
Mereka meneruskan obrolan sambil menikmati makanan yang tersaji diatas meja. Sesekali terdengar suara derai tawa yang ikut mewarnai.
Ditengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Dave berkata, "Sayang, gimana kalau ibuku ikut tinggal bersama kita di apartemenmu? Ya itung-itung bisa bantuin kamu disana nantinya."
Nayla mengerutkan dahi, keberatan dengan ide suaminya. "Tapi, Dave, apa tidak sebaiknya kita tinggal berdua saja? Kurang enak rasanya kalau orang lain," ucap Nayla mengatakan keberatannya. Sejak awal ia memang hanya hidup berdua dengan suaminya, khawatir terjadi kesalahpahaman di masa depan.
Dave menatap tak suka dengan jawaban istrinya. "Orang yang kau sebut sebagai orang lain itu Mamaku lho, yang artinya adalah Mamamu juga. Emangnya kamu nggak kasihan kalau dia hidup sendirian?."
"Kami sudah lama terpisah, dan baru beberapa hari yang lalu bertemu. Kamu tega memisahkan kami lagi?."
"Dia itu sangat berjasa dalam hidupku. Aku hanya ingin membalas semua kebaikannya dengan merawatnya di masa tuanya. Tapi kalau kamu keberatan....." Dave sengaja menggantung kalimatnya untuk mempermainkan emosi Nayla.
Natasha tak tinggal diam. Ia ikut mengompori perasaan Nayla namun dengan cara yang berbeda. "Tidak, Dave! Sebaiknya ibi tinggal sendiri saja. Ibu tidak ingin mengganggu rimah tangga kalian. Lagipula kalau ibu ingin bertemu, kalian pasti tidak keberatan kan?."
Sengaja ia berkata begitu untuk menarik simpati Nayla. Ia tahu menantunya itu tak kan mungkin tega membiarkannya hidup sendiri.
Nayla terdiam, memikirkan ucapan Dave matang-matang. Hatinya yang lembut membuatnya tak tega untuk memisahkan seorang ibu dengan anaknya yang baru saja bertemu. Terlebih ia juga merasa tak enak dengan Natasha bila menolaknya secara langsung di hadapannya. Dan meski sedikit ragu, namun akhirnya ia pun setuju. "Baiklah! Ibu bisa tinggal bersama kita."
Gotcha...Natasha dan Dave tersenyum penuh kemenangan. Tebakannya ternyata benar. Dan rencananya berjalan dengan sempurna.
Dave meraih tangan Nayla dan menciumnya bertubi-tubi. "Terimakasih banyak, sayang! Kau memang wanita yang sangat pengertian. Tak salah aku menjadikanmu sebagai istriku."
Natasya pun melakukan hal yang sama. Ia ikut menyanjung Nayla sambil mengusap lengannya lembut. "Terimakasih banyak, nak! Kau memang wanita yang baik. Dave sangat beruntung mendapat seorang istri sebaik kamu."
Nayla tersenyum tipis mendengar pujian mereka. "Jangan terlalu menyanjungku, Ma. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," ucapnya. "Ya sudah, Ma, ayo dilanjut lagi makannya."
__ADS_1
"Ya Allah, semoga keputusanku ini memang benar!" gumam Nayla penuh harap.
Mereka pun kembali menikmati makanan masing-masing. Dan setelah selesai, mereka langsung meluncur menuju apartemen Nayla.
Agaknya keputusan Nayla untuk setuju bila Natasha ikut tinggal bersama mereka adalah sebuah keputusan yang salah. Terlebih ia juga tak tahu siapa sosok Natasha sebenarnya.
...****************...
"Kenapa kita malah tinggal di apartemen seperti ini, Dave?" tanya Natasha setengah berbisik terhadap Dave. Ia mencuri-curi kesempatan di saat Nayla tengah sibuk di dapur untuk bicara berdua dengan anak kandungnya.
Dave menghela nafas berat. "Ceritanya panjang, Ma. Intinya Nayla diusir dari rumah oleh Ayahnya," jawab Dave.
"Kok bisa? Lalu kamu diam saja gitu?."
