
Brakkk....
"Bodoh! Kenapa keuntungan perusahaan bisa menurun drastis seperti ini?," teriak Dave marah. Dilemparkannya barang-barang yang ada diruangan itu hingga hancur berantakan.
Pagi itu saat memimpin rapat, Dave marah besar saat mendengar laporan bahwa keuntungan perusahaan menurun drastis. Ia pun melampiaskan kemarahannya itu pada semua bawahannya.
Para karyawan yang menghadiri rapat hari itu terlihat sangat ketakutan melihat kemarahan suami dari bos mereka. Tak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat kepala apalagi mengeluarkan suara.
Melihat kebungkaman para karyawan, kemarahan Dave semakin bertambah. Di gebraknya meja rapat dengan keras hingga membuat semua yang hadir terjingkat karena kaget. "Apa kalian semua bisu? Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang menjawab pertanyaanku?."
Dave menyisir satu persatu wajah penuh ketakutan para karyawan, namun hal itu malah membuatnya semakin marah. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada pak Bagas, karyawan paling senior di kantornya. "Pak Bagas, jelaskan pada saya kenapa ini bisa terjadi?" ucapnya dingin.
Pak Bagas terlihat gemetar ketakutan saat namanya di sebut. Perlahan ia mengangkat kepala untuk menjawab. "Maaf, pak, ini semua terjadi karena kemarin kita gagal mendapatkan proyek besar itu," ucapnya takut-takut.
"Itu semua karena kalian nggak becus dalam bekerja. Coba saja kalian bisa sedikit lebih pintar, pasti sekarang kita bisa berpesta karena mendapatkan keuntungan besar."
Pak Bagas kembali menundukkan kepala. Dalam hati ia berkata, "Di jawab salah, nggak di jawab apalagi."
"Saya nggak mau tahu, pokoknya kalian harus segera mendapatkan proyek besar baru untuk menggantikan kerugian ini. Atau kalau tidak, saya tidak akan memberikan gaji kalian bulan ini."
Setelah berkata begitu, Dave keluar dari ruangan dan meninggalkan rapat begitu saja.
Sepeninggal Dave, para karyawan hanya bisa mengelus dada menghadapi sikap arogan suami sang bos perusahaan.
"Dianya yang nggak becus kerja, tapi malah kita yang disalahin."
"Iya, mentang-mentang jadi suami bos sikapnya jadi seenaknya gitu. Padahal dia kan nggak punya kemampuan apa-apa untuk memimpin perusahaan."
__ADS_1
Pak Bagas yang mendengar cuat-cuait para karyawan segera menghentikan mereka. "Sudah, cukup! Nggak usah bahas itu lagi. Yang harus kita pikirkan sekarang itu bagaimana kita bisa mendapatkan proyek besar lain, bukan malah gibah kayak gini. Emangnya kalian mau bulan ini nggak terima gaji?."
Para karyawan sontak diam mendapat teguran seperti itu. "Maafkan kami, pak. Tapi gimana caranya kita bisa mendapatkan proyek baru dalam waktu singkat, pak? Apalagi sekarang kan sudah mendekati akhir bulan."
"Itu dia yang harus kita pikirkan bersama."
Pak Bagas merupakan karyawan yang cukup disegani oleh para karyawan lain. Selain karena usianya yang sudah paruh baya, beliau juga pimpinan yang baik dan ramah. Tak segan ia menutupi kesalahan para bawahannya agar tak kena marah. Itulah mengapa para karyawan sangat menghormatinya.
Para karyawan kembali diam, berpikir untuk mencari solusi terbaik. Namun tak disangka, Dave yang sudah keluar ruangan sedari tadi ternyata kembali lagi ke dalam ruangan untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Melihat para karyawan masih duduk diam disana, ia kembali marah. "Kenapa kalian semua masih ada disini? Ayo sana cepat kembali bekerja!."
Para karyawan sangat terkejut mendengar suaranya, tak menyangka bahwa suami bos mereka akan kembali lagi. Padahal tujuan mereka masih berada disana adalah untuk mendiskusikan cara untuk mendapatkan proyek baru seperti yang ia perintahkan. Sontak mereka langsung berhambur keluar ruangan karena tak ingin menjadi sasaran amukannya.
