Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sebuah kecelakaan 2.


__ADS_3

ketiga manusia itu dibawa kerumah sakit begitu cepat, kepanikan terjadi disana ketika Nadia melihat siapa yang terkapar tidak berdaya. Pasalnya ia mendapat kabar bahwa ada kecelakaan besar, tidak ia sangka anak dan menantu serta cucunya yang menjadi korban kecelakaan. Air mata Nadia tumpah bagaikan air hujan sebelumnya, ia tidak kuasa melihat luka yang ada pada ketiga manusia dihadapannya. luka putrinya cukup parah, darah terus mengalir dibagian kaki Naira.


Jam berjalan tanpa henti, sampai sebuah ruangan menampilkan Nadia yang masih dengan tangisnya. Kara yang melihat sangat istri lemas langsung memeluk Nadia, tangisnya masih tidak berhenti dan terus menangis.


"Bagaimana mereka, apa mereka baik baik saja? " Tanya Kara, Nadia mengangguk tapi masih dengan menangis. Secara bersama dokter David keluar dengan dokter Daniel, mereka duduk di kursi dengan lemas dan kecemasan masing masing.


"Tidak ada yang baik dari ketiganya, mereka sama sama kritis. Tubuh mereka tidak meyakinkan, tapi masih ada harapan untuk hidup mereka! " Ucap David, mereka semua masih dengan ke khawatiran masing masing. mereka tidak berhenti untuk berdoa untuk keselamatan mereka, rasa sedih isak tangis mereka terdengar bersamaan disana.


"Tiga, berarti Nadira tidak bersama mereka? " Tanya Riana yang baru muncul disana, semua orang disana terkejut. Sangking hanyutnya dalam kepanikan mereka tidak sadar, hanya ada tiga manusia karena mungkin empat yang menjadi korban. "Tapi Naira tidak mungkin meninggalkan Nadira dirumah sendiri! " ucap Riana lagi, mereka membenarkan hal itu. hanya saling pandang yang mereka lakukan, Kara mencoba menelpon rumah Adrian untuk menanyakan Nadira. tapi tidak ada jawaban ditelpon rumah Adrian, hanya ada nada sambung tanpa ada yang mengangkatnya.


Belum selesai mereka berunding, pintu ruangan yang tertutup rapat tiba tiba terbuka. Semua orang menoleh dan melihat Adrian berdiri disana, mereka terkejut melihat Adrian dengan sempoyongan berdiri. Bahkan ia melepas infus di tangannya, membuat darah ditangannya mengalir tanpa peringatan. Daniel langsung menahan Adrian yang akan jatuh, mereka semua menatap Adrian yang menurut mereka melakukan hal bodoh itu.

__ADS_1


"Aku harus mencari putriku, putriku tertinggal! " Ucap Adrian dengan lemah, mereka terkejut dengan itu. Kara langsung berusaha menghubungi seseorang begitu juga dengan Bagas, Daniel dan David menopang tubuh Adrian. Mereka membawa Adrian kedalam untuk perawatan, tapi Adrian menolek dengan keras mendorong tubuh keduanya. "Putriku masih disana, bagaimana bisa aku disini! " teriak Adrian yang meronta, mereka cukup kuat menahan Adrian yang saat ini sedang lemah.


"Adrian tenanglah, kami yang akan mencari Nadira. Kamu harus istirahat, lihat kondisimu! " Ucap Daniel, Adrian tetap melawan dan ingin pergi dari sana. Sampai keributan terjadi, terhenti ketika sebuah tamparan mendarat di pipi Adrian. Amelia yang sudah tidak sabar menampar putranya, untuk memberikan kesadaran pada putranya. mereka tahu Adrian khawatir, tapi kondisinya itu tidak memungkinkan dirinya pergi mencari sangat buah hati.


"Kami semua ada disini, kami akan mencari Nadira. Kau yang seperti ini, bagaimana kau akan mencari putrimu. Pikirkan istri dan anakmu yang ada didalam, mereka juga berjuang untuk hidup mereka. Sadarlah Adrian, jangan paksakan dirimu. jika kau tumbang, siapa yang akan menguatkan mereka! " Ucap Amelia berteriak pada Adrian, ia menangis kemudian memeluk tubuh Adrian yang bergetar diakibatkan menangis. David memberi isyarat pada Daniel, dengan segera Daniel menyuntik obat penenang untuk Adrian. Seketika tubuh itu lunglai, dan perlahan tidak sadarkan diri dalam dekapan Amelia.


"Aku ingin mencari Nadira, dia menghilang! " Ucap Adrian sebelum ia tidak sadarkan diri sepenuhnya, Daniel membawa Adrian untuk kembali ke tempat tidurnya. Mereka menangis tanpa henti, berdoa yang hanya bisa mereka lakukan. yang lainnya sudah bergegas akan pergi ke lokasi, nyawa yang mereka anggap sebagai berlian sedang terancam.


