Maaf Yang Terlambat

Maaf Yang Terlambat
Bab 24


__ADS_3

Abhimana mendapat kabar dari salah. satu orang kepercayaannya bahwa putranya, Farrel tengah mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk ke jurang. Sakit terkejutnya hingga ia berteriak keras, namun tanpa sadar suara teriakannya itu justru malah menggundang istrinya untuk mendekat.


Abhimana sengaja menutupi berita tersebut dari istrinya dengan alasan tak ingin membuatnya khawatir. Namun dengan sedikit menggunakan ancaman akhirnya ia pun tahu juga.


Setelah mengetahui berita tersebut, Nayla justru syok hingga terjatuh di atas lantai. Namun setelah kembali tenang, ia malah memaksa ingin ikut ke rumah sakit dan melihat keadaan putranya secara langsung. Dan disinilah mereka sekarang, di rumah sakit dimana tempat Farrel di rawat.


Abhimana bergegas menuju ruang ICU demgan langkah lebar. Sementara Kania terlihat tergopoh-gopoh demi menyamakan langkahnya dengan langkah lebar sang suami.


Namun tubuhnya yang kecil mungil ditambah dengan pakaian yang dikenakannya hari itu membuatnya semakin kesulitan untuk menyamakan langkah. Hingga akhirnya ia pun terjatuh. "Aduh...." mengaduh dan memegangi lututnya yang terasa sedikit nyeri.


Sontak Abhimana pun menghentikan langkah. "Astaga, Bunda!" pekiknya tertahan, menurunkan tubuh dan membantu istrinya berdiri. "Kenapa bunda bisa jatuh seperti ini?."


Dengan bantuan suaminya, kania kembali berdiri tegak meski lututnya masih sedikit terasa sakit. "Bunda tadi sedikit kesulitan menyamakan langkah dengan Ayah, makanya bunda terjatuh" ucapnya disertai dengan ringisan.


Abhimana memghela nafas. "Maafkan ayah, bund. Harusnya ayah mengerti keadaan Bunda." ucapnya lirih. "Ya sudah, kita ke sana lagi yuk! Bunda masih kuat berjalan sendiri kan? Atau perlu ayah yang gendong," menaik turunkan alis bermaksud untuk menggoda istrinya.


Plakkk...


Sebuah geplakan mendarat di lengan kekar Abhimana namun tak terasa sakit sedikitpun baginya.


"Udah tua masih saja mesum" cebik Kania kesal. "Bisa-bisanya disaat seperti ini malah menggoda bunda."


Tawa berderai keluar dari bibir Abhimana. Sebenarnya ia sengaja melakukan itu untuk mengurangi ketegangan di hati sang istri. "Tapi bunda suka kan di goda oleh ayah?."


"Ish...apaan sih? Nggak jelas banget deh ayah."


Abhimana semakin terpingkal melihat ekspresi kekesalan di wajah istrinya. Sejenak mereka lupa dengan ketegangan akan kondisi Farrel.


"Nggak apalah sekali-kali menggoda istri sendiri, daripada ayah menggoda istri orang?. Tua-tua gini kan pesona ayah nggak kalah sama yang masih muda" ucap Abhimana asal.


Kania mendelik kesal mendengar ucapan ngawur suaminya. "Coba aja kalau berani? Maka ayah akan menemukan bunda menangis sepanjang malam selama sisa umur bunda."


Bukannya segera meminta maaf setelah mendengar ancaman sang istri, Abhimana justru tertawa keras hingga membuat perutnya terasa kaku.


Ditertawakan oleh suaminya sendiri membuat Kania semakin kesal. "Udah puas tertawanya?" ucapnya sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Abhimana pun menghentikan tawa. "Maaf maaf! kan ayah cuma bercanda. Lagipula mana ada wanita yang bisa membuat ayah berpaling dari bunda. Pesona yang bunda miliki itu nggak pernah berubah sejak masih muda. Itulah mengapa ayah selalu merasa jatuh cinta dengan bunda berkali-kali."


"Alah gombal" cebik Kania sambil membuang muka ke samping.


Sementara Adit yang mengikuti mereka dari belakang hanya bisa menahan tawa mendengar gombalan receh dari tuannya.


"Ya udah yuk, kita lanjut lagi jalannya" lanjut Abhimana.


Mereka pun kembali berjalan menuju ruang ICU. Suasana penuh ketegangan pun kembali terasa. Abhimama sengaja memperlambat langkah agar tak membuat istrinya kesulitan dalam berjalan.


