Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 36


__ADS_3

Hari itu Davka mengeluhkan rasa sakit di punggung saat bangun tidur. Sepanjang hari ia terus saja marah dan mengumpat tidak jelas. Bahkan pada meja yang merupakan benda mati pun tak luput menjadi sasaran kemarahannya, padahal dia sendiri yang menabrak benda itu.


Melihat sikap suaminya itu, Nayla pun bertanya, "Kau ini kenapa, Dave? Kenapa sepanjang hari kau marah-marah terus?" ucapnya lemah lembut.


"Gimana aku nggak marah-marah?" sejak pagi punggungku terasa sangat sakit" jawab Dave tersungut-sungut. Dahinya berkerut berlipat-lipat.


Mendengar keluhan suaminya Nayla tersenyum teduh. "Ya udah, sini aku pijitin. Mungkin dengan itu sakit di punggungmu bisa sedikit berkurang," ucapnya sambil duduk di samping suaminya.


Dave mengangguk, membuka pakaian atas yang dikenakannya dan rebahan diatas kasur dengan posisi tubuh tertelungkup.


Nayla membalurkan minyak gosok ke permukaan kulit suaminya agar licin lalu memijatnya pelan. Memijat dari bawah keatas, sesekali berputar pada titik sakit. Sentuhan lembut dari jemarinya yang lentik membuat Dave kembali tenang dan lebih rileks.


"Bagaimana, Dave? Apa punggungmu sudah lebih enak?" tanyanya setelah beberapa saat memijat.


Dave mengangguk. "Iya, Nay, punggungku terasa lebih enak sekarang. Tanganmu itu seperti memiliki sentuhan ajaib" ucapnya sambil membalikkan tubuh. "Terimakasih banyak." Merenggangkan otot-otot tubuh dengan berputar ke kanan dan ke kiri.


Nayla tersenyum manis. "Jangan bilang terimakasih padaku. Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri. Tapi ngomong-ngomong, kenapa punggungmu bisa sakit?."


Pertanyaan sederhana Nayla ternyata malah membuat Dave kembali kesal. "Ini semua karena apartemen ini begitu sempit, membuatku jadi kesulitan bergerak. Apalagi ranjang kita ini."


"Aku rasa apartemen ini tidak sempit, Dave. Mungkin kamu kurang olahraga saja sehingga punggungmu terasa sakit. Apalagi belakangan ini kan kamu sering lembur di kantor."


Dave diam mendengar ucapan istrinya, tapi kemudian, "Gimana kalau kita beli rumah baru yang lebih besar, Nay? Kan kemarin perusahaan dapat untung gede."


"Aku rasa itu tidak perlu, Dave. Apartemen ini lebih dari cukup kok."

__ADS_1


"Justru aku merasa itu perlu, nay, apalagi sekarang kamu sedang hamil. Belum lagi kalau nanti anak kita lahir. Masak kamu tega membiarkannya tidak leluasa saat bermain? belum nanti kalau terjadi sesuatu dengannya gara-gara tempat tinggal kita yang sempit. Aku nggak mau ya kalau sampai dia kenapa-napa."


Nayla diam memikirkan ucapan suaminya. Tidak membantah namun juga tidak mengiyakan.


Melihat istrinya mulai termakan dengan ucapannya, Dave terus meyakinkan Nayla agar menyetujui usulannya.


Setelah memikirkan ucapan suaminya baik-baik, akhirnya Nayla pun setuju. Ia pikir ucapan suaminya tadi memang ada benarnya. Mana mungkin ia biarkan anaknya nanti bermain di tempat yang tidak aman.


"Baik, Dave, aku setuju dengan usulanmu. Besok kita pergi lihat-lihat rumahnya."


"Baguslah kalau kamu setuju dengan saranku. Tapi aku rasa besok kau tidak perlu ikut. Cukup serahkan saja semuanya padaku dan kamu tinggal duduk tenang di rumah. Nanti aku akan tunjukkan padamu rumah baru kita kalau aku sudah membelinya."


Nayla mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Aku serahkan semuanya padamu."


Nayla mengernyitkan dahi memdengar permintaan suaminya. "Kenapa harus memakai uangku? Kenapa tidak pakai uangmu saja?."


