Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 30


__ADS_3

"Kau sudah pulang, Dave," ucap Nayla setelah membukakan pintu untuk suaminya. "Sini tas kamu, biar aku yang bawakan!."


Dave menyerahkan tas kerja yang dibawanya pada Nayla. "Terimakasih, sayang!" ucapnya sambil memyunggingkan sebuah senyuman kemudian melenggang masuk dan menghempaskan tubuh di atas sofa.


Nayla pun mengikuti suaminya dari belakang. "Bagaimana harimu di kantor?."


"Cukup melelahkan. Tapi tak apa, yang penting kamu dan bayi kita baik-baik saja," ucapnya penuh dusta. Padahal selama di kantor kerjanya bersantai saja dan hanya tinggal menyuruh. Namun sayangnya Nayla yang terlalu percaya padanya tak menyadari hal itu.


"Mau aku buatkan minuman dulu?" tawarnya.


"Boleh! Tolong buatkan aku segelas es jeruk."


"Baik, tunggu sebentar disini. Biar aku buatkan es jeruk dulu buatmu." Nayla melenggang menuju dapur dan kembali lagi sambil menenteng baki berisi segelas es jeruk di tangan.


"Ini, Dave, minumlah!" menyodorkan minuman itu ke hadapan suaminya lalu meletakkan baki diatas meja. "Bagaimana dengan keadaan di kantor? Apa ada masalah?" tanyanya sambil menghempaskan tubuh di samping sang suami.


"Kamu tenang saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Semuanya baik-baik saja.


"Syukurlah kalau begitu!"


Dave menyeruput minuman yang dibuat oleh istrinya tadi, tapi kemudian ia teringat dengan wanita yang datang ke kantor siang tadi.


"Oh ya, ngomong-ngomong tadi siang ada seorang wanita yang mencarimu di kantor. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan denganmu."


"Oh ya? Siapa?" tanya Nayla, memandang suaminya intens.


"Dia tadi menyebut dirinya sebagai tante-mu. Kalau tidak salah namanya Dinda."


"Oh, tante Dinda."


"Jadi kamu benaran mengenalnya? Aku kira dia hanya mengaku-ngaku saja tadi. Lagian kau kan tak pernah menceritakan tentangnya padaku.


Nayla tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Maafin aku, sayang. Bukannya aku tak ingin mengenalkannya padamu. Hanya saja semua hal yang terjadi pada kita selama ini membuatku lupa dengannya. Lagipula selama ini dia tidak tinggal di Indonesia."


Dave manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya. "Oh gitu. Pantas saja aku tidak pernah tahu.


"Oh ya, tadi Tante Dinda bilang apa padamu? Mungkin dia meninggalkan pesan."


Dave menggeleng. "Tidak! Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya bilang akan menghubungimu nanti."


"Kira-kira ada perlu apa ya Tante Dinda mencariku?"


Dave mengedikkan bahu. "Entah! Aku tidak tahu." lalu lanjut menyeruput minumannya tadi.


"Ah. Es jeruk buatanmu memang sangat segar. Kau memang paling pintar membuatku segar kembali dengan masakanmu setelah penat bekerja seharian."

__ADS_1


Nayla tetsenyum mendengar pujian suaminya. "Kau mau makan malam sekarang?" tawarnya.


"Tidak, nanti saja!."


Sesaat mereka sama-sama diam, tak tahu harus membicarakan apa lagi.


Dave menghempas tubuh di sandaran sofa untuk merilekskan punggungnya yang sedari tadi terasa kaku. Namun tak lama kemudian ia menegakkan tubuh lagi.


"Nay, aku boleh minta sesuatu nggak?" tanyanya. Dipandangnya wajah sang istri intens.


"Minta apa?" tanya Nayla, mengalihkan pandangan pada suaminya lagi. "Kalau bisa pasti aku turuti."


"Mmh..." Dave terlihat sedikit ragu untuk berucap, tapi akhirnya ia pun mengatakannya. "Boleh tidak kalau aku minta mobil baru."


Nayla tersedak oleh air liurnya sendiri akibat terkejut mendengar permintaan suaminya. "Memangnya mobilmu yang sekarang kenapa? Bukannya mobilmu masih bagus?."


"Bagus apanya, Nay? mobilku yang sekarang itu sudah sering rewel. Lagian malu kan sama klien kalau tahu pimpinan perusahaan pakai mobil butut."


Nayla menghela nafas mendengar alasan yang disampaikan oleh suaminya, namun pada akhirnya ia setuju juga. "Baiklah, nanti aku belikan mobil baru buatmu."


"Jangan nanti, Nay. Sekarang aja ya?" sergah Dave, khawatir Nayla berubah pikiran dan tak jadi membelikannya mobil baru.


"Tapi sekarang sudah malam, Dave. Apa tidak sebaiknya besok pagi saja?."


