
Pagi itu, disaat Farrel masih terlelap tidur, Kania memutuskan untuk pulang ke rumah sebentar. Ia ingin mengambil beberapa barang yang mungkin bisa membantu mengembalikan ingatan Farrel kembali.
Dengan menggunakan jasa taksi yang kebetulan mangkal di depan rumah sakit, Kania meluncur menuju kediamannya yang berada di utara pusat kota.
Abhimana yang saat itu tengah berjoging di halaman depan rumah, begitu melihat istrinya turun dari taxi, ia langsung menyambutnya dengan menyunggingkan senyum lebar. Kedua tangan terentang keatas ingin memeluknya. "Akhirnya Bunda mau juga pulang kerumah. Mimpi apa ayah semalam ya?."
Bagaimana tak bahagia, ini adalah kali pertama istrinya mau menjejakkan kaki kembali ke rumah semenjak Farrel mengalami kecelakaan dan jatuh koma.
Namun sayang, Kania tak memberi respon yang sama. "Maaf, Mas Abhi, bunda hanya pulang sebentar. Bunda mau mengambil beberapa barang di kamar" ucapnya dengan wajah datar lalu berlalu meninggalkan suaminya.
Abhimana menghela nafas. "Baru aja ayah seneng karena Bunda pulang ke rumah, eh malah dicuekin," ucapnya pelan.
Namun ternyata, Kania yang memiliki pendengaran super tajam mendengar suara suaminya walau tak jelas apa yang dikatakannya tadi. Sontak ia pun menghentikan langkah dan memutar tubuh menghadap padanya. "Kamu bilang apa tadi, Mas?" tanyanya.
Abhimana gelagapan mendengar pertanyaan istrinya. Ia tak menyangka jika Kania mampu mendengar ucapannya tadi. "Eh, nggak, bukan apa-apa. Bunda pergi saja ke kamar. Kan tadi katanya mau ngambil beberapa barang" ucapnya nyengir lebar.
Kania menggelengkan kepala singkat, mengabaikan tingkah tidak jelasnya dan memilih melangkah lagi ke kamar.
Sepeninggal istrinya, Abhimana merutuki kebodohannya tadi. "Kau ini bodoh sekali, Abhi. Untung tadi Kania nggak tahu apa yang kamu ucapakan. Kalau nggak, bisa-bisa muncul perang dunia ketiga tadi."
"Tapi ngomong-ngomong, kok dia sampai tahu ya? Emang ada yang ngasih tahu di kalau aku ngomong sesuatu?"
"Ah sudahlah, lebih baik aku susul saja dia ke kamar dari pada aku ngomong sendiri nggak jelas begini" gumamnya dalam hati. Ia berlari kecil menyusul istrinya ke kamar.
Setibanya di sana, Abhimana melihat istrinya tengah mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Sontak ia pun bertanya, "Bunda lagi nyariin apa sih?" sambil melangkah mendekat.
"Tolong bantuin Bunda nyari album masa kecil Farrel, yah. Bunda mau membawamya ke rumah sakit."
Abhimana mengangguk, dengan sigap membantu mencari barang yang dimaksud. Tak lam kemudian, "Nah, ini dia barang yang bunda cari" ujarnya dengan sebelah tangan memegang sebuah album besar bertuliskan nama Farrel di atasnya.
Kani sontak menoleh lalu berjalan menghampiri suaminya. "Mana, Mas? Coba Bunda lihat?."
Abhimana mengulurkan benda tersebut. Kania melihat sampulnya sekilas lalu melihat isinya. "Iya, Mas, ini album yang bunda cari," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Makasih banyak ya udah bantuin bunda."
__ADS_1
"Ayah cuma dapet ucapan terimakasih doang nih, nggak ada yang lain."
"Oh, jadi ceritanya ayah nggak ikhlas bantuin bunda? Pengen minta imbalan gitu?" ucap Kania sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Jika Kania sudah mengeluarkan taringnya seperti itu, maka Abhimana hanya bisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. "He he he, bukan gitu maksud ayah, bunda. Tapi...."
Belum selesai Abhimana mengucap, Kania sudah memotong, "Dasar, bantuin istri sendiri aja pakai perhitungan." Menghentakkan kaki dan berlalu menuju lemari untuk mengambil handuk.
"Udah, sana! ayah keluar lagi. Bunda mau mandi dulu sebentar."