Beberapa bodyguard yang berjaga di depan ruang ICU berdiri tegak dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat saat melihat Tuan besar mereka berjalan mendekat.


"Bagaimana keadaan Farrel?" tanya Abhimana dengan wajah penuh kekhawatiran setibanya di hadapan mereka.


"Kami kurang tahu, Tuan. Saat ini Tuan muda Farrel masih berada dalam penanganan dokter."


Abhimana menghela nafas berat. "Baiklah, terimakasih! Kalian boleh beristirahat sekarang, tapi lakukan secara bergantian."


"Tidak, Tuan. Kami akan tetap berada disini sampai kondisi Tuan muda sudah membaik."


Abhimana menghempaskan tubuh di salah satu kursi tunggu yang tersedia di sana. Ia berusaha bersikap setenang mungkin agar istrinya tak semakin khawatir.


Sementara Kania, setibanya di sana pandangannya langsung tertuju pada kaca berukuran kecil yang terdapat di bagian pintu ruangan yang memungkinkannya untuk bisa melihat keadaan di dalam. Ia pun mendekat dan melongok ke dalam.


"Ya Tuhan, Farrel!" pekik Kania tiba-tiba, membuat semua yang berada di sana terjingkat karena terkejut.


Sontak Abhimana pun bangkit dan menghampiri istrinya. "Ada apa, bunda?" tanya Abhimana penuh kekhawatiran.


Kania menatap suaminya dengan wajah berurai air mata. "Lihat ke dalam, Mas Abhi. Tengok keadaan putra kita."


Abhimana pun mengalihkan pandangan ke kaca kecil tersebut dan melongok keadaan di dalam.


Sama seperti istrinya tadi, Abhimana pun sangat syok melihat kondisi sang putra di dalam. Namun ia tak ingin menunjukkan kekhawatirannya itu di hadapan sang istri.


Di dalam, terlihat Farrel terbujur lemah tak berdaya dengan berbagai peralatan medis yang tertancap di tubuh. Tarikan napasnya terlihat begitu lemah. Bahkan beberapa kali dadanya terlihat tersengal dan kesulitan mengambil nafas.

__ADS_1


"Ya Tuhan, putraku" pekik Abhimana dalam hati. Ia beralih memeluk istrinya dan menenangkannya.


"Tenangkan dirimu, bunda. Jangan menangis lagi." Di usapnya punggung sang istri dengan gerakan keatas-bawah.


"Bagaimana bunda bisa tenang sementara putra kita sedang berjuang untuk tetap hidup di dalam sana" ucap Kania, tergugu dalam pelukan sang suami.


Abhimana terdiam tak ingin memaksa sang istri, mengerti apa yang kini dirasakan olehnya karena kini ia sendiri pun diliputi oleh kekawatiran yang sama.


"Kita berdoa saja semoga Allah memberikan keajaiban padanya" ucap Abhimana akhirnya.


Setelah sedikit tenang, Kania kembali melongok ke dalam. Namun kali ini ia jauh lebih syok lagi setelah melihat ketegangan yang terjadi di dalam.


Suasana di dalam semakin tegang saat Farrel mendadak kesulitan bernafas dan detak jantungnya menurun drastis.


"Sus, siapkan alat pacu jantung segera! Kita harus membuat jantung pasien terus berdetak, atau kita akan kehilangannya."


Suster mengangguk, segera mempersiapkan alat pacu jantung yang biasa dikenal dengan nama defribilator.


"Ini, dok!" ucap suster seraya menyerahkan alat itu pada dokter.


Dokter mengambil alat itu dan menggosokkan keduanya dengan gerakan memutar.


"Siap semuanya, sus? Dalam hitungan ketiga kita mulai."


Suster mengangguk dan bersiap di posisi. Dokter mulai menghitung.


"Satu...dua...tiga...mulai!"


Dokter meletakkan alat tersebut diatas dada Farrel dan menekannya kuat-kuat. Terlihat tubuh Farrel menghentak keatas seiring dengan diangkatnya alat tersebut dari tubuh. Namun detak jantungnya belum juga kembali.


"Belum berhasil, sus. kita coba sekali lagi!"


"Baik, dok!"


Kembali dokter melakukan penghitungan dan melakukan apa yang tadi dilakukannya.

__ADS_1


Melihat semua itu, hati Kania semakin tak karuan. "Ya Allah, tolong selamatkan nyawa anakku. Jangan ambil dia dariku."


__ADS_2