"Berhasil sih berhasil, tapi kalau kita nggak bisa mendapat apa-apa juga buat apa?" ujar Natasha sewot. "Terus, gimana dengan rencana kita selanjutnya?."
"Mama tenang aja, karena perusahaan tempat aku bekerja adalah atas nama Nayla. Dan aku akan menggunakan cara halus untuk merebut perusahaan itu dari tangannya. Perlahan kita akan membalaskan dendam kita dengan menghancurkan keluarga Abhimana dan merebut semua hartanya."
"Bagus! Itu baru namanya balas dendam yang sempurna" puji Natasha dengan senyum licik tersungging di bibir. "Ingat! Nyawa harus dibalas dengam nyawa. Abhimana harus menderita seperti yang dulu kita rasakan."
"Itu pasti, Ma!" tukas Dave mantap.
Mereka pun kembali menyusun rencana jahat yang akan mereka lakukan selanjutnya. Senyum penuh kelicikan tersungging di wajah.
Sepakat dengan rencana yang baru tersusun. Dave berkata, "Ya udah, Ma. Aku samperin Nayla lagi. Takutnya dia malah curiga kalau melihat kita bicara berdua seperti ini."
__ADS_1
"Itu tidak akan mungkin. Kita ini kan ibu dan anak" jawab Natasha menepis ketakutan di hati anak lelakinya. "Kalau sampai dia melihat kita bicara berdua lalu curiga, bilang saja kalau kita sedang ingin menghabiskan waktu berdua setelah lama berpisah. Lagipula anak bicara dengan ibunya adalah hal yang wajar kan?."
Dave menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir kuda. "Betul juga kata Mama. Kenapa aku nggak kepikiran kesitu, ya?."
Natasha geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya uang terkadang sedikit bodoh. "Ya udah, sana! Buruan samperin istri kamu" ucapnya.
Dan Dave pun berlalu meninggalkan ibunya.
...****************...
Malam hari tlah tiba. Nayla sudah berada di kamar sejak sore, bersiap untuk melakukan ritual malam pertama mereka. Agaknya semua kesibukan ini membuatnya lupa dengan kesedihan yang dirasakanya tadi.
Nayla mulai menghidupkan kran kamar mandi untuk mengisi bak mandi. Ia ingin berendam sejenak untuk merilekskan otot-otot tubuh sekaligus membuat kulitnya semakin bersinar. Beberapa tetes aroma esensial ia campurkan ke dalam bak mandi tersebut untuk menanbsh keharuman.
Setelah semua dirasa cukup, Nayla melepas pakaiannya satu persatu kemudian menceburkan diri ke dalam bak mandi itu dan mulai berendam. Kehangatan air bercampur dengan aroma mawar kesukaannya membuat pikirannya tenang. Ia pun memejamkan mata untuk menikmati semua itu.
Usai dengan ritual mandinya, Nayla keluar dari bak mandi dan mengenakan handuk kimono. Ia balurkan lotion ke sekujur tubuh agar kulitnya semakin lembut. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari kantong belanjaan.
Sebuah lingerie berwarna merah menyala dengan aksen renda di beberapa sisi. Terlihat begitu seksi dan menantang. Sengaja ia persiapkan untuk malam spesial ini. Sedikit berdandan untuk mempercantik diri dan terakhir ia semprotkan parfum kesukaannya ke sekujur tubuh untuk menambah keharuman tubuh.
Setelah semua dirasa cukup, Nayla berbaring di atas ranjang dengan pose yang begitu menantang menanti sang suami masuk kamar. Posisinya terlihat begitu menggoda dan menantang untuk dilahap. Terlihat nakal dan jauh dari kesan yang selama ini ditunjukkannya.
Tak berselang lama pintu kamar pun terbuka dengan Dave muncul di baliknya. Pandangan matanya langsung tertuju pada sesosok Bidadari yang tengah berbaring di atas peraduan cinta mereka.
Melihat pose Nayla yang sengaja menggodanya, bukan hanya bergairah, Dave juga sangat tertantang untuk segera menikmati tubuh mulus sang istri. Perlahan ia pun mendekatinya dengan cara merangkak bak seekor kucing yang tengah menghampiri mangsanya.
__ADS_1