Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 68


__ADS_3

Abhimana menceritakan kisah hidupnya dulu dan juga kisah hidup Dinda pada Langit. Ia juga menceritakan bagaimana dulu ia menghabisi Alex, ayah Davka. Hingga akhirnya Langit pun mengerti kenapa ia mengatakan jika saat ini Nayla sedang dalam.bahaya.


"Sekarang Langit mengerti kenapa ayah berkata seperti itu, dan Langit akan memberitahukan hal ini pada kak Nayla serta memberinya peringatan," ucap Langit kemudian.


Sementara itu di tempat lain.....


Dave menunggu Langit menyelesaikan tugas darinya sambil memeriksa beberapa dokumen di ruangannya. Namun hingga menjelang makan siang, Langit belum juga melaporkan tugasnya tersebut.


Bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruangan. Dave ingin memeriksa tugas yang ia berikan pada Langit secara langsung. Namun saat tiba di lantai bawah, ia malah bertemu dengan pak Aji.


"Anda mau kemana, tuan?" tanya pak Aji.


Sontak ia pun menghentikan langkah di hadapannya. "Saya mau melihat Farhan. Apakah dia sudah menyelesaikan tugas dari saya atau belum," jawabnya datar tanpa ekspresi apapun.


"Mmh...maaf tuan, kalau soal itu, dia sudah menyelesaikannya dari tadi. Bahkan dia sudah mengembalikan kunci mobilnya pada saya" jawab pak Aji sambil menunjukkan kunci mobil yang di pegangnya.


Dave terkejut mendengar ucapan pak Aji. " Secepat itu dia menyelesaikan tugas dari saya? Lalu kenapa dia tidak melapor apapun padaku?" tanyanya. Matanya menatap tajam ke arah pak Aji.


Pak Aji bergidik ngeri karena di tatap sedemikian rupa oleh Dave. Sontak ia pun menundukkan pandangan dan menghindari tatapannya. "Kalau soal itu saya kurang tahu, tuan," jawabnya takut-takut.


"Lalu sekarang dimana dia?" tanya Dave kembali.


"Saya juga kurang tahu, tuan. Tapi tadi saya sempat melihatnya keluar kantor dengan buru-buru setelah mengembalikan kunci mobil pada saya."


Bola mata Dave membulat dengan sempurna mendengar jawaban pak Aji. "Kurang ajar! Berani betul dia meninggalkan kantor sebelum jam pulang kantor tiba. Memangnya siapa dia!."


Dave pun melangkah dengan wajah merah padam karena terbakar oleh emosi, berniat meninggalkan pak Aji. Namun pak Aji malah menghentikannya. "Maaf, tuan. Tuan mau kemana lagi?" tanyanya dengan takut-takut.


"Saya mau memecat Farhan. Untuk apa mempertahankan karyawan yang suka memakan gaji buta" jawab Dave cepat tanpa menkleh sedikitpun ke arah pak Aji.

__ADS_1


"Maaf, tuan, tapi....."


"Tapi apa lagi? Kau ingin menghentikanku untuk memecatnya dan membela dia, gitu?" teriak Dave marah karena sedari tadi pak Aji terus saja mengajaknya bicara. "Atau kau ingin aku memecatmu juga?."


Mendengar ancaman Dave, pak Aji menundukkan kepala takut. "Ma....mafkan saya, tuan. Saya tidak bermaksud untuk menghentikan tuan untuk memecat Farhan apalagi membelanya" ucapnya dengan terbata-bata.


"Kalau bukan karena itu, lalu kenapa kamu terus saja mengajak saya bicara?" tanya Dave tak sabar. "Apa kau tidak sadar kalau kau telah banyak membuang-buang waktuku?."


Pak aji semakin ketakutan melihat kemarahan Dave. Ia semakin dalam menundukkan kepala "Maafkan saya, tuan. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin bertanya, dimana anda akan meeting sebentar lagi? Bukankah tadi pagi anda mengatakan pada saya kalau siang ini mau meeting diluar?."


Dave tertegun mendengar pertanyaan pak Aji. Sontak ia melihat arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Astaga! Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi. Kenapa kamu baru mengingatkanku sekarang?."


"Maafkan saya, tuan. Dari tadi saya mau mengatakan hal ini, tapi...."


