
Nayla mendapati tubuh suaminya ambruk menimpa dirinya saat ia membukakan pintu. Dari tubuhnya menguar bau alkohol yang.begitu menyengat.
Niat hati hanya ingin membantu agar tubuhnya tak jatuh. Namun Dave malah mendorongnya hingga membuatnya jatuh terjerembab.
Dave tak menghiraukan istrinya yang meringis kesakitan akibat ulahnya. Bahkan tak terbersit sedikitpun rasa iba di hati.
Natasha pun turut terbangun saat pintu digedor keras. Ia keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Namun ia hanya diam menonton saat melihat putranya mendorong tubuh Nayla.
Nayla segera bangkit, tak dihiraukannya rasa sakit akibat terjatuh tadi. Ada hal lebih penting yang harus ia tanyakan. "Dave, kamu dari mana saja sampai pulang selarut ini? Lalu kenapa tubuhmu juga bau alkohol? Kau mabuk-mabukan?."
Mendengar rentetan pertanyaan sang istri, Dave menghentikan langkah dan memutar tubuh. "Bawel banget sih jadi orang! Bisa diem, nggak? Nggak tahu apa orang lagi pusing," bentaknya keras.
Dibentak sedemikian keras oleh suaminya Nayla pun gemetar ketakutan. Seumur-umur baru kali ini ada orang yang berani membentaknya. Namun keingintahuan membuatnya membuang jauh perasaan takut itu. "Tapi, Dave, aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku terus menunggu kepulanganmu disini sepanjang malam."
"Bisa diem nggak? Jangan bertanya apapun lagi atau aku akan memukulmu" bentak Dave kembali. "Lagipula siapa yang menyuruhmu untuk menungguku pulang?."
"Aku ini istrimu, Dave! Aku berhak tahu apa saja yang kau lakukan."
Mendengar ucapan Nayla, Dave malah mencibir sinis. "Istri macam apa yang tak bisa menjaga kesuciannya. Aku bahkan sangat menyesal telah menikahimu. Aku malu menganggapmu sebagai istriku."
Nayla terkejut setengah mati mendengar kata-kata pedas nan menusuk hati yang dilontarkan oleh suaminya. "Apa maksudmu berkata seperti itu, Dave?," tanyanya dengan dahi berkerut.
"Kau masih tak mengerti apa maksudku? Baik, akan aku beritahu."
Sejenak Dave menjeda ucapanya untuk menghirup udara sebelum akhirnya kembali membuka suara. "Kau itu tak lebih dari seorang ******* murahan yang bersembunyi dibalik wajah malaikatmu! Kau menyerahkan tubuhmu pada setiap lelaki yang mendekatimu, iya kan?" ucapnya dengan ekspresi sedingin es. Wajahnya ia dekatkan ke wajah Nayla untuk menekankan kalimatnya.
Mendengar ucapan pedas sang suami yang begitu merendahkannya Nayla pun tersulut amarah. Sontak ia melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Dave.
Plakkk....
__ADS_1
"Jaga ucapanmu, Dave!. Aku bukan wanita seperti itu."
Natasha hanya melihat pertengkaran antara Dave dan Nayla yang terjadi di depannya tanpa ada keinginan untuk melerai. Ia melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar di tembok dengan senyum sinis tersungging di bibir. Sebetulnya ia pun tak mengira bahwa inilah alasan dibalik sikap dingin Dave beberapa hari ini.
Dave memegangi pipinya yang memerah akibat terkena tamparan Nayla. Sudut bibir ia tarik ke samping tersenyum mengejek. "Kau masih saja mengelak dan tak mau mengaku? Lalu apa sebutan yang pantas untuk disematkan pada seorang wanita yang tak mengeluarkan darah keperawanan di malam pertama selain dari seorang ******* murahan?."
Nayla mundur beberapa langkah ke belakang, terkejut mendengar ucapan suaminya. "Ja....jadi ini alasan dibalik perubahan sikapmu terhadapku belakangan ini?" tanyanya terbata.
Nayla memang tak melihat adanya noda darah di seprei setelah malam pertama mereka. Namun ia tak pernah menyangka bahwa hal itu akan membawa masalah besar dalam pernikahannya.
"Kau pikir apa?" teriaknya marah. "Mana ada seorang suami yang rela tubuh istrinya dijamah oleh laki-laki lain?."
