
Natasha terlihat sangat kesal lantaran Dave belum juga pulang meski hari sudah larut malam. Ia terus berusaha menghubungi ponselnya namun tidak juga dijawab.
Nayla yang saat itu tengah terbangun karena haus pun sempat khawatir karena suaminya belum juga pulang. Namun Natasha berhasil menenangkannya kembali dan menyuruhnya untuk kembali beristirahat.
Sementara itu di tempat lain, Jessica terlihat sangat kesal karena tidurnya terganggu oleh suara ponsel Dave yang terus berdering. Ternyata Dave sedang tidur di apartemennya setelah melalui malam yang panas bersama dengannya. Ia pun mencoba membangunkannya kerena mengira Nayla lah yang menelpon.
Dave sangat terkejut begitu bangun hari sudah tengah malam. Ia bergegas mengenakan pakaiannya kembali, memyambar kunci mobil diatas nakas dan segera pulang ke rumah secepat mungkin.
Setibanya di rumah, Dave disambut dengan kemarahan Natasha. Namun Dave malah menanggapi kemarahan Mama-nya itu dengan entengnya.
Melihat hal itu, Natasha semakin marah. Namun saat mereka saling berdekatan, ia mencium bau aneh menguar dari tubuh anaknya. Sebuah bau seperti bekas percintaan.
"Jangan bilang kalau kamu baru saja menghabiskan malam yang panas bersama seorang wanita diluar!," ucapnya dengan sorot mata begitu menusuk.
Dave sangat terkejut mengetahui Mamanya bisa tahu perbuatannya. Ia pun bertanya, "Darimana Mama tahu kalau aku memghabiskan malam dengan seorang wanita?."
Mendengar pertanyaan Dave yang secara tak langsung mengakui perbuatannya sendiri, Natasha pun makin marah. "Jadi ini alasan kenapa kau sampai pulang tengah malam begini!" sentaknya emosi.
Sontak Dave pun membekap mulut sang Mama. "Jangan keras-keras, Ma. Nanti Nayla bisa denger!" ucapnya.
Natasha gelagapan karena mulutnya dibekap sedemikian rapat oleh anaknya sendiri. Ia terlihat kesulitan bernafas. Ia pun memukul-mukul lengan anaknya sambil meracau tak jelas agar bisa terbesas dari bekapannya.
Menyadari Mama-nya kesulitan bernafas karena bekapannya, sontak Dave melepas tangannya.
Natasha langsung terbatuk-batuk begitu Dave melepaskan tangannya. Ia terlihat menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk kembali mengisi paru-parunya yang sempat kehabisan oksigen.
__ADS_1
"Kau ingin membunuh Mama dengan perbuatanmu tadi?" teriaknya marah setelah nafasnya kembali normal.
"Maafin, Dave, Ma. Dave nggak sengaja. Lagian Mama juga, kenapa pakai teriak-teriak sekencang itu. Kalau nanti Nayla denger gimana? Bisa abis kita!."
Natasha menghela nafas berat, mencoba mengatur emosinya dan bersikap normal kembali. "Baiklah, lupakan masalah itu. Kita kembali ke topik pembicaraan kita semula."
Duduk saling berhadapan dengan anaknya. Natasha terlihat memasang wajah serius. "Dengerin Mama baik-baik! Ada hal penting yang harus Mama sampaikan kepadamu secepatnya. Untuk itulah Mama sengaja menunggumu pulang hingga selarut ini."
Melihat Mama-nyqnmemasang wajah serius, Dave pun ikut melakukan hal yang sama pula. "Katakan, Ma, ada apa?.."
"Tadi siang, secara tak sengaja Mama melihat Nayla bertemu dengan seorang wanita di sebuah kafe. Mama sendiri tidak mengenal siapa wanita itu."
"Mama sengaja duduk di dekat mereka agar bisa mendengar isi pembicaraan mereka. Dan kau tahu apa yang wanita itu coba katakan ke Nayla?."
"Apa, Ma?."
"Apa? Curiga denganku?" tanya Dave bingung. "Bagaimana bisa dia curiga denganku? Memangnya siapa wanita itu?."