"Sudah, cukup! Jangan banyak bicara lagi. Sekarang juga antarkan saya ke kafe xx."


Dave merogoh saku celana dan menghubungi sekretarisnya. "Halo, persiapakan semua yang harus dibawa dalam meeting siang ini. Kita tidak punya banyak waktu. Kita berangkat sekarang juga." Lalu ia pun kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


Berjalan menuju lobi perusahaan dimana pak Aji sedang menunggunya. Hentakan sepatu pentofel yang dikenakannya terdengar menggema memenuhi udara.


Melihat kedatangan Dave, pak Aji segera membukakan pintu mobil untuknya. "Silahkan masuk, tuan!" ucapnya sambil sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat.


Dave mengangguk sekilas lalu segera masuk ke dalam mobil. Dan tak berselang lama sekretarisnya berlari menghampiri.


"Maafkan saya, pak! Saya datang terlambat," ucapnya dengan nafas memburu.


"Tidak usah banyak bicara. Cepat masuk ke dalam!" ucap Dave dingin.


Glekk....Sekretaris itu terlihat menelan ludahnya sendiri melihat ekspresi Dave. Ia pun bergegas membuka pintu bagian depan dan menghempaskan tubuh diatasnya.

__ADS_1


Pak Aji menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukannya dengan kecepatan sedang sesaat setelah sekretaris itu masuk ke dalam.


"Berikan berkas yang harus kita tunjukkan pada klien nanti. Saya ingin memeriksanya sebentar" ucap Dave saat mereka sudah berada di tengah jalan.


"Lho, bukankah berkas itu sudah ada sama bapak? Semalam kan saya sudah memberikan berkas itu" tanya sekretaris memutar tubuh menghadap Dave.


"Iyakah?" Sontak Dave pun mencari diantara tumpukan berkas yang ada di sampingnya. Namun mendadak ia merasa ada yang janggal.


"Lho, kenapa berkas berisi CV ku tidak ada? bukankah kemarin aku meletakkannya diantara tumpukan berkas ini," gumam Dave dalam hati.


Dave pun mencoba mengingat-ingat kembali dimana terakhir kali ia letakkan berkas itu, tapi ia yakin betul jika berkas itu memang berada diantara tumpukan berkas yang ada di dalam mobilnya itu. Sebuah praduga pun muncul dalam benaknya.


"Apa Farhan yang mengambil berkas itu? tapi untuk apa? kenapa dia melakukannya? dia kan hanya karyawan rendahan."


Namun tiba-tiba ingatannya kembali ke kejadian dimana ia melihat Langit menjatuhkan berkas itu. Mau tak mau hal itu semakin memperkuat dugaannya bahwa Langit lah yang mengambil berkas itu.


"Jangan-jangan ada seseorang di belakangnya yang menyuruhnya untuk menyelidikiku dengan menyamar sebagai OB. Selama ini sikapnya juga sangat mencurigakan. Apalagi kata pak Aji tadi ia langsung buru-buru pergi setelah membersihkan mobilku."


"Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya melakukan semua ini. Yang jelas semua ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus segera mengambil tindakan atau semua rencana yang sudah kususun matang-matang akan hancur berantakan."


"Mau tak mau aku harus segera mempercepat pengalihan perusahaan ini atas namaku. Bagaimanapun caranya, aku harus membuat Nayla menandatangani berkas itu."


Melihat Dave hanya diam melamun, sekretaris itu berusaha menyadarkannya kembali dengan memanggil-manggil namanya. Namun Dave tak juga menyahuti panggilannya itu. Baru pada panggilan ke sepuluh Dave menyahuti panggilannya.


"A...apa? Kau bilang apa tadi?" tanya Dave, kembali tersadar dari pikirannya sendiri.


Sekretaris itu menghela nafas berat dan kembali mengulang pertanyaannya tadi. Sontak Dave pun menyambar berkas yang ada disampingnya. "Sudah! aku sudah menemukannya."


Sekretaris itu membetulkan kembali posisi duduk. Dan tak berselang lama mereka pun sampai di tempat pertemuan. Namun sepanjang pertemuan pikiran Dave tak bisa fokus. Ia masih saja memikirkan perihal hilangnya berkas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2