Hari demi hari berganti, pencarian Nadira masih dilakukan. Satu minggu setelah kecelakaan Naira membuka mata, ia langsung histeris saat mengingat kejadian itu. Naira menceritakan apa yang ia lihat, wanita itu mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan Nadira. Adrian sangat lemah dengan keadaannya itu, Putranya mengalami cedera otak serius, istrinya yang harus mengalami kelumpuhan pada kakinya, ditambah putrinya hilang belum ditemukan. Adrian tidak merasakan luka ditubuhnya, Adrian tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa memeluk Naira yang menangis histeris, ia meminta putrinya agar bisa dikembalikan padanya.


Semua orang mencari keberadaan Nadira, sungai mereka telusuri tapi tidak ada tanda apapun tentang Nadira. Kara menggerakkan seluruh orang yang harus terlibat, ia ingin cucunya itu ditemukan apapun kondisinya. Kara membayar sebesar apapun untuk mencari Nadira, dan mereka berharap menemukan Nadira yang masih hidup, meskipun kemungkinannya sangat kecil.

__ADS_1


Adrian yang duduk di kursi roda menatap seluruh tempat kejadian disana, air mata terus menetes di pipinya. ia terus memanggil nama Nadira dalam hatinya, tapi tidak ada hasil apapun sampai ia berteriak karena kesal sendiri. ia merasa bodoh dan gagal menjadi seorang ayah dan juga suami, ia gagal melindungi keluarganya sendiri.


Adrian dibawa kerumah sakit oleh Bagas, ia masuk kedalam ruangan Adnan yang tenang dengan tidurnya. tapi kehadiran Adrian membuat Adnan membuka mata, tatapan sendu itu menatap Adrian yang tampak lesu. Adrian tersenyum ketir melihat putranya, dengan lemah Adrian memeluk putranya dan menangis.


"papa... aku bermimpi, Nana pergi ninggalin Nanan. " ucap Adnan dengan lemah, Adrian menggelengkan kepala dan membawa Adnan untuk menatapnya.


"kita akan menemukan adikmu, apapun kondisinya kita pasti akan menemukannya! " ucap Adrian, tapi Adnan tetap menangis dalam pelukan Adrian. pria itu senang melihat putranya baik baik saja, ketika pertama kali anak itu membuka mata ia berteriak ketakutan. takut melihat seorang perawat, takut melihat seorang dokter dan ruangan yang tampak asing baginya.


beberapa saat kemudian mereka keluar dari ruangan itu, mereka masuk keruangan Naira yang tidak jauh dari sana. Naira memejamkan mata bagaikan putri tidur disana, Adrian membawa Adnan untuk mendekat kearah Naira, tangan kecil yang dingin itu menyentuh pipi Naira. membuat sang empu membuka mata, Naira menoleh kearah Adnan dan kemudian tersenyum. Adnan langsung memeluk Naira tanpa mengatakan apapun, air mata yang sudah mengering itu kembali basah di pipi Naira. Ia menangis melihat sang putra dengan perban dikepala dan tangannya, bahkan ia juga melihat tubuh suaminya yang lemah duduk di kursi roda. lalu bagaimana dengan putrinya, ia bahkan tidak melihat diri Nadira disana. Naira menangis tanpa henti, kemudian melepas pelukan Adnan dan menyembunyikan dirinya dibalik selimut.


Naira termenung di kursi rodanya saat kembali kerumah, wanita itu berusaha membunuh dirinya sendiri. ia merasa tidak berguna sebagai seorang wanita, kakinya lumpuh dan harus duduk di kursi roda, kemudian melepas putrinya begitu saja. setiap malam Naira akan menangis histeris melihat foto Nadira, ia terus menyalakan dirinya untuk apa yang terjadi pada Nadira.

__ADS_1


Naira dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan, ia mengalami depresi berat dan juga merasa tertekan. dokter David hanya memberikan obat pada Adrian, ketika istrinya itu merasa histeris Adrian harus memberikan obat itu dengan cara apapun. karena Naira hampir saja mengalami ganguan jiwa, hal itu dikarenakan depresi Naira yang tidak kunjung berhenti. bahkan yang bisa ia ucapkan hanya Nana, tidak ada kata lagi selain itu. keluarga yang penuh keceriaan itu, lenyap sudah keceriaan itu. digantikan dengan sebuah duka dan kesedihan yang terdalam, kehilangan satu anggota dari 4 orang dari keluarga kecil yang sudah tersusun. Adrian menguatkan dirinya untuk mendukung Naira dan Adnan, karena jika dirinya lemah, siapa lagi yang akan mendukung keduanya.


__ADS_2