"Gimana perusahaan bisa mendapat untung kalau karyawannya kerjanya hanya ngerumpi saja," geramnya kesal.
"Dasar karyawan nggak guna. Bikin orang emosi saja!."
"Marah-marah kayak tadi ternyata cukup menguras tenaga juga. Lebih baik sekarang aku keluar untuk menjernihkan pikiran dulu."
Ia pun segera memacu kendaraannya keluar dari perusahaan. Namun baru saja keluar dari area perusahaan, tiba-tiba ada sebuah truk tronton bermuatan penuh melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Rupanya truk itu mengalami rem blong hingga kemudian mengarah ke mobil yang di kendarai oleh Davka.
Dave yang saat itu sedang membungkukkan tubuh karena ingin mengambil ponselnya yang terjatuh di kolong kursi pun tak melihat kejadian itu. Hingga akhirnya ia tak sempat untuk menghindar dan terjadilah tabrakan yang sangat keras.
Duarr....
"Argkkkk...."
__ADS_1
Mobil Davka ringsek dan masuk ke kolong truk. Para pengguna jalan yang melihat kejadian itu pun berhamburan mendekat.
"Astaga! Pengemudi mobil itu masih hidup. Ayo kita bantu dia keluar," ucap salah satu diantara mereka saat mengetahui Dave masih bernafas.
Sontak para warga pun beramai-ramai membantu mengeluarkan Davka. Namun posisi tubuhnya yang terjepit bodi mobil membuat para warga sedikit kesulitan untuk mengeluarkannya. Terpaksa warga memecahkan kaca mobil yang terlihat masih utuh dan menarik tubuhnya keluar sebelum ia kehilangan kesadarannya.
Tindak penyelamatan yang cukup dramatis, membuat para pengguna lain yang baru saja melintas menghentikan kendaraan mereka untuk melihat kejadian itu. Sontak kemacetan panjang pun terjadi di ruas jalan itu. Apalagi kecelakaan itu terjadi tepat di perempatan jalan.
Setelah berhasil mengeluarkan Dave, para warga pun membaringkan tubuhnya diatas tanah lalu memanggil ambulans serta polisi untuk melaporkan kejadian itu.
Tak berselang lama mobil ambulans pun datang. Dave segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Apalagi kondisinya saat itu sangat kritis.
Tak berselang lama, mobil polisi pun datang. Mereka langsung memasang police line di sekitar tempat kejadian dan menanyai para saksi.
Para warga yang melihat kejadian itu pun memberikan keterangannya pada polisi sesuai dengan apa uang mereka lihat dan saksikan.
Polisi mencatat semua keterangan warga dan juga nomor mobil sebagai bahan laporan.
"Apa kalian mengenal siapa korban yang baru saja dibawa ke rumah sakit tadi?" tanya polisi usai mencatat semua.
Para warga menggelang. "Tidak pak, kami tidak mengenalnya. Tapi tadi kami sempat melihat kalau mobil itu keluar dari perusahaan yang ada disana," menunjuk ke arah salah satu perusahaan yang ada di jalan itu. "Mungkin dia karyawan perusahaan itu atau bahkan pemiliknya. Tapi dilihat dari mobil yang dikendarainya, mungkin saja dia adalah pemiliknya."
Polisi manggut-manggut dan kembali mencatat keterangan para saksi. "Baik, terimakasih atas keterangannya," ucapnya kemudian.
Tak berselang lama mobil derek pun datang dan menderek mobil itu ke tepi jalan untuk mengurai kemacetan panjang yang terjadi diakibatkan oleh kecelakaan itu.
Secara tak sengaja, salah seorang polisi melihat dompet Davka yang terjatuh beserta ponsel miliknya. "Pak, kami menemukan barang pribadi milik korban" ucapnya lalu menyerahkan kedua barang tadi pada polisi lain yang merupakan atasannya.
__ADS_1
Sang atasan pun memeriksa dompet Davka untuk mencari kartu tanda pengenalnya.
"Davka Digdaya" ucapnya membaca nama yang tertera di kartu tersebut. Ia pun lalu menghubungi keluarga korban dari ponsel miliknya.