"Bukankah tadi Mama sudah bilang, Mama juga nggak tahu siapa wanita itu." tukas Natasha. "Tapi dari yang Mama denger, wanita itu mengatakan pernah bertemu denganmu sekali di kantornya Nayla."
Dave mencoba mengingat-ingat siapa wanita yang dimaksud oleh Mama-nya. Lalu kemudian ingatannya tertuju pada satu orang. "Apa wanita yang Mama maksud itu memiliki ciri-ciri tahi lalat di atas bibir kanannya?" tanyanya, memastikan bahwa tebakannya tidak salah.
"Ya, benar!" jawab Natasha.
"Jadi memang benar dugaanku kemarin kalau wanita itu akan menjadi penghalang besar dalam rencanaku" ucap Dave geram. Tangan terkepal erat dengan kedua alis mata saling bertaut.
__ADS_1
"Jadi kau memang mengenal siapa wanita itu?" tanya Natasha cepat.
"Mengenal secara pasti sih tidak. Tapi saat pertemuan kami kemarin, dia memperkenalkan diri sebagai tantenya Nayla. Kalau tidak salah namanya Dinda."
"Saat aku coba tanyakan ke Nayla, dia bilang dia itu sahabat baik bundanya sejak masih muda. Dan hubungan mereka berdua sudah seperti seorang saudara."
"Oh, jadi wanita itu bernama Dinda," ucap Natasha mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Jadi, apa rencanamu sekarang? Apa kau akan membiarkan wanita itu menggagalkan semua rencana kita begitu saja?."
"Tentu saja tidak, Ma. Mana mungkin aku membiarkan semua usaha kita selama ini sia-sia belaka. Aku bahkan sudah mempunyai sebuah rencana yang cukup bagus untuk mengatasi masalah ini."
"Bagus! Sekarang katakan ke Mama, apa rencanamu selanjutnya!."
"Mama tidak perlu tahu apa rencanaku selanjutnya. Yang jelas, rencana ini akan menjadi puncak dari semua rencana kita selama ini. Mama tinggal duduk diam dan menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya."
Natasha manggut-manggut mendengar ucapan anaknya. "Baiklah, Mama serahkan semua masalah ini padamu," ucapnya tegas. "Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa kau akan membiarkannya begitu saja?."
"Tentu saja tidak, Ma. Aku akan memberinya pelajaran yang tak mungkin bisa dia lupakan karena sudah berani ikut campur dalam urusan kita. Tapi itu nanti, setelah aku berhasil melakukan rencana besarku ini. Untuk saat ini biarlah dia melakukan apapun yang dia suka. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya", ucap Dave dengan senyum culas tersungging di bibir.
"Bagus! Kau memang anakku yang paling bisa diandalkan. Mama hanya ingin mengingatkanmu satu hal, jangan sampai kamu terjebak urusan asmara. Karena itu hanya akan membuat kita lemah."
Glekkk....Dave menelan ludahnya sendiri saat Natasha kembali menyinggung soal asmaranya. Sebab selama ini ia tak pernah tahu hubungannya dengan Jessica.
"Baik, Ma. Dave akan terus mengingat ucapan Mama," ucapnya sengaja berbohong.
"Ya sudah, ini sudah larut malam. Lebih baik sekarang kita segera ke kamar dan beristirahat," ucap Natasha kemudian seraya bangkit dari tempat duduknya. "Tapi ingat, bersihkan tubuhmu dulu. Mama nggak ingin Nayla curiga padamu gara-gara mencium bau menjijikkan dari tubuhmu itu."
__ADS_1
Dave tersenyum kecut mendengar ucapan Mama-nya yang memgandung sindiran cukup tajam untuknya. "Baik, Ma. Dave akan bersihkan tubuh Dave dulu."
Lalu Natasha pun berlalu menuju kamarnya. Sedangkan Dave berjalan sedikit berjingkat menuju kamarnya agar tak membuat Nayla terbangun dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari bekas percintaannya dengan Jessica tadi.