
Ternyata kekalahannya kemarin tak membuat Dave jera untuk mengerjai Langit. Berulangkali ia menyusun rencana baru untuk menyiksanya, namun sayang, berkat kecerdasannya, Langit selalu lolos dari semua rencananya itu.
"Sialan! Kenapa semua rencanaku selalu saja berakhir dengan kegagalan?" geram Dave tak habis pikir.
"Emangnya siapa dia yang sebenarnya? Kok aku jadi makin curiga. Aku yakin dia bukan hanya seorang OB biasa."
Sesaat Dave diam, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan tak berselang lama senyuman miring tersungging di sudut bibir. "Tunggu dulu, aku punca rencana baru. Kali ini aku yakin dia pasti akan gagal!" ucapnya
Melakukan panggilan melalui intercom. Dave memanggil Langit dan menyuruhnya ke ruangannya. Dan tak berselang lama terdengar pintu ruangan di ketuk.
"Masuk!" teriak Dave dengan antusias, tak sabar ingin kembali menyiksa lawannya.
Pintu ruangan pun terbuka, menambakkan Langit dibaliknya. "Anda memanggil saya, pak!" ucapnya.
"Ya, benar!" jawab Dave.
Melangkah mantap tanpa ada kecurigaan sedikitpun. Langit terlihat menegakkan kepala saat berhadapan dengan Dave. "Apa ada yang bisa saya bantu, pak?" ucapnya kemudian.
'Heh, dia masih saja bersikap angkuh. Cuma karyawan rendahan saja belagu!' sinis Dave dalam hati.
Dave menegakkan tubuh kembali. Kedua tangan terlihat menopang diatas meja. Lalu ia pun berkata, "Tadi pagi mobilku terkena cipratan genangan air di jalan, dan nanti siang ada rapat penting dengan klien. Aku ingin kamu mencuci mobilku sampai.bersih. Jangan sampai klien merasa ilfil dan membatalkan kontrak kerjasama hanya gara-gara melihat mobilku yang kotor."
Langit membelalakkan mata mendengar perintah Dave. Mulutnya menganga dengan sempurna. Seorang anak bos kaya raya dengan kekayaan yang tak kan habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, dan tujuh belokan harus mencuci mobil? Hello, apa kata dunia?.
"Kalau mobil anda kotor, lalu kenapa tidak suruh sopir anda saja yang membersihkannya, pak?" ucap Langit mencoba bernegosiasi.
"Sopirku sudah aku suruh ngerjaian tugas yang lain, jadi kamu aja yang nyuciin," jawab Dave datar.
"Kalau begitu, kenapa tidak dibawa ke tempat pencucian mobil saja, pak? Kan sudah pasti bersih tuh kalau dibawa ke sana."
__ADS_1
"Saya nggak suka mobil saya di cuci di tempat pencucian mobil. Saya nggak percaya sama mereka. Nanti mobil saya bisa lecet-lecet malah."
"Kalau sampai lecet-lecet kan bapak bisa minta ganti rugi sama mereka. Lha, kalau saya? Boro-boro buat ganti rugi, buat makan aja susah," jawab Langit sengaja merendahkan diri di hadapan Dave. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cara berpikir Dave, sudah tahu ia cuma seorang OB, masih saja disuruh nyuci mobil. "Emangnya bapak nggak takut mobilnya saya bikin penyok?"
"Jadi kamu mau bikin mobil saya penyok gitu? Berani kamu melakukannya?" desis Dave.
"Ya nggak juga sih, pak! Saya kan cuma berandai-andai" jawab Langit cengegesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
'Jangankan bikin mobil kamu penyok, ngancurin mobil kamu juga aku sanggup. Sayangnya saat ini aku sedang dalam misi penyamaran, jadi terpaksa aku harus menahan diri' gumam Langit dalam hati.
"Kalau begitu kerjain sekarang! Ngapain kamu masih ada disini!." bentak Dave saat melihat Langit hanya melamun saja.
Langit tersentak, tersadar dari pikirannya sendiri. Cepat-cepat ia menguasai diri kembali. "Tapi, pak, itu kan bukan bagian dari tugas saya," ucapnya kemudian, masih berusaha untuk menolak perintah Dave yang memang terlihat sangat ingim merendahkannya.
