
Kania sangat syok hingga membuatnya jatuh oingsan saat mengetahui bahwa Nayla, putri kesayangannya telah melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Namun tindakan sang suami yang malah mengusirnya memancing perdebatan diantara mereka.
Melihat kedua orangtuanya bertengkar lantaran dirinya, Nayla segera melerai perdebatan itu. "Sudahlah, bunda! jangan membelaku lagi di hadapan ayah. Aku tak ingin melihat kalian bertengkar seperti ini. Toh itu juga tak kan membuat ayah merubah keputusannya."
"Maafkan aku, bunda! Tapi semua ini memang salahku. jadi sebaiknya aku memang harus pergi dari rumah ini."
Kania menggelengkan kepala, menolak keras ucapan putrinya. "Tidak, nak, jangan dengarkan ayahmu! kau tidak boleh pergi meninggalkan rumah ini." Ia pun segera bangkit dan memegang lengan putrinya agar tak pergi. "Berjanjilah untuk tetap disini dan menemani bunda!"
Perlahan Nayla melepaskan genggaman bundanya. Senyum penuh kegetiran terukir diwajah. "Maafkan Nayla, bunda! Tapi Nayla tidak bisa memenuhi keinginan bunda, apalagi berjanji untuk tetap tinggal disini." Ia pun mulai melangkah mendekati suaminya, "Ayo Dave, kita pergi dari rumah ini."
Melihat Nayla kekeh ingin pergi dari rumah hati Davka mulai ketar-ketir. Ia harus mencegahnya atau semua rencananya akan berantakan. "Mmmh...Nayla, menurutku turuti saja perkataan bundamu. Apa kau tidak merasa kasihan melihatnya memohon padamu seperti ini?" ucapnya. Dipandangnya mandi hitam milik sang istri intens sementara tangan mengusap lengannya dengan lembut.
"Tidak, Dave, kita tidak bisa tinggal di sini," jawabnya dengan senyum penuh kegetiran. "Aku tak ingin melihat ayah dan bunda bertengkar seperti ini."
Nayla beralih menatap bundanya. "Bunda, Nayla pamit! jaga diri Bunda baik-baik, dan.... maafkan Nayla," ucapnya lirih.
Kania menggeleng keras, air mata mulai menetes membasahi pipi. "Tidak, Nayla! kau tidak boleh pergi meninggalkan Bunda."
Ia pun beralih menatap suaminya, berharap ia mau merubah keputusannya. "Mas Abhi, aku mohon hentikan Nayla. Jangan biarkan dia pergi dari sini."
"untuk apa menghentikannya! biarkan saja dia pergi!," jawab Abimana datar. "Toh dia sudah membuat keputusannya sendiri."
"Beberapa kesalahan ada yang bisa dimaafkan, ada juga yang tidak. Dan kesalahan yang diperbuat oleh Nayla tidak bisa dimaafkan lagi. Jadi dia harus menerima konsekuensinya."
Nayla kembali menundukkan kepala, tak menyangka bahwa kesalahannya ini akan berbuah dengan pengusiran dirinya dari rumah. Ia menggigit bibir bawah menahan kegetiran di hati. "Nayla pamit ayah, bunda. Dan andai bisa....tolong maafkan Nayla."
Setelah mengatakan itu, ia langsung berlari keluar rumah dengan linangan air mata. Ia tak sanggup lagi menahan kesedihan ini lebih lama lagi. Melihat kepergian istrinya, Dave pun berlari mengejarnya.
__ADS_1
"Nayla, tidak....." teriak Kania memanggil putrinya. Ia hendak berlari mengejar putrinya. Namun dengan sigap Abhimana menangkap pergelangan tangannya.
Kania berusaha keras untuk melepaskan genggaman Abhimana dari tangannya. "Lepaskan tanganku, Mas Abhi. Aku harus mengejar Nayla," ucapnya. Namun genggaman itu sangatlah kuat.
"Jangan coba-coba mengejar apalagi menghentikannya. Aku tidak mengizinkannya!" ucapnya datar.
Bola mata Kania melebar, tak percaya mendengar ucapan suaminya. "Kenapa Mas Abhi bicara seperti itu?" tanyanya. "Tidak, semua yang terjadi ini tidak benar" menggeleng keras, menolak semua yang terjadi.
"Maafkan aku, Mas abhi. Kali ini aku tidak bisa menuruti perkataanmu. Aku tetap akan menghentikan Nayla," ucapnya tegas.