"Tapi itu tidak benar, Dave! Aku ini masih suci. Tidak ada lelaki manapun yang menyentuhku selain kau. Kaulah yang pertama melakukannya terhadapku."
"Cuih!" Dave meludah ke samping dengan maksud mengejek ucapan Nayla. " Kalau kau memang benar masih suci, lalu kenapa kau tak mengeluarkan darah keperawanan saat malam pertama kita? Itukah yang kau sebut sebagai masih suci?" cibirnya.
"Tapi kesucian seorang wanita tidak bisa dilihat dari keluar tidaknya darah keperawanan saat malam pertama, Dave. Banyak wanita di dunia ini yang tak mengeluarkannya tapi mereka masih suci, termasuk diantaranya adalah aku."
"Aku tak membuat alasan, Dave, yang kukatakan tadi memang benar. Beberapa wanita tak bisa mengeluarkan darah keperawanan dengan alasan pernah terjatuh hingga membuat selaput daranya robek, atau karena selaput daranya yang tipis sehingga tak mengeluarkan darah saat terkoyak."
"Alasan! Sekali murahan, tetap murahan!. Aku tak sudi lagi menganggapmu sebagai istriku. Aku akan segera menceraikanmu. Detik ini juga kau bukan lagi istriku."
Duarr....
Bagaikan petir menyambar di siang bolong. Suaranya yang memekakkan telinga membuat siapapun yang mendengarnya terkejut setengah mati.
Demikian juga dengan Nayla. Ia terkejut setengah mati dan tak pernah menyangka bahwa Dave akan berkata seperti itu.
Baru tiga hari mereka menikah. Tak pernah terbayangkan dalam benak Nayla kalau ia akan diceraikan secepat itu, bahkan tidak dalam mimpi sekalipun.
__ADS_1
Sontak Nayla berlari menubruk Dave dan bersimpuh memeluk kakinya. "Tarik kembali Kata-katamu, Dave. Jangan pernah bicara tentang perceraian!. A...aku bisa menjelaskan semuanya" ucapnya dengan berurai air mata.
Dave tak bersimpati sedikitpun melihat air mata istrinya. Kekecewaan telah membekukan mata hatinya. Bahkan dengan tega ia mendorong tubuh ringkih sang istri hingga membuatnya jatuh terjerembab.
"Singkirkan tangan kotormu dari kakiku, dan jangan pernah berani menyentuh tubuhku lagi, mengerti!" Ucapnya dingin dengan sorot mata tajam yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
Tubuh Nayla gemetar ketakutan, namun ia tak mau menyerah. Ia kembali mendekati Dave dan memohon agar ia mau merubah keputusannya. "Tolong beri aku satu kali kesempatan, Dave, aku akan menjelaskan semuanya."
"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan! semuanya sudah jelas bagiku. Keputusanku pun sudah bulat. Besok aku akan mengajukan berkas perceraian kita ke pengadilan."
Nayla menggeleng keras, menolak keputusan suaminya. "Tidak, Dave, aku mohon jangan lakukan itu! Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu."
Namun Dave malah membisu, tak bergeming sedikitpun dengan air mata yang mengalir di pipi istrinya. Ia malah berlalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Melihat kepergian suaminya, Nayla menangis histeris. "Aku mohon dengarkan aku, Dave, beri aku satu kesempatan untuk menjelaskan! Aku berani bersumpah atas nama Tuhan, tidak ada lelaki yang menyentuhku selain kau. Aku wanita yang suci, Dave."
Dave terus saja berlalu tanpa mau menoleh sedikitpun ke belakang. Nayla tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah kepergian suaminya. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis. Jerit tangisnya terdengar begitu menyayat hati.
Bunga melati hiasan di kamar pengantin putih tersusun rapi, harum segar mewangi. Tanda-tanda bekas pesta masih tersisa, seakan turut mengiringi pesta kita.
Bunga melati hiasan di kamar pengantin menjadi saksi bisu dimalam pertamaku. Oh melati.....
Kini semua telah berubah dengan kepedihan. Kau tuduh diriku telah ternoda.
Walau aku telah bersumpah atas nama Tuhan kau tetap tak mau menerimaku.
Baru tiga hari menikah kau tega menjatuhkan talak. Kau hina diriku di depan orang. Tanpa kau sadar dirimu siapa.
Lihatlah! Semua orang mendengar ceritaku.
__ADS_1
Lihatlah! Semua orang menatap penuh ragu.
Lihatlah! Seakan aku manusia paling buruk, paling terhina di dunia.