"Ayolah, Nay, jangan pelit begitu. Saat ini tabunganku itu masih sedikit. Bukankah uang suami adalah uang istri, begitu juga sebaliknya. Jadi mau uangku atau uangmu, itu sama saja. Lagipula aku juga kan yang menjalankan perusahaanmu sekarang."


Nayla diam sebentar, tapi kemudian ia mengangguk setuju. "Baiklah! Tunggu dulu disini. Biar aku ambilkan tanda pengenal dan kartu ATM-ku" ucapnya lalu berlalu ke kamar.


"Yes, berhasil lagi!" sorak Dave dalam hati karena berhasil membuat Nayla setuju. Sudut bibirnya terangkat ke atas, tersenyum culas.


Tak lama kemudian Nayla kembali lagi sambil membawa dua buah kartu yang sangat berarti di tangannya lalu menyerahkannya pada Dave. "Ini, Dave, tanda pengenal dan kartu ATM-ku. Tolong kamu urus semuanya dengan baik."


Dave menerima dua kartu penting milik sang istri dengan bibir tersenyum. "Kamu tenang saja, Nay, aku akan urus semuanya" ucapnya lalu menyimpannya di saku celana.

__ADS_1


"Oh ya, satu lagi, tolong kamu lebih bijak dalam memilih hunian. Pastikan rumah itu sesuai dengan kebutuhan kita. Aku tidak suka membeli barang yang tidak terlalu penting. Pastikan juga harganya sesuai dengan rumahnya."


"Iya iya, bawel banget sih. Udah pokoknya kamu tenang saja. Semua pasti beres!" ucap Dave sedikit kesal.


Nayla menghela nafas, namun ia percaya begitu saja dengan kata-kata manis suaminya tanpa merasa curiga sedikitpun.


...****************...


Hari itu juga Dave mulai melakukan pencarian hunian baru. Tentu kriteria rumah yang diinginkannya haruslah rumah yang mewah dan mampu menunjukkan kelasnya tak perduli dengan berapa harganya. Toh ia membelinya bukan dengan uangnya pribadi, melainkan dengan menggunakan uang Nayla.


Lama mencari namun ia belum juga berhasil menemukan rumah yang sesuai dengan keinginannya. Bukan hanya melalui situs internet, namun juga mencarinya secara langsung hingga hampir ke seluruh kota.


Dave merasa penat dan kesal. Apalagi udara siang itu cukup panas. Dipukulnya stir mobil dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya itu. "Hah, kenapa bisa sesulit ini sih mencari rumah yang sesuai dengan keinginanku. Padahal aku tak perduli dengan harga yang mereka tawarkan."


Di tengah kekesalan tiba-tiba pandangan Dave tertuju pada sebuah papan iklan di pinggir jalan yang menawarkan hunian super mewah. Tanpa banyak bicara ia segera tancap gas menuju lokasi yang tertera di papan iklan tersebut.


Berlokasi di bagian barat dari pusat kota. Sebuah hunian yang benar-benar super mewah sesuai dengan kriteria yang diinginkannya. Menghadap langsung ke jalan raya utama membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama dan langsung membeli rumah itu tanpa proses tawar menawar lebih dulu.


Ia pun melakukan pembayaran dengan pihak pengembang dengan menggunakan kartu ATM milik sang istri yang kini berada di tangannya. Namun saat prosedur surat menyurat, ia malah menggunakan namanya sendiri sebagai pemilik rumah. Rupanya inilah alasan kenapa ia tak ingin Nayla ikut, suya ia bisa membuat rumah itu menjadi miliknya.


"Bagus! Kemarin aku mendapatkan mobil mewah, dan sekarang rumah super duper mewah. Perlahan aku akan membuat perusahaan Nayla menjadi milikku juga" ucapnya dengan senyum culas tersungging di bibir. Satu tangan memegang sertifikat rumah yang baru di belinya tadi.


"Tapi ngomong-ngomong isi ATM Nayla banyak juga. Mungkin kalau aku ambil lagi sedikit tidak apa. Toh nantinya semua uangnya akan menjadi milikku juga."


Dave pun pergi ke mesin ATM terdekat dan melakukan penarikan sejumlah uang. "Untuk sekarang aku rasa uang segini sudah cukup. Aku tak ingin Nayla mencurigaiku kalau aku langsung menghabiskan uangnya" ujarnya sambil memegang segepok uang lembaran merah.

__ADS_1


__ADS_2