Mendengar kata mandi, pikiran mesum Abhimana pun kumat. "Bunda mau mandi? Ayah boleh ikutan juga nggak? Udah lama kan kita nggak mandi bareng."
"Nggak ada acara mandi bareng sampai Farrel pulang dari rumah sakit. Lagian ayah ini, udah tua tapi pikirannya masih aja mesum" cebik Kania melotot tajam.
"Tapi, bunda...."
"Nggak ada tapi-tapian. Sekarang ayah cepat keluar!"
Setelah memastikan suaminya keluar kamar, Kania mengunci pintu lalu masuk kamar mandi dan memulai ritual mandinya.
Sementara Abhimana, berjalan menuju dapur menghampiri bik Ijah. "Bik, pagi ini tolong buatkan sarapan spesial kesukaan nyonya. Saat ini Nyonya ada di rumah. Saya ingin mengajaknya sarapan bersama."
Bik ijah mengangguk. "Baik, tuan!" lalu dengan cekatan mempersiapkan apa yang diperintahkan oleh tuannya.
Abhimana berlalu menuju taman belakang dan duduk santai disana sambil menikmati secangkir kopi.
Bik Ijah menata hasil masakannya di atas meja lalu merjalan menghampiri Abhimana. "Maaf, tuan, sarapannya sudah siap di meja makan!" ucapnya sopan.
Abhimana menoleh. "Iya, bik, makasih. Oh ya, Nyonya udah turun ke bawah belum?."
"Belum, tuan!."
"Ya udah, bibik lanjut lagi aja kerjanya. Sebentar lagi saya ke meja makan."
__ADS_1
"Baik, Tuan." lalu berlalu kembali menuju dapur.
Abhimana menghabiskan kopi dalam gelas lalu bangkit menuju meja makan menunggu istrinya turun untuk sarapan bersama.
Tak berselang lama Kania turun. Ia terlihat begitu tergesa-gesa hingga melewati suaminya begitu saja.
Melihat hal itu, Abhimana menegurnya. "Bunda, kok ayah dilewati gitu aja?."
Kani langsung menghentikan langkah dan berbalik. "Maaf, yah, bunda nggak ngeliat tadi" ucapnya nyengir kuda.
Abhimana menghela nafas. "Orang setampan gini malah nggak dilirik sama sekali. Ya udah sini, duduk dulu! Kita sarapan bersama."
Namun Kania malah menggeleng. "Maaf, Yah. Bunda buru-buru mesti balik lagi ke rumah sakit. Bunda harus sudah ada disana sebelum Farrel terbangun."
"Tapi setidaknya sempatkan dulu untuk sarapan sebentar."
"Nanti saja bunda sarapan di sana. Bunda buru-buru. Assalamualaikum." lalu berlalu pergi.
Abhimana menatap kepergian istrinya sambil menghela nafas berat. "Waalaikum salam" ucapnya pelan. Lalu membalik piring dan menyendok nasi serta mengambil beberapa lauk yang tersaji diatas meja.
"Gini ini kalau cinta istri sudah terbagi pada anak. Apa-apa sendiri. Makan sendiri, tidur sendiri, cuci baju sendiri. Eh, kok jadi kayak lirik lagu dangdut aja" ucapnya mentertawakan diri sendiri. "Dibilang cemburu dengan anak sendiri, kedengarannya lucu. Tapi nyatanya aku kalah dengan anakku sendiri." Terpaksa ia harus menikmati sarapan pagi itu sendirian lagi.
Sementara itu, Kania meminta supir pribadi suaminya untuk mengantarnya kembali ke rumah sakit.
Jalanan kota pagi itu mulai dipadati oleh kendaraan bermotor. Pasalnya saat Kania keluar rumah, bertepatan dengan jam orang berangkat kerja. Hingga terpaksa ia terjebak dalam kemacetan.
Kania terus saja mengomel lantaran kendaraan tak juga bergerak. Dan sialnya si sopir yang menjadi sasaran kekesalannya itu
"Pak, coba cari jalan lain aja. Saya harus segera sampai di rumah sakit nih."
"Maaf, nyonya. Tapi kendaraan kita terjebak di tengah. Gimana saya bisa cari jalan lain kalau begini."
Kania menghela nafas berat. Meski kesal, namun ia tak bisa berbuat banyak selain berharap agar mereka bisa segera keluar dari kemacetan itu.
__ADS_1