"Belum terlalu malam, Nay. Sekarang baru pukul enam. Kalau kita berangkat sekarang pasti keburu. Aku inginnya besok mobil itu sudah bisa aku gunakan untuk pergi ke kantor. Jadi wibawaku di hadapan para karyawan juga ikut bertambah."


Namun Dave malah menganggap ucapan Nayla sebagai angin lalu. "Terserah apa katamu. Tapi menurutku wibawa seorang pemimpin juga di lihat dari kendaraan yang dipakainya."


Tak ingin berdebat lebih lama tentang cara pandang, Nayla memilih untuk mengalah. "Terserah kamu. yang penting aku sudah memperingatkanmu. Kalau begitu kita berangkat sekarang. Biar nanti pulangnya tidak kemalaman."


Dave mengangguk setuju. "Tunggu sebentar, biar aku ganti pakaian dulu. Lima menit lagi kita berangkat."


Dave melesat ke kamar dan berganti pakaian dengan secepat mungkin. Nayla mengikuti suaminya dari belakang dan bersiap pula.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Dave setelah siap.


"Ayo!." Mereka pun pergi menuju showroom terbesar di kota ini.


Setibanya di showroom milik salah satu rekan bisnis Nayla, mereka di sambut oleh manager langsung karena saat di jalan tadi Nayla sudah memberitahukan akan kedatangannya pada pemilik showroom yang langsung memyuruh managernya untuk melayaninya secara langsung.


"Selamat datang di showroom kami, bu Nayla. Kalau boleh tahu mobil seperti apa yang ingin anda cari," ujar manager ramah.


Nayla menyunggingkan senyuman. "Bukan buat saya, tapi buat suami saya. Jadi biar dia sendiri yang memilih. Tolong anda perlihatkan saja mobil yang ada di sini padanya."


Manager menganggukkan kepala. "Baik, bu! Mari, pak ikut dengan saya. Biar kami perlihatkan semua mobil kami pada anda."

__ADS_1


Dave mengangguk dan mengikuti langkah manager. Satu persatu ia susuri semua mobil yang ada disitu namun tak ada satupun dari deretan mobil itu yang sesuai dengan seleranya. "Apa hanya ini mobil yang kalian punya?" tanyanya.


"Coba anda katakan mobil seperti apa yang anda inginkan?."


Dave menyebutkan spesifikasi mobil yang di inginkannya. Manager sejenak berpikir mencari mobil yang sesuai dengan yang diinginkan oleh customernya.


"Oh ya, Pak, kami memiliki mobil yang sesuai dengan spesifikasi yang ada inginkan. Tapi mobil itu sangat mahal karena produksinya yang terbatas."


"Tunjukkan saja mobil itu padaku, jangan khawatirkan soal harga. Anda tahu sendiri kan kalau istri saya sangat kaya."


Mcanager memgangguk mengerti. "Baik, pak! Mari ikut dengan saya."


Manager pun menunjukkan pada Dave mobil yang dimaksud. Sebuah mobil berjenis porsche Boxster berwarna metalik yang terlihat begitu mewah dan berkelas, membuat Dave langsung terpukau dan menyukainya begitu melihatnya.



"Bagus sekali mobil ini. Sesuai dengan yang aku inginkan" ucapnya sambil mengelus body mobil itu.


"Jadi bagaimana, pak? Apa anda tertarik untuk mengambilnya?."


"Tentu saja! Aku sangat suka dengan mobil ini."


"Nay, aku ambil mobil yang ini ya!" teriaknya memanggil sang istri.


Dan tanpa melihatnya duluo, Nayla langsung setuju. "Terserah kamu saja, Dave. Pilih mana pun yang kau suka."


"Anda dengar sendiri kan apa kata istri saya? Jadi persiapkan semuanya dan masukkan tagihannya ke istri saya. Saya ingin besok pagi mobil itu sudah ada di depan rumah saya."


Manager mengangguk. "Baik, pak, kami mengerti. Segera akan kami proses dan memastikan besok anda sudah melihat mobil ini di depan rumah anda."


Usai dengan urusan mobil, mereka pun kembali pulang. Namun setibanya di apartemen, ponsel Nayla berdering menampakkan nama tante Dinda di layarnya.


"Kamu duluan aja ke kamar, Dave. Aku mau angkat telepon dulu."


Dave mengangguk dan berlalu ke kamar. Sementara Nayla menerima panggilan itu. "Halo tante, ada apa menelponku malam-malam begini?."


"Halo, Nay, bisa Kita bertemu besok? ada hal penting yang ingin tante bicarakan denganmu."


"Hal penting apa ya tante?"


"Besok saja tante katakan kalau kita sudah bertemu."


Nayla menghela nafas. "Baiklah, tante. Dimana kita akan bertemu besok?"."


"Di kafe XX jam sepuluh pagi."

__ADS_1


"Baik, tante. Besok Nayla kesana." Dan sambungan telepon pun terputus.


"Kira-kira hal penting apa yang yang ingin tante Dinda bicarakan denganku besok? Dari nada bicaranya tadi kelihatannya itu hal yang sangat serius."


__ADS_2