Kania berusaha keras melepaskan genggaman Abhimana dari tangannya. Namun semakin keras ia berusaha, semakin kuat genggaman itu. Hingga Ia pun meringis kesakitan. "Auch... kau menyakiti tanganku, Mas Abhi." Sontak Abhimana pun melepaskan genggamannya.
"Kau ingin mengejar Nayla? Baiklah silahkan! Aku tidak akan menghentikanmu lagi," ucapnya dengam tangan terbuka.
Kania tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Terimakasih, Mas Abhi. Akhirnya kau mau mengerti."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Kania menganga tak percaya mendengar perkataan suaminya. "Ap... apa?."
Air mata pun meleleh membasahi pipi. "Kau jahat, Mas Abhi, Kau jahat! aku benci kamu." Ia pun segera berlari ke kamar meninggalkan suaminya.
Abhimana menatap kepergian istrinya dengan penuh kesedihan. "Andai kau tahu perasaanku, Kania, tak mungkin kau bersikap seperti itu padaku Ini semua juga tak mudah bagiku. Menyakiti orang yang kusayangi sama saja dengan menyakiti diriku sendiri. Tapi semua ini harus aku lakukan. Naluri seorang ayahlah yang membuatku bertindak seperti ini. Aku merasa ada yang tidak beres dari niat lelaki itu mendekati anak kita, dan aku harus mengungkap siapa jati diri lelaki itu sebenarnya."
...****************...
Sementara itu....
Nayla berlari keluar setelah mengucap salam perpisahan kepada bundanya. Ia tak sanggup berada di dalam lebih lama lagi.
__ADS_1
Sesampainya di luar, ia langsung membuka pintu mobil dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi penumpang. Ia tumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan di situ. "Ya Allah, bukankah mencinta dan dicinta adalah hak setiap manusia? Lalu kenapa aku harus dihukum karenanya?."
Nayla menangis dan terus menangis tak terhitung lagi.banyaknya air mata yang tertumpah hari itu.
Tak berselang lama, Dave datang menghampirinya. Ia ikut masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Melihat istrinya menangis sedih, bukannya menenangkan, Dave malah marah-marah. "Kenapa kau sebodoh ini? Kenapa kau malah meninggalkan rumah ini di saat ibumu sendiri yang memintamu untuk tetap tinggal? lalu di mana kita akan tinggal setelah ini?."
Nayla terkejut melihat suaminya marah-marah seperti itu. "kenapa kau malah memarahiku?," tanyanya lirih, wajahnya menatap sendu.
Terbersit sedikit perasaan bersalah di hati Dave melihat betapa hancurnya Nayla saat ini. Kekhawatiran akan rencana yang terancam berantakan membuatnya gelap mata dan menumpahkan amarah padanya.
Dave menghela nafas berat, mengusap wajahnya kasar. "Maafkan aku! aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bingung harus tinggal di mana setelah ini."
Nayla tersenyum pedih mendengar ucapan suaminya. Disaat seperti ini ia malah sibuk memikirkan tempat tinggal. "Kau tenang saja, aku memiliki apartemen sendiri. Kita bisa tinggal di sana."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan? apakah kita akan kehilangan pekerjaan setelah in?."
"Itu tidak akan terjadi, sebab perusahaan itu adalah milikku, kakekku yang telah mewariskannya padaku."
Dave tersenyumlah lega. "Baguslah kalau begitu. setidaknya kita tidak akan menjadi gembel setelah ini."
Nayla tersenyum kecut. Ia sangat kecewa mendengar ucapan suaminya. namun ia tak bisa berbuat banyak. Ia tak ingin menghancurkan pernikahannya sendiri yang baru seumur jagung.
Suasana berubah sunyi. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Nayla masih sedih dan kecewa dengan ucapan ayahnya, sekaligus tak sanggup berpisah dengan sang Bunda yang selalu ada di saat ia butuhkan.
Sementara Dave, mendengar bahwa perusahaan adalah milik sang istri, ia sibuk membuat rencana baru. "Bagaimanapun caranya aku harus merebut perusahaan itu dari tangan Nayla. aku harus membuat keluarga Abimana hancur sehancur-hancurnya untuk membalaskan dendamku. Biar dia juga merasakan apa yang dulu kualami" ucapnya dalam hati.
__ADS_1