sembuh sekarang! " ucap Anin, gadis itu tahu kalau tangisan Adnan adalah tangisan bahagia. Adnan mengecup tangan Anin berulang kali, ia terus bersyukur bertemu gadis itu.
"aku bahagia, aku sangat beruntung bertemu denganmu! " ucap Adnan tersenyum, Anin yang mendengar itu tertawa kecil. "aku kehilangan adikku rasanya hancur sudah duniaku, tapi ketika melihatku rasanya aku ingin menyusun dunia itu lagi! " Anin tertawa dengan ungkapan Adnan, ia sangat geli Adnan terus memujinya dengan segala ungkapan. "kenapa kau tertawa? "
"aku geli sekali mendengar ucapanmu, haha... " ucap Anin tertawa, Adnan yang merasa malu pun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. ia juga tidak tahu kenapa sangat menggelikan perkataannya, Adnan duduk di ayunan yang kosong. "dulu saat aku aku melihatmu untuk yang pertama, aku merasa kau sangat garang. tapi lama lama kau tidak segarang yang aku kira, lebih tepatnya kau sangat baik dan juga konyol! " ucap Anin tertawa, Adnan menikmati tawa gadis itu. karena beberapa hari ia tidak melihat tawa gadis itu, Anin menoleh kearah Adnan yang diam memandanginya, Anin jadi merasa malu dan mendirikan tubuhnya.
__ADS_1
"mau kemana, aku belum selesai bicara! "
"bicara apanya, kamu ngelihatin aku terus dari tadi! " ucap Anin melepas tangan Adnan, dengan jail Adnan memeluk tubuh Anin dari belakang. "apa yang kau lakukan, nanti ada yang melihat! "
"aku ingin memelukmu, apa tidak boleh? "
"tentu saja tidak boleh, ayo lepaskan! " ucap Anin, bukannya lepas Adnan semakin mengeratkan pelukannya. Anin yang tidak kuat merasa geli, tertawa karena tangan Adnan dengan jail menggelitiki perutnya. "Adnan... sangat geli... haha lepaskan... " ucap Anin melepas pelukan Adnan, tapi Adnan terus menarik tubuh Anin dan menggelitiki perut itu. Anin sendiri memeluk Adnan untuk meminta ampun, ia benar benar tidak kuat dengan itu.
"kau yang memelukku sekarang, tadi tidak mau! " ucap Adnan disela pelukan itu, Anin memukul pundak Adnan dan pelan merasakan pelukan Adnan yang nyaman. Adnan memandangi wajah Anin yang terus tersenyum, senyum itu tertular di bibir Adnan dan ikut tersenyum. pria itu mengangkat tubuh Anin dan membawa tubuh itu berputar, Anin tertawa dengan itu sesekali ia memukul pundak Adnan meminta pria itu berhenti.
kebahagian dua orang itu diperhatikan oleh seseorang, diperhatikan oleh Adrian dan juga Naira berdiri agak jauh dari mereka. Naira terus berpikir bahwa gadis itu adalah putrinya Nadira, ia tidak mungkin salah dan batin seorang ibu tidak boleh disalahkan. Adrian berlutut dihadapan Naira, diciumnya tangan Naira dan tersenyum disana.
"Nana... " ucap Naira pada Adrian, matanya mulai meneteskan air mata lagi. Adrian sendiri tersenyum, ia belum menceritakan apa yang diceritakan Adnan kepadanya. ia tidak mau Naira semakin buruk karena mendengar kabar itu, jadi ia masih menyembunyikan hal itu hingga tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"aku akan mencari Nana untukmu, tenang saja! " ucap Adrian memeluk Naira, wanita itu hanya diam dan merasakan pelukan Adrian yang hangat.
...****************...
__ADS_1