Dave yang pada dasarnya memang memiliki temperamen yang tinggi, melihat Langit terus saja membantah perintahnya lama-lama ia pun tersulut emosi. "Jadi kamu mau membantah perintah saya? Mau saya pecat sekarang juga?" bentaknya sedikit marah, kembali mengeluarkan ancaman yang selalu memjadi andalannya.
'Selalu saja mengancam ingin memecat. Emang nggak ada ide lain apa. Fix ini mah, si Dave emang mau ngerjain saya. Lihat saja, suatu saat akan aku balas dia' geram Langit dalam hati.
"Kalau begitu kerjain sekarang. Ingat, hati-hati dan harus yang bersih! Kalau tidak, akan aku pecat kamu tanpa pesangon sedikitpun."
"Baik, pak, akan saya cuci mobil anda sekarang!" jawab Langit. Lalu ia pun berlalu meninggalkan ruangan Dave dengan hati yang dongkol.
"Rasain kamu aku kerjain lagi. Makanya tahu diri. Karyawan rendahan aja songongnya minta ampun," ucap Dave saat Langit telah berlalu. Senyum kemenangan tersemat di sudut bibir.
...****************...
Berjalan mengitari perusahaan mencari keberadaan pak Aji, pria paruh baya yang bekerja sebagai supir pribadi Dave untuk meminta kunci mobil. Namun lama mencari ia tak berhasil menemukannya juga.
"Kalau kayak gini sih bisa habis waktuku cuma buat cari pak Aji," gumam Langit sambil melihat arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Mending aku ambil peralatannya aja dulu deh."
__ADS_1
Memutuskan untuk mengambil peralatan mencuci mobil yang berada di dekat pantry. Namun secara tak sengaja ia malah melihat keberadaan pak Aji disana.
"Lho, pak Aji kok ada disini? Bukannya kata pak Dave bapak sedang di kasih tugas?" tanya Langit kebingungan.
Mendengar pertanyaan Langit, pak Aji justru baluk bingung. "Nggak tuh, saya nggak dikasih tugas apa-apa. Malahan dari tadi saya cuma duduk santai disini."
'Wah, kebangetan ini si Dave. Awas aja nanti' geram Langit dalam hati.
"Ya udah, pak, sini kunci mobilnya. Beliau nyuruh saya buat nyuciin mobil" ucapnya kemudian sambil menadahkan tangan.
"Nyuci mobil? Kalau begitu biar saya aja, Mas yang nyuciin. Ini kan sudah tugas saya."
"Udah nggak pa pa, pak, biar saya aja. Bapak duduk tenang aja disini. Lagian beliau kan nyuruhnya saya, bukan bapak. Ntar kalau ketahuan malah saya yang di pecat."
Pak Aji terlihat menghela nafas. Tanpa banyak bicara ia segera mengulurkan kunci mobil. "Maafin saya, ya!" ucapnya merasa tak enak hati.
"Santai aja, pak. Nggak usah merasa bersalah gitu" ucap Langit sambil menyunggingkan senyum di bibir.
Berjalan menuju tempat parkiran mobil khusus untuk para petinggi perusahaan. Langit melangkah sambil menenteng peralatan mencuci mobil.
"Sialan, kurangajar bener si Dave. Sayangnya saat ini aku masih dalam misi penyamaran. Kalu tidak, sudah aku tonjok mukanya yang menyebalkan tadi," ucap Langit masih saja tersungut-sungut.
"Kayaknya ini deh mobilnya si Dave" ucapnya kemudian saat berhasil menemukan mobil yang dimaksud. "Mending cepet aku kerjain sekarang daripada entar dia ngamuk-ngamuk nggak jelas lagi."
Langit pun mulai mengerjakan perintah yang Dave berikan. Perlahan ia membalurkan busa sabun lalu menggosoknya dengan sebuah spon basah. Lalu menyiramnya lagi dengan air bersih.
"Akhirnya selesai juga" ucap Langit sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. "Tinggal bersiin dalamnya aja."
Ia pun membuka pintu mobil dan mulai membereskan tumpukan berkas yang berserakan di kursi bekalang. Namun tiba-tiba matanya melihat sebuah berkas yang sangat ia kenal. "Lho, ini kan